
Ashnard menemui Gerlon di bawah lembah, jauh dari aktivitas orang-orang.
Bagi Gerlon, tempat seperti ini justru membuatnya tenang daripada di akademi atau di panti asuhannya. Dia tidak berbohong soal perasaannya. Dia berkali-kali sudah memberitahu Ashnard dan Reinhard dan lokasi jika mereka ingin mencarinya.
Dari sanalah, Ashnard menemukan Gerlon sedang duduk melempari batu di pinggir sungai.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ashnard, mengikuti duduk di sebelahnya.
"Menenangkan pikiran," jawab Gerlon. Dia mengambil satu batu putih dan melemparnya dengan sedikit tenaga ke sungai. Batu itu langsung menembus permukaan air dan jatuh ke dasar. "Kau mencariku?" tanya Gerlon.
"Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan pendapatmu," jawab Ashnard.
"Soal apa?"
"Reinhard."
"Ada apa dengannya? Kalian bertengkar lagi?"
"Tidak juga. Bagaimana caraku menjelaskannya ya ...."
"Menurutku dia orang yang menarik. Aku belum pernah melihat Elemagnia seumuran dia yang memiliki kekuatan sebesar itu. Maksudku, aku tahu Pangeran Arlon itu juga kuat, tapi aku tak percaya Reinhard bisa mengalahkannya," jelas Gerlon. "Sudah tampan, anak keluarga terkenal, kuat, populer, banyak gadis bangsawan yang mendekatinya. Benar-benar bintang akademi tahun ini."
"Kau terlalu memujinya."
Gerlon mengambil tiga batu, lalu melemparinya satu per satu. Batu kedua terlempar lebih jauh daripada batu ketiga, tapi batu pertama menggambarkan perasaan lelahnya yang sebenarnya.
Wajahnya saja sudah menggambarkan jelas kalau Gerlon bosan dan juga capek. Meskipun Ashnard menyadarinya, dia tidak menanyakannya. Dia juga capek.
"Menurutku dia memang pantas mendapatkan pujian, kok."
"Menurutku dia sangat tidak pantas mendapatkan pujian," timpal Ashnard dengan kesal. Ia mengikut Gerlon mengambil batu dan melemparnya dengan penuh emosi.
"Kenapa? Aku tak pernah melihatnya berbuat hal yang buruk. Dia selalu bangun pagi, mengerjakan tugas tepat waktu, selalu mengikuti kelas. Bahkan dari yang kutahu, Reinhard tidak pernah melanggar peraturan apapun semenjak keterlambatan waktu itu," ucap Gerlon melontarkan fakta. "Dan kabar sudah beredar kalau dia ditawari bergabung ke dewan. Bukankah hal itu sudah membuktikan kalau dia memang orang yang hebat?"
"Aku baru saja mendengarnya, tapi ... tetap saja aku tak menganggap bahwa dia adalah orang yang layak," jawab Ashnard bersikeras dengan pendapatnya. "Daripada kalian, aku lebih tahu keburukan seorang Reinhard."
Gerlon melirik ke wajah Ashnard yang merah. "Kau kelihatan sangat membencinya. Apa ada masalah serius di antara kalian?"
"Itu karena ...." Sebelum Ashnard melempar batu selanjutnya, ia memutarnya terlebih dahulu di telapak tangannya, memastikan bahwa ia sudah benar-benar tidak memasukkan keraguan dalam lemparannya. "Dia adalah orang yang lebih buruk dari perkiraanmu. Saat di Winfor, para bangsawan itu termasuk Reinhard berusaha menjatuhkanku dan Ibuku dengan segala cara. Mereka bahkan memaksa Liliya untuk berada di sisi mereka."
"Bagaimana jika Reinhard sama seperti Liliya? Juga dipaksa."
__ADS_1
"Itu tidak mungkin! Reinhard bukan orang seperti itu. Ia memiliki tujuan yang sama dengan para bangsawan lainnya," desak Ashnard.
