The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Pelanggaran


__ADS_3

Pedang itu membesar, lalu kembali menyusut dengan mudah seperti tidak terbuat dari benda yang padat. Reruntuhan batu dan dinding bergemuruh, tapi tidak membuat yang lainnya tertarik.


Mereka justru tertarik bagaimana pedang itu ada di tangan Ashnard.


"Apa-apaan itu?"


"Oh, ini? Ini Hoku," ucap Ashnard menunjukkan pedang abu-abu bersisi kasarnya.


"Aku tidak tahu pedang itu bisa memanjang dan membesar," ucap Liliya tak mempercayai apa yang dia lihatnya.


"Yah, aku juga tidak langsung menyadarinya."


"Jadi, kau juga menahan diri waktu itu," geram Reinhard kesal sambil mengepal tangan.


Seketika, Egon mengambil kesempatan untuk menghalangi pintu masuk celah selagi mereka di sibukkan dengan pedang Ashnard.


Ashnard menyadari Egon yang berusaha membuat batu-batu itu menyatu kembali dengan elemen tanahnya. "Apa yang kau sembunyikan?"


Egon menghentikan niatnya, bongkahan bebatuan yang terangkat terjatuh dan berhamburan. Ia lalu berbalik. "Kalian seharusnya tidak menemukan ini."


"Terlambat. Kami sudah menemukannya. Tidak ada waktu lagi untuk menyembunyikannya lagi," ucap Gerlon berusaha menyudahi Egon yang masih bersikeras.


Egon di ambang kenyataan dan tugas. Ia gagal menunaikan tugasnya untuk menjaga tempat ini, tapi dia juga tak ingin anak-anak itu melangkah lebih jauh ke dalam. Ke tempat yang sangat berbahaya.


Ashnard lalu mendekatinya. Memegang pundak pria tua itu dan berkata, "Di dalam sana, ada kekuatan kegelapan, kan? Tidak perlu khawatir. Aku sudah berhadapan dengan hal semacam ini sebelumnya."


Lalu, Egon yang terlihat tak bisa memberontak, ataupun mencoba menghentikan, pasrah ketika Ashnard dan yang lainnya masuk. Ia tidak melawan perkataan Ashnard, tapi justru menerimanya dengan mudah. Ia percaya begitu melihat tatapan Ashnard yang sangat meyakinkan, dan ia membiarkan mereka lewat meskipun perintah tidak ada yang boleh masuk ke tempat itu.


Di lorong celah yang sempit dan gelap itu, langkah kaki mereka berpadu gema dengan tetesan air. Tidak tahu sepanjang apa lorong itu, semua hanya bergantung pada Ashnard yang memimpin jalan.


Tidak ada obor, tidak ada lentera, tidak ada cahaya. Hanya mengandalkan mata dan indera manusia yang terbatas. Semakin dalam, semakin banyak energi yang indera mereka bisa tangkap.


Siapapun seharusnya akan merasakan kesakitan saat merasakan secara langsung luap energi kegelapan yang liar. Elemen kegelapan terkenal tidak ramah dengan tubuh manusia. Akan tetapi, mereka merasakan baik-baik saja walaupun tahu jika kegelapan berada di ujung jalan.


Liliya hanya bisa menatap punggung Ashnard yang telah melindungi dirinya dan yang lain dari kekuatan kegelapan. Hanya Ashnard seorang yang mampu melindungi mereka. Liliya tahu akan hal itu.


"Di sana," tunjuk Gerlon yang berlari menyalip Reinhard, Liliya bahkan Ashnard.


Langkah Ashnard terhenti, diikuti dengan yang lainnya saat melihat apa yang ditunjuk oleh Gerlon. "Ini ...."


Di depan mata telanjang mereka, sebuah aliran air hitam yang muncul dari lubang kecil di tengah dinding. Air hitam itu mengalir ke bawah seperti air terjun kecil hingga menciptakan sebuah kolam hitam. Sangat gelap, sangat hitam. Seperti melihat ke suatu titik yang tak terjangkau oleh nalar.


"Hati-hati," resah Liliya saat melihat Ashnard berjongkok di dekat kolam hitam.


"Ini sama seperti di Jurang Kegelapan," ungkap Ashnard.


Walaupun lebih kecil dan samar, tapi Ashnard bisa merasakannya dengan jelas energi yang sama berasal dari air hitam itu.

