
Ashnard dengan baju putihnya tampak mencolok berjalan di padang malam hari. Dari kejauhan ia tampak seperti sesosok hantu yang mengembara untuk mencari pembalasan atas kemalangannya.
Ashnard berulang kali melihat ke belakang,ke kota yang terlindungi di balik dinding, di mana lampu-lampu terang dan suasana yang nyaman membuatnya tak ingin untuk pergi.
Tapi, apa lagi yang Ashnard bisa lakukan?
Kedua tangannya memegang tali tasnya. Pedangnya bergoyang di pinggang saat Ashnard semakin mempercepat langkahnya. Ia pun berjalan cepat ke arah selatan.
Ashnard tak yakin tahu arah mana yang ia tuju untuk mencapai akademi melalui jalur negara. Ia hanya tahu akademi terletak sangat jauh jika hanya berjalan kaki. Ashnard sudah memikirkannya untuk mengatasi hal ini.
Ia teringat dengan jalur jurang yang membawanya ke sungai. Dan sungai tersebut mengalir langsung menuju akademi. Ke sanalah ia akan pergi.
Ashnard menuruni jurang dan menggunakannya sebagai jalur perjalanan. Dinding-dinding jurang yang tinggi dan sempit seharusnya bisa melindunginya dari siapapun yang mengincarnya. Ashnard berpikir dirinya akan lebih aman jika melalui jurang.
Tiba-tiba muncul seseorang dari sampingnya.
"Aahh!" teriak Ashnard kaget.
Berdiri di samping Ashnard tanpa angin dan tanpa suara, adalah Nous yang membuat anak itu terkaget bukan main.
"Tempat yang aneh untuk dikunjungi seorang anak 15 tahun, bukan?" ucap pria bertudung itu. Tenang tanpa merasa bersalah telah mengejutkan anak itu.
Ashnard berusaha mengumpulkan kembali nafasnya yang terbuang. Jantungnya hampir terlepas.
"Kata orang yang menyuruh anak kecil untuk mencari pedang di jurang," sindir Ashnard.
"Apa masih ada hal yang harus kau lakukan di sini?" tanya Nous.
"Tak ada sih. Aku hanya ...," ucapannya berakhir lenyap saat anak itu menunduk. "Tidak apa. Abaikan saja."
Mata Nous cukup tajam untuk menyadari kegelisahan Ashnard. "Ada masalah, nak?"
"Aku tak tahu bagaimana ini bisa terjadi."
"Aku bukan pemberi saran yang bagus, tapi kau bisa menceritakannya padaku."
Saat Ashnard menatap mata Nous, bola matanya berair tapi ia mengusapnya cepat sebelum tumpah. "Guruku, Ozark berkata kalau ada seseorang yang mengincarku untuk mengambil kekuatanku."
Lalu, Ashnard menjelaskan masalah yang menimpanya pada Nous. Ia berulang kali ingin menangis, tapi ia selalu menahannya. Kata-kata Roc tentang seorang laki-laki harus kuat dan tak boleh menangis, teringat sangat jelas di pikirannya dan menguatkan hatinya.
Melihat Ashnard yang menghadapi hal tersebut, terlalu kejam rasanya mengatakan kalau ini sudah takdirnya. Sekarang Nous bisa merasakan apa yang Sefenfor rasakan saat memberikan tanggung jawab pada Ashnard.
Nous merasa ketidaktegaan dan kasihan pada Ashnard. Perasaan itu cukup untuk membuatnya bersimpati. Nous ingin membuat keputusannya sendiri kali ini.
Di bawah bulan yang akhirnya menembus ke dasar jurang, menyinari wajah dan senyum lembut Nous, ia berkata, "Aku akan membantumu."
Senyuman muncul di wajah Ashnard. "Sungguh? Tapi ... kau kan masih memiliki tugas disini."
"Tugasku sudah selesai."
"Bagaimana dengan Sefenfor dan yang lainnya? Apa kau tak akan memberitahunya?"
