The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Permintaan


__ADS_3

Eris mengetuk pintu kamar dengan salah satu nama yang tertulis di papan yaitu Ashnard dan Reinhard. Dia menunggu tapi tidak ada jawaban. Hari ini harusnya hari libur. Tidak ada aktivitas belajar mengajar yang diadakan pada hari ini. Karena itu, Eris berpikir jika sang pemilik kamar masih tertidur di kasur mereka, apalagi sekarang masih jam 6 pagi.


Eris mengetuk lagi, tapi ia sudah kehilangan kesabarannya. Saat ia mengetuk yang sudah kesekian kalinya, seseorang muncul dari sampingnya.


"Eris? Ada apa?"


"Dimana Ashnard?" tanya Eris ke Reinhard yang baru saja datang, entah darimana.


"Dia tidak ada di kamarnya sejak tadi pagi. Ada masalah apa dengannya?"


"Kemana dia?" desak Eris.


Reinhard mengangkat bahunya, tatapannya mengisyaratkan dia tidak memiliki jawabannya.


Kemudian, Eris keluar dari asrama laki-laki. Di beranda asrama, dia menyapu pemandangan depannya guna mencari petunjuk di mana keberadaan Ashnard. Matanya terus bergeser dari arena, Aula Putih, asrama perempuan, perpustakaan, sampai ke sungai. Tapi, tidak ada yang bisa ditemukan olehnya.


"Seharusnya aku menolak Abe tadi malam," desah Eris yang sekarang merasa menyesal tidak segera menemui Ashnard secepatnya.


Eris kemudian beranjak menuju ke asrama perempuan, tapi sebelum itu dia harus melewati Aula Putih terlebih dulu. Sebuah bangunan utama yang menjadi pusat segala macam aktivitas para warga akademi. Saat mengikuti jalan yang membawanya ke asrama, dia tidak sengaja mendaratkan matanya ke arah kantin. Di sana, di salah satu meja yang menjadi fokus utamanya, secara mengejutkan Nina duduk bersama dengan Ashnard.


"Jangan salah. Aku mengajakmu kesini karena ingin membahas sesuatu yang sangat penting denganmu," ungkap Nina.


"Kalau ingin membahas sesuatu yang penting kenapa di kantin?" Eris muncul dan tanpa basa-basi langsung duduk di sebelah Nina.


"Eris?" Nina terkejut dan panik.


"Atau kau hanya ingin melakukan kencan saja?" lanjut Eris.


"Apa yang--tidak mungkin! Apa yang kau lakukan disini?"


"Tidak usah panik. Aku cuman ingin membantumu, kok. Apa tadi? Membahas sesuatu yang penting, ya? Itu dia. Aku akan ikut membantu membahas sesuatu yang penting tersebut."


Wajah jahil Eris kelihatan sangat jelas di mata Nina dan Ashnard. Dia tidak memiliki niatan untuk membantu, kedatangannya hanyalah bencana bagi Nina karena Eris sudah pasti akan menjahilinya, seperti biasa.


Namun, tampaknya Ashnard tidak mempermasalahkan kedatangan Eris. Ditambah dia juga tidak tahu apa yang Nina sebenarnya ingin bahas dengannya. Ashnard tidak mempermasalahkan Eris, maka Nina memutuskan untuk mengikutinya juga. Dia yang mengundang Ashnard ke sini, dan dia juga harus bersikap tenang pada laki-laki tersebut jika ingin pembahasan yang akan dilakukannya lancar.

__ADS_1


Setelah menenangkan dirinya kembali, Nina menatap Ashnard dengan serius lalu berkata, "Aku ingin kau mengajariku ...."


Ashnard dan Eris terdiam, saling melempari pandangan selagi Nina belum membereskan kalimatnya.


"Aku ingin kau mengajariku menggunakan dua elemen."


