The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Menaklukan Tuan Putri


__ADS_3

Tangan sang lelaki tepat berada di depannya, menunggu untuk digenggam. Namun, Wilia menyibakkan rambutnya dan berkata, "Berteman denganku? Yang benar saja! Lebih baik aku mati." Wilia bangkit dari kursinya, langsung pergi meninggalkan Reinhard.


"Hei, bukannya kau tidak boleh menyisakan tehmu?" teriak Reinhard, tapi tidak digubris. Reinhard lalu melihat ke dalam cangkir, dan tidak menemukan sisa apapun disana. Itu berarti Wilia bisa saja pergi sejak awal, tapi tidak melakukannya. Reinhard menganggap ini sebuah perkembangan.


Keesokan paginya, Reinhard kembali ke kebun bunga dan kembali menemukan Wilia. Hanya berdiri di depan bunga-bunga yang semakin merunduk, dan tidak melakukan apapun.


Cukup jauh di belakang Wilia, berdiri seorang pelayan yang sebelumnya Reinhard lihat di lorong. Pelayan itu juga sama berdiri tanpa melakukan apapun, menunggu perintah majikannya.


"Selamat pagi, Wilia," sapa Reinhard mendekati Wilia dengan penuh kebahagiaan.


Wilia tidak membalas. Masih mempertahankan sikap dinginnya. Ia bahkan tak melakukan apapun saat kelopak bunga terlepas dan jatuh ke tanah.


"Bukankah aneh, ketika semua warga Rabalm sibuk bangun pagi dan menyiram bunga mereka, hanya sang putri saja yang tidak menyiramnya dan membiarkan bunga layu," ucap Reinhard.


"Asalkan kau tahu, hanya karena aku Putri Raja Rabalm, bukan berarti aku harus menyukai bunga seperti semua orang," jawab Wilia dengan nada kesal.


Reinhard yang berdiri di sebelah Wilia, langsung menoleh ke arahnya dengan mata melebar dan mulut menganga. "Apa aku tidak salah dengar? Putri dari Negeri Rabalm, negeri dengan ragam bunga tak terhingga, tidak menyukai bunga? Kau pasti bercanda!"


Wilia menghela nafas. "Itulah kenyataannya. Kenapa kau malah mempermasalahkan putri negeri lain? Urus saja urusanmu, Asberion!" Lalu, pergi lagi meninggalkan Reinhard.


Setelah Wilia pergi, pelayannya menatap persis mata Reinhard sejenak, membungkuk, kemudian pergi mengikuti tuan putri. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut pelayan. Sikap yang wajar dan harus bagi seorang pelayan.


Sedikit demi sedikit Reinhard mengenal Wilia. Dan semakin ia tahu hal menarik darinya. Reinhard bertanya-tanya soal pernyataan tuan putri yang ternyata tidak menyukai bunga, tidak seperti masyarakat Rabalm yang seharusnya.


Baginya, ini adalah fenomena yang unik sekaligus menarik. Ia mengandaikan dengan Winfor, seseorang yang tidak menyukai angin tapi tinggal di negeri angin.


Ketika Reinhard berjalan di lorong menuju kamarnya, hendak mengistirahatkan diri dari latihan malam, dia menemukan pintu kamar Wilia yang terbuka sedikit. Dia juga mendengar sebuah benda kaca yang pecah dan bentakan dari dalam.


Dipengaruhi rasa penasarannya, Reinhard berusaha mengintip apa yang sedang terjadi melalui celah pintu yang terbuka. Terlihat pelayan Wilia yang sedang menunduk ketakutan, dibentak habis-habisan oleh Wilia itu sendiri. Semua umpatan dan makian keluar dari mulut sang putri, semakin memperburuk citranya di mata Reinhard.


Reinhard juga melihat pecahan cangkir di lantai dan teh yang tumpah. Namun, dia mulai panik saat melihat tetesan darah mengalir di telapak tangan Wilia.


Terdorong oleh rasa paniknya, tubuhnya otomatis bergerak membuka pintu dan masuk. Sontak, pelayan langsung meninggalkan ruangan sambil menutup mukanya. Reinhard juga sekilas bisa melihat aliran darah di wajah pelayan itu saat melewatinya.


"Apa yang terjadi?" heran Reinhard.

__ADS_1


Pelayan itu telah pergi dengan masih bersikap tenang layaknya seorang pelayan meskipun terluka. Dia lalu menutup pintu, meninggalkan Reinhard dan Wilia sendirian di kamar yang gelap gulita.


Wilia tak menjawab pertanyaan dari Reinhard. Kegelapan ruangan justru menyembunyikan perasaan dan ekspresi Wilia.


"Pergilah!" usirnya.


