The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Pelajaran


__ADS_3

Nous mendirikan api unggun dengan ranting pohon yang ia kumpulkan di pinggir sungai. Tepi sungai ternyata cukup lebar sebelum dibatasi dengan lanjutan dari dinding Jurang Kegelapan. Pepohonan dan berbagai tanaman mengisi pinggiran sungai tersebut.


Setelah mereka sampai di sungai ini, tandanya mereka telah keluar dari Jurang Kegelapan, tapi masih tetap di dalam jurang. Jurang tersebut tak terlihat akan turun di ujung jalan, justru masih terlihat tinggi bagaikan mengurung mereka.


Ashnard menjadikan kain lebar yang ia bawa sebagai alas dan selimut. Ia berbaring tak jauh dan tak terlalu dekat dari api unggun, sambil memandang langit malam dengan tangan yang menahan kepalanya.


"Aku tak percaya, sekarang aku benar-benar berpetualang seperti yang aku impikan."


"Apa ada tempat yang ingin kau tuju?" Nous duduk di batang pohon, merapikan api unggun dengan sebatang kayu.


"Aku ingin ke semua tempat. SEMUANYA," tegas Ashnard.


"Dunia itu luas. Akan butuh waktu lama."


"Ya, aku tahu."


Ashnard merasakan sensasi dingin meraba kedua kakinya yang tak memakai sepatu, karena kedua sepatunya basah. Sepatu tersebut di sandarkan pada batu dekat api unggun untuk mengeringkannya.


"Tapi, bukan dalam kondisi seperti ini," lanjutnya.


"Bersyukurlah. Mimpimu sudah terwujud."


Ashnard lalu menghadap ke Nous. "Hei, aku suka cerita petualangan. Aku ingin mendengar cerita petualanganmu dan yang lainnya sebelum tidur," pinta Ashnard.


"Ini akan panjang. Petualangan kami berlangsung sangat lama."


"Tidak apa. Cerita saja," desak Ashnard.


Tak ada pilihan lain. Nous mengesah. "Baiklah, ada satu cerita saat kami saling bertemu. Itu masa yang penuh percobaan. Pada awalnya, kami berasal dari asal, masalah, dan mimpi yang berbeda. Kami tidak saling mengenal satu sama lain. Kami tidak saling menyukai satu sama lain. Dan kami tak memiliki satu tujuan yang sama.


"Aku dulunya tinggal di hutan bersama ayahku yang merupakan seorang pemburu. Ayahku mengajari segala hal tentang bertahan hidup dan teknik berburu. Hidup kami semuanya berasal dari alam. Makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Jauh dari desa atau pemukiman, yang membuatku tak pernah memiliki seorang teman.


"Lalu, datanglah seorang ksatria ke rumah kami. Ksatria tersebut mengakui Ayahku sebagai pemburu yang hebat dan memberinya tugas untuk memburu seekor makhluk buas yang selalu meneror kota.


"Ksatria itu adalah prajurit terbaik di sebuah kerajaan. Tak ada yang tak mengenalnya. Kehebatannya sungguh dikagumi seluruh dunia saat itu. Kilauan perak baju besinya sanggup menyilaukan musuhnya dan suara nyaring pedang saat dihunuskan seperti panggilan kematian bagi mereka. Saat itulah aku pertama kali bertemu Sefenfor.


"Untuk membunuh makhluk buas yang dikatakan kulitnya sangat tebal tersebut, aku, Ayahku dan Sefenfor mendatangi seorang pandai besi yang tempatnya sulit dijangkau. Ya, kau pasti sudah tahu siapa pandai besi itu. Ia meminta syarat untuk pembuatan senjatanya, yaitu ikut dalam perburuan. Alasannya karena ia ingin mengambil langsung gigi, cakar dan tulang makhluk tersebut.


"Setalah persenjataan kami siap. Kami berempat pun pergi menuju sebuah hutan yang terpencil dan tak dijangkau manusia. Tempat makhluk itu beristirahat. Tak lama kemudian, kami berhasil menemukannya dan perburuan pun terjadi.


