
Cahaya dan keramaian membangunkan Ashnard dari tidurnya. Di luar, sudah ramai murid-murid yang beraktivitas pada pagi hari ini.
"Kau mau ke mana?" tanya Ashnard yang masih setengah sadar ke Reinhard. Berdiri di depan pintu dengan seragam yang rapinya.
"Ini sudah pagi. Bangunlah. Jangan jadi pemalas seperti dia." Reinhard melemparkan sebuah buku pada perut Gerlon yang masih tertidur.
Rasa malas menguasai tubuh anak itu yang bersandar di jendela, memandang ke luar. Rasanya ia tak ingin keluar hari ini.
Bunyi kepakkan dan kicauan seekor burung melesat dari atas. Berbelok dengan tajam ke arah jendela. Ashnard melompat ke samping ketika burung itu terbang masuk dan mendarat di perut Gerlon juga. Tetap tak ada yang bisa membangunkan Gerlon.
Cakar kecilnya mencengkeram sebuah gulungan. Burung itu tampak mengenali Ashnard. Ia segera lompat ke pangkuannya seperti hewan peliharaan yang tunduk pada majikannya.
"Hai, burung aneh, apa yang kau bawa ini?" Ashnard mencoba mengambil gulungan dengan perlahan. Anehnya, burung itu diam saja dan melepaskan cengkeraman kakinya.
Dalam gulungan itu, ada sebuah pesan yang ditujukan untuk Ashnard seorang. Bertuliskan:
Ashnard Raegulus, Putra Ebert Raegulus.
Ini aku, gurumu, Ozark Griswald.
Bagaimana kabarmu hari ini? Kabarku baik-baik saja.
Ketika kau menerima surat ini, itu berarti kau sudah mencapai akademi. Kerja bagus, nak. Aku bangga padamu.
Seperti yang kusampaikan sebelumnya. Di akademi, jadilah murid yang baik. Belajarlah dengan sungguh dan carilah sebanyak mungkin teman. Kau harus menjalani hidup normal di sana, karena itulah yang orang tuamu inginkan.
Tentang Ibumu, maafkan aku.
Aku masih belum menemukan jejak Ibumu, tapi aku sedang menyelidiki tempat yang dimana menurutku ada hubungannya. Tak perlu khawatir, Ibumu pasti baik-baik saja. Dan aku akan memegang janjiku untuk menyelamatkan Ibumu.
Oleh karena itu, tunggulah. Tunggu kabarku selanjutnya.
Aku tidak akan mengecewakanmu.
Gerlon terbangun dan bingung saat melihat Ashnard terdiam.
Tangannya yang memegang gulungan seakan meremas dengan sendirinya. Tahu rasa apa yang dia rasakan sekarang tercipta karena harapannya. Meskipun begitu, Ashnard memilih untuk bersabar. Ia tahu apa yang bisa dilakukannya sekarang dan itulah yang ia akan lakukan.
"Ada apa?" tanya Gerlon.
__ADS_1
"Tidak ada." Ashnard melipat kertas itu dan menyimpannya dalam sakunya. Kemudian ia melupakannya.
Suara lantang seorang guru yang sedang menjelaskan, mengisi seisi kelas yang memberikan berbagai macam reaksi.
Guru wanita itu memegang sebuah tongkat tipis panjang di tangannya, berjalan ke kiri dan ke kanan sambil menjelaskan materi.
"Dunia terbuat dari berbagai macam elemen yang saling terikat satu sama lain. Secara tak sadar, elemen sudah menjadi bagian dari tidak hanya tubuh kita, tapi kehidupan, budaya, keyakinan. Semua yang ada di dunia ini. Pikiran kita terus belajar, terus berevolusi untuk menerima elemen-elemen penyusun bumi, bahwa api tak hanya panas dan merah, air tak hanya basah dan bening, angin tak hanya energi tak kasat mata yang kita hirup."
Sambil menepukan tongkatnya di telapak tangannya, ia mengamati satu per satu muridnya. Yang fokus, yang mencatat, dan yang tak mendengarkan. Tatapannya begitu tegang dan tepukan tongkatnya mencekam, semua murid menjadi fokus ke depan.
"Elemen adalah apa yang kita yakini sebagai unsur diri kita. Elemen adalah sebuah alat, bantuan, penopang, atau senjata. Jika tidak ada elemen, bayangkan saja peradaban kita akan sejauh mana berkembang."
Langkah kakinya membawa ke deretan paling belakang. Membuat murid-murid yang berencana untuk tidur, kembali sigap. "Peradaban itu tak luput dengan campur tangan para dewa di masa lampau. Dan manusia mulai memuja-muja elemen sebagai dewa mereka. Dewa Air, Empat Dewa Angin, Dewa-"
Tongkatnya mendarat dengan sangat kencang hingga menimbulkan suara yang mengejutkan semua murid termasuk yang dipukul. Ashnard terhentak dari lamunannya yang memabukkan.
"Tuan Raegulus, bisa kau lanjutkan apa yang saya jelaskan barusan?" tanya guru itu memandang Ashnard dengan dingin.
Sementara, Ashnard gagu, tak tahu apa yang harus ia ucapkan. Pikirannya hanya berputar-putar soal lembaran pesan yang telah lama ditunggunya itu.
"Dan apa kau bisa menjelaskan pada saya kenapa tidak bisa menjawab pertanyaan?"
Ashnard tertunduk malu dalam pandangan orang banyak, "Maaf, saya melamun."
Ashnard mengangguk malu. "Saya mengerti."
"Bagus. Kalau kau mengerti, kau bisa menuju pintu yang sudah disiapkan terbuka saat seperti ini," usirnya dalam sikap yang sopan. "Dan juga, Tuan Raegulus, aku akan mengingatkan Nona Menriotte untuk mencatat perilakumu. Supaya kau bisa membenahi diri kelak."
