The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Perasaan


__ADS_3

Keputusan Ashnard membuat Eris dan Nina terkejut. Mereka tidak percaya Ashnard yang sebelumnya yang paling ambisius, memberikan pernyataan yang berlawanan.


"Bagaimana dengan hadiahnya?" tanya Nina.


"Kita pikirkan saja nanti. Atau ... bagaimana jika kami mengambil bunga biru itu?" pinta Ashnard ke Leashira.


"Untuk apa, anak muda?"


"Aku baru ingat kalau Liliya menyukai bunga. Aku akan memberikannya hadiah bunga saja. Yang terpenting bukan seberapa mahal atau seberapa mewah barang tersebut, kan?" jawab Ashnard sambil melirik ke Eris.


"Kau tahu, nak. Kalian mengingatkanku dengan akademi. Kami membangun akademi berharap bisa menciptakan muird-murid seperti kalian. Cerdas, pemberani, dan berhati mulia," ucap wanita itu.


"Bagaimana dengan para pendiri yang lain? Apakah mereka tahu kondisimu?" Eris lagi-lagi tak bisa menahan rasa penasarannya.


"Mereka tidak tahu. Kami dekat saat sebelum akademi dibangun. Tidak lama setelahnya, kami berpisah. Ada yang menjadi pemimpin negara, ada yang bertualang, ada yang mencari jawaban, dan satu lagi tidak ada kabar. Apapun itu, tidak masalah. Sekarang bukan cerita kami lagi, melainkan cerita kalian semua, anak muda."


Mengenang masa lalu bukanlah gaya Leashira. Ia sudah cukup banyak menerima luka di masa lalu yang membuatnya menderita. Ia menjadi ahli obat untuk menyembuhkan semua luka itu. Akan tetapi, nadanya yang sayu masih menunjukkan bahwa ia sebenarnya tidak melupakan semua masa lalunya.


Terhanyut dalam kisah sedih juga bukanlah hal yang tidak boleh dilakukan, tapi terlalu sering juga tidak baik. Ada kalanya, dalam hidup seseorang harus beralih ke sesuatu yang baru daripada terus terjebak dalam lingkaran kesulitannya sendiri.


Ashnard berpikir seperti itu karena dia tahu kalau keegoisannya dia dalam memilih hadiah justru membuat Eris dan Nina terlibat lebih jauh. Ia memutuskan untuk melupakan keegoisannya dan mencoba tujuan yang baru.


Ashnard memetik satu hingga lima bunga biru setelah Leashira mengizinkannya. Nina lalu menghampiri Ashnard dan duduk bertekuk lutut di sebelahnya. "Aku tak tahu kalau kau bisa berubah pikiran seperti itu."


"Benarkah?" tanya Ashnard sambil memetik bunga dan menyimpannya di tangan kirinya.


"Ya, kau banyak memberiku impresi yang berbeda-beda setiap kita bertemu. Pertama, kukira kau orang yang lemah karena kalah melawan Liliya, lalu kukira kau akan menjadi seperti orang yang membenci Eris, dan lalu kukira kau laki-laki mesum yang suka mengintip asrama perempuan seperti yang Eris katakan."


"Wow, semua impresimu sungguh menyakitkan," balas Ashnard yang menerimanya secara santai.


"Aku tidak bohong. Aku tidak tahu kalau kau ternyata tahu banyak hal. Aku sempat meremehkanmu."


"Terima kasih, kurasa."


"Sini. Berikan bungamu." Nina mengambil bunga-bunga yang sudah dipetik oleh Ashnard. "Kau ingin memberikan bunga ini untuk Liliya, kan? Akan membosankan kalau kau hanya memberikannya berupa bunga." Nina dengan keahliannya memutar, melilitkan ranting bunga dan daunnya seperti sebuah tali. Hingga membentuk seperti jepit rambut yang berhias tiga mahkota bunga biru. Setelah itu, ia menyerahkannya ke Ashnard kembali.


"Kau pintar sekali! Bagaimana caramu melakukannya?" tanya Ashnard yang terkagum-kagum mengamati jepit rambut bunga itu sampai ke detilnya.

__ADS_1


"Yah, di keluargaku, aku dituntut menjadi seorang gadis yang bisa menjahit dan membuat kerajinan. Aku juga sering mengepang rambut Eris dan membuatnya ikat rambut," ungkap Nina.


"Kau juga tak kalah selalu memberiku impresi yang berbeda."


