
Ashnard melumuri tangannya dengan elemen airnya lalu mulai mengarahkannya ke punggung Nina. Ashnard menarik nafas panjang saat telapaknya sudah menyentuh punggung gadis itu. Lalu, Ashnard mulai meraba bekas luka bakar Nina. Mengolesinya secara pelan, sangat pelan seolah Ashnard ingin berhati-hati agar tidak merusak keindahan di depan matanya.
Terdengar nafas kenikmatan dari Nina yang terlihat sangat tenang. Dia awalnya berusaha menahan diri agar tidak terlalu menikmatinya, tapi tidak bisa. Seperti memakan coklat lembut kesukaannya tapi dengan konsep yang berbeda.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ashnard memastikan.
"Ya, tidak apa. Teruskan saja," jawab Nina, menghela nafas lega.
Elemen air Ashnard tidak hanya memadamkan sensasi terbakar di lukanya, tapi kesejukannya menjangkau lebih dalam daripada yang dia kira. Sentuhan air itu merasuk hingga ke jiwanya, menyelimutinya dengan sensasi dingin seperti embun pagi. Jiwanya meringkuk seperti anjing kecil yang dibelai dengan penuh kasih sayang.
Saat Ashnard meraba lukanya itu, benar berbeda-beda saat Eris yang melakukannya. Entah pengaruh dari air atau memang tangan Ashnard lah yang sebenarnya dia perlukan selama ini.
Lalu, tanpa Ashnard sadari, tangannya bergerak sendiri keluar dari area luka bakar Nina. Seolah ada yang merasukinya dan mengendalikan tubuhnya. Tangannya turun ke bagian punggung bawah Nina dan mulai merabanya.
Ini pertama kalinya Ashnard menyentuh punggung seorang gadis secara langsung. Tekstur kulitnya benar-benar lembut, sesuai dengan yang Ashnard pikirkan.
Ashnard langsung menarik tangannya saat menyadari dia sudah meraba sampai pinggang Nina dan hampir menjangkau perutnya. Ashnard sadar kalau dia sudah membasahi seluruh punggung Nina, tidak hanya luka bakarnya saja seperti yang Leashira suruh.
Meskipun Ashnard panik dan jantungnya berdegup semakin kencang, Nina justru terlihat tenang dan menikmatinya. Entah dia tidak mempermasalahkan Ashnard yang menyentuh seluruh punggungnya atau dia terlalu menikmati hingga tak menyadarinya.
Ashnard lalu mundur dan berdeham. "Su-sudah selesai."
"Apa?" Nina tersentak, langsung menutupi kembali tubuhnya dengan kainnya yang sempat tidak sengaja turun karena dia terlalu lengah. Nina lalu melirik Ashnard di belakang melewati bahunya. "Apa benar sudah selesai? Apa kau yakin?"
"Ya, sepertinya," jawab Ashnard tidak yakin karena sebenarnya dia berhenti agar tidak bertindak semakin jauh lagi. "Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Aku merasa rileks. Tubuhku juga terasa ringan semua. Aku tidak tahu bagaimana caramu melakukannya, tapi rasanya benar-benar enak. Terima kasih."
"Kalau begitu, baguslah!" Ashnard menatap tangannya sendiri. Tidak menduga bahwa kekuatannya bisa digunakan untuk hal yang seperti ini.
Sementara itu, di lain sisi, Eris penasaran dengan apa yang terjadi pada Nina dan Ashnard. Dia sedikit khawatir jika terjadi sesuatu pada Nina dan berusaha untuk memeriksanya. Namun, Leashira terus menghalanginya dengan tubuhnya yang membatasi antara sisi Nina dan sisi Wilia.
Eris yang dipaksa pindah oleh Leashira ke sisi Wilia, merasa gelisah sepanjang waktu. Apalagi, di sebelahnya ada Wilia yang membencinya. Tentu saja Eris tidak bisa tenang seperti yang Leashira katakan.
