The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Kekuatan Manusia


__ADS_3

Ketika, pria berwajah penuh luka itu muncul di dari hutan seperti hantu yang menunggu korbannya, Ashnard terkejut sekaligus gemetaran. Pemandangan wajah itu masih membuat Ashnard merinding.


"Bersyukurlah kalian karena aku datang tepat waktu. Jika kalian melangkah lebih jauh ke depan lagi, masalah akan semakin rumit," ucap Pria Luka.


Erik segera bangkit, lalu berlari berlindung di belakang Pria Luka seperti orang yang ketakutan.


"Kalian berdua bersekongkol?" tanya Ashnard.


"Lebih tepatnya aku yang memberi perintah untuknya," jawab Pria Luka.


"Perintah menangkapku?"


"Bukan, anak muda. Kau bertemu dengannya adalah suatu kebetulan. Bukan bagian dari rencanaku. Aku bahkan tak menduga jika dia datang ke tempat pertemuan membawamu."


Ashnard juga tak menduga jika akan bertemu dengan Pria Luka secepat ini. Ia merasa takut dan gelisah karena tak memegang pedangnya. Ia sekarang benar-benar rentan. Seperti serigala tanpa cakarnya atau elang tanpa sayapnya. Apalagi sekarang tidak ada Nous untuk melindunginya.


"Lalu, apa rencana kalian yang sebenarnya?" tanya Ashnard bersiap-siap: memfokuskan matanya, membuka lebar pendengarannya, dan bersiap-siap dengan kepalan tangannya jika pertarungan telah dimulai.


"Kau mengejar sampai sejauh ini tapi tidak tahu rencananya?" heran Pria Luka. Ia lalu menengok ke Erik yang berdiri di belakangnya. "Apa kau tidak memberitahunya?"


"A-aku bilang aku akan menghancurkan semua bangsawan," jawab Erik gugup.


Dari reaksi Ashnard yang diam, menandakan ia tidak puas dengan jawabannya.


"Begini saja. Aku ingin menceritakan sebuah cerita padamu. Cerita itu akan menjelaskan semua rasa penasaranmu. Bagaimana?" tawar Pria Luka.


Ashnard sekali lagi terdiam, tapi pria itu tahu kalau Ashnard ingin mendengarnya. Hanya saja, ia terlalu malu untuk mengatakannya langsung.


"Menurutmu apa yang membuat seseorang menjadi kuat? Kondisi fisiknya, mentalnya, keberadaan orang lain, atau karena energi eksternal? Semua itu tidak salah. Kekuatan juga bagian dari emosi kita. Saat kita merasakan emosi semakin memuncak, emosi itu memperkuat kita. Itulah yang aku lihat dari anak desa bernama Erik.


"Aku menemukannya tergeletak di tanah seperti anak babi yang kelaparan. Mengais-ais tanah mencari makanan. Dia lemah tapi masih berjuang untuk hidup. Dia tidak memiliki kekuatan tapi memiliki keinginan untuk tetap hidup. Saat aku melihatnya, seketika air mata mengalir di kelopak mataku yang kering sejak aku menerima luka ini. Aku begitu terharu seperti seorang Ibu yang melahirkan anaknya.


"Keinginan untuk hidup. Itulah yang aku suka dari manusia. Keinginan tersebut juga adalah bagian dari kekuatan murni manusia. Meskipun lebih lemah dan lebih mungil daripada ras lainnya, manusia tetap tidak akan pernah punah. Manusia akan selalu berkembang dengan caranya sendiri, sekalipun dewa tidak menurunkan berkahnya pada manusia.


"Karena itu juga, aku langsung memberinya kekuatan sebagai hadiah karena telah bertahan sampai saat ini. Aku tidak pilih kasih dalam memberikan kekuatan. Tidak seperti para dewa. Apa sebenarnya syarat seseorang untuk mendapatkan berkah-kekuatan elemental dari dewa? Ataukah sebenarnya tidak ada syarat apapun? Kalau tidak ada, kenapa tidak semua manusia mendapatkan kekuatan elemental. Para dewa sangat tidak jelas, bukan?"