"Berarti kita sama."


Melihat Nina dan Ashnard yang asyik tertawa, Eris penasaran dan menghampiri mereka. "Kalian tampak asyik sekali mengobrol." Lalu, ia melihat sebuah ikat rambut yang dibuat dari kumpulan bunga biru di tangan Ashnard. "Kau mau memberikan itu?" tanyanya.


"Ya, Nina yang membuatnya," jawab Ashnard.


"Aku tidak terkejut jika itu buatan Nina. Dia memiliki tangan yang lihai."


Tidak seperti sebelumnya, sekarang Ashnard sudah merasa hadiah ini lebih dari cukup dan sempurna untuk Liliya yang menyukai bunga. Mereka lalu pamit, karena matahari sudah tenggelam dan masih ada yang harus mereka lakukan sebelum menemui Liliya.


"Jika kalian memerlukan bantuanku, kalian bebas datang kapan saja, terutama kalian para gadis," pungkas Leashira sambil mengedipkan matanya yang besar.


Seketika, pipi Nina dan Eris memerah seperti terkena demam. Ashnard yang penasaran, bertanya, "Apa yang Leashira bicarakan?"


"T-tidak ada," jawab Nina panik, pergi tergesa-gesa mendahului Ashnard.


"Sebaiknya kau tidak penasaran," jawab Eris dengan wajah datarnya, meskipun pipinya juga sama memerahnya. Lalu, menyusul Nina.


Mereka tidak lupa tujuan mereka. Meskipun tidak mendapatkan bunga Erastion, mereka tetap harus kembali ke untuk melaporkannya ke wanita penjaga toko. Namun, sebelum itu, mereka pulang ke penginapan masing-masing demi kebersihan dan kesegaran tubuh.


Kemudian, mereka bertemu kembali di bawah lampu jalan yang menyorot ke bawah. Nina dan Eris mengganti pakaian santai mereka. Meskipun sudah berganti pakaian, Eris masih mempertahankan pita rambut merahnya. Sementara Ashnard memakai baju yang ia kenakan selama perjalanan menuju akademi.


Ashnard menemukan bahwa Eris dan Nina membawa sesuatu di tas kantung mereka. "Apa itu?" tanyanya.


"Kami memutuskan untuk membeli sendiri hadiah kami untuk Liliya. Jadi, bunga itu sepenuhnya pemberianmu untuknya," ungkap ungkap Nina.


"Tenang saja. Setelah kuhitung-hitung sisa uangku, aku masih bisa membeli beberapa keperluan sehari-hariku dengan menimilasir jumlah barang dan memperkirakan seberapa pentingnya untuk saat ini," sahut Eris.


Mereka lalu pergi bersama menuju toko gaun setelah itu baru ke penginapan Liliya. Nina berkata sambil menikmati jalanan kota saat malam yang dingin sekaligus hangat. "Jadi, bagaimana? Apa kau sudah siap?" tanya Nina ke Ashnard.


"Siap apa? Hanya memberikan hadiah saja, kan? Memangnya perlu apa lagi?" heran Ashnard. Namun, dia tidak mengetahui maksud Nina.


"Entahlah, bukankah akan lebih terasa momennya jika kau menyatakan perasaanmu ke Liliya saat hari ulang tahunnya? Kau setuju, kan, Eris?"

__ADS_1


"Tidak, justru menurutku sangat tidak efisien. Karena jika kalian putus, Liliya akan terus mengingat dan merayakan hari ulang tahunnya dengan menyakitkan," jawab Eris datar. Lalu, langsung disenggol oleh Nina yang sedikit menegurnya. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."


"Kenapa kalian menganggap aku akan menyatakan perasaanku? Aku saja baru hari ini tahu hari ulang tahunnya," ungkap Ashnard.


"Tapi, kau benar-benar menyukainya, kan? Saran dariku, tidak baik kalau kau selalu menyimpan perasaanmu jika memang tujuan perasaan itu untuk diutarakan. Lebih baik, kau katakan saja perasaanmu yang sebenarnya ke Liliya. Kau tidak perlu takut kalau dia tidak menerima perasaanmu. Seperti kata orang dewasa, itulah yang disebut kehidupan."


