The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Rumah Seorang Ibu


__ADS_3

Sebuah rumah terlihat di depan dengan asap membumbung dari cerobongnya. Rumah itu terbuat dari kayu yang sama dengan pohon di sekitar, tapi ada yang membuatnya terlihat berbeda yaitu warnanya yang lebih terang. Di setiap sisinya, ada sebuah kristal berwarna biru pucat.


Hutan ini saja susah cukup aneh bagi Ashnard, apalagi ada sebuah rumah di tempat seperti ini. Ashnard bertanya-tanya akan seperti apa ibu Ein. Apakah juga memiliki ekspresi yang datar dan selera yang aneh seperti Ein?


Pintu pun merespon saat Ein mengetuknya dan yang keluar dari balik pintu adalah senyuman yang menyambut dengan penuh kehangatan. Seorang wanita berambut hitam panjang yang tak bisa berhenti bahagia saat melihat putrinya ada di depan pintu. Wanita itu langsung memeluk Ein.


"Ibu sudah menunggu kedatanganmu, Ein," ucap sang Ibu senang. "Wah, kunjungan kali ini spesial, ya." Wanita itu tersenyum ke arah Ashnard dan Roc.


"Ibu, ini Ashnard. Suamiku," ucap Ein yang mengejutkan. "Dan yang tidak memiliki wujud ini, namanya Roc-"


"Ti-tidak! Apa yang kau bicarakan?" sela Ashnard terkejut bukan main.


"Kau lupa? Kita sudah berciuman, berpelukan, bergandengan tangan, dan sekarang kita sedang berkencan. Itu berarti kita sudah resmi menjadi suami istri, bukan?" Ekspresi Ein yang datar masih membuat bingung Ashnard. Entah Ashnard harus bersikap seperti apa.


"Selamat atas pernikahannya!" sorak Roc, bertepuk tangan.


"Jangan ikut-ikutan!" tegur Ashnard. "Dengar, Ein. Untuk menjadi pasangan suami istri tidak semudah itu. Walaupun semua yang kau katakan benar, tapi semua itu kau sendiri yang melakukannya tanpa seizinku."


"Aku tidak melihat itu sebagai masalah. Lagipula, Ibuku tersenyum padamu. Tandanya dia merestuimu sebagai suamiku," sahut Ein.


"Tidak apa, nak Ashnard. Mari masuk. Anggap saja rumah sendiri." Wanita itu tersenyum sambil mempersilahkan masuk.


Di dalam terasa sangat nyaman dengan api unggun dan sofa yang sangat empuk. Ada rajutan-rajutam benang penuh warna yang menghias dinding, selain lukisan cat air. Terlihat lampu di rumah itu berwarna sama seperti cahaya di tongkat Ein, yang berarti lampu tersebut memakai air danau untuk mencegah para makhluk pemakan jiwa datang.


Rumah ini meskipun kecil tapi suasananya cukup hangat. Entah karena jenis kayu yang digunakan atau karena perapian. Apapun itu, Ashnard bisa merasakan kenyamanan meskipun ada di alam lain.


Ashnard dan Roc dipersilahkan duduk di sofa. Saat Roc ingin duduk di sebelah Ashnard, Ein tiba-tiba menyerobot agar dia yang duduk di sebelah Ashnard.


Sensasi yang berbeda benar-benar sangat terasa saat Ashnard meletakkan sebagian tubuh bawahnya di sofa tersebut. Satu kata yang bisa Ashnard pikirkan adalah empuk, namun ada sejumlah kata yang sulit dia temukan soal tekstur dari sofa tersebut. Ada seperti bulu-bulu halus kecil di seluruh sofa yang menandakan terbuat dari bulu binatang. Yang pasti bukan binatang normal pada umumnya.

__ADS_1


"Jadi, Nyonya Irina yang membangun rumah ini sendirian?" tanya Ashnard ke ibu Ein.