__ADS_1
"Kau tidak perlu takut, Eris sayangku. Nina baik-baik saja. Ashnard juga baik-baik saja. Mereka melakukannya dengan bagus. Setidaknya beri mereka privasi," ucap Leashira menasehati Eris.
"Privasi apa? Memangnya apa yang mereka lakukan?" Bukannya semakin tenang, Eris justru panik.
"Kau memang sangat polos. Tentu saja mereka akan bermesraan, berciuman dan mungkin melakukan **** walaupun terlalu aneh melakukannya di tempat seperti ini. Seperti yang Leashira katakan pada Ashnard untuk memberikan sentuhan pada tubuh Nina, kan?" jelas Wilia bernada mengejek.
"Apa? Mereka tidak mungkin melakukan tindakan senonoh! Mereka tidak boleh melakukannya!" sergah Eris. "Aktivitas seksuak harus dilakukan oleh pasangan yang sudah sah secara hukum!"
"Kenapa tidak? Itu sifat alami manusia. Bahkan, orang pacaran sekarang tidak sedikit yang melakukannya."
"Mereka tidak pacaran, bodoh!" bentak Eris.
Wilia langsung terkejut mendengar pernyataan itu dari Eris. Sebelumnya, dia mengira Ashnard berpacaran dengan Eris dan Nina.
"Eris, kau harus berhenti mengkhawatirkan temanmu. Aku jamin mereka tidak akan sampai melakukan hubungan seksual seperti iru ... mungkin Ashnard hanya meraba dada Nina," ucap Leashira.
"Itu juga tidak boleh!"
"Tentu saja boleh. Meremas dada pasangan dapat memberikan rasa nyaman, mencegah stres, dan menjaga kesehatan jantung. Itu aktivitas yang harus rutin dilakukan," jelas Leashira.
Tak lama kemudian, setelah Ashnard menyelesaikan aktivitasnya dengan Nina, dia mengabari kalau mereka berdua sudah selesai.
Eris langsung berlari menghampiri Nina dan memeluknya. Eris bersedih dalam pelukan karena sekarang tubuh Nina sudah tercemar oleh laki-laki.
Leashira mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Nina. "Sudah lebih baik?"
Nina mengangguk sambil menatap ke Wilia, di mana tidak ada lagi pembatas di antara mereka. Kebencian di mata Nina memang sudah lenyap, tapi masih menyiratkan kepada Wilia agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.
"Api dan air memang elemen yang berlawanan. Tapi, kalian berdua adalah bukti bahwa kedua elemen tersebut bisa sangat cocok."
Leashira memutar tubuh panjangnya hingga mengelilingi semua orang dalam satu lingkup. Lalu, semakin mengecilkan lingkaran tubuhnya, membuat mereka memaksa duduk saling berdekatan. "Kondisi tubuh Nina dan Wilia memanglah sangat spesial, tapi untuk yang kali ini lebih spesial lagi. Apa yang mengalir di dalam darah Wilia adalah hal yang ingin kuceritakan pada kalian. Aku tidak ingin membuat ini privasi seperti apa yang Ashnard lakukan pada Nina. Aku akan mengatakannya pada kalian semua tentang kekuatan misterius yang dimiliki Wilia Walheimstein.
"Saat aku sedang melakukan pencarian mencari bunga Erastion, ada banyak sekali hal unik dan misterius yang kutemukan selama perjalanan. Salah satunya seorang laki-laki bernama Euka. Dia adalah satu-satunya ras Enkalis yang masih hidup," lanjutnya.
__ADS_1
"Ras Enkalis?" Semuanya bertanya-tanya, sambil duduk berdesakkan.
"Apa kalian tahu Kepunahan Besar? Sebuah peristiwa yang dimana 4 ras awal mengalami kepunahan. Salah satunya adalah Ras Enkalis. Ras ini memiliki kemampuan untuk mengendalikan tanaman. Mereka bisa melakukan segala hal dengan segala tanaman yang ada di muka bumi. Alam adalah tempat bermain mereka.