Spontan Eris sangat terkejut dan Ashnard sedikit terkejut. Eris mengharapkan sesuatu yang lebih memalukan agar ada bahan untuk menjahili tapi ternyata dia malah mendapat sesuatu yang serius. Tidak seperti Ashnard yang tidak berekspetasi apapun pada bahasan ini sehingga dia tidak terkejut berlebihan seperti Eris.


"Kenapa?" tanya Eris.


"Aku ingin kuat."


"Tapi, kau tidak bisa menggunakan dua elemen. Hanya orang yang diberkahi oleh dewa, seperti Ashnard yang bisa melakukannya," jelas Eris.


"Bagaimana dengan sihir elemental? Ajariku aku itu!" desak Nina mengganti keinginannya.


"Aku tidak terlalu ahli dalam sihir, Nina," jawab Ashnard.


"Apa? Kalau begitu ... Ajari aku saja cara menggunakan kekuatan elemental yang baik." Nina masih memaksa.


"Tidak! Ada sesuatu yang kurang dariku! Aku ingin kau mengajariku cara mengatasi kekuranganku."


"Tapi, aku tidak tahu apa kekuranganmu. Lebih baik kau belajar sendiri cara mengatasi dirimu sendiri."


Eris yang menyimak baik-baik percakapan itu, kemudian mengangguk-angguk sambil tersenyum tipis seolah berhasil mendapatkan sesuatu yang berharga. Dia berhasil mendapatkan maksud dan tujuan Nina yang sesungguhnya.


"Begini saja. Ashnard kau bantu saja Nina apapun yang dia inginkan. Mengajari sihir, manipulasi elemental, atau lainnya. Ajari saja," tutur Eris membantu membujuk Ashnard.


"Tapi, aku tidak akan bisa banyak membantu."


"Tidak masalah. Sedikit saja itu sudah cukup bagus. Ya, kan, Nina?" Eris mengedipkan matanya ke Nina.


Nina tersentak dan langsung sadar bahwa ternyata Eris sudah mengetahuinya selama ini. Nina merasa sangat malu saat ini, tapi jika ditunjukkan itu akan membuat rencananya terbongkar dan dia akan semakin malu. Maka dari itu, Nina tidak membalas kedipan Eris.


"Baiklah, akan kulakukan sebisaku."

__ADS_1


Akademi memiliki tiga lembah yang dialiri sungai panjang ke tiga titik. Lembah-lembah tersebut merupakan jurang pemisah antara dua wilayah. Karena posisi akademi yang berada di tengah-tengah perbatasan, maka dari itu akademi dianggap secara sah sebagai wilayah khusus tanpa dibawah pemerintahan negara manapun.


Lembah-lembah yang membentang ke tiga arah itu memiliki banyak karakteristik yang berbeda-beda. Ada lembah yang sempit dengan dinding curam, ada lembah yang dipenuhi hutan-hutan, dan ada lembah yang luas dengan padang rumputnya. Lembah itu berada di bagian utara akademi. Ke sanalah Nina, Ashnard dan Eris pergi.


Terlihat sangat luas, sepi, dan udara yang menyejukkan. Lembah ini bahkan bisa dibangun sebuah rumah pribadi disini sambil menikmati pemandangan rerumputan yang bergoyang dan aliran sungai yang segar.


Ashnard duduk memeluk kaki di atas rerumputan sambil memandang ke arah sungai tersebut. Sungai yang bercabang itu mengalirkan air segar yang murni dan bening, terlihat ikan-ikan berenang kesana kemari tanpa takut ditangkap oleh umpan pemancing. Lalu, mata Ashnard mengarah semakin jauh ke depan, di seberang sungai, ada sebuah padang rumput lainnya lagi, dan sebuah hutan yang mepet dengan dinding lembah. Ashnard tidak bisa melihat ada apa di atas lembah tersebut, tapi bisa melihat burung-burung yang terbang bergerombol di atasnya dengan semangat. Tempat di sana pastilah asri, mengingatkannya dengan tanah kelahirannya yaitu Negeri Angin, Winfor.


