The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Pengakuan (18+)


__ADS_3

[Peringatan: Konten Dewasa]


Cynthia melihat tuannya di gang bersama dengan Reinhard. Menyadari bahwa momen ini begitu penting untuk Wilia, dia pun membuat sebuah dinding es yang menutupi jalur gang. Lalu, bersama pelayan yang lainnya menunggu di luar.


"Tidak bisakah kau menerimaku?" rengek Wilia memohon.


Reinhard memilih diam dipelukkan Wilia yang sangat erat. Namun, Wilia yakin jawaban yang keluar dari mulut Reinhard adalah tidak.


Wilia lalu mengangkat kepalanya dan menatap mata Reinhard dengan penuh permohonan. Dia tidak tahu lagi kapan dirinya bisa bersama Reinhard lagi. Dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengeluarkan semua perasaannya.


"Aku ingin kau menerimaku, Reinhard. Bahkan, jika kau hanya menginginkan tubuhku saja, aku tidak masalah. Bahkan, jika aku menjadi nomer dua bagimu, aku juga tidak masalah. Pemuas nafsu, pelampiasan, aku tidak peduli. Selama aku bisa bersamamu, aku sudah sangat senang."


"Aku tidak bisa melakukan itu padamu, Wilia. Kau tidak pantas menjadi seperti itu," kata Reinhard.


"Lalu, apa yang pantas agar aku bisa bersamamu?" tanyanya putus asa.


"Aku tidak tahu," jawab Reinhard, menolak untuk menatap mata Wilia. "Hanya saja Liliya adalah yang pertama bagiku, sebelum dirimu."


"Dan kau adalah yang pertama bagiku. Tidak ada siapapun yang bisa menggantikanmu. Saat di Rabalm, walau kau suka menggangguku, tapi aku juga senang karena kau yang menggangguku. Kau yang membuatku berubah, Reinhard, dan aku senang karena itu kau."


Reinhard mencoba melihat kembali mata biru Wilia yang berair. Dia tidak melihat siapapun selain gadis sombong dan suka mengejek yang selalu menghancurkan rencananya.


Dia tidak melihat apapun selain kebersamaan mereka yang penuh makna. Hari-hari seru yang telah lalu itu masih tersimpan dalam memori Reinhard, begitu pula perasaannya. Tidak hanya Wilia yang memiliki perasaan itu, tapi Reinhard juga.


Perasaan berbeda dengan perasaannya terhadap Liliya. Perasaan ini ada karena kebersamaan mereka hingga menjadi kenyamanan. Dua keberadaan yang saling mengisi dan saling mendukung. Yang awalnya saling membenci kini saling peduli. Itulah apa yang Reinhard rasakan terhadap Wilia.


Namun, rasa cintanya terhadap Liliya juga tidak berubah. Dia juga berada dalam posisi yang sulit karenanya. Di satu sisi ia menyukai Liliya, di satu sisi lainnya ia membuat Wilia sakit hati. Reinhard berada dalam kebimbangan dan penyesalan.


"Aku senang saat kau menganggapku sebagai kebun bunga yang cantik. Saat itu, aku berpikir jika kau telah melamarku." Wilia bersedih, tapi juga tertawa. "Kebun bunga selalu dirawat setiap hari, kan? Jadi aku berpikir maksud perkataanmu adalah kau ingin merawatku setiap hari. Kau tahu, maksudku, kan?"


Apa yang Wilia pikirkan itu sebenarnya tidak salah juga, Reinhard juga mengakuinya. Reinhard pun tertawa karena pemikiran Wilia selagi dia berusaha menahan tangisnya. "Kau memang putri yang cengeng. Bagaimana kau akan memimpin negara kelak?" ejeknya.


"Kau yang membuatku menangis, Asberion bodoh!"


Reinhard lalu gantian memeluk Wilia sangat erat. "Maafkan aku. Aku seharusnya memahami perasaanmu lebih cepat. Aku seharusnya segera menemuimu." Reinhard menyadari bahwa dirinya lah yang salah. Karena itu, dia ingin agar Wilia tidak lagi bersedih.


"Datanglah ke Rabalm. Papa dan Mama sudah menunggumu," pinta Wilia. Ia sedikit lebih tenang, air matanya telah terhapus oleh senyuman.


"Maaf, tapi aku tak bisa."


"Ada banyak yang ingin kuceritakan padamu, Reinhard. Sejak kau tidak berkunjung lagi ke Rabalm selama setahun, ada banyak perubahan. Kau akan terkejut saat melihatnya."

__ADS_1


"Bagaimana dengan kebun bunganya?"