__ADS_1


"Bagaimana ini bisa ada di sini?" tanya Ashnard.


"Mungkin kau tidak benar-benar menghilangkannya," ucap Reinhard sedikit mengejek.


"Sebenarnya bukan aku yang menghilangkan kegelapan di jurang," ungkap Ashnard membuat Reinhard syok.


Reinhard melempar pandangan ke Liliya, berharap ia bisa menjelaskan sesuatu. Tapi, Liliya sendiri menundukkan pandangannya menandakan ia sama seperti yang lainnya. Tidak memiliki jawabannya.


"Lalu, siapa?" tanya Reinhard kembali ke Ashnard.


Jawaban yang selalu sama. "Tidak tahu."


Bahkan, ketika mereka menemukan celah berisi kekuatan kegelapan, tetap tidak semakin mendekati ke tujuan. Semakin menjauh dan menambah pertanyaan lagi.


Saat ini, yang paling mendekati jawaban untuk siapa, adalah Erik. Hanya itu yang bisa mereka dapatkan. Selebihnya tidak berubah.


"Sebenarnya Kepala Akademi dan Gervulius tahu mengenai hal ini. Mereka yang menyuruhku untuk menutupi tempat ini agar tidak terjadi kebocoran energi elemental."


Setelah berpikir panjang, Egon datang untuk membantu memberikan jawaban. Ia sudah menganggap tidak ada yang perlu disembunyikan lagi dari mereka. Anak-anak itu tidak setengah-setengah mengurusi masalah ini. Padahal, mereka bisa saja memilih untuk pergi tapi tidak. Egon berpikir jika mereka adalah anak yang merepotkan.


Egon membawa Ashnard dan yang lainnya untuk ke luar dari celah. Ia menjulurkan tongkatnya ke arah bongkahan batu, seketika batu-batu itu tersusun kembali dan menutup celah seperti semula. Mulus dan tak ada retakan, seperti bagian dari dinding.


"Aku lah yang pertama kali menemukan tempat itu. Sama seperti kalian, aku dipenuhi dengan pertanyaan. Aku menutup dan menyembunyikannya, berharap agar orang-orang seperti kalian tidak terlibat jauh dari ini," ungkap Egon.


"Jadi, Kepala Akademi sudah lebih dulu tahu daripada kita," gumam Gerlon.


"Jika kalian tidak ada niat untuk berhenti, tanyakan saja ke Kepala Akademi. Dia seharusnya sudah merencanakan untuk ini."


Hari minggu. Tidak ada satu pun murid-murid yang berkeliaran di lorong aula pada hari minggu. Lorong atau aula itu sendiri menjadi sangat sepi. Langkah mereka bergema bahkan berbisik saja orang lain dapat mendengarnya karena saking sepinya.


Meskipun hari libur, tapi ada beberapa murid yang masih aktif. Selain karena tuntutan tugas dari guru, aktivitas klub, atau kegiatan penting lainnya.


Salah satunya adalah Eris yang berpapasan dengan mereka di depan.


Dengan tatapan tajam di balik kacamatanya, Eris bertanya apa yang Ashnard dan lainnya lakukan di sini.


"Kami ingin ke ruang Kepala Akademi. Ada yang harus kami bicarakan. Apa kau tahu dimana letak persis ruangannya?" tanya Ashnard.


"Tidak sulit. Cari saja pintu dengan logo bintang di atasnya," jawab Eris sambil membenarkan kacamatanya.


"Terima kasih."


"Tunggu sebentar, Ashnard Raegulus dan Liliya Nerefelon. Aku masih ingat kalian ke luar saat tengah malam dan belum kembali ke asrama. Apa yang sebenarnya kalian lakukan?" Gadis itu menatap tajam ke Ashnard dan Liliya.


"Kami tidak berbuat apapun, kok. Sungguh," jawab Ashnard.


"Meskipun begitu, aku akan tetap mencatat pelanggaran kalian."

__ADS_1


"Pelanggaran? Kami tidak melanggar apapun, kok."


"Ke luar saat malam adalah pelanggaran. Kau sebagai prefek seharusnya sudah tahu itu. Apalagi, berbuat tindakan mesum di akademi, itu pelanggaran yang sudah tidak dapat ditolerir lagi."


