The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Akhir Pekan


__ADS_3

Ashnard sangat yakin dengan pendengarannya sendiri. Akan tetapi, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Pertimbangan yang ada dipikirannya adalah apakah ia harus mengabaikan hal ini atau tidak?


Gerlon menyadarkan Ashnard dari lamunannya. "Dari tadi malam kau bertingkah aneh. Apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya?"


Saat malam ia terlalu panik dan tidak bisa berpikir jernih. Tapi, pikiran dan tubuh segar di pagi hari membantunya berpikir dengan benar.


Ashnard mempercayai Gerlon sebagai temannya, ia memutuskan untuk memberitahunya agar bisa meminta pendapat darinya. Ashnard menjelaskan suara yang ia dengar di ruang latihan saat malam. Yang satu suara Pangeran Arlon yang satu lagi dia tidak tahu.


"Mereka seperti sedang merencanakan sesuatu. Yang kutakutkan adalah jika mereka benar-benar memiliki niat jahat," ungkap Ashnard.


Ia duduk bersila di tepi kasurnya, berhadapan dengan Gerlon yang juga duduk sambil menutupi mulutnya. Bola matanya bergerak ke kiri ke kanan, gerak-gerik sedang memikirkan sesuatu.


"Membunuh Reinhard? Itu berlebihan, kan? Maksudku, jika itu benar, kenapa ada orang yang berniat sejahat seperti itu," lanjut Ashnard.


"Yah, kecemburuan adalah salah satu sifat manusia yang kuat. Ketika seseorang melihat orang lain mendapatkan apa yang tidak didapatnya, di saat itulah iri dengki akan muncul. Bisa menjadi motivasi atau justru menjadi pedang," kata Gerlon.


"Tetap, dia kan seorang pangeran. Tidak sepantasnya pangeran melakukan hal sekeji itu, kan?"


"Rasa iri seperti kanker, kau tahu. Kalau kau membiarkannya tumbuh dalam dirimu, itu akan menyebar dan membesar. Menggerogoti seluruh pola pikirmu dan membuat bertingkah di luar batas. Sama seperti penyakit, semua orang pasti akan terjangkit, bukan? Bahkan pangeran pun tak akan luput dari penyakit kecemburuan itu. Bahkan, menurutku, jika orang memiliki kekuasaan daripada kita dan mendapatkan penyakit atau semacamnya, justru akan lebih berbahaya daripada orang lemah seperti kita."


"Lalu, apa yang harus kulakukan? Apa aku harus bersikap seolah itu tidak terjadi? Seharusnya ini bukan masalahku, kan."


"Tapi, kau itu prefek sekarang. Kau tetap harus menjalankan tugasmu dan melaporkan semua yang kau temukan ke Dester."


Perkataan Gerlon membuatnya tersadar kembali kalau Ashnard sekarang ada prefek. Meskipun ditunjuk oleh Dester, tapi ia tidak secara resmi menjadi seorang prefek. Dester lah yang masih memegang jabatan itu dan tugas Ashnard hanyalah mengecek asrama dan melaporkan kembali ke prefek yang asli.


Ashnard tak bisa lepas dari tugas ini karena kesalahaannya sendiri. Apalagi ia sudah bertekad sebelumnya. Ia pun memutuskan untuk memberitahu Dester soal tadi malam dan membiarkan dia yang memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan.


Dia dan Gerlon bersama-sama menuju kamar Dester. Terlihat Dester yang duduk memandang ke luar dengan kakinya yang diperban. Ia melihat betapa senangnya teman-temannya berlarian di luar dan bisa merasakan rumput lembah yang halud.


Matanya menyorot keinginannya di luar sana, tapi tubuhnya sekarang tak mampu tuk membawanya. Ia seperti si lumpuh yang hendak merantau.


"Sebaiknya jangan sembarang menuduh orang," ucap murid tahun ketiga itu menasehati juniornya. Setelah Ashnard menjelaskan apa yang dia temukan, Dester beralih dari memandang ke luar jendela ke memandangi kakinya yang belum sembuh total. Namun, tidak sekalipun ke Ashnard.


Ashnard tahu kalau dirinya lah yang menyebabkan luka itu dan ia merasa sangat menyesal atas tindakan cerobohnya. Ia memaklumi sikap Dester yang tidak menatapnya saat berbicara. Bahkan, jika Dester mengusirnya Ashnard tidak akan melawan.


"Apalagi tugasmu sekarang ini adalah sebagai prefek. Kau harus benar-benar jujur dan adil dalam melaksanakan tugasmu. Jangan sembarang menuduh atau membedakan perlakuan antara murid-murid yang lain. Itu tidak profesional," lanjutnya.

__ADS_1


"Meskipun begitu, aku mendengarnya langsung dan sangat jelas malam itu," Ashnard bersikeras.


"Mungkin kau salah dengar. Itu hal yang wajar saat berpatroli malam hari. Kau tak bisa menahan kantuk dan kadang berhalusinasi mendengar atau melihat seseorang. Aku sudah sering mengalaminya."


Ashnard menunduk, tak bisa berkata apapun lagi.


"Begini saja, bagaimana kalau kau tanyakan langsung ke Arlon. Ia mungkin bisa menjelaskan," saran Dester. "Oh iya, orang yang kau maksud mengobrol dengan Arlon, mungkin itu Erik. Aku juga bertemu dengannya di ruang latihan bersama Arlon beberapa malam yang lalu."


"Siapa Erik?" Ashnard melempar pandangan ke Gerlon. Gerlon mengangkat bahunya.