"Aku sudah memperluasnya. Oh ya, sekarang ada pondok kecil di tengah kebun bunga. Jika kelelahan, kita bisa bersantai disana sambil membaca buku atau minum teh."


Setelah suasana kembali tenang, mereka berbaikan, bercerita puas dan bersenda gurau sambil saling memeluk.


"Baiklah, sepertinya aku sudah harus pergi," ungkap Reinhard, membuat Wilia terkejut.


"Apa?" Keningnya berkerut kesal karena dia tidak menyangka Reinhard masih tidak paham maksudnya.


Reinhard berusaha maju untuk memberi ruang namun kaki mereka bersilangan yang menyebabkan mereka jatuh. Sebelum jatuh, Reinhard berhasil berputar di udara sehingga dia yang menyentuh tanah, dan Wilia mendarat ditubuhnya. Reinhard yang berada di bawah, menyandarkan kepalanya di dinding lalu bertanya apakah Wilia baik-baik saja.


"Aku tidak apa-apa. Tapi, aku yang seharusnya bertanya kepadamu!"


"Sedikit sakit, tapi tidak sesakit saat bertarung melawan Arlon," balas Reinhard sedikit bercanda.


Wilia yang berada di atas Reinhard, mendorong tubuhnya dengan tangannya agar memberi ruang bagi Reinhard. Padahal bisa saja mereka langsung berdiri, tapi tak mereka lakukan. Mereka saling menatap, lalu, tiba-tiba, entah mengapa Wilia ingin tertawa setelah semua pembicaraan itu. Reinhard juga ikutan tertawa.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Wilia.


"Aku tertawa karena kau tertawa. Wajahmu lucu," ucap Reinhard, lebih ke mengejek.


"Aku masih tidak mengerti, apakah itu pujian atau ejekan. Tapi, kuanggap itu pujian sekarang."


"Hei!" tegurnya.


Wilia menoleh ke belakang dan menyadari bahwa posisi mereka terlalu berbahaya, baginya. Di balik rok gaun Wilia, kaki kiri Reinhard yang tertekuk berada di antara kedua kaki Wilia. Lututnya tepat bersenggolan dengan bagian tubuh Wilia yang paling sensitif. Hanya dengan senggolan dan sentuhan saja sudah memberikan perasaan yang aneh ke Wilia. Lalu, tanpa dia sadari, dia menggerakkan pinggulnya sendiri dan menggesekkan bagian tubuh sensitifnya ke lutut Reinhard.


Pikiran Wilia mendadak kosong saat perasaan aneh itu muncul. Dia tak bisa berhenti bergerak, seolah dia sangat menginginkannya. Dia terus menggerakkan pinggulnya dengan begitu bergairah seolah itu nikmat.


Secara mendadak, suasananya berubah.


Reinhard bisa merasakan apa yang Wilia lakukan dengan lututnya. Wajahnya dengan wajah Wilia yang memerah begitu dekat, hingga Reinhard bisa merasakan nafas dan ******* Wilia di wajahnya. Reinhard membeku sejenak melihat wajah Wilia yang seperti tidak kuat menahan lagi. Dia berusaha menurunkan kakinya tapi dijepit sangat erat oleh paha Wilia. Hingga akhirnya Reinhard memegang pinggul Wilia, untuk menghentikannya.


"Wilia, hentikan! Jangan mempermalukan dirimu sendiri," bisik Reinhard. Dia takut jika para pelayan atau orang lain mendengar mereka.


"Aku tidak akan malu jika aku melakukannya di hadapanmu," ucap Wilia.


Wilia melepaskan dan menekan kedua lengan Reinhard di tanah dengan tangannya, lalu kembali melakukan apa yang dia inginkan. Keinginannya itu tidak bisa dia tahan. Sama sulitnya seperti menahan perasaanya pada Reinhard.


Wilia meletakkan bibirnya di dekat telinga Reinhard. Dia berbisik sekaligus mendesah yang cukup membuat pikiran Reinhard tak karuan. "Tolong, biarkan aku melakukannya. Aku ... tidak bisa menahannya lebih lama lagi."

__ADS_1


Reinhard juga merasakan sesuatu di tubuhnya apalagi saat melihat Wilia membuat wajah yang aneh seperti merasa kesakitan saat menahan keinginannya. Akhirnya, karena Reinhard tidak ingin Wilia terus seperti itu, ia berhenti menolak dan membiarkan Wilia melakukan sesuai keinginannya.


