
Akademi sudah menjadi hal yang wajib dan penting bagi para bangsawan sejak didirikan.
Akademi bisa menciptakan Elemagnia yang hebat serta mempererat hubungan bangsawan melalui aktivitas dan lingkungan akademik. Oleh karena itu, banyak negara-negara atau bangsawan-bangsawan yang mendukung akademi dengan murid putra-putri mereka.
Visi dan misi akademi ialah untuk mendidik generasi muda menjadi seseorang yang dapat diandalkan dalam bidang pengendalian kekuatan sihir dan elemental dan penguasaan kemampuan berpikir muda.
Dengan didikan dari usia muda akan mengajarkan para siswa menjadi orang-orang yang hebat dan teladan dalam berperilaku dan berpikir.
Usia remaja juga cocok untuk memulai pelatihan diri dalam penguasaan seni bela diri. Usia remaja memiliki kondisi tubuh dan kemampuan fisik yang berbeda dengan orang dewasa. Apalagi dalam hal seni elemental.
Mereka yang mendapatkan kekuatan elemental saat masih muda, akan lebih sulit menguasai daripada orang yang sudah dewasa. Karena orang dewasa memiliki kapasitas tenaga serta kondisi tubuh yang sudah mumpuni sehingga dapat mengendalikan kekuatan elemen meskipun belajar secara mandiri. Berbeda dengan anak muda yang tubuhnya yang masih seperti cangkang telur yang mudah retak.
Oleh karena itu, akademi didirikan hanya untuk anak muda saja.
4 pendiri yang mendirikan akademi mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran mereka untuk menciptakan lingkungan belajar mengajar yang sempurna bagi Elemagnia muda.
Mereka mendirikan akademi di lembah, terinspirasi dari Lembah Eden di mana setiap orang mendapatkan kekuatan elemen mereka. Lembah Eden menjadi simbol awal kehidupan baru dan perubahan yang lebih baik. Sebuah anugerah dari para dewa. Itulah yang para pendiri jadikan sebagai pondasi dalam membangun akademi.
Dengan bintang empat sudut sebagai simbol mereka yang sesuai dengan para pendiri, Akademi Evernia pun diciptakan.
Banyak hal yang sudah diperhitungkan dan memang sangat penting di akademi ini. Demi menciptakan lingkungan yang terbaik, dibangunlah fasilitas-fasilitas seperti: asrama, arena, perpustakaan, taman asri, kantin, kelas dan lain sebagainya.
Para pengajar yang ditunjuk pun tentu bukan sembarang pengajar. Dipilih melalui seleksi yang ketat dan sangat berpengalaman. Mereka-pengajar berasal dari latat belakang yang berbeda serta kemampuan yang berbeda. Tapi, tetap setara dalam satu himpunan.
Begitu pula para murid. Tak sedikit murid yang berasal dari kalangan bangsawan, tak sedikit juga murid yang tidak berasal dari keluarga bangsawan. Tapi, di akademi status dan semacamnya tidak diperlukan karena mereka saat di akademi adalah satu sosok yang sama, yaitu sebagai murid.
Murid yang datang untuk belajar, murid yang datang untuk menciptakan teman, dan murid yang datang untuk menjadi sosok yang diinginkannya. Semua sama dan senada dalam satu seragam yang dibuat untuk tak menjadi pembeda.
Seragam putih dengan garis hitam di tengah dan celana panjang hitam untuk laki-laki. Untuk para gadis, mereka memakai jubah rompi kecil berlengan panjang berwarna putih. Di baliknya memakai gaun hitam dengan rok yang sepanjang betis. Dasi serta bros elemental.
Kain dan kedetilan jahitannya benar-benar diperhatikan. Dan jadilah sebuah pakaian yang lembut, ringan dan elegan untuk para murid. Tak ada yang tak menyukai desain seragamnya, salah satunya Ashnard.
Ketika seragam miliknya sudah datang, matanya pun berbinar penuh semangat memakai seragamnya.