Ashnard terkejut karena Nina baru saja memberinya impresi baru yaitu seorang ahli cinta. Tentu saja, di balik semua nasihat dan kata-katanya, Nina belajar dari ahlinya. Pelajaran selama satu jam lebih yang Leashira berikan cukup membuat Nina paham, meskipun kebanyakan hal-hal membosankan dan memalukan soal keintiman pasangan yang harus Nina kuasai untuk menyenangkan pasangannya.


"Aku um ... aku tidak tahu," jawab Ashnard sambil mengangkat kedua bahunya, yang justru membuat kecewa Nina.


"Bagaimana kau bisa tidak tahu perasaanmu sendiri?" tanya Nina sedikit meninggikan nadanya. Para warga yang berjalan mendengar, membuat mereka semua tertuju ke Ashnard dan Nina.


Ashnard tidak bohong saat mengatakan bahwa dia tidak tahu. Bahkan saat Nina menatapnya tajam dan orang-orang memberikan tatapan yang bertanya-tanya pada dia, tidak membuat Ashnard dengan mudah mengatakan apa yang dia rasakan.


"Aku tahu kalau kalian melihatku dekat dengan Liliya, tapi aku hanya ... bingung, ok? Aku tidak pernah memikirkan perasaan secara romantik terhadap Liliya sebelumnya. Mungkin kalian benar. Mungkin aku suka Liliya. Aku hanya malu saja mengungkapkannya." Setelah Ashnard mengungkapkannya, ia berhenti dan tertunduk. Sesuatu dari lubuk hatinya terasa terlepas dan membuat jiwanya lebih ringan, bebas seperti telah lama dikurung.


Nina berbalik dan mendekati Ashnard. "Hei, aku tidak ingin memaksamu mengatakan perasaanmu ke Liliya. Kalau kau memang tidak ingin, tidak apa. Aku minta maaf membuatmu tertekan," ucapnya lembut.


Sesuatu yang sudah sering dia rasakan, ada di antara pikiran, hatinya dan mulutnya saat ini. Sebuah momen keraguan akan muncul ketika Ashnard berada di dalam ketidaktahuannya. Ashnard seperti memiliki saat dimana ia yakin dan akan terus memegang teguh pilihannya, dan saat dimana ia ragu dan tidak yakin.


"Tidak apa, Nina. Kau tidak membuatku tertekan. Aku yang seharusnya tahu jawabanku sendiri. Ini perasaanku," balas Ashnard berusaha melepaskan semua pemikirannya.


"Kau terlalu berputar-putar," Eris tiba-tiba menyahut. "Maksudku, kau laki-laki, pilihanmu harus lebih tegas dan yakin. Jika aku menjadi dirimu, aku akan menyesali semua hidupku."


"Kau tidak membantu, Eris. Kau justru lebih mengejeknya daripada menyemangatinya." Nina beralih ke Eris dan menegurnya seperti biasa, seperti seorang ibu.


"Jika kau benar-benar menyukai Liliya, katakan saja kau suka. Jika kau hanya menganggapnya sebagai teman, kau tidak merubah apapun. Intinya adalah kau harus yakin dengan perasaanmu, keinginanmu, dan tujuanmu sendiri. Tidak ada salahnya menjadi orang yang ambisius. Aku lebih suka kau yang seperti itu," jelas Eris lebih lanjut.


"Kau suka Ashnard? Apa itu sebuah pengakuan?" Nina terkejut, sedikit menggodanya.


Menyadari akan ucapannya, Eris tentu saja sudah terlambat untuk menyembunyikan wajah malunya. "A-aku tidak bermaksud. Aku ... aku, maksudku suka dalam artian yang lain."


"Aku mengerti," jawab Ashnard.


Saat mereka kembali melanjutkan perjalanan, mereka melewati sebuah taman kota yang sudah dihias dengan pameran malam dan ornamen cantik. Kios makanan, permainan berhadiah dan lain sebagainya. Sebagai penyambutan untuk murid-murid akademi yang baru datang ke kota.


Di antara kemewahan hiasan yang menggambarkan malam penuh kegembiraan yang dibanggakan kota dan cantiknya lampu-lampu malam berdampingan dengan para bintang, ada Liliya yang sosoknya tak kalah dengan semua keindahan itu.

__ADS_1


Berdiri sendiri di antara cahaya-cahaya seperti sedang menunggu kehadiran sosok yang diimpikannya. Namun, dibalik keceriaan yang tergambar di wajah Ashnard, harus dipadamkan dengan cepat saat kedatangan seseorang yang tak diduga, memberi sebuah hadiah untuk Liliya.


__ADS_2