The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Kegiatan yang terus berulang


__ADS_3

Nina berusaha mencegah Abertha untuk terus membuat Eris kelelahan, tapi sesungguhnya Eris sendiri yang menginginkannya. Walau tubuhnya berat dan dia capek karena terus disedot tenaganya, tapi rasanya dia sangat menikmatinya. Tubuh gadis itu yang menagih meskipun ucapannya berlawanan.


Saat Nina berusaha mendorong kepala Abertha, Eris mencegah tangan Nina. "Apa kau serius?" tanya Nina.


Eris tak bisa menjawab. Wajahnya merah karena air hangat juga karena Abertha. Tubuhnya terus bergoyang naik turun akibat sesuatu di dalam air, menyebabkan air kolam terus berkecipuk dan bercipratan ke mana-mana. Nafasnya terengah sangat berat.


Melihat ekspresi temannya yang seperti kelelahan tapi juga tidak, Nina tidak kuat untuk berendam di sebelahnya lagi. Tidak hanya hatinya yang merasa tidak enak tapi tubuhnya juga. Karena itu, Nina memutuskan meninggalkan mereka berdua.


Nina berdiri dari kolam dan air langsung mengalir di seluruh tubuhnya kembali kolam. Nina keluar dari kolam, lalu menuju ke ruang ganti. Dia mengelap seluruh tubuhnya dengan handuk. Meskipun air sudah menyerap seluruh tubuhnya, tapi masih ada air yang keluar dari bagian bawahnya. Nina sudah merasa jika perbuatan Arbetha juga berpengaruh padanya. Nina tak tahu apa yang terjadi padanya jika dia terus ada di sana. Mungkin dirinya akan menjadi kacau sama seperti Eris. Setelah dia benar-benar membersihkan sisa air, dia memakai baju seragam lengkap. Nina berdiri di depan cermin untuk mengecek apakah bekas merahnya kelihatan atau tidak. Setelah aman, dia pun keluar dari kamar.


Sementara itu, Eris terus tersentak seperti dihentak oleh sesuatu di bawah air. Ketika Nina sudah tidak ada, tangan Eris bergerak sendiri ke belakang kepala Abertha untuk menekannya agar terus menghentaknya.


Walaupun hanya ada rasa enak, tapi dipikirannya terbesit sebuah pertanyaan: Bagaimana Abertha bisa melakukannya di bawah air yang hangat dan dalam waktu yang cukup lama? Seberapa kuat dia bisa menahan nafasnya? Begitu dia memikirkannya, puncaknya pun sudah tiba. Tubuhnya gemetar hingga akhirnya bisa bernafas lega kembali.


Abertha muncul dengan raut kemenangan di wajahnya sambil mengelap air di mulutnya. "Apa kau puas?"


Eris cemberut kesal. "Kenapa kau terus melakukannya padaku? Ditambah, kau tiba-tiba melakukannya."


"Hehe, tentu saja kejutan tak terduga semakin meningkatkan suasana, bukan?" ucap Abertha tersenyum jahil.


Awalnya, Abertha hanya melakukan kejahilannya sangat jarang. Bahkan dulunya cuman sebulan sekali, kadang seminggu sekali, dan kadang juga sebulan tidak pernah. Tapi, kali ini dia menjadi begitu bersemangat dan sering. Yang biasanya sehari sekali menjadi satu hari berkali-kali. Eris sendiri memang merasakan sudah waktunya untuk istirahat. Namun, tetap Abertha tak mempedulikannya dan terus menjahili Eris hingga puas.

__ADS_1


Itu tidak berhenti di kolam pemandian saja. Setelah Eris beberes dia langsung menuju ke kelas untuk mengikuti kegiatan akademinya. Karena Eris adalah murid yang sangat rajin, dia selalu datang paling awal. Di kelas tidak ada siapapun selain dirinya. Momen itulah yang digunakan Abertha untuk menggodanya lagi.


Sebelum ada murid lain datang, Abertha masuk ke kelas yang bukan jam pelajarannya. Dia menghampiri Eris dan langsung menyikatnya di atas meja. Eris memang memberontak, tapi Abertha jauh lebih kuat dari dugaannya. Semakin Eris berontak semakin agresif dia. Tidak hanya menyosor di bibirnya saja, ia sampai membuka baju Eris untuk menyantap buah tersebut dengan puas. Lalu meninggalkan bekas di leher, dada, paha dan bagian dalamnya. Setelah itu, dia langsung pergi sebelum ada murid lain masuk. Yang malu adalah Eris. Tidak hanya bajunya kusut tapi tubuhnya juga kesakitan, ditambah ada bekas merah yang harus dia sembunyikan saat pelajaran di mulai. Selama perjalanan berlangsung, Eris tak bisa fokus karena sibuk menyembunyikan bekas merah sambil mewaspadai sekitar, takut jika dia ketahuan oleh orang lain.


Akhirnya kelas selesai, dan keberuntungan masih berada di pihak Eris. Eris kembali ke kamarnya dengan langkah cepat, membuka pintu dengan keras lalu menatap tajam ke arah Abertha yang sedang melukis sambil tersenyum santai. Melihat senyuman jahil gadis itu, Eris merasa sangat ingin memukulnya. Tapi, urung karena statusnya sebagai prefek. Gantinya, dia hanya memarahi dan membentak Abertha dengan ratusan bahkan ribuan kata yang disusun untuk menjelaskan tindakan Abertha yang merugikan. Jika Abertha masih mengulanginya lagi, Eris bisa saja memberikannya catatan pelanggaran berlapis-lapis karena lagi-lagi statusnya sebagai pengawas asrama perempuan. Semua murid ada dalam pengasawannya, termasuk Abertha. Karena itu, dia bisa kapan saja mencatat nama Abertha lalu menyerahkannya kepada para guru untuk ditindak lanjuti.