"Namun, karena keajaiban Euka berhasil bertahan hidup. Dan sekarang dialah yang terakhir dari kaumnya. Saat aku pertama kali bertemu dengannya, dia bersama seorang perempuan."
"Biar kutebak, Wilia adalah keturunan dari Euka," tebak Ashnard.
"Biar kuselesaikan ceritaku, anak muda. Perempuan yang bersama dengannya bukanlah seorang Enkalis atau manusia. Juga bukan dari ras apapun yang ada. Perempuan itu adalah ciptaannya dari benih tanaman. Sama seperti yang kulakukan pada Flo. Euka juga lah yang mengajariku kekuatan seperti miliknya.
"Disinilah yang membuatku bingung. Manusia ciptaannya tidak memiliki kemampuan reproduksi selayaknya manusia. Perempuan itu tidak bisa memiliki anak karena dia sendiri bukanlah makhluk asli."
"Aku tidak paham," gumam Wilia, tatapan matanya kosong ke arah bawah.
"Pedang keluargamu bukan hanya sekedar dapat membuat pemegangnya mengendalikan tanaman. Tapi, sebenarnya pedang itu memberiku pemegangnya akses untuk menggunakan kemampuannya."
"Itu berarti Nona Wilia tidak perlu menyakiti dirinya sendiri untuk bisa menggunakan kemampuannya?" tanya Cynthia, ada sedikit ekspresi senang tergambar di wajahnya.
"Jika aku memiliki kemampuan yang sama dengan Ras Enkalis, bagaimana bisa? Apakah dia berhubungan dengan wanita yang sesungguhnya atau masih ada kaumnya yang selamat?" Wilia juga ikut mengajukan pertanyaan yang memenuhi pikirannya.
"Teoriku adalah Euka membuat seorang perempuan dari kekuatannya, lalu dia mengajarkan kemampuannya pada perempuan tersebut sebelum dia mati. Sehingga perempuan itu membuat keturunannya dengan kemampuannya dan terus dilakukan hingga sampai ke dirimu," jelas Leashira.
"Maksud anda, Nona Wilia adalah buatan?" tanya Cynthia yang terlihat tidak senang dengan pertanyaan Leashira.
Semua mata tertuju pada Wilia dengan penuh pertanyaan. Sementara itu, Wilia terdiam. Seolah dia menyadari ada keanehan pada tubuhnya yang membuatnya langsung percaya kata-kata Leashira.
Wilia hanya takut jika itu terjadi padanya, itu berarti dia tidak akan bisa bersama Reinhard. Wilia kini merasa seolah takdirnya mendadak berubah drastis.
"Apa anda tidak salah bicara?" Cynthia masih bersikeras.
"Jika Wilia memang benar adalah manusia buatan, bukankah tidak ada yang perlu ditakutkan? Tuan Flo saja masih bisa hidup normal dan menjalankan sebuah toko antik," kata Ashnard berusaha menenangkan Wilia dan Cynthia.
Eris yang duduk di sebelah Ashnard, berbisik. "Apa kau tidak ingat? Tuan Flo selalu bersikap aneh. Dia bergumam sendiri dan kata-katanya sulit dimengerti. Di toko itu, dia seperti pria tua kesepian yang berdebu sama seperti barang antiknya. Mungkin kata 'gila' tidak pantas rasanya, tapi hanya itu yang bisa kupikirkan."
__ADS_1
Leashira menegakkan kepalanya tinggi ke atas, lalu menghadapkannya ke bawah. Seperti menjadi sebuah payung bagi mereka. "Kalian mungkin kebingungan dengan apa yang kukatakan, tapi itu masihlah sebuah teori. Kalian, terutama kau, Wilia, tidak boleh langsung ciut begitu saja. Aku melihatmu sebagai seorang gadis yang kuat. Karena itu, aku akan mencoba membuktikan apakah teori tersebut salah atau benar. Tentunya dengan bantuanmu."