The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Kejelasan


__ADS_3

Ketika sang Reinhard Asberion memasuki kelas, murid-murid langsung berbisik dengan heboh. Namanya sekarang setara dengan keluarga kerajaan seperti Wilia.


Tapi, meskipun ada banyak yang mengakui dan mengagungkan Reinhard, ada juga yang berpikir sebaik apapun Reinhard bertindak akan selalu keburukan yang selalu terbayangkan.


Di ruang kelas tersebut, setidaknya ada beberapa. Tidak hanya satu yang menganggap Reinhard Asberion sebagai pencari perhatian. Setidaknya itulah yang murid bertudung pikirkan duduk di paling ujung ruangan. Jauh dari jangkauan lingkaran kelas sosial di akademi ini.


Guru datang. "Hari ini, kalian akan belajar tentang aturan pengeluaran energi elemental yang efisien. Tapi, sepertinya materi ini sudah bukan apa-apa bagi Tuan Asberion, ya?" ucap guru itu bercanda. Kelas pun tertawa, tapi juga paham dengan maksud sang guru yang masuk akal.


Setiap ruang kelas setiap kegiatan belajar mengajar yang Reinhard datangi selalu menemui kehebohan yang tak kunjung mereda. Tak hanya dari kalangan gadis, murid laki-laki bahkan guru yang mengagumi Reinhard juga tak henti-hentinya menyanjungkan nama Reinhard di manapun.


Seketika, dalam satu waktu, Reinhard sudah menjadi topik pembicaraan yang hangat. Mereka membicarakan mulai dari sikapnya, parasnya, kemampuannya, hingga keluarganya.


Tentu saja bagi beberapa murid yang tak peduli, merasa muak dan bosan dengan Reinhard Asberion yang selalu diucpakan di mana-mana.


Setiap tempat yang Arlon kunjungi, setiap lorong yang sang pangeran lewati, semuanya membahas Reinhard Asberion. Seakan-akan tidak ada bahasan lagi di dunia yang luas ini.


Karena muak, Arlon pun menghampiri salah satu siswa dan menyuruhnya untuk berhenti membahas Reinhard.


Siswa tersebut berkata dengan nada merendahkan, "Kalau kau ingin diperbincangkan sepertinya, kenapa kau tidak mengalahkannya saja? Bahkan, seorang pangeran pun kalah dengan bangsawan yang tingkatannya lebih rendah."


Siswa itu tahu setelah kabar pertarungan Reinhard dan Arlon menyebar, bahwa ia tidak perlu takut pada pangeran yang kalah seperti Arlon. Kemenangan Reinhard membuat siswa-siswa lainnya mendapatkan kepercayaan diri bahwa bangsawan sekalipun yang bukan anggota keluarga kerajaan tetap bisa sehebat seperti Reinhard.


Apalagi semboyan akademi dimana semua siswa tidak dibeda-bedakan meskipun bangsawan tinggi atau rakyat jelata, membuat sebuah perlindungan bagi siswa-siswa tersebut.


Arlon tak bisa meluapkan emosinya karena perlindungan itu.


Hingga di ujung jalan, ia bertemu dengan sang bintang akademi. Berjalan dengan santai tanpa mempedulikan kebencian orang di hadapannya. Mata mereka saling bertemu, tapi bukan pandangan mata yang akrab.


"Hei, Arlon, kau sudah sembuh dari lukamu?" tanya Reinhard.


Arlon mengiggit bibirnya dalam diam. "Katakan saja," gumamnya.


"Apa?"


"Cepat katakan saja!"


"Katakan apa?"


"Katakan saja kalau kau sudah puas telah menjatuhkanku dua kali," ungkapnya. Kepalan tangannya gemetaran.


"Apa yang kau katakan, Arlon Nortrast?"


"Ya, wajahmu sudah menjelaskan semuanya." Arlon kemudian beranjak pergi dengan penuh amarah. Dan tak peduli jika bahunya terbentur sangat keras dengan bahu Reinhard.


Reinhard tak mengejarnya. Ia lanjut berjalan terus menuju tujuannya tanpa mempedulikan satu pun yang Arlon ucapkan.

__ADS_1


"Aku sudah mencarimu, Reinhard Asberion." Di lorong depannya, gadis berkacamata muncul menghampirinya.