Ashnard tanpa kata-kata lagi keluar dari pintu. Ia sedikit menyesal, tapi juga masih memikirkan pesan Ozark. Ia menyesal karena seharusnya ia menjadi murid yang baik, dan keterlambatannya seharusnya adalah terakhir kalinya ia melanggar peraturan.
Di taman, Ashnard merengek kesal seperti bayi sambil menjambak rambutnya sendiri. Tingkah aneh Ashnard ini diketahui oleh Liliya dan segera duduk di meja.
"Ada apa?" tanyanya.
"Aku pusing," erang Ashnard. "Aku baru saja mendapatkan pesan. Pesan itu membuatku kepikiran, dan gara-gara itu, aku dimarahi saat pelajaran," jelas Ashnard.
"Kasihan sekali dirimu. Tapi, pesan apa?"
"Pesan? Eh, tidak ada. Lupakan. Aku hanya bergumam sendiri," Ashnard berkilah.
__ADS_1
Liliya mengerut kesal pada sikap Ashnard. Jelas-jelas tadi ia mengucapkan pesan, tapi malah memutar balik fakta. Liliya tak mau menyerah. Ia hendak meraih kepala Ashnard untuk memaksanya berbicara.
"Apa yang kalian lakukan?" Tapi, seseorang berdiri melihat tingkah konyol Ashnard dan Liliya.
Bukan seseorang, tapi dua orang yang muncul menyela mereka. "Hei, kau yang waktu itu kalah sama perempuan, ya?" tunjuk gadis berambut merah yang mencolok itu.
"Nina, Eris, ada apa?" sapa Liliya. Ia cukup mengenali mereka, meskipun tidak sedekat hubungan Nina dan Eris itu sendiri.
"Namamu Ashnard Raegulus, kan? Aku disuruh untuk mencatat pelanggaran yang telah kau buat. Meskipun Profesor Trendila sudah menjelaskan semuanya padaku, aku tetap harus mendengar penjelasan dari sudut pandangmu," ungkap Eris.
Ketika gadis berkacamata itu mengeluarkan sebuah buku catatan dan penanya, Nina tersenyum jahil ke Ashnard. Seketika adrenalin jantungnya terpicu seperti kuda dalam pacuan.
"Ada cerita terkenal di akademi, ketika sebuah nama sudah tertulis di catatan milik Eris, maka sudah dipastikan hal buruk akan menimpa pemilik nama itu seumur hidupnya," goda Nina dengan nada yang dibuat mencekam.
"Jangan mengerjainya," bentak Eris menyenggol Nina. Ia lalu kembali fokus pada Ashnard. Dan mulai menanyakan semua pertanyaan mengenai pelanggaran Ashnard di kelas.
Dia bahkan tidak duduk sama sekali ketika memberikan hujan pertanyaan itu. Beberapa lembar sudah dibalik, Ashnard tak menghitungnya. Ia terlalu fokus pada goresan pena di kertas dan tatapan Nina yang mengintimidasi.
Mata merah gadis itu seperti membakar jiwanya dalam ketenangan. Roc menyuruhnya untuk tak melihatnya, tapi Ashnard tidak mendengarkan.
Ashnard tak menduga jika ia sebelumnya mengira Nina seseorang yang jahil, mendadak serius dengan begitu cepat. Tatapannya tak berbohong. Dari tatapannya sendiri mengatakan untuk tidak bermacam-macam atau jangan berani sekali-kali berbohong dalam menjawab pertanyaan. Setidaknya itulah yang Ashnard coba pikirkan mengenai Nina.
"Bagaimana?"Jantung Ashnard berdegup menunggu hasilnya. "Apa hukumanku?"
"Bukan aku yang menentukan hukumanmu, aku hanya mencatat dan memberikan hasil catatannya pada Dewan Kesiswaan. Dewan Kesiswaan nantinya akan meninjau kembali apakah pelanggaran cukup berat sehingga pantas diberikan hukuman atau tidak. Setelah itu, mereka akan menemui Kepala Akademi yang akan mengesahkan laporan dan Kepala Akademi akan menyerahkan pelanggar ke Tuan Egon untuk melaksanakan tugas hukumannya," jelas Eris panjang lebar.
Nina yang berdiri di sebelahnya, tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya seolah-olah ia ingin mengatakan betapa hebatnya sahabatnya dan betapa bangganya dia.
"Apa tidak bisa hukuman Ashnard diringinkan? Ashnard tidak berniat untuk melakukannya," tanya Liliya berusaha membela Ashnard.
"Sayang sekali tidak. Tapi, itu semua keputusan dewan, jadi tunggu saja," jawabnya tegas. "Kalau tidak ada pertanyaan lagi, aku akan pergi."
"KAMI akan pergi," Nina menambahkan. "Sampai jumpa, cowok yang kalah dari cewek," ejek Nina ke Ashnard.
Baru beberapa langkah sebelum pergi, Eris berbalik kembali dan beralih ke Liliya. "Omong-omong, bagaimana Reinhard--soal tawaran bergabung ke dewan?"
"Rein, tidak mengatakan sesuatu padaku," Liliya menjawab.
"Kau dekat dengannya, kan? Kalau kau bertemu dengannya, katakan pada Reinhard bahwa kami menunggu jawabannya. Sampai jumpa."
__ADS_1
Nina dan Eris, kali ini benar-benar pergi meninggalkan mereka.
Ashnard terdiam melihat Liliya yang melambaikan tangannya. Daripada memikirkan soal gulungan itu, Ashnard justru memikirkan perkataan Eris soal Liliya dan Reinhard yang dekat. Ashnard sangat penasaran.