Cengkeraman Wilia di lengan Reinhard semakin kuat seolah dia sudah mencapai puncaknya. Setelah itu, Reinhard dengan sekuat tenaganya mendorong Wilia dan menarik diri, sebelum Wilia bertindak lebih jauh lagi.


"Kau tidak perlu memaksa dirimu. Aku tidak ingin kau menjadi seperti ini. Aku ...." Reinhard kebingungan dan berdecak kesal. Dia mengacak rambutnya seolah bisa mendapatkan sesuatu, nyatanya tidak.


Ketika Reinhard menatap Wilia yang duduk dengan kedua kakinya menyamping sambil terengah-engah, dia mulai sedikit mengerti. Reinhard memahami perasaan Wilia melalui semua tingkah aneh yang telah dia lakukan semenjak di toko gaun. Wilia melakukan semua hal yang memalukan itu atas dasar rasa rindu dan keinginannya bersama Reinhard.


Reinhard telah berpikir dan merasa tidak enak karena telah membuat Wilia berkutat dengan perasaannya sendiri. Reinhard seharusnya ada di sisi Wilia saat Wilia merasa sendiri, tapi dia tidak melakukannya. Reinhard sudah bersama Wilia sudah lama, dan jika dia mengabaikan Wilia, dia merasa telah menghianati Wilia. Oleh karena itu, Reinhard ingin mengabulkan keinginan Wilia.


"Aku tahu apa yang kau inginkan."


"Apa?" tanya Wilia, mendongak ke Reinhard yang berdiri.


Reinhard menarik nafas dalam, kemudian mengulurkan tangannya ke Wilia. "Tuan putri, maukah kau berkencan denganku?"


Wilia tidak membutuhkan hal yang besar. Dia adalah seorang putri. Karena itu, saat Reinhard mengajaknya berkencan, dia tersenyum senang. Wilia lalu meraih tangan Reinhard dan berkata, "Dengan senang hati."


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Reinhard, membantu berdiri Wilia yang kakinya masih gemetaran.


"Aku tidak yakin. Saat kau menyentuh dadaku waktu itu, aku selalu merasakan pikiranku dan tubuhku menjadi aneh. Saat itu, aku merasa belum cukup puas. Aku menginginkan tubuhku terus disentuh olehmu. Seolah keinginanku untuk memilikimu semakin kuat."


Reinhard lalu memapah Wilia ke dekat pintu gang yang tertutup oleh dinding es.


"Maafkan aku."


"Untuk apa?"


"Karena telah membuatmu seperti itu."


"Maafkan aku juga karena aku tidak bisa selalu bersamamu lagi. Karena itu, mari kita puaskan bersenang-senang hari ini," ucap Reinhard memberikan senyumannya pada Wilia.


Ada sedikit perasaan bahagia dan banyak perasaan sakit dalam diri Wilia saat mendengar ucapan Reinhard. Dia bahagia bisa bersama Reinhard lagi, tapi dia juga sedih karena rasa senangnya hanya untuk sementara saja. Apalagi, Reinhard melakukannya karena dia tidak memiliki pilihan lain.


Mereka memang bersenang-senang hingga malam, hingga akhirnya, Reinhard secara tiba-tiba menghilang dan meninggalkan Wilia sendirian. Wilia bukannya tidak sadar Reinhard telah pergi, tapi dia hanya tidak bisa membawa Reinhard kembali. Rasanya seperti jiwanya terobek dua saat ternyata Reinhard menemui Liliya tanpa sepengetahuannya.


Reinhard tidak berkata ke Wilia terlebih dulu, namun langsung menghilang begitu saja seolah dia ingin segera pergi meninggalkan Wilia.


Walaupun dia tahu akan seperti apa jika menyukai seseorang yang menyukai orang lain, tapi tetap dia merasakan luka yang lebih menyakitkan daripada luka fisik yang pernah dia rasakan.


Cynthia ada untuk memeluknya. Dia membuat tuannya menangis dalam pelukannya dan berkata, "Aku tidak bisa lagi melihat nona terus seperti ini. Lebih baik nona melupakan Tuan Asberion dan melihat ke depan."

__ADS_1


Wilia lalu mengusap tangisannya dan menatap pelayannya dengan penuh kesungguhan. "Tidak. Jika aku melupakan Reinhard dan menggantinya dengan sosok yang baru, aku yakin aku tidak bisa hidup lagi, Cynthia. Biar aku merasakan semua kesedihan dan rasa sakit ini. Sampai kapanpun, aku tetap mencintai Reinhard hingga aku tidak bisa membuka mataku lagi. Aku akan terus menunggunya."


__ADS_2