"Setelah semua yang kau lakukan padaku, kau menuduhku?" ucap Abertha dengan nada penuh dramatisir.


"Ya. Jika itu perlu," jawab Eris memalingkan mukanya sambil melipat tangannya.


"Jangan catat namaku, sebagai gantinya aku akan terus melakukannya seharian penuh. Tanpa istirahat," tawar Abertha.


Dua jam olahrga saja sudah membuat tubuhnya capek total, apalagi seharian penuh tanpa istirahat. Ini sudah sangat tidak normal. Tidak hanya tubuhnya saja yang akan rusak nantinya, tapi pikirannya juga akan semakin kacau.


Eris menolak dengan tegas. Tapi, Abertha dengan tatapan seperti macan yang ingin memangsa Eris langsung melompat dari kursi dan menerjang ke arah Eris. Nina muncul tepat waktu dan memukulkan tasnya kepada Abertha agar tidak menyentuh Eris.


"Hentikan, Abe! Kau sudah seperti predator saja," kesal Nina.


Bau keringat terpancar di tubuh Nina, kulinya dan bajunya juga menjadi basah karena keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Eris menutup hidungnya dan berkata dengan suara sengau, "Kau habis latihan, ya?"


"Ya." Nina meletakkan tas selempang berisi buku-bukunya di kursi sebelah kasur.

__ADS_1


"Itu berarti kau akan menantang Ashnard lagi?" seru Eris senang.


Karena malu, Nina tak menjawab. Dia beranjak ke arah kamar mandi. "Aku mau mandi dulu. Tubuhku lengket semua," katanya mengalihkan pertanyaan Eris.


Ini masih belum siang, tapi Nina sudah mandi yang kedua kalinya. Kesibukan tiap orang berbeda-beda dan kegiatan yang mereka lakukan untuk mencapai tujuan yang juga berbeda-beda. Selagi Nina mandi, Eris belajar di meja belajarnya. Ada banyak tumpukan buku tebal di mejanya berisi pelajaran dari kurikulum yang sedang ia tempuh.


Sebagai murid rajin dan pandai, tidak lupa dia juga mengerjakan tugasnya. Eris mulai menulis di buku dengan pena kosongnya. Satu paragraf panjang dia kerjakan, tapi tiba-tiba tangannya gemetaran mengakibatkan tulisannya menjadi rusak. Dia mendadak berhenti menulis karena ada sesuatu yang sedang bermain-main di dalam roknya.


Ada sensai lembut dan besah, juga sedikit kasar tapi juga kenyal seperti jeli. Terasa juga seperti gerakan lembut yang menggelikan kemudian tarikan yang kuat. Semua itu cukup untuk membuat Eris berhenti untuk bernafas dan tubuhnya gemetaran.


"A-Abe! A-aku lagi belajar!" Nafasnya yang berat seperti sedang berada di tempat dingin, Eris meremas roknya berharap itu bisa menahan rasa aneh di bawah.


"Kau belajar saja, aku akan melakukan tugasku sendiri." Sambil mengucapkan itu sambil mulutnya menahan sesuatu sehingga terdengar sedikit tidak jelas. Tapi, Eris bisa merasakan getaran di tubuhnya saat Abertha membuka mulutnya.


Sambil berusaha menahan diri, Eris mencoba melanjutkan tugasnya lagi. Dia memaksa tangannya agar berhenti bergetar saat ingin menulis, tapi kenyataannya sangat sulit. Tulisannya menjadi berkelok-kelok tidak rapi. Meskipun tulisannya menjadi tidak rapi, Eris terus lanjut menulis.


Sebelum itu terjadi, Abertha awalnya sedang melukis. Dia lalu bertanya ke Eris apakah ingin dilukis atau tidak tapi Eris tak menjawab. Eris diketahui sangat fokus ketika sedang belajar. Saking fokusnya, dia sampai tidak melihat apapun atau tidak menyadari apapun di sekitarnya, dan juga tidak mendengar apapun. Abertha terus memanggilnya tapi tetap tidak ada respon.


Merasa kesal dia ingin membalas Eris yang mengabaikannya dengan satu cara. Memanfaatkan fokus Eris yang tidak dapat diganggu, Abertha diam-diam menyelinap melalui bawah kursi ke bawah meja. Meja belajar Eris memiliki sebuah ruang bagian bawah yang cukup lebar hingga cukup untuk seseorang bersembunyi di bawah sambil meringkuk memelut lutut. Lalu, ketika Abertha sudah berlutut di posisi yang pas, dia membuka rok seragam berwarna hitam sebetis, lalu menyelinap seperti masuk ke dalam tenda. Sampai sini, sentuhan bisa sekalipun tidak akan bisa mengalihkan fokus sang gadis berkacamata itu. Abertha terus menjelajah semakin dalam hingga dia melihat sebuah kain putih dengan aroma bunga. Tanpa basa-basi, dia langsung membuka mulutnya seolah-olah itu adalah kue yang bisa disantapnya.


Dan begitulah cara Abertha sampai ke dalam dan berhasil memaksa Eris kehilangan fokusnya. Sekarang Eris harus membagi fokusnya ke dalam dua hal, yaitu tugasnya juga Abertha yang sibuk mengunyah kue dengan bibir lembutnya.

__ADS_1


__ADS_2