"Bagaimana? Aku keren, kan?" sanjung Ashnard pada diri sendiri di depan cermin. Ia berpose dengan bangga, memperlihatkan kekerenan menurutnya tersebut.
"Norak," dengus Reinhard yang sengaja dikeraskan agar Ashnard mendengarnya.
Reinhard juga sedang merapikan kerah seragamnya, bersiap untuk berangkat. Sementara Gerlon masih tertidur pulas.
"Bangun! Bangun! Nanti kau terlambat, lho." Ashnard memukul-mukul bokong Gerlon untuk membangunkannya.
"Aku masih mengantuk," lirih anak laki-laki tersebut.
__ADS_1
Pagi hari yang segar di akademi. Hari ini adalah hari pertama Ashnard, Gerlon, dan Reinhard untuk bersekolah. Ashnard memang masih ingat dengan apa yang terjadi pada Ibunya, tapi ia mengikuti perkataan Ozark yaitu untuk menjalani kehidupan sebagai siswa di akademi selagi menunggu kabar lebih lanjut dari Ozark.
Setelah Ashnard memikirkannya lagi, bagaimana Ozark akan mengabarinya? Apakah ia akan datang ke akademi atau mengirimkan sebuah surat? Ia tak ada petunjuk sama sekali hingga kabar itu sendiri sudah datang.
Setelah selesai bersiap-siap, Reinhard membuka pintu dan keluar. Gerlon yang sedang membentuk dasi memanggilnya. "Tak berangkat bersama?"
"Siapa juga yang mau bersama dengan kalian?" hina Reinhard seperti biasa. Ia selalu mengejek atau menghina setiap saat, seolah mengejek sudah seperti bernafas baginya.
Sebelum keluar dari kamar, Gerlon juga menanyakan perihal bros yang tak dikenakan oleh Ashnard. Ashnard berkata kalau dia hanya sedang tak ingin memakainya.
Alasan sebenarnya tentu saja karena elemen miliknya. Saat ditunjukkan oleh Ozark, elemental bros yang digunakan oleh Ashnard berwarna berbeda dengan elemental bros pada umumnya.
Di depan kamar, Reinhard di datangi oleh Ulfang. Mereka pun berangkat bersama menuju aula. Sementara tak jauh di belakangnya ialah Ashnard dan Gerlon.
"Kau tak jadi memberikannya?" tanya Ulfang ke Reinhard saat mereka melewati jembatan gantung.
"Aku tak bisa," jawabnya memalingkan muka karena malu.
"Eh, ternyata ada hal yang kau tak bisa lakukan?" heran Ulfang mendelik.
"Diamlah!" desis Reinhard memarahi temannya itu. "Kau tak perlu khawatir. Aku akan memberikannya saat waktu yang tepat."
Sesampainya di Aula Putih, di taman halaman depan, banyak sekali murid-murid perempuan yang berseliweran menyapa Reinhard. Hal itu membuat Ashnard sedikit iri.
"Kau tampak keren," puji Liliya pada Ashnard yang memakai seragam.
"Tentu saja. Terima kasih."
Ashnard ingin berkata kalau Liliya jauh lebih cantik dengan seragam dan pita kupu-kupunya. Tapi, ia terlalu malu mengatakannya selagi banyak orang di sekitarnya.
Reinhard pun bergabung saat mengetahui Liliya datang.
"Bagaimana kabarmu?" tanyanya malu-malu.
"Apa yang kau katakan? Kita baru saja bertemu kemarin. Tentu saja aku baik-baik saja," jawab Liliya juga tertawa kecil.
Ashnard menyadari ada yang berbeda dengan Reinhard yang ia kenal sebagai orang yang sombong dan suka menindas. Ia pun berbisik pada Liliya, "Liliya, Reinhard bertingkah aneh. Kita harus hati-hati."
"Kau juga. Apa sih yang kau bicarakan? Rein kan memang selalu bertingkah aneh," jawab Liliya lantang membuat Ashnard panik dan Reinhard menatapnya dengan tajam.
"Kau bilang aku aneh?" geram Reinhard pada Ashnard.
"Memang kau aneh."