"Ups, ada yang tertangkap basah," ucap Gerlon jahil.


Ashnard sontak memukul lengan Gerlon. "Kau sangat tidak membantuku, Gerlon."


Eris dengan cepat mengambil buku catatannya dan mulai menulis. "Pelanggaran baru. Melakukan tindak kekerasan terhadap murid lain."


"Tunggu sebentar, Eris," cegah Liliya. Ia memegang pundak Eris dan menariknya mendekat. "Lihatlah, mataku, apa aku terlihat telah melakukan pelanggaran."


"Percuma! Teknik memelasmu tidak akan berguna untukku," tampik Eris.


"Eris! Aku suka baca buku, jadi aku tahu beberpa buku romansa. Bagaimana jika kubelikan buku itu dan lupakan semuanya?" tawar Ashnard.


Seketika Eris langsung terdiam takluk. "I-itu ... ro-romansa." Eris menggelengkan kepalanya dan menepuk pipinya. Menarik kembali kesadarannya dari imajinasinya sebagai gadis muda. "Hei, menyogok juga merupakan pelanggaran! Akan kucatat itu."


"Benar-benar merepotkan," hela Reinhard.


"Berhentilah menawarku. Aku sedang mencatat pelanggaranmu, bukan sedang transaksi. Jika kau tak ingin pelanggaranmu di catat, maka jangan buat pelanggaran. Itu adalah logika umum yang seharusnya kalian paham. Jika pelanggaran kecil saja bisa diselesaikan seperti itu, manusia tidak akan maju. Akademi yang seharusnya mendidik kalian, maka telah gagal," jelas Eris yang sudah mulai kesal.


"Tapi, masalah ini lebih penting," desak Ashnard.


"Mematuhi peraturan juga penting. Manusia tanpa ada aturan hanya akan menyebabkan kekacauan. Kehancuran skala besar. Sistem tidak bisa lagi di gunakan dan hidup bebas menjadi hal yang menakutkan. Meskipun hari ini libur, tapi peraturan dan ketertiban tidak akan pernah libur. Kalian mengerti, kan?"


"Baiklah. Kami mengerti," lirih Ashnard menyerah pada ceramah Eris.


Mereka tidak bisa melakukan apapun hanya menyerahkan diri dengan patuh selagi Eris kembali mencatat pelanggaran-pelanggaran yang telah Ashnard dan lainnya perbuat.


"Sudah. Kalian boleh melanjutkan," ucap Eris membuat Ashnard bingung.


"Begitu saja?"


"Ya, aku hanya mencatat pelanggaranmu saja, kan. Yang memutuskan memberikanmu hukuman bukan aku."


Karena merasa masalah dengan Eris sudah selesai, Ashnard dan yang lainnya melanjutkan untuk pergi. Namun, baru beberapa langkah, Eris kembali menghentikan mereka.


"Tunggu sebentar. Liliya Nerefelon, kenapa kau masih memakai gaun tidurmu?" tanya Eris diajukan ke Liliya.


"Aku tidak sempat mengganti pakaian dan kamarku juga terlalu jauh. Lagipula, masalah ini cukup penting," jawab Liliya.


"Begitu ya. Baiklah, aku akan ikut untuk menjagamu. Kau gadis seorang diri dan yang lainnya adalah laki-laki. Mereka bisa saja menyerangmu suatu saat."


"Menyerangku? Mereka orang yang baik, kok."


"Jangan salah. Meskipun mereka terlihat seperti orang yang baik atau polos, nafsu tetap akan menguasai mereka. Hanya dengan melihat leher atau kaki saja, mereka akan bertindak seperti binatang buas. Bisa saja saat kau tertidur atau lengah, mereka akan mencoba menyentuh tubuhmu. Atau kau sendiri lah yang akan menggoda mere-"

__ADS_1


Wajah Liliya memerah ketika Eris mencoba menjelaskan hal semacam itu dengan tetap tenang. Pikirannya ternodai dengan bayang-bayang dari penjelasan Eris. Ia lalu menutup mulut Eris ketika hatinya sudah tidak mampu menahannya lagi.


Pada akhirnya, hasil dari tawar menawar ini, Ashnard dan yang lainnya kalah. Sementara Eris menang dan ia ikut dengan mereka, meskipun tidak tahu masalahnya.


__ADS_2