"Yah, begitulah. Lebih baik tinggal di hutan ini, daripada di Padang Roh Bebas. Tempat terbuka seperti di sana sangat tidak aman. Makhluk langit akan turun untuk memuaskan rasa lapar mereka. Belum lagi, ada penjagal yang selalu memilih satu per satu roh untuk dibawa ke Menara Haidon. Tidak ada yang bisa menolongmu. Kau tidak akan bisa tenang jika berada di sana," jelas sang ibu. "Ein pernah berhadapan oleh penjagal itu saat pertama kali datang ke sini. Itu sungguh pengalaman yang mengerikan."


Ashnard melempar pandangan ke Ein. "Penjagal itu adalah anak buah Haidon Sang Pencabut. Haidon memilih para roh yang tidak terbelenggu untuk dijadikan sebagai mainannya. Karena kita bukan bagian dari alam roh, kita harus berhati-hati agar tidak tertangkap oleh penjagal," tambah Ein.


"Apa maksud dari roh yang terbelenggu dan yang tidak?" tanya Roc.


"Roh yang terbelenggu adalah roh yang masih terikat aturan alam roh. Roh tersebut harus mengikuti pengadilan di bangunan yang berbentuk lingkaran. Setelah itu, para roh akan ditentukan akan ke surga atau neraka. Sementara untuk roh yang tidak terbelenggu adalah roh yang menolak untuk diadili. Mereka bisa bebas kemana saja bahkan ke dunia luar jika ada celah, namun jaminan untuk bertahan hidup lebih kecil daripada roh yang terbelenggu," jawab ibu Ein. Dia duduk di kursi sambil merajut sebuah kain dengan sebuah benang yang bercahaya biru.


"Ibuku adalah roh yang tidak terbelenggu," sambung Ein.


"Mungkin ini sedikit tidak sopan, tapi jika aku boleh bertanya, kenapa memilih untuk tinggal di sini? Bukankah seharusnya roh mengikuti hukumnya untuk diadili?" Ashnard melempar pertanyaan ke Irina.


"Itu karena aku masih ingin bertemu dengan Eina. Jika aku pergi ke alam selanjutnya, aku tidak akan bisa bertemu lagi dengan putriku," jawabnya dengan senyuman yang lembut seolah bukan masalah.


"Aku juga masih ingin menemui Ibuku." Ein menyambung.


"Yah, sudah setahun aku tidak bertemu Ibuku lagi. Aku tidak tahu kemana dia pergi dan apa yang dia lakukan. Tapi, seseorang mengatakan kalau Ibuku sudah mati. Aku tidak mempercayainya sampai aku melihatnya secara langsung. Karena itu, aku menjadi roh untuk mencari jawabannya dengan tanganku sendiri," balas Ashnard bersungguh-sungguh.


"Kau sungguh anak yang baik. Aku bisa melihat Eina di dalam dirimu. Aku bisa membantumu mencari apakah roh Ibumu ada di sini atau tidak." Wanita itu pergi ke ruangan di belakangnya, lalu kembali membawa sebuah tongkat dan gulungan kertas. "Untuk mencari roh di alam roh, para penjaga memiliki apa yang disebut dengan Mata Petunjuk. Mata ini digunakan oleh mereka untuk mengidentifikasikan segala roh. Bisa juga untuk mencari roh yang hilang. Mata ini sebenarnya bukan mata sungguhan melainkan batu sihir berwarna biru keputihan yang berfungsi seperti kompas atau semacamnya. Maaf, seharusnya aku punya sisa batu di gudangku, tapi sayangnya para penjaga berhasil menemukannya dan mengambilnya."


"Oh, itu sangat disayangkan. Aku membawamu ke Ibuku karena mengira Ibuku masih menyimpannya," sahut Ein.


"Tidak perlu khawatir. Jika kau ingin mencarinya, kau bisa mengambil dari salah satu penjaga. Lebih mudah mendekati penjaga daripada lari dari mereka." Wanita itu lalu menyerahkan sebuah tongkat yang bentuknya sama seperti milik Ein, tapi berwarna perak. "Tongkat ini akan membuatmu aman dari para makhluk penghisap jiwa. Bawa juga gulungan kertas ini. Buka lah saat kau benar-benar terancam hingga merasa ingin menyerah."


