The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Tertangkap Basah


__ADS_3

"Apa yang telah kalian lakukan?" tanyanya berang. Wanita itu memegang pundak Gerlon dengan erat seperti menahan seorang penjahat agar tidak lepas. Terlihat urat amarahnya yang merambat dari tangannya hingga ke lehernya.


Reinhard tanpa basa-basi menunjuk Ashnard. "Ini semua ulah dia, nyonya."


"Apa? Enak saja. Kau juga ikutan, tahu," balas Ashnard tak senang.


"Diamlah, kalian berdua!" Tiba-tiba, tekanan yang sangat berat menekan Ashnard dan Reinhard seperti ditekan oleh batu yang sangat besar.


Udara sekitar juga secara mendadak terasa kian memanas. Keringat meluruu sangat deras dari muka Ashnard. Semua atmosfir aneh itu membuat Ashnard dan Reinhard menunduk takluk.


"Biar kutanyakan sekali lagi. Apa yang kalian lakukan di asrama perempuan?"


Ashnard dan Reinhard merapatkan bibirnya karena terlalu takut untuk berbicara. Disitulah Gerlon yang berinisiatif untuk menjawab pertanyaannya.


"Sebelumnya kami meminta maaf telah memasuki tempat ini tanpa izin, nyonya. Tapi, kami hanya sedang melakukan tugas kami," jelas Gerlon yang sambil menahan rasa sakit di pundaknya tersebut.


"Jangan bohon! Kalian hanya ingin memuaskan rasa nafsu kalian, kan?"

__ADS_1


"Sungguh, tidak, nyonya. Kami anak baik-baik. Kami tidak akan melakukan hal bejat seperti itu," ucap Gerlon. "Kecuali Ashnard," gumamnya masih sempat mengerjai Ashnard meskipun cengkeraman di pundaknya semakin keras.


"Hei, aku dengar itu," balas Ashnard.


"Sekarang kalian harus ikut aku menemui kepala akademi."


Mendengar ucapan wanita itu, Reinhard langsung bersujud di hadapannya. "Kumohon ampuni saya. Jangan bawa aku, tapi nyonya boleh bawa Ashnard dan Gerlon."


"Katakan, alasan apa yang membuatku tidak akan membawamu?"


Wanita itu terkejut tapi tak lama tersenyum. "Jadi, kau putra Asberion yang katanya akan datang itu? Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi kepala keluarga Asberion saat tahu anaknya memasuki asrama perempuan."


"Tidak! Kumohon, nyonya, jangan bilang Ayahku soal ini."


"Ini akademi, Tuan Asberion. Meskipun kau bangsawan terkenal sekalipun, aku tetap akan menghukummu."


"Ya, itu, nyonya. Kami sedang menjalani hukuman," sergah Gerlon dengan cepat. "Kami semua terlambat datang untuk mendaftar di akademi. Jadi, Tuan Egon memberikan kami sebuah tugas hukuman."

__ADS_1


Alis wanita itu terangkat satu. "Egon? Tugas apa yang dia berikan pada kalian?"


"Kami disuruh mencari tanaman misterius hanya berdasarkan petunjuk yang dia berikan. Karena petunjuk itu lah, kami menyelidikinya hingga ke tempat ini. Kami tak berniat melakukan hal apapun di asrama perempuan, nyonya. Percayalah pada kami," jelas Gerlon.


Wanita itu sedikit demi sedikit membuka hatinya. Cengkeraman di bahu Gerlon perlahan melemah dan melonggar. Gerlon langsung memijat bahunya setelah terlepas dari wanita itu.


"Baiklah, aku mengerti masalahnya."


Ashnard dan yang lainnya bernafas lega.


"Ini akan mengecewakan, tapi sebenarnya kalian telah dikerjai oleh Egon. Dia memang guru yang bertugas memberikan hukuman ke para murid, tapi bukan tugas seperti itu."


"Kau lihat? Kataku benar, kan? Pria itu menusuk kita dari belakang," kata Roc.


"Lalu, bagaimana dengan kami?" tanya Ashnard. "Aku mendapatkan surat rekomendasi dari Tuan Gerardus Gwainson. Seharusnya aku sudah terdaftar sebagai murid akademi, kan?"


"Tentu saja tidak. Kalian harus menjalani tes terlebih dulu. Tapi, sebelum itu kalian harus menghadap Kepala Akademi. Tak terkecuali kau, putra Asberion."

__ADS_1


__ADS_2