"Namamu, Eris, benar? Ada apa?" tanya Reinhard.


"Aku akan melupakan catatanmu untuk saat ini. Aku disini untuk menawarkanmu bergabung ke Dewan Kesiswaan. Tentu saja, bagi Asberion sepertimu, ini bukanlah hal yang sepele, kan?" jelas Eris.


Bergabung ke Dewan Kesiswaan bisa menambahkan prestasi dirinya untuk dicatat di Dinding Asberion. Seharusnya, tawaran ini untuk Arlon sebelum kekalahannya melawan Reinhard. Ini adalah kesempatan emas untuk Reinhard. Akan tetapi, untuk bergabung ke dewan, harus mempersiapkan banyak hal terlebih dahulu. Apalagi ini suatu kejutan yang tak diduganya.


"Aku akan memikirkannya nanti," jawab Reinhard.


Di salah satu cabang lembah, di pinggir sungai, Gerlon sedang mengamati sesuatu sambil ditemani-secara terpaksa-oleh Ashnard.


Gerlon berkata kalau ia butuh perlindungan, dan orang yang kalah dengan seorang gadis cocok menjadi pelindungnya.


Ajakan sekaligus sindiran itu tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Ashnard. Tapi, karena Gerlon terus memohonnya selama jam istirahat, Ashnard akhirnya menerimanya.


Ashnard awalnya hanya menganggap ajakan Gerlon hanya bercanda. Ia berpikir jika Gerlon hanya ingin berbincang-bincang atau bermain bersamanya di pinggir sungai. Dan ternyata, Gerlon hanya jongkok dan mengamati dengan serius sebuah kotoran hewan di pinggir sungai.


"Baunya masih segar dan ada serat-serat rumput. Sepertinya makhkuk ini telah mengonsumsi sejumlah tanaman di sini," gumamnya.


Bau busuknya menusuk hidung Ashnard meskipun ia sudah menutup hidungnya. "Ayolah, itu hanya kotoran kuda milik Tuan Egon," ucapnya parau.


"Tidak ada kuda yang menghasilkan kotoran serapi dan semulus ini. Teksturnya masih lembut dan suhunya masih terjaga. Ini adalah barang bukti yang sempurna," katanya penuh semangat.


"Barang bukti untuk apa? Koleksi kotoran?"


"Tujuh misteri?"


"Tujuh misteri yang menggentayangi akademi dengan rentetan kejadian misterius yang tak dapat dijelaskan secara naluri."


"Apa hubungannya sama kotoran itu?"


Gerlon menyeringai lebar. "Misteri kelima," ucapnya sambil menunjukkan lima jarinya. "Identitas misterius sang peneror."


"Apaan itu?"


Gerlon mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu. Karena itu disebut misterius, kan?"


Ashnard tak menyangka ternyata Gerlon adalah orang aneh yang menyukai dongeng-dongeng horor ala sekolahan. Tanpa basa-basi, ia berbalik dan pergi. "Aku kembali saja. Aku tak ada waktu untuk ini."


"Baiklah, kalau aku tak kembali selama beberapa minggu, jangan tangisi aku," teriak Gerlon selagi Ashnard beranjak semakin jauh darinya.


Tak ada hal yang lebih baik, selain makan selepas pembelajaran yang menguras otak. Sama seperti saat masih berada di Winfor, setelah latihan, hal yang pasti dan harus di lakukan Ashnard adalah makan.


Akademi kantin terletak lebih ke bawah dan masih tersambung dengan Aula Putih. Dari gerbang utama aula, melalui koridor taman dan sampailah ke anak tangga. Di mana sudah tercium aroma masakan dari berbagai tempat saat menuruni tangga tersebut.

__ADS_1


Ternyata tak hanya Ashnard yang berpikiran sama. Sudah ada banyak siswa-siswa yang mendahuluinya dan mengambil alih semua meja. Tak ada satu meja kosong sejauh yang ia lihat.


Jika bukan karena Gerlon, dirinya tak mungkin kehabisan tempat seperti sekarang.