__ADS_1


"Jadi, kau memberikan elemen kegelapan ke Erik? Bagaimana bisa?" tanya Ashnard memotong cerita Pria Luka.


"Memberikan kekuatan ke orang lain mudah saja. Semua berkat pengetahuan manusia. Jadi, kau tak perlu menunggu dewa mendatangimu atau berlatih terlalu keras. Datang saja padaku, dan kau akan mendapatkan kekuatan yang kau mau."


Ashnard mulai paham dengan kekuatan Erik yang ternyata bukan kekuatan murni, melainkan pemberian. Sama seperti Arlon yang diberikan kekuatan kegelapan oleh Erik. Erik diberi kekuatan oleh Pria Luka. Namun, cara memberikan sebuah kekuatan adalah misteri besar.


Kekuatan elemental adalah kekuatan dari dewa. Kekuatan murni dewa yang diberikan agar manusia dapat menggunakannya. Sejatinya kekuatan itu bukanlah milik manusia, oleh karena itu hanya para dewalah yang mengerti.


Semua Elemagnia mendapatkan kekuatan elemennya dari dewa. Dan itu menjadikan kekuatan murni mereka di mana mereka dapat mengendalikan kekuatan alam dengan mudah.


Tidak ada seorang Elemagnia yang mendapatkan kekuatannya bukan dari dewa, atau setidaknya itulah yang Ashnard ketahui. Namun, Erik dan Arlon justru mendapatkannya dari manusia. Melihat keberadaan Erik dan Arlon yang di luar hukum dunia, menambah sejumlah pertanyaan baru bagi Ashnard.


Apakah memberikan kekuatan ke orang lain bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan? Bagaimana cara memberikan kekuatan yang hanya dewa saja yang tahu? Sama halnya seperti melanggar peraturan, akan ada sanksi yang akan diberikan. Maka dari itu, apakah akan ada konsekuensinya jika melanggar peraturan yang telah dewa tentukan?


Apapun itu, Ashnard yakin Pria Luka mengetahui salah satu jawabannya.


"Zaman ini, walaupun para dewa sudah meninggalkan kita dan bersantai di taman penuh buah dan sungai segar, umat manusia masih tetap bergantung dengan dewa. Apa buktinya? Kekuatanmu. Elemen. Sihir dan semacamnya. Semua itu adalah pemberian dewa dan manusia masih menggunakannya meskipun dewa sudah tidak peduli lagi dengan para manusia.


"Dari cerita barusan, manusia itu makhluk yang kuat. Dan aku tidak ingin manusia menjadi makhluk yang lemah dan selalu bergantung. Aku, bukan, tapi kami telah menciptakan keajaiban yang dapat memberikan kekuatan sendiri untuk manusia. Dari manusia dan untuk manusia.


"Maksudmu Dua Belas Kehancuran?" tanya Ashnard memastikan.


"Yap, datangnya dua belas manusia yang ditakdirkan memiliki seratus persen kekuatan dewa. Kekuatan mereka terlalu besar hingga dapat menghancur dunia. Karena dewa tidak berniat untuk membantu, kami menciptakan orang seperti Erik sebagai kekuatan melawan kehancuran."


"Lebih tepatnya sebagai alatmu," balas Ashnard.


"Bukan, lebih tepatnya sebagai pahlawan yang sesungguhnya."


"Kekuatan yang kau berikan itu, bukan untuk sembarangan orang. Kau justru semakin memperburuk daripada memberikan harapan ke orang-orang," ucap Ashnard.


"Bagaimana caramu menilai apakah orang itu menggunakan kemampuannya untuk berbuat buruk atau baik?"


"Baik atau buruk itu sudah terlihat jelas oleh mata. Bahkan, bayipun tahu," jawab Ashnard.