"Ternyata makhluk itu cukup kuat hingga membuat semua rencana kami berantakan. Pertarungan kami berlangsung 3 hari 3 malam hingga akhirnya makhluk itu mati kehabisan darah. Dari pihak kami, banyak pasukan Sefenfor yang menjadi korban dari makhluk itu. Dan dari pihakku, yaitu ayahku.

__ADS_1


"Kami kembali untuk melaporkan hasil perburuannya dan apa yang kami lihat adalah neraka. Kota telah menjadi pemandangan api yang mengerikan. Api membakar rumah dan penduduk. Potongan tubuh dimana-mana. Semua bangunan megah hancur. Sefenfor mendapati sang raja terbaring dengan tanpa kepalanya.


"Ketiadaan sang ksatria terkuatnya membuat kerajaan berada dalam situasi yang paling rentan. Kerajaan lain memanfaatkan situasi tersebut untuk menyerang dan menguasai. Tanpa raja dan kerajaannya, Sefenfor tak memiliki tujuan lagi. Pada akhirnya, aku, Sefenfor, dan Reibo memutuskan untuk mengembara bersama kemanapun angin membawa.


"Lalu, Zefiria muncul-" Nous menyadari bahwa Ashnard telah tertidur pulas. Ia tersenyum, lalu membenarkan kain yang menyelimuti anak itu.


Pagi menyapa. Ashnard menguap sangat lebar. Setelah ia mengusap matanya, ia melihat Nous yang datang dari suatu tempat dan berjalan ke arahnya.


"Dari mana?" tanya Ashnard sambil meregangkan lengannya. Ia belum terbiasa tidur di luar, tubuhnya terasa sakit semua.


"Aku memeriksa ke depan, jika ada bahaya atau semacamnya," jawab Nous.


"Bisakah kau buatkan aku teh?" pintanya.


"Teh?"


Ashnard baru teringat jika dia tak berada di rumah lagi. Tak ada pelayan yang akan membuatkan teh mawar untuknya kali ini. Jika ingin minum, ada sungai mengalir di sepanjang jalan.


"Maaf," lirih Ashnard. Menyadari dengan apa yang terjadi, membuatnya muram.


"Makanlah terlebih dahulu."


Ashnard bangkit dan langsung merapikan selimutnya. "Tidak. Kita harus cepat ke akademi."


"Ozark menyuruhku harus secepat mungkin sampai di akademi. Aku tak boleh bersantai!"


"Cepat atau lambat, tak membuat Ibumu kembali."


Ashnard tak bisa menerima pernyataan seperti itu. Ia tak mengindahkan ucapan Nous. Setelah semua barangnya sudah dimasukkan ke tas selempangnya, ia mengambil sepatunya dan memakainya.


"Kau harus mengisi tenagamu dulu. Kalau tidak, kau bisa mati duluan sebelum bisa bertemu dengan Ibumu."


Seketika Ashnard berhenti, menyisakan satu sepatunya yang belum terpasang. Dan diikuti suara keroncongan perutnya.


"Baiklah," jawabnya menyerah karena bunyi tersebut.


Perjalanan berlanjut setelah Ashnard mengisi perutnya. Mereka berjalan di bawah bayangan dinding jurang dan pepohonan yang membuat mereka terlindungi dari panas.


Ashnard menendang-nendang batu putih. Sementara mata Nous fokus pada sekitar. Melirik ke kiri, ke kanan, atas, depan dan belakang. Ia tak pernah berhenti untuk waspada.


"Perhatikan langit, air dan pepohonan, maka kau tahu jalanmu," ucap Nous masih sambil memperhatikan sekitar.

__ADS_1


Ashnard berhenti menendang. "Maksudnya?"


"Alam bisa menjadi musuh, bisa menjadi teman. Tergantung bagaimana kau memanfaatkannya."