"Bagaimana kau tahu? Apa kau selalu bersamanya setiap saat?" tanya Gerlon. "Menurutku, kau juga sama tidak tahunya tentang Reinhard. Yang kau pikirkan tentangnya bukan masalah bagiku, tapi kau terlalu tergesa-gesa menilainya. Dia bukan orang yang buruk, dia hanya memiliki prinsipnya sendiri."
Tangan yang memegang batu menjadi lemas dan terkulai ke tanah. Bahu anak laki-laki itu roboh. Ashnard lalu menarik lututnya ke dadanya dan memeluknya. "Di depanku, dia lebih sering menunjukkan keburukannya daripada kebaikannya. Aku tak bisa memikirkan apapun selain dia orang yang buruk."
"Aku sempat heran kenapa kalian selalu bertengkar setiap saat. Kupikir hubungan kalian dan cara kalian berkomunikasi memang aneh. Kau tahu, seperti orang yang sesungguhnya sayang tapi tidak bisa menunjukannya."
"Bagaimana dengan Liliya?" Ashnard mengalihkan ke pertanyaan berikutnya.
"Liliya? Aku tidak terlalu mengenali gadis itu, jika aku terlalu cepat menilainya, aku membohongi diriku sendiri," jawab Gerlon.
"Tidak apa. Aku hanya penasaran," desak Ashnard. Ia membuka lututnya dan mencodongkan tubuhnya sedikit ke Gerlon.
Gerlon memandang langit cerah tanpa awan itu. Berkat angin yang mengalir dari segala sisi, lembah tak terasa panas bahkan saat musim panas berada di puncaknya. Duduk tanpa di bawah bayang-bayang pohon tidak masalah selagi itu di akademi.
"Aku hanya tahu dia gadis yang ceria dan baik hati. Kemampuannya juga tidak buruk saat melawanmu. Selebihnya, aku tidak bisa mengatakan lebih jauh." Gerlon menjawab dengan sederhana dan terlihat dari perkataanya dia hati-hati dalam memilih.
"Lalu, bagaimana menurutmu soal Reinhard dan Liliya?" tanya Ashnard lagi.
"Mereka berdua? Maksudmu hubungan mereka. Jangan tanya aku. Aku bukan penggosip tahu," jawab Gerlon terkekeh. "Lagipula, kenapa kau menanyakan hal ini? Itu aneh."
Ashnard memalingkan mukanya yang berona. "Tidak ada! Aku pergi dulu." Ia dengan cepat bangkit dan beranjak pergi.
Gerlon sedikit mengerti, tapi Ashnard sendiri tidak. Ia justru menolak pada pikirannya sendiri. Dan dari semua orang, hanya Roc sendirilah yang tahu dengan pasti perasaan Ashnard yang tersembunyi jauh di dalam lubuk hatinya.
Malam harinya, Ashnard memaksa dirinya untuk tertidur lebih dulu sebelum semuanya, karena besok adalah penilaian penting yang harus ia jalani. Gerlon ada di kasurnya membaca buku, sedangkan Reinhard baru saja kembali.
Kedatangan Reinhard justru membuat Gerlon panik dan melempar bukunya ke kasur. Goresan merah di pipi, leher, lengan dan pahanya. Ia berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi sambil memegangi perutnya.
"Reinhard, kau terluka! Aku akan mengantarmu ke klinik," ucap Gerlon yang berusaha memapah, tapi Reinhard menolaknya.
"Aku baik-baik saja," geramnya.
"Apa yang terjadi? Apa kau terjatuh atau bagaimana?"
Darah menetes dari tangan dan seragamnya. Mengotori lantai yang sudah Ashnard bersihkan sebelum tidur. Bahkan Reinhard juga tak melepas sepatunya.
"Itu Arlon. Ia menantangku kembali setelah kelas berakhir," jawabnya sambil menahan rasa perih.
"Menyerang murid lain itu pelanggaran. Kenapa kau tidak memberitahu guru atau dewan? Atau temanmu?"
__ADS_1
Saat tangannya menggapi gagang pintu, Reinhard melirik melewati bahunya ke belakang. "Ini bukan masalah yang perlu dibesarkan," jawabnya, setelah itu dia masuk ke kamar mandi dan membersihkan lukanya.