__ADS_1
"Kau yang justru lebih aneh karena kalah dari seorang perempuan!"
Dan dimulailah pertengkaran pagi hari mereka. Liliya yang melihat pertengkaran Ashnard dan Reinhard tertawa bahagia.
"Kalian benar-benar terlihat akrab," ucap Liliya senang.
"Kami tidak akrab sedikitpun!" bentak Reinhard dan Ashnard dengan kompak.
"Apa mereka selalu seperti ini?" tanya Gerlon yang berdiri di samping Liliya memandangi pertengkaran tersebut.
Aula Putih tak hanya berfungsi sebagai tempat untuk mengutarakan pidato saja, tapi ada juga ruang-ruang kelas yang digunakan untuk ruang pembelajaran.
Karena dari luar saja sudah tampak sangat besar, maka lorong-lorongnya pun juga sangat panjang. Sepanjang lorong tersebut, Reinhard mendapatkan perhatian dan senyuman sementara Gerlon tidak.
Saat mereka lurus menelusuri lorong, terdapat sebuah belokan di kanan. Di belokan itu mereka melihat gadis berambut merah, Nina bersama gadis berkacamata yang menahan Reinhard waktu itu, Eris.
"Itu bukan salahku, Eris. Itu salah mereka. Mereka mengejekmu," ucap Nina.
"Niatmu baik tapi bukan berarti kau harus memukul mereka," balas Eris sedikit meninggikan nadanya.
"Anak-anak nakal itu bilang gadis berkacamata itu menjengkelkan, penjilat, perusak kesenangan dan banyak hal. Aku mendengarnya dan langsung mendorongnya ke sungai," jelas gadis berambut merah kecoklatan itu.
Melihat temannya yang bertindak membelanya, membuat Eris tertunduk. "Tetap saja kau harus mendapatkan catatan. Tapi ... te-terima kasih ... sudah membelaku," jawabnya tersendat-sendat malu.
Nina segera menarik Eris yang lebih pendek darinya dan mendekapnya di dadanya. "Tentu saja, kau temanku."
Setelah melewati belokan tersebut, Reinhard yang penasaran bertanya pada Liliya, "Mereka berteman?"
"Nina dan Eris? Iya, kudengar mereka sudah berteman sejak kecil."
"Logo di lengan kanannya itu, dia anggota Dewan Kesiswaan, ya?" tanya Gerlon menunjuk pada logo emas bintang empat sudut yang dilingkari dengan pita dan bintang-bintang kecil lainnya.
Liliya mengangguk. "Lebih tepatnya dia di bagian kedisiplinan. Banyak orang yang membencinya karena terlalu disiplin dan ketat. Setiap murid yang ditemukan melanggar peraturan akan dikenai catatan olehnya dan catatan tersebut akan ditinjau kembali oleh para dewan. Jika dinyatakan pelanggaran mereka serius, mereka akan diberikan sejumlah tugas hukuman oleh Tuan Egon," jelasnya.
"Lalu, bagaimana caraku agar menjadi Dewan Kesiswaan?" tanya Ashnard yang seketika membuat Reinhard, Ulfang, bahkan Liliya tertawa.
"Tidak bisa, Ash. Pemilihan anggota dewan bisa dibilang sangat sulit, karena kau harus mendapatkan nilai kelayakan berupa Exos sebagai syarat mengajukan pendaftaraan. Setelah itu masih ada seleksi kesempurnaan," jelas Liliya lagi.
"Tidak mungkin kau akan diterima. Nilaimu saja Nol," ejek Reinhard.
Ashnard merasa sakit hati saat Reinhard mengejeknya. Meskipun ia tahu bahwa nilainya sendiri karena kesalahannya, tetap ia tak terima dikatakan begitu oleh orang yang mendapatkan nilai Exos.
Akhirnya pertengkaran dengan melemparkan kalimat mengejek pun terjadi lagi, sebelum akhirnya Liliya turun tangan dan menyelesaikan pertengkaran dengan menarik telinga mereka hingga sampai ke kelas.
__ADS_1