"Kau tidak mengenalnya? Padahal aku sudah memberimu daftar murid laki-laki." Dester menggelengkan kepalanya tak percaya. "Erik sama seperti kalian. Dia murid tahun pertama, berasal dari desa terpencil di Magnolia. Aku tidak tahu bagaimana caranya bisa masuk ke sini. Mungkin kau juga bisa bertanya pada orang desa sepertinya. Tapi, jangan sekalipun percaya bualannya soal ketidakadilan."


"Apa itu?" Ashnard bingung.


"Tipikal orang desa. Membenci para bangsawan dan merasa hidup mereka hancur gara-gara bangsawan. Padahal, kita para bangsawan juga memiliki masalah sendiri. Perebutan kekuasaan, sumber daya, wilayah. Masalah ekonomi, militer, menjalin hubungan internasional, ditambah musuh yang mengintai. Kami tidak memiliki urusan dengan orang-orang desa itu. Kami hanya berjuang untuk hidup, sama seperti mereka."


Ashnard melirik ke Gerlon, memperhatikan wajahnya yang selalu tersenyum saat Dester mengutarakan pendapatnya sebagai bangsawan. Jika di posisi Gerlon yang merupakan rakyat biasa, Ashnard pasti sudah merasa kesal.


Ia terus memperhatikan Gerlon, namun ia sama sekali tak melihat Gerlon marah. Gerlon masih tersenyum seolah menyembunyikan amarahnya.


"Aku mengerti," jawab Ashnard mengakhiri pembicaraan.


Ashnard tak tahu di mana Arlon dan Erik berada saat ini. Ia juga tak yakin akan bertanya pada mereka. Mereka bisa saja menolak menjawabnya atau menuduh Ashnard secara hukum seperti yang di katakan Dester. Apalagi ia tidak mengenali mereka. Di depan asrama, Ashnard menunduk bingung.


"Semua masalah ini terjadi berkaitan dengan Reinhard. Sebaiknya aku memberitahunya agar bisa dibicarakan baik-baik dengan Arlon," ucap Ashnard.


Lalu, Ashnard dan Gerlon menuju taman di akademi. Tempat kebanyakan murid-murid berkumpul di akhir pekan. Membaca, bersantai, minum teh, atau bahkan mengerjakan tugas yang belum selesai. Taman menjadi spot palinh favorit kedua setelah kantin.


Namun, di sana mereka malah bertemu Liliya. Gadia itu melambaikan tangannya begitu bersemangat saat melihat Ashnard menghampiri.


"Liliya, apa kau lihat Reinhard?" tanya Ashnard langsung ke intinya.


"Rein? Aku tidak melihatnya. Memangnya ada apa?"


"Sebenarnya, ada yang ingin kukatakan."


Cara Ashnard mengucapkannya dengan tegas dan sorot matanya yang serius membuat Liliya justru berpikir hal yang lain. Liliya berpikir jika Ashnard ingin berbaikan dengan Reinhard dan menjadi teman dekat, di mana itu adalah keinginan terdalamnya.

__ADS_1


Melihat keinginannya terwujud secara langsung di depan matanya sendiri, Liliya tak ingin melewatkannya sama sekali. Dengan mata yang berbinar dan senyuman manisnya, ia mengatakan ingin ikut, yang tentunya tidak bisa Ashnard tolak karena ekspresi Liliya yang sangat imut.


"Ternyata kelemahanmu memang dia, ya?" ejek Gerlon.


Ashnard yang merasakan pipinya merah langsung memukuli Gerlon. "Diamlah!"


"Jangan-jangan kau menyu-" Dengan cepat, Ashnard membungkam mulut Gerlon dan mendorongnya jauh dari Liliya.


"Sudah kubilang diam! Kita harus fokus mencari Reinhard, mengerti!"


Gerlon yang mulutnya ditutup, mengangguk sambil memberikan kedua jempolnya. Setelah itu, mereka bertiga pun melanjutkan mencari Reinhard.


Dengan keikutsertaan Liliya di sisinya, membuat pikiran Ashnard sedikit terganggu. Ia bahkan sekali-kali mencuri lirikan ke Liliya.


"Bagaimana dengan kelas sihirnya?" tanya Ashnard.


Liliya berkata dengan penuh semangat, "Itu sangat keren, Ash! Kau tahu, aku tidak tahu sihir bisa dilakukan seperti itu. Sihir Lorna benar-benar menakjubkan. Seperti menonton pertunjukan kembang api."


Semua yang Liliya katakan membuat Ashnard iri karena tak bisa melihatnya secara langsung.


"Sayang sekali kau tak bisa melihatnya."


"Tidak apa. Selama kau bahagia."


"Jangan aku saja, kau juga harus bahagia," balas Liliya cemberut.


Lalu, saat mereka menyusuri bagian belakang akademi yang ditutupi pepohonan dan bebatuan, mereka menemukan Reinhard di bawah jalan kecil di antara celah yang turun sedikit ke bawah. Di sana, tidak hanya Reinhard, tapi ia juga bersama Ulfang.


Semua saling terkejut saat menemukan satu sama lain, lalu semua saling membeku. Ashnard dan Gerlon dibekukan oleh pandangan yang tidak normal di depan mereka. Karena celah di bawah sangat sempit, membuat jarak Reinhard dan Ulfang sangat dekat, atau terlalu dekat. Wajah mereka bahkan terlihat sangat dekat seperti pasangan yang sedang ingin berciuman.


"Ini kedua kalinya aku melihat yang tidak dapat dijelaskan," ucap Gerlon yang ekspresinya pucat seperti melihat hantu.


"Aku pun sama tidak tahu harus berkata apa," timpal Ashnard yang memberikan ekspresi jijik.


"A-aku tak tahu hubungan kalian seperti ini!" ucap Liliya yang menutupi mukanya yang merah dan matanya dengan tangannya.


"A-aku bisa jelaskan," kata Reinhard.

__ADS_1


__ADS_2