__ADS_1
"Biarkan saja mereka. Mereka sudah punya tujuan dan kehidupan masing-masing."
Mendapati ada seseorang yang disisinya membuat Ashnard sangat senang. Ia tak ingin sendirian. Ia ingin melakukannya bersama orang lain.
Ashnard awalnya ingin mengajak Liliya, tapi melihat kondisi keluarganya tersebut, ia mengurungkannya. Lagipula, Ashnard merasa terlalu egois jika memaksa Liliya. Gadis itu sama sekali tak ada hubungannya dengan ini. Begitupula dengan Nous.
"Tidak, terima kasih. Aku akan melakukannya sendirian," ucap Ashnard.
Nous tersenyum kecil. "Kau menolakku?"
Ashnard kembali merenung dengan ragu. Dari lubuk hati terdalamnya, ia sebenarnya ingin Nous ikut.
Akhirnya, ia lebih memilih keinginannya sendiri daripada apa yang Ozark suruh. Ia juga berpikir akan lebih mudah dan aman jika sosok seperti Nous bersamanya.
Perjalanan Ashnard berlanjut, tapi kali ini ia tidak sendirian. Kecemasannya sedikit berkurang dan hatinya menjadi lebih tenang.
Sebenarnya, alasan Nous ingin menemani perjalanannya selain karena dia tak ingin Ashnard merasa sendirian, adalah karena dia rindu masa saat ia dan Penjaga Angin lainnya masih mengembara. Tugasnya untuk mengawasi Jurang Kegelapan juga telah berakhir setelah tak adanya kegelapan. Selagi ia bertekad untuk menjaga Ashnard hingga sampai tujuan, ia juga bisa melakukan pengembaraan lagi seperti dulu.
"Sudah sejak lama aku tak melakukan pengembaraan lagi, dunia sudah banyak berubah sangat cepat hingga aku tak bisa mengenalinya lagi," ucap Nous mendongak ke arah bulan.
"Tapi, tak bisa karena tugas," tambah Ashnard.
"Ya, itu benar."
Ashnard mengamati dinding jurang. Ia tak percaya kalau dirinya berada di jurang yang dikenal sangat berbahaya ini.
Sejak hilangnya kegelapan, perlahan udara di sekitar jurang menjadi lebih segar. Walaupun masih ada sisi menyeramkannya seperti burung berbulu hitam yang bertengger di atas tebing, suara-suara misterius yang bergema di dasar jurang, dan Nous yang terlihat sangat tenang seolah keberadaannya tidak ada.
"Sebenarnya aku terbantu oleh kekuatan angin yang meringankan langkahku."
"Jadi, aku tak bisa melakukannya?"
"Tidak. Mungkin," jawabnya membuat Ashnard bingung.
"Tidak bisa atau mungkin bisa?"
"Kau hanya harus melangkah seringan mungkin hingga tak membuat suara."
"Maksudmu, seperti jinjit?" Ashnard menebak.
Nous melirik anak itu melalui tudungnya. "Untuk apa kau bertanya?"
"Sebenarnya tidak ada, tapi mungkin bisa berguna untuk mengerjai orang lain," jawab Ashnard disertia senyuman licik.
Ujung Jurang Kegelapan pun tampak, di depannya terdapat sebuah kolam yang mengarah ke sungai tujuan Ashnard.
"Balapan sampai ke sana. Satu ... dua, tiga." Ashnard berlari terlebih dulu.
Nous hanya bisa tersenyum melihat tingkah Ashnard yang riang. Semangat anak itu telah kembali seperti sedia kala.
Nous berdiri di tempat, sementara Ashnard terus melaju hingga hampir mencapai kolam. Lalu, Nous menyeringai saat angin ia kumpulkan di kakinya. Dengan sekali loncatan, ia melesat lebih cepat dan seketika sudah berada di depan kolam, mendahului Ashnard.