Reinhard tak mendengarkan, dan langsung menyalakan semua lampu lilin di dalam ruangan itu. Setelah itu, dia mendekati Wilia. "Wilia, kau baik ... baik ... saja, kan?" Reinhard tidak percaya apa yang dia lihat, luka di telapak tangan Wilia ternyata tidak ada.


"Apa!?" tanya Wilia ketus.


"Aku yakin aku tadi melihat ada darah di tanganmu," jelas Reinhard.


"Apa kau buta? Tidak ada darah! Dan seharusnya kau tidak ada di kamar seorang perempuan. Sekarang keluarlah!" usir Wilia sambil mendorong Reinhard keluar kamar.


Pada akhirnya, Reinhard tidak mengerti apa yang terjadi. Dia beranggapan jika mungkin saja dia salah melihat karena kamar Wilia gelap. Wilia sebenarnya tidak terluka,tapi justru yang terluka adalah pelayannya.


Perjuangan Reinhard untuk mendekati Wilia tidak berhenti hanya karena dimarahi dan diusir dari kamar saja. Untuk mendekati Wilia, dia memikirkan sebuah rencana yaitu dengan mendekati pelayannya. Orang yang paling dekat dengan Wilia. Bahkan lebih dekat daripada raja dan ratu, serta lebih mudah di dekati karena perbedaan status.


Reinhard lalu mencegah sang pelayan pribadi Wilia di dapur. Reinhard meletakkan sarapan yang pelayan itu bawa di meja, dan mendudukannya di kursi. Reinhard lalu bertanya saat melihat perban di kening Cynthia, "Ceritakan padaku apa yang terjadi saat itu. Tidak perlu sopan. Aku mengizinkanmu berbicara dengan santai."


"Apa dia memang seperti itu?"


"Seperti yang kau lihat, Nona Wilia bukanlah orang yang baik. Dia selalu memarahiku dan melempariku jika aku berbuat salah. Dia tidak pernah tersenyum atau berkata terima kasih sekalipun. Bahkan, banyak pelayan yang menganggapnya putri yang kejam."


"Jika kau menderita, kenapa tidak berhenti saja menjadi pelayannya?"


"Aku tidak bisa. Nona Wilia berkata akan membunuhku jika aku berhenti. Katanya, itu adalah bagian dari sumpah antara majikan dan pelayan di Rabalm."


"Jadi, apa kau menyukai majikanmu atau tidak? Jujur saja kepadaku. Aku tidak akan memberitahu Wilia soal ini."


"Maaf, aku tidak bisa mengkhianati Nona Wilia, Tuan Asberion. Aku adalah pelayan pribadinya dan aku harus menyukai majikanku sekejam apapun dia memperlakukanku. Sumpahku dengan Nona Wilia adalah hal yang nyata, begitu pula janjiku kepada Ibuku untuk terus melayani keluarga Walheimstein."


"Iya, iya, aku mengerti." Reinhard lalu berdiri dan mengambil nampan yang berisi makanan-makanan untuk sang tuan putri.


"Maaf, Tuan Asberion, tapi itu untuk sarapan Nona Wilia," ucap Cynthia.

__ADS_1


"Ya, aku tahu. Aku yang akan memberikannya," jawab Reinhard sambil tersenyum.


Sementara itu, Wilia terbangun dari tidurnya karena suara ketukan pintu. Karena sudah terbiasa Cynthia yang mengantarkan sarapannya, Wilia tidak langsung bersiap-siap. Wilia langsung loncat di kasurnya saat mengetahui Reinhard yang ternyata membawa sarapannya.


"A-apa yang kau lakukan disini, dasar bodoh!" teriak Wilia sambil berusaha menutupi dirinya yang masih memakai gaun tidur dengan selimut.


"Apa kau buta? Aku kemari membawakanmu sarapan. Berterima kasihlah padaku," balas Reinhard sambil tersenyum.


"Kenapa kau kasar terhadapku! Aku ini seodang putri!" Wilia melempar bantalnya ke arah Reinhard, langsung ditangkap oleh Cynthia tepat sebelum mengenai muka Reinhard.


"Mohon maaf, nona, Tuan Asberion yang memaksa ingin memberikan sarapan khusus untuk nona," ucap Cynthia sambil membungkuk.


Wilia turun dari ranjangnya dan menghampiri pelayannya dengan wajah yang tidak senang. "Cynthia! Dasar tidak becus!" Dia lalu berganti memarahi Reinhard. "Kau juga! Apa kau sadar apa yang sebenarnya telah kau lakukan? Sudah seminggu kau terus menggangguku dengan senyuman anehmu itu!"


"Aku juga sebenarnya tak ingin melakukan ini jika Ayahmu, Yang Mulia Raja, tidak menyuruhku!" balas Reinhard.


Sontak, Wilia terkejut mendengarnya. "Papa menyuruhmu?"


"Ya, Yang Mulia menyuruhku untuk bermain denganmu. Yang Mulia