Di belakangnya, sambil sibuk memasang pelindung dada, Nina melirik ke arah Ashnard. Eris yang membantu memasang pelindung Nina, menyadari gerak-gerik Nina, lalu menarik tali pelindung jauh ke belakang, lalu melepasnya, mengakibatkan rasa sakit di punggung Nina.


"Apa yang kau lakukan!?"


"Lihat apa?" Eris menyunggingkan senyuman jahilnya lagi sambil menyikut lengan Nina.


"A-apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti." Nina berbalik memunggungi Eris.


"Kau ini mengecewakan sekali," desah Eris sambil menggelengkan kepalanya. Eris lalu memegang pundak Nina, memutarnya, dan mendorong Nina menuju ke arah Ashnard yang sedang duduk. "Pergilah. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada."


Karena sudah terlalu dekat, Nina berjalan perlahan ke arah Ashnard. Dia memegang dadanya sendiri yang menyimpan degupan jantung kencang, bersamaan dengan bunyi langkahnya yang gemetar. Ketika Nina mengamati Ashnard yang duduk membelakanginya itu, Nina kembali ingat tentang kejadian beberapa hari lalu saat Ashnard ketahuan masuk di kamarnya. Walaupun rasanya sudah lama pudar, tapi ingatannya masih menempel kuat.


Setelah tinggal beberapa langkah lagi, Nina menarik nafas lalu menguatkan diri. Ia pun dengan penuh percaya diri dan ketenangan, langsung menjatuhkan diri di sebelah Ashnard.


"Kau sudah siap?" tanya Ashnard.


Nina melirik ke Ashnard, melihatnya yang sudah memakai baju pelindung tebal terbuar dari kulit hewan. Tapi, baju pelindung yang ketat itu justru menampilkan bentuk otot tubuh Ashnard dengan sangat jelas. Nina cepat-cepat memalingkan wajahnya sebelum ketahuan oleh Ashnard.


"Jangan dulu," ungkap Nina.


Tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut olehnya, Ashnard menyadari dan berhenti untuk menanyakannya lagi. Ashnard tahu apa yang diinginkan oleh Nina, karena itu juga yang dia inginkan saat ini. Daripada menghentikan dan tidak mendapatkan kesempatan lagi, lebih baik dia tidak perlu mengkhawatirkannya dan mulai untuk melakukan yang sebenarnya dia ingin lakukan.


Ashnard meletakkan tangannya di atas tangan Nina yang diletakkan di atas pahanya. Lalu, Ashnard menggenggamnya dan Nina menerima genggaman itu. Keduanya saling memahami perasaan satu sama lain, saling memiliki keinginan yang sama, dan keduanya juga ingin keinginan mereka terwujud sebelum dihentikan oleh waktu.


Nina yang tahu bahwa niatnya meminta Ashnard untuk melatihnya adalah agar dia bisa menjadi kuat. Dia selama ini gelisah saat memikirkan surat kepulangannya dan apa yang akan menanti saat dia pulang. Tapi, saat Ashnard menggenggam tangannya, kegelisahannya itu luntur. Semua itu menguap ke udara dan kini Nina merasa lebih lega. Ia merasa seperti batu besar yang dia tahan di atas bahunya menjadi ringan karena Ashnard ikut menahan beban tersebut. Karena itu, Nina memiliki satu permintaan lagi yang ingin disampaikan pada Ashnard.


"Jika kau mau, ikutlah denganku ke Agnar. Aku ingin kau menemani sisiku bersama dengan Eris," pinta Nina.

__ADS_1


Ashnard yanh telah lama menanti permintaan tersebut setelah sebelumnya diberitahu oleh Eris, langsung tersenyum dengan lembut, "Baiklah. Aku akan ikut."


__ADS_2