
Aktivitas kembali lagi seperti biasa setelah liburan di kota selesai. Kegiatan belajar mengajar diadakan kembali. Akademi kembalai ramai seperti biasa.
Setelah semua kejadian di kota, banyak hal telah berubah di sekiling Ashnard. Salah satunya dia semakin dekat dengan Nina dan Eris. Wilia yang awalnya cuek, kini menaruh perhatian pada Ashnard karena telah membantunya serta kemampuannya yang dapat menjinakkan Nina.
Ashnard kini tahu tentang perasaan Reinhard terhadap Liliya. Dia memilih untuk bersikap biasa saja. Seiring waktu berlalu, Ashnard juga perlahan melupakan hal tersebut. Meskipun terkadang, Liliya seperti biasa bermain bersama Ashnard. Belajar bersama, mengikuti kelas bersama seperti hubungan mereka pada umumnya yang cukup dekat.
Bagi Ashnard yang memiliki agendanya sendiri, dia tidak mempermasalahkan semua yang telah terjadi. Dia justru menikmatinya seperti yang Ozark dan Nous perintahkan. Ashnard harus menikmati dan membuat kenangan sebanyak mungkin di akademi.
Namun, pagi yang tenang dan kehidupan akademi yang aman selalu tidak akan bertahan begitu lama. Ada saja sesuatu yang muncul dan langsung mengubah suasana dengan seketika.
Di lorong, Ashnard yang sedang menuju ke kelas, di cegat oleh seseorang yang tidak dia duga. Kepala Akademi berdiri di hadapannya, menyapa sambil tersenyun.
"Bisakah kau ikut denganku, Tuan Raegulus? Ada yang kuingin bicarakan denganmu," ucapnya.
"Bagaimana dengan liburanmu? Apakah menyenangkan?" tanyanya. Pria berambut putih itu membawa Ashnard ke koridor taman. Menuju menara yang terletak di belakang akademi.
Ashnard menghela nafas lega, karena dia takut jika ada kabar buruk yang akan dikatakan Kepala Akademi, seperti pelanggaran yang Ashnard buat dan hukumannya.
"Ya, sangat menyenangkan. Kurasa."
"Apakah menyenangkan itu termasuk saat kau bertemu dengan salah satu pendiri akademi, Leashira?"
Ashnard terkejut dan berhenti, mendengar ucapan Servulius. Dia berusaha melihat pria itu lagi untuk memastikan apakah dia salah dengar atau Kepala Akademi sedang bercanda. Sorot mata dan nyuman yang terukir di wajah awet mudanya itu tidak menunjukkan sama sekali bahwa dia sedang bercanda. Ucapannya serius.
"Hei, apa kau mendengarku?" tanya Servulius melambaikan tangannya di depan muka Ashnard yang membeku. "Kau berlebihan, nak."
"Bagaimana kau bisa tahu?" heran Ashnard.
"Aku tahu, lebih tepatnya semua Kepala Akademi sebelumku tahu kalau Leashira masih hidup dalam bentuk yang baru. Aku sering mengunjunginya. Dan terakhir kali aku mengunjunginya, dia bercerita tentangmu," jelas Kepala Akademi.
Ashnard tentu saja terkejut, kenapa Leashira tidak memberitahunya sedari awal. Ashnard juga awalnya berpikir jika Leashira akan merahasiakan apa yang dirinya dan lainnya lakukan di hutan tersebut. Tapi, dari pernyataan Kepala Akademi memberikannya fakta yang mengejutkan.
Jika benar Kepala Akademi mengunjungi Leashira, itu berarti tidak ada yang bisa Ashnard sembunyikan lagi.
__ADS_1
"Seberapa banyak yang kau ketahui?" tanya Ashnard memastikan jika rahasianya terjaga dengan baik atau tidak.
"Banyak. Tapi, aku mengabaikan hal yang tidak penting dan fokus ke yang penting saja. Yang penting itulah yang ingin kubahas denganmu saat ini," jawab Kepala Akademi. Melanjutkan langkahnya.