Ashnard terbangun dan mendengar semua. Ia saling melempar tatapan dengan Gerlon. Tapi, tak ada yang mempermasalahkannya lebih jauh lagi. Semua bersikap seolah baik-baik saja meskipun ada bekas darah di lantai.
Lantai kamar mandi menjadi merah karena guyuran air di luka Reinhard. Luka lama di perutnya yang sebelumnya sudah sembuh, ia kini mendapatkan luka di tempat yang sama lagi. Reinhard menjadi orang yang lebih sering terluka daripa dua teman sekamar lainnya, atau mungkin murid-murid lainnya.
Keesokan paginya, semua kembali seperti kehidupan biasa. Reinhard bangun duluan dan sudah berseragam lengkap. Bahkan goresan seragamnya sudah dijahit kembali olehnya.
Ashnard yang terbangun kedua, melihat Reinhard sudah ingin berangkat. "Hei," panggilnya menghentikan Reinhard dari membuka pintu.
"Ada apa?" jawab Reinhard dengan dingin.
Namun, Ashnard tak melanjutkan perkataannya sejak pagi itu, bukan karena ia malas karena tidak menyukai Reinhard, tapi karena ia bingung dengan apa yang harus dikatakannya.
Sebenarnya, Ashnard ingin menanyakan apakah dia baik-baik saja semenjak tadi malam. Luka-luka itu masih belum tertutup sempurna, dan mungkin ini kesempatan yang bagus untuk mengkhawatirkannya.
Tapi, diam juga ada batasnya. Ashnard terdiam hingga Reinhard terlanjur ke luar karena terlalu lama.
Gerlon bangun dari pura-pura tidurnya. Katanya, "Kau mau mengatakan apa?"
"Aku hanya ingin memberikannya bantuan jika dia dalam masalah," jawab Ashnard. "Ucapanmu mungkin benar, kalau aku sebenarnya juga tidak mengenal Reinhard. Aku tak tahu bagaimana hubungannya dengan Arlon hingga kejadian tadi malam. Jadi, kupikir membantunya sedikit saja tidak masalah, kan?"
"Tentu saja tidak. Siapa juga yang tidak mau di bantu?" Gerlon duduk di kasur Ashnard dan melunjurkan kepalanya ke luar jendela. Melihat Reinhard yang berjalan keluar menuju Aula Putih. "Mungkin dia menolaknya karena suatu hal."
Ashnard mengerutkan keningnya. "Satu hal?"
"Laki-laki adalah makhluk yang paling egois. Terkadang, dia ingin menyelesaikan masalahnya sendirian tanpa bantuan orang lain, meskipun dia tahu kalau masalah itu sulit. Karena jika berhasil menyelesaikannya, itu membuktikan kalau dia adalah sosok yang dapat diandalkan."
"Jadi, menurutmu, Reinhard tak ingin orang lain ikut campur masalahnya, begitu?" Ashnard memastikan.
"Jangan tanya ke aku. Aku buka peramal." Gerlon menepuk pundak Ashnard. "Aku hanya mengutarakan kemungkinan."
Lalu, saat mereka berdua sedang memandang ke luar jendela, dan melihat orang-orang bersliweran, ada satu orang bertudung yang berjalan ke tempat yang tidak pada umumnya. Selagi yang lainnya menuju aula, asrama, atau kantin, hanya dia sendirilah yang menuju ke hutan.
"Anak itu sepertinya teman sekelasmu."
"Bukan. Kami hanya pernah beberapa kali berada di kelas yang sama, tapi aku tidak pernah mengenalnya," sanggah Ashnard.
"Oh, aku juga baru pertama kali melihatnya."
Saat membahas kelas itu, Ashnard teringat sesuatu. "Sial! Aku lupa pagi ini aku ada penilaian. Aku tak boleh melewatkannya," ucapnya dengan panik.
__ADS_1
"Boleh aku ikut? Aku tidak ada kelas pagi ini," pinta Gerlon.
Ashnard mengambil seragamnya dengan tergesa-tergesa lalu menuju kamar mandi. "Kalau ikut, cepatlah bersiap-siap!"