Ashnard mengangkat bahunya. "Aku tak paham." Lalu, melanjutkan menendang batu tersebut.


"Apa kau masih tak belajar?" tanya Nous.


"Kalau kau ingin memberiku pelajaran, katakan saja dengan jelas." Ashnard sedikit memberikan tenaga pada tendangannya, hinggia membuat batu tersebut terlempar ke sungai.


Nous sedikit geram, tapi ia tak ingin memarahi bocah itu. "Kalau kau tersesat, carilah lumut. Karena lumut selalu tumbuh menghadap ke utara. Saat malam tertentu, kau bisa menggunakan rasi bintang untuk menentukan arahmu. Ada banyak hal disekitar untuk bisa kau manfaatkan sebagai penunjuk arahmu. Apa kau membawa kompas?"


Ashnard menggeleng.


"Kenapa kau tidak menyiapkannya?" heran pria itu.


"Ya, aku lupa! Aku tak menyadarinya!" jawab Ashnard ikut kesal.


"Kalau kau ingin berpetualang ke seluruh dunia, kau harus memahami alam terlebih dahulu. Aku akan mengajarimu caranya."


"Dengan dua elemen di tanganku dan pedang yang kuat, untuk apa aku harus memahami alam? Aku bisa mengalahkan semua makhluk buas yang menyergapku."


"Kau ini!" Urat berusaha muncul dari keningnya, tapi Nous berhasil menahannya agar tidak muncul dan dirinya kembali tenang. "Meskipun kau itu kuat, tapi kau tetap harus paham pengetahuan dasar. Bagaimana jika kekuatan elemen, sihir dan semacamnya tiba-tiba hilang di dunia? Kau yang bergantung pada kekuatan seperti itu pasti tidak akan bisa bertahan hidup."


Ashnard merengut. "Itu hanya jika terjadi, tapi sebenarnya tidak akan bisa terjadi. Kekuatan elemen adalah hadiah dari dewa. Tidak mungkin dewa mengambil kembali hadiah yang sudah diberikan untuk para manusia. Itu namanya tidak sopan," sanggah Ashnard.


"Jika aku Reibo, aku pasti sudah mengikatmu di pohon, nak. Meninggalkanmu sendirian agar mati dimakan naga. Aku mungkin akan memberikan hukuman yang lebih tak terasa, tapi hasilnya tetap sama."


"Baiklah, iya iya, aku tahu. Aku akan mendengarkanmu," kesah Ashnard, memajukan bibir bawahnya.


"Pahlawanmu, Roc, juga pasti mempelajari semua hal tentang bertahan hidup dan lain-lain sebelum melakukan perjalanan yang panjang. Kau ingin menjadi sepertinya, kan?"


Ashnard memalingkan mukanya dan bergumam, "Iya."


"Bagus." Nous tersenyum senang. "Kalau begitu, sebagai pelajaran pertamamu, kumpulkan jamur yang aman untuk dikonsumsi. Aku sudah memeriksa di depan sana, seharusnya ada beberapa yang bisa kau temukan."


"Bagaimana caraku tahu kalau jamur itu bisa dimakan atau tidak?"


"Kau mulai tertarik rupanya," ucap Nous. "Jamur yang aman pastinya tidak memiliki lapisan lendir dan tidak beraroma busuk. Lalu-"


Belum selesai Nous berbicara, Ashnard pun langsung pergi ke bagian depan, mencari jamur-jamur yang menyebar di sekitar. Di hutan yang cukup lebat di pinggir sungai, ia menemukan banyak jenis jamur yang berbeda.

__ADS_1


Ia menciumi satu per satu jamur tersebut dan mengecek lapisannya, basah atau tidak. Setelah menelusuri hutan cukup jauh, ia akhirnya menemukan sejumlah jamur yang sesuai kriterianya dan langsung memetiknya.


Saat ia ingin mengambil yang lainnya, terdengar suara siulan tak jauh darinya. Suara tersebut terdengar dari pinggir sungai.


__ADS_2