__ADS_1
"Hei, curang! Kau tak boleh memakai kekuatan elemenmu!" kesal Ashnard. Ia menghentikan lajunya, karena percuma saja dia menghabiskan seluruh tenaganya jika Nous sudah tiba lebih cepat.
"Kau seharusnya memilih elemen angin, nak. Itu sangat berguna," ucap pria itu.
Ashnard sampai di kolam, ia terengah-engah. "Mana ku tahu!"
Nous terheran. "Kau tidak memilih elemenmu?"
"Aku saja tidak ingat," Ashnard menjawabnya masih sedikit kesal.
"Kau tidak mengingatnya, ya. Itu pengalaman yang aneh. Seharusnya ingatanmu tentang pemilihan elemen masih tersimpan saat kau terbangun dari mimpimu."
"Ibuku bilang, aku mendapatkannya sudah sejak lahir. Jadi, wajar kan aku tidak ingat apapun soal kelahiranku."
"Sejak lahir ... Berarti kau mendapatkannya bukan melalui mimpi, melainkan kehidupanmu sebelumnya."
Ashnard menaikkan alisnya. "Kehidupanku sebelumnya?"
"Ah, tidak, lupakan saja. Itu adalah kemungkinan yang mustahil. Tak ada yang perlu kau khawatirkan."
Justru ucapan Nous tersebut membuat Ashnard semakin penasaran dan terus memikirkannya.
"Soal elemenmu, air. Banyak orang yang menganggap lemah elemen air jika berurusan dengan reaksi elemen lainnya. Tapi, jika itu digunakan dengan baik pada lingkungan yang berelemen sama, kau bisa membuktikan mereka salah."
Ashnard tahu kemana arah pernyataan Nous. Pria itu menatap ke kolam saat menjelaskannya, maka sudah pasti ada hubungannya dengan kolam itu dan kekuatan airnya.
"Tujuannya hanyalah satu. Di depan." Tunjuk Nous ke seberang kolam, ke sebuah pesisir sungai.
"Kalau kau ingin mengajariku, katakan saja dengan jelas. Jangan membuatku berpikir hanya untuk menebaknya saja." Pikiran Ashnard buntu, membuatnya kesal pada Nous.
"Bukankah sudah jelas? Gunakan kekuatanmu untuk memindahkan kita ke tempat yang aku tunjuk."
"Bagaimana caranya?"
"Kau harus mengandalkan pikiranmu sendiri. Jangan hanya pedangmu saja yang tajam, pikiranmu juga."
Ashnard mengesah kesal. Ia lalu berusaha memikirkan caranya lagi, bagaimana caranya menggunakan kekuatannya untuk memindahkan dirinya ke pinggir sungai.
Saat Ashnnard berpikir keras, ia melihat kolamnya dan menyadari sesuatu. Kolam ini tak begitu dalam. Bahkan dasarnya tampak sangat jelas.
Tanpa memikirkan perkataan Nous yang tak jelas, Ashnard pun menenggelamkan kakinya yang masih memakai sepatu dan menyeretnya hingga mencapai pinggiran.
Nous memijat keningnya, melihat tingkah Ashnard yang membuatnya kesal. "Mungin gara-gara kekuatannya membuatnya jadi bodoh," gumam pria itu. "Apa yang kau lakukan, Ashnard?" teriaknya ke Ashnard yang sudah mencapai seberang.
"Kenapa? Yang penting aku sudah mencapai tujuannya, kan? Intinya aku sudah berhasil, kau harusnya memberiku selamat," balas Ashnard sambil berteriak.
Nous mengepalkan tinjunya. Tatapannya menajam seolah ingin melakukan sesuatu yang jahat, sangat jahat. Lebih jahat dari Raivolka atau kegelapan itu sendiri.
Auranya mendadak berubah, sangat merah terbakar amarahnya. "Aku akan memberimu selamat dengan sangat keras, nak. Tunggu saja."
Dimulailah perjalanan Ashnard dan Nous yang tak terduga menuju akademi.
__ADS_1