Mereka lalu sampai di pintu menara. Entah apa yang sebenarnya ingin Servulius katakan, dan kenapa dia menuntun Ashnard ke menara. Ashnard penasaran dengan dua hal tersebut.
"Apa yang kau maksud dengan hal penting?"
"Tentang kekuatan Nina Vantalion dan Wilia Walhemstein. Memang benar, saat ini kita tidak memiliki jawaban akan rahasia dibalik kekuatan yang mengalir di darah Putri dari Rabalm. Kita bisa mengesampingkan itu. Namun, yang menjadi sorotanku adalah Nina Vantalion."
Ashnard terkejut saat mendengar nama Nina. "Ada apa dengannya?"
Servulius berhenti di salah satu anak tangga, di mana ada jendela yang menghadap ke luar akademi. Dia bersandar di jendela itu dengan rambutnya yang ditiup angin dari luar.
Dia berdiri di anak tangga yang lebih tinggi daripada Ashnard. Membuat Ashnard yang sebelumnya lebih pendek darinya, semakin terlihat pendek. Sementara Ashnard masih harus mendongak ke atas.
"Kau lihat sendiri kan kekuatan gadis itu? Apa kau tidak berpikir seberapa besar kekuatannya dibandingkan gadis seumurannya? Jika kau tidak ada, dia bisa saja membakar tak hanya hutan, tapi juga kota."
Ashnard tidak menyadari akan kekuatan Nina, karena dia sering berhadapan atau bertemu dengan orang-orang yang memiliki kekuatan besar. Dia baru menyadari setelah diingatkan lagi oleh Servulius, ditambah luka bakar uniknya yang masih membekas di ingatannya.
"Memangnya kenapa? Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, bukan? Mungkin saja Nina memang memiliki bakat yang luar biasa," ucap Ashnard.
"Ingatlah, Ashnard! Ingatlah yang apa yang telah kau alami selama ini. Dan ingatlah apa yang sedang terjadi di depan matamu. Aku takut Kehancuran yang Pria Luka katakan padamu akan segera terjadi, tidak lama lagi."
"Maksudmu, Nina adalah salah satu dari Dua Belas Kehancuran?"
Terdengar memang sangat mustahil, tapi itulah yang Ashnard dengar dari mulut Servulius. Meskipun, angin berhembus masuk melalui jendela, ucapan Servulius lebih keras daripada suara angin. Seolah telinga Ashnard hanya mendengar suara Kepala Akademi saja.
"Dua Belas Kehancuran merepresntasikan dua belas elemen. Apa yang aku pikirkan, Nina adalah Sang Kehancuran Api. Kekuatannya terlalu besar dan mengerikan."
"Itu sangat tidak masuk akal!" bantah Ashnard, emosinya langsung meluap. "Hanya karena dia kuat, bukan berarti dia berbahaya dan akan membawa kehancuran. Bagaimana dengan orang-orang kuat lainnya, seperti kau, atau aku, atau-"
"Kau memiliki dua elemen, sedangan setiap Kehancuran memiliki satu elemen sesuai dengan representasi mereka. Itu sudah sangat jelas." Terdengar gema langkah dari atas, diikuti dengan sosok seorang pria berambut putih panjang, Gerardus.
__ADS_1
Ashnard sudah menduganya karena aneh rasanya jika sang Kepala Akademi tidak muncul bersama adiknya. Ashnard menebak Servulius tidak akan sendiri dan tidak lama lagi Gerardus akan muncul. Dan tebakannya benar.
"Nina bukan orang jahat!" tegas Ashnard, menatap tajam ke dua pria berambut putih tersebut.
"Kami tahu kau peduli dengannya, tapi kita harus membuka semua kemungkinan yang ada, Ashnard," balas Servulius.
"Nina Vantalion berasal dari Agnar. Negeri Api. Negeri Sang Phoenix. Tanah yang dibangun oleh Dewa Api pada masa lampau. Dewa yang paling lama membantu manusia. Dewa Api Agnar dikenal sebagai Dewa yang lebih mencintai manusia daripada memilih tinggal di kahyangan."
Gervulius menuruni anak tangga satu per satu. Menyibak rambut panjangnya yang sampai menutupi seluruh mukanya saat menuruni tangga.