Ashnard mengambil tongkat dan tiga gulungan sihir tersebut. "Terima kasih banyak, Nyonya Irina."


"Ada tiga kemungkinan jika kau tidak menemukan Ibumu. Antara Ibumu masih hidup, Ibumu ada di alam selanjutnya, atau Ibumu dibawa oleh Haidon."

__ADS_1


"Aku mengerti." Angguk Ashnard.


"Oh, aku hampir lupa."


Wanita itu kembali ke kamarnya dengan sedikit panik. Dia juga memanggil putrinya untuk ikut membantu. Saat kembali, muncul dengan penampilan yang berbeda. Penampilan yang sangat terang.


"Bagaimana?" tanya seorang Ibu yang menampilkan putrinya memakai sebuah mantel yang menyala warna biru. "Ini adalah baju yang kubuat dengan air danau yang kupadatkan. Bagaimana menurut kalian?"


Ashnard dan Roc saling melempar pandangan. Hanya satu kata yang ada di pikiran mereka yaitu menyilaukan saat melihat Ein dengan mantel tersebut berputar dengan kaku, mencoba menjadi peraga busana atas perintah ibunya. Ein yang memakai mantel bercahaya saat berputar membuatnya terlihat seperti lampu hias atau lampu pesta di kelab.


"Aku juga punya untuk kalian." Dengan senyuman yang sangat lebar, wanita itu mengeluarkan dua mantel untuk Ashnard dan Roc.


Menolaknya justru tidak sopan. Ibu Ein sudah membuatkan dan memberikan dengan sepenuh hati. Mau tidak mau, Ashnard dan Roc harus menerimanya. Terlebih lagi mantel ini juga bisa melindungi mereka.


Walaupun sangat mencolok, setidaknya ada yang bisa dikenakan. Roc mensyukuri mantel ini lebih dari siapapun. Roc akan sangat malu jika para roh itu justru menertawakan pakaiannya. Kalau begitu, dia lebih baik telanjang dengan wujud putihnya saja.


"Hei, kau senang atau tidak?" tanya Roc ke Ein yang berwajah datar.


Ein hanya diam menatap Roc, tak menjawab. Ein menerima semua yang Ibunya berikan padanya. Benda apapun itu.


Sekarang Roc justru merasa bahwa diringa seperti orang aneh yang bertemu dengan orang aneh lainnya. Memakai pakaian mencolok yang serasi dan saling menatap dalam diam seolah seperti itu cara berkomunikasi mereka.


Sementara Roc keluar duluan, dan disusul oleh Ein, Ashnard yang terakhir dipanggil oleh Irina. Wanita itu tampak ingin membicarakan sesuatu yang penting.


"Aku hanya ingin bilang, terima kasih karena telah berteman dengan Eina," kata wanita itu. "Ini pertama kalinya dia datang menemuiku dengan temannya. Itu membuatku sangat senang. Sejak dulu, Eina jarang memiliki teman. Kemudian, setelah kepergianku aku yakin dia semakin merasa kesepian."


"Tidak masalah, Nyonya Irina."


"Aku minta tolong padamu. Jaga Eina. Walaupun dia tidak suka menunjukkan ekspresinya dan memiliki selera yang sangat berbeda dengan orang pada umumnya, harap maklumi dia. Aku yakin dia juga menginginkan seorang teman. Sebagai seorang Ibu, tentunya ingin anaknya bahagia, bukan?"

__ADS_1


"Aku tahu. Sebagai seorang anak, pasti tak ingin mengecewakan orang tuanya. Aku dan Ein sama. Hanya memiliki seorang Ibu saja. Jadi, ikatan antara kalian berdua, aku bisa memahami kalian."


Wanita itu tersenyum lega saat mendengar jawaban dari Ashnard. "Kau sungguh anak yang baik. Aku tidak heran jika Ein selalu menempel padamu. Berhati-hatilah. Dan semoga kau mendapatkan apa yang kau inginkan."


__ADS_2