The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Istirahat


__ADS_3

"Apa kau ingat dengan 12 Kehancuran?" tanya sang Kepala Akademi kepada Gerardus sambil melewati semak-semak menuju celah jurang.


"Maksudmu ramalan dari Penyihir Agung Klo?" Gerardus memastikan. "Ramalan itu sudah berusia 5000 tahun. Mungkin tidak akan pernah terjadi."


"Yah, kau ada benarnya sih." Kepala Akademi memilih untuk mengalah pada adik tirinya daripada berdebat panjang.


"Jangan bilang kau mempercayai ramalan itu."


Servulius menarik lidahnya ke dalam sembari menciptakan sebuah suara berdesis--tanda ia tak ingin percaya tapi tak bisa. "Aku tak tahu." Ia memilih jawaban yang aman.


Gerardus segera mencengkeram pundak kakaknya tersebut dan mengguncangnya. "Kak, apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"


Servulius pun memimpin jalan melewati celah jurang yang tersembunyi di lembah akademi. Semak-semak dan tanaman rambat menutupi pintu masuknya, tapi ketika berhasil menemukannya, tampak sebuah jalan kecil yang gelap. Sebuah celah yang terbentuk oleh alam itu sendiri.


"Dalam ramalan yang disebutkan penyihir itu, akan datang dua belas anak yang akan membawa kehancuran dan perubahan. Salah satu pertanda kelahiran mereka adalah ketika elemen alam tidak seperti normalnya."


Suara cipratan menunjukkan sebuah kenyataan tak terduga saat Gerardus menyadari apa yang telah diinjaknya.


"Dan inilah yang ingin kutunjukkan ...."


Bukan sebuah aliran air yang mengalir dari lubang di dinding, tapi cairan hitam yang kental dan memberikan pengalaman buruk saat berkontak dengan cairan tersebut.


"Egon yang menemukannya dan langsung memberitahuku. Di depan sana," tunjuk Servulius ke sebuah sumber cairan tersebut yang berasal dari lubang di ujung celah. "Kau seharusnya familiar dengan ini, kan?"


Bola mata Gerardus melebar penuh ketidakpercayaan.


"Ya, seperti yang ada di Winfor."


"Bagaimana ini bisa ada di sini?" heran Gerardus.


"Mungkin, lubang ini terhubung langsung ke Jurang Kegelapan," duga Servulius.


Gerardus berpikiran itu tidak mungkin. Jika lubang ini terhubung dengan Jurang Kegelapan, maka seharusnya sudah sejak dulu air hitam ini diketahui. Apalagi sekarang sudah tak ada lagi kegelapan di Jurang Kegelapan, dan seharusnya tidak ada yang mengalir lagi dari sana.


"Jurang Kegelapan sudah tidak ada lagi," kata Gerardus.


"Ya, aku berharap ini bukan kegelapan yang sama."


"Lalu, apa yang akan kita lakukan? Apa kau ingin diam saja membiarkan cairan ini terus mengalir? Bagaimana jika para murid tak sengaja menemukannya atau cairan ini semakin menyebar ke sungai?"


Hujanan pertanyaan dari Gerardus, membuat Servulius terlarut dalam pikirannya.


"Kita harus tenang dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Aku tak ingin orang-orang panik," jawabnya. "Aku akan menyuruh Egon untuk menutup tempat ini sampai kita bisa memastikan apakah cairan ini kegelapan yang sama atau bukan."


***


"Akhirnya kita mendapatkan kamar kita sendiri."


Ashnard berdiri di depan sebuah pintu kayu besar dengan hati dan jiwa yang lelah. Ia tak sabar untuk segera berbaring di ranjang empuk yang sudah lama tak ia rasakan.

__ADS_1


Di belakangnya, Gerlon turut bahagia seperti Ashnard. Tapi, tidak bagi Reinhard. Wajah penggerutunya muncul karena ternyata mereka harus sekamar.


"Kenapa aku harus sekamar dengan kalian?"


"Mau bagaimana lagi, kita murid yang terlambat dan hanya ini satu-satunya kamar yang tersedia," jelas Gerlon.


Setelah kunci diputar dan pintu dibuka, Ashnard dengan cepat menuju kasur yang berada paling dekat dengan jendela. Namun, ia tak tahu jika ada orang yang mengincar kasur yang sama.


Gerlon berlari lebih cepat dari Ashnard dan langsung melemparkan tubuhnya ke kasur putih yang empuk tersebut.


"Siapa cepat dia dapat." Gerlon mengedipkan matanya pada Ashnard dan tersenyum sombong.


"Aku tak akan membiarkan kasurku jatuh ke tubuh orang lain!" kesal Ashnard. Ia tak ingin mengalah. Ia meremas kaki Gerlon dan berusaha menariknya dari kasur incarannya.


Reinhard menghela nafas ketika melihat tingkah konyol Ashnard dan Gerlon dalam memperebutkan satu kasur yang sama.


"Kalian berdua benar-benar berisik," geramnya.


Reinhard meletakkan kopernya di kasur yang paling dekat dengan pintu. Koper tersebut awalnya dititipkan pada rumah Egon saat hukuman berlangsung.


Reinhard merapikan pakaian yang ia bawa. Meletakannya pada lemari, setelah itu ia menuju kamar mandi.


Di kamar mandi, Reinhard membuka baju dan perbannya secara perlahan. Luka di perutnya memang sudah tak terbuka lagi, tapi ia masih bisa merasakan rasa sakitnya. Ia tak bisa menunggu lama. Ia pun memakai bajunya kembali dan menuju ke luar. Sementara Ashnard dan Gerlon masih memperebutkan kasurnya.


Langit jingga menghiasi akademi pada sore hari itu. Terlihat beberapa murid-murid yang masih berkeliaran sebelum malam.


Reinhard berjalan dengan tenang melewati jembatan yang menuju asrama perempuan. Sembari melihat lingkungan akademi, banyak hal yang bisa Reinhard temukan.


Reinhard menyapu pandangan ke sekeliling mencari siapa yang memberi perasaan tak enak padanya. Dan ia menemukan seorang murid yang memakai tudung, mengintip dari balik tembok aula lalu pergi setelah Reinhard menyadarinya.


Reinhard tak begitu penasaran dengan orang itu. Ia berpikir jika orang itu hanyalah orang aneh yang menyukai hal aneh atau hanya orang biasa yang iri padanya. Orang-orang tersebut sudah pernah Reinhard temui sejak di Winfor.


Di depan asrama perempuan, Reinhard dihentikan oleh seorang gadis berkacamata dengan rambut yang dikuncir kuda.


"Berhenti! Apa yang ingin kau lakukan di sini?" tanya gadis tersebut sudah seperti patung penjaga yang menahan para pengunjung.


Dari aksesoris kacamata yang dipakainya, dan bagaimana cara ia menatap Reinhard dengan penuh kecurigaan dan ketelitian, serta pakaiannya yang rapi dan tak terlihat kusut sedikitpun, seketika Reinhard langsung paham kalau gadis ini adalah mereka yang berpegang teguh pada kedisiplinan.


Menurut Reinhard, orang-orang sepertinya biasanya agak sulit untuk diajak berteman atau diajak bercanda sekalipun. Reinhard juga sedang malas jika berurusan dengan mereka. "Aku hanya ingin menemui Liliya," jawab Reinhard.


Gadis itu membawa sebuah catatan di tangannya yang berisi nama-nama para murid perempuan. Ia menelusuri satu per satu nama tersebut dengan pena merah emasnya. "Liliya ... Liliya Nerefelon? Apa kau ingin menemui Liliya Nerefelon?"


"Aku sudah mengatakannya tadi. Terima kasih."


Reinhard berusaha masuk ke dalam, tapi gadis itu menahannya lagi. "Laki-laki tak boleh masuk asrama perempuan!" tegasnya. "Tunggu di sini! Aku akan memanggil Liliya Nerefelon untukmu."


"Terserahlah," jawab cuek Reinhard.


Tak lama kemudian, gadis berkacamata itu datang dan membawa Liliya bersamanya.

__ADS_1


"Kau mencariku?" tanya Liliya.


Reinhard mendekatkan dirinya ke Liliya dan berbisik dekat telinganya. "Aku membutuhkannya sekarang."


"Jangan dekat-dekat! Laki-laki dan perempuan harus berjarak setidaknya satu meter," bentak gadis berkacama itu sambil memisahkan Reinhard dan Liliya.


"Tidak apa, Eris, Rein orang yang baik," ucap Liliya memberikan senyumannya pada Eris.


Reinhard tak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia meraih tangan Liliya dan segera pergi selagi Eris meneriakinya untuk tak saling bersentuhan.


"Satu catatan untukmu, Asberion," geram Eris penuh emosi.


Dari jendela asrama, Wilia mendapati Reinhard yang pergi berdua bersama Liliya. Sekarang ada sedikit kebencian yang tumbuh di hati Wilia pada gadis tersebut.


Ketegangan perebutan kasur pun sudah reda dan tepat dengan waktu malam hari untuk beristirahat. Ashnard berguling-guling di kasurnya dengan tersenyum bahagia. Ia tak berhasil menang dalam tes, tapi ia berhasil mendapatkan kasur yang dekat dengan jendela.


"Ayolah, saat aku di panti asuhan, aku biasa tidur dekat jendela. Aku tak bisa tidur di kasur lain," rengut Gerlon yang mendapatkan kasur tengah.


"Aku mendapatkannya dengan pertempuran yang adil," balas Ashnard.


Tak lama kemudian, Reinhard kembali. Wajahnya kembali segar seperti baru lahir.


"Dari mana saja?" tanya Gerlon.


"Bukan urusanmu," jawab Reinhard tipikal.


Dari tempat tidurnya, Ashnard melirik ke Reinhard. Berandai tentang apa yang dilakukan Reinhard saat di luar. Mungkin berurusan dengan teman bangsawan lainnya.


Setelah melepas sepatunya, Reinhard berbaring di kasurnya. Tiga anak laki-laki itu sudah berbaring di kasurnya masing-masing di bawah cahaya bulan yang menyelinap masuk melalui jendela kaca.


Ashnard berbaring menghadap jendela, Reinhard berbaring menghadap ke pintu, sementara Gerlon menatap langit-langit kamarnya.


"Karena kita ditakdirkan untuk bersama. Berarti kita sudah menjadi teman, benar kan?" gumam Gerlon di kala malam setengah tua.


"Tentu saja kita teman," jawab Ashnard yang belum tidur dan mendengarnya.


"Bagaimana denganmu, Reinhard?" Gerlon beralih ke Reinhard, tapi tak ada balasan darinya.


Udara malam yang masuk melalui jendela, mendinginkan tubuh mereka. Meresap masuk ke hidung dan menyegarkan tubuh Gerlon yang menghirupnya.


"Rasanya seperti tak lama aku meninggalkan panti asuhan dan sekarang aku berada di akademi. Aku tak percaya sudah sejauh ini."


"Aku juga," gumam Ashnard. Tangan dan kakinya meregang untuk merasakan seluruh kelembutan kasurnya sehingga seperti ia tertelan ke dalam kasur tersebut. "Ah, enaknya. Akhirnya aku bisa beristirahat dengan nyenyak. Sudah lama sekali rasanya aku tidak merasakan kasur empuk," ucap Ashnard sambil mengerang menikmati.


"Sudah lama?" Gerlon terheran saat mendengar ucapan Ashnard. "Oh ya, aku belum tahu bagaimana kau bisa telat ke sini. Bisakah kau ceritakan sedikit?"


Pertanyaan itu membuka mata Reinhard yang sudah terpejam sebelumnya. Saat ini, ia sama penasarannya dengan Gerlon tentang kedatangan Ashnard yang misterius. Reinhard pun membuka telinganya lebar-lebar sambil berusaha untuk tak diketahui oleh yang lain.


Ashnard berbalik dan menatap Gerlon selama beberapa saat.

__ADS_1


"Tidak, aku tak akan menceritakannya," jawab Ashnard dihadiri keheningan setelahnya.


__ADS_2