"Aku sudah menyelidiki gadis itu. Ayahnya, Ferkus Vantalion dan Ibunya bernama Maria Vantalion. Keluarga Vantalion baru-baru terkenal 30 tahun yang lalu saat memimpin pemberontakan terhadap Raja Agnar waktu itu yang diktator.
"Keluarga Vantalion juga dikenal sebagai keluarga bangsawan petarung. Tradisinya yang terkenal adalah melatih keturunan Vantalion untuk mengendalikan api suci. Api Suci dilambangkan sebagai api yang paling panas, dan bagi Vantalion yang berhasil menaklukan akan diakui dan ditunjuk sebagai pemimpin keluarga selanjutnya. Sayangnya, Nina gagal menaklukan api suci, lalu dikirim ke akademi agar dirinya semakin kuat. Bukti kegagalannya menjalankan tradisi keluarganya ada pada luka bakar di punggungnya."
"Sudah cukup," geram Ashnard.
"Ayah Nina memiliki kepribadian yang cukup keras dan sangat disiplin. Sementara Ibunya adalah darimana kepribadian Nina berasal. Nina memiliki teman bernama Eris Menriotte. Putri seorang ahli hukum. Nina juga memiliki anjing bernama Palo. Hobinya adalah membaca. Selain luka bakar, ada luka lainnya di bagian pinggul kirinya akibat latihan yang sangat-"
"Sudah cukup!" Ashnard membentak, tangannya mengepal lebih erat. Ashnard tidak terima jika privasi seseorang digali demi kepentingan yang lain seperti yang Gerardus lakukan. Menurutnya, itu sudah melanggar batas. Nina juga pasti tidak menyukai ini. "Kau tidak boleh seenaknya mencari tahu rahasia pribadi orang lain. Kau tidak berhak melakukannya!"
"Sebenarnya, aku tidak membutuhkan izin siapapun untuk melakukannya. Aku seorang diplomat, nak. Sudah sewajarnya aku tahu banyak soal negara lain, serta yang memegang kendali atas negara tersebut," balas Gerardus.
"Gerardus benar, nak. Masalah ini bukan lagi hal yang bisa disepelakan. Kau mungkin benar tentang Nina yang bukan orang jahat, tapi bagaimana jika salah?"
Ashnard merasa bingung, kenapa kedua pria di depannya seperti menyudutkannya. Mereka terlihat seperti merencanakan sesuatu tanpa mempedulikan pendapatnya. Ashnard hanya terkejut karena tiba-tiba mereka membahas Nina, tidak ada angin, tidak ada hujan.
Ashnard lebih tahu soal Nina daripada mereka. Karena itu, dia tidak rela jika Nina dituduh akan menghancurkan dunia tanpa bukti yang pasti. Nina memang sangat kuat dan sikap protektifnya berlebihan, tapi Ashnard yakin Nina tidak memiliki niat untuk melenyapkan umat manusia.
Servulius melihat Ashnard yang masih ragu. Dia meletakkan tangannya pada bahu Ashnard, mencoba untuk membuat Ashnard berpikir Servulius masih ada dipihaknya. Karena memang itu yang Servulius ingin tunjukkan pada Ashnard, bahwa dirinya masih ada dipihak Ashnard.
"Kami sangat ingin Nina seperti katamu. Gadis yang baik dan penuh semangat. Tanpa kau ucapkan, kami tahu. Kami juga memiliki banyak teman yang sangat spesial bagi kami, sama seperti betapa pentingnya Nina bagimu. Karena itu, kami juga ingin membantu teman kami sekuat tenaga. Jika ada seseorang yang berusaha mencelakai teman kami, tentu saja kami akan melakukan segala cara, bahkan mencegah sebelum ancaman itu terjadi. Kau mengerti, kan?"
Ashnard tidak memiliki jawaban untuk itu. Dia terdiam.
__ADS_1
"Jika kau masih ragu, ikut kami. Kami akan menunjukkan sesuatu padamu," ajak sang Kepala Akademi, memberikan senyuman yang lebut dan tepukan lembut di bahu Ashnard.