Dari mata yang bergerak ke kiri dan ke kanan, mencari satu kursi yang kosong, terlihat satu tangan yang terangkat di antara kerumunan. Tidak lain tidak bukan tangan Liliya. Tentu saja, tak ada lagi yang mengenal Ashnard selain dirinya.


Liliya menunjukkan pada Ashnard mejanya yang masih tersedia untuk satu orang. Tak hanya ada Liliya, tapi masih ada dua orang lagi yang merupakan teman Liliya.


Setelah saling bertukar salam, teman-teman Liliya tiba-tiba berkata ingin pergi karena suatu urusan. Mereka paham dengan yang terjadi dan sebagai teman, mereka memberikan kesempatan. Meninggalkan Ashnard berdua bersama Liliya.


"Apa kau tak ingin bertanya padanya?" tanya Roc. "Kurasa ini kesempatanmu."


"Tanya apa?"


"Tentang kekuatannya, perjanjiannya, semuanya. Sebenarnya aku juga masih banyak pertanyaan yang belum kujawab."


Ashnard baru ingin membuka mulutnya, Liliya membuatnya tak perlu susah payah. "Aku benar-benar minta maaf waktu mengabaikannya saat itu."


"Permintaan maaf diterima," jawab Ashnard cepat dan sederhana.


"Sungguh aku tak berniat untuk menjauh darimu. Aku hanya ... tak bisa saja." Kepalanya tertunduk sambil memainkan garpunya di piring kosong.


"Waktu itu, sempat kukira kau berada di pihak orang jahat yang berusaha menyalahiku dan Ibuku," kata lelaki itu. "Fiuh, untung saja tidak."


Sontak, Liliya meraih tangan Ashnard dan mengenggamnya erat. "Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu," rengek Liliya hampir meneteskan air di matanya sebelum Ashnard menghentikannya agar tak dilihat orang-orang.


Ashnard menghela nafasnya. "Aku hanya sedikit terkejut saat semua hal itu terjadi. Tentang kekuatanmu dan tiba-tiba kejadian di depan raja. Itu gila, kan?"


"Ya, aku juga tak menyangka. Rein memang kejam saat itu, padahal dia yang salah tapi malah menuduhmu," ucapnya diakhiri dengan tawaan kecil.


"Itu benar. Reinhard memang orang yang kejam. Karena itu aku tak menyukainya."


"Meskipun dia kasar dan selalu mengolok, tapi sebenarnya dia tak pernah melakukan hal senekat itu. Di Asberion, Reinhard sepertinya tertekan karena sumpahnya. Aku tahu sumpah Asberion begitu sakral dan wajib. Jika kau melanggarnya, otomatis kau akan dibuang dan tidak dianggap sebagai Asberion lagi. Benar-benar ketat," jelas gadis itu.


"Ya, seperti perjanjian keluargamu dengan para bangsawan." Ucapan Reinhard membuat Liliya tertegu karena kebenarannya. Ashnard mengamatinya dan tahu jika Liliya juga tertekan dengan perjanjian itu.


"Itu yang menjadi alasanku tak bisa berbicara denganmu saat itu," gumam Liliya menekuri telapak tangan di pangkuannya.


"Apa tidak ada cara untuk mengakhiri perjanjian itu?"


Liliya langsung menggeleng. "Ayahku berkata perjanjian itu penting bagi keluarga kami. Karena jika tidak, siapa lagi yang akan melindungi kami."


Liliya benar. Kekuatannya yang sangat berguna itu pasti jadi incaran banyak orang. Jika Ashnard berkata untuk melepaskan diri dari perjanjian, ia sendiri tidak akan bisa melindunginya selagi ia mempunyai masalahnya sendiri.


Ashnard tak ingin egois, meskipun ia ingin yang terbaik demi Liliya. Ia ingin membantunya dengan segala cara yang ia bisa.

__ADS_1


Tapi, Liliya berkata, "Sebenarnya perjanjian itu bukan masalah besar. Aku sudah terbiasa, kok. Jadi, kau tak perlu khawatir padaku lagi."


"Jika kau sudah berkata seperti, aku tidak bisa berkata apapun lagi." Ashnard pun mencoba untuk memahami Liliya dan perjanjiannya mulai dari sekarang. Karena itulah yang terbaik daripada memaksanya untuk melawan tapi tak bisa membantunya.


__ADS_2