Sontak membuat Pria Luka tertawa keras. "Salah! Baik atau buruk itu seperti dua sisi koin. Semua sisi bisa saja sisi kiri atau sisi kanan. Kau melihatnya kiri sedangkan aku melihatnya kanan, meskipun sudah dibalik sekalipun. Tidak ada yang salah dari hal itu," jelas Pria Luka sambil menggeleng kecewa.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku juga tidak salah karena ingin menghentikan Erik, kan?"


"Tidak salah, karena itulah manusia. Hidup di antara dua sisi penuh makna. Semua pilihan akan menentukan masa depan, bahkan dengan tidak memilih sekalipun, masa depan tetap akan berubah."


"Baiklah, sudah cukup omong kosongmu!" Dengan rencana cerdiknya yaitu menurunkan kewaspadaan musuh, Ashnard berhasil mengikatkan tali airnya secara diam-diam untuk menarik kembali pedangnya.


Saat pedangnya kembali ke tangannya, ia menyusut menjadi kecil. Menjadi sempurna di tangannya. Ashnnard kini bersiap untuk bertarung.


"Kau tidak mengerti," gumam Pria Luka. Seketika wajahnya menjadi muram.


"Aku sudah cukup mengerti. Intinya kalian hanya ingin mencelakai orang saja!" Ashnard melompat mengangkat pedangnya yang semakin membesar lalu mengayunkannya ke arah Pria Luka dan Erik.


Seperti sebuah meteor yang menghantam bumi, pedang raksasa itu menghancurkan tanah dan membuat retakan yang besar. Jika Pria Luka dan Erik tida melompat ke samping untuk menghindar, mereka pasti akan bernasib sama seperti tanah.


"Aku lupa betapa menyebalkannya pedang itu," geram Pria Luka. "Para ksatria berkata, mengungkapkan hati dengan beradu pedang." Pria Luka menghunus pedang hitamnya dan berlari ke arah Ashnard.


Ashnard tak sempat menyusutkan pedangnya untuk menahan Pria Luka yang datang. Ia membuat sebuah perisai air, namun tetap, Ashnard terlempar ke belakang akibat hempasan energi dari tebasan pedang hitam Pria Luka.


"Kau tidak akan menang melawan tuan, dasar bodoh!" ejek Erik.


Saat Ashnard terdorong ke belakang, pedangnya sudah menyusut dan dia menancapkannya ke tanah agar tak semakin terlempar jauh.


"Di mana dewa penjagamu itu? Apa dia tidak ada di sini untuk menjagamu? Sayang sekali kau sendirian, nak," tanya Pria Luka.


"Kau tidak akan menang, Ash," ucap Roc.


Ashnard tak mendengarkan ucapan Roc, ia terlanjur memanjangkan pedangnya dan mengayunkannya dari samping. Menjaga jarak adalah rencana terbaik Ashnard. Ia memilih untuk menyerang Pria Luka dari jauh daripada berhadapan sangat dekat yang justru akan membahayakannya.


Akan tetapi, rencana Ashnard berbalik menjadi pedang bermata dua. Ia bertarung di tempat yang di penuhi pepohonan, membuat area serangannya sempit dan sulit.


Pedang Ashnard tersangkut di salah satu pohon, memberikan kesempatan Pria Luka untuk menyerang.


Pedang hitam Pria Luka berhasil mengiris paha kiri Ashnard. Ashnard harus menjatuhkan diri agar sayatan Pria Luka tidak dalam.


Ashnard menapakkan telapak tangan kanannya di tanah, lalu memberikan dorongan ke depan agar dia dapat melepaskan tendangan ke atas yang mengenai dagu Pria Luka sekaligus membuat dirinya berputar ke belakang, memberikannya kesempatan untuk menghindar beberapa langkah ke belakang.

__ADS_1


Ashnard sekarang berada di antara pilihan masa depannya, antara dia ingin mundur untuk menyelamatkan diri atau tetap bertarung untuk mendapatkan jawaban, tapi resikonya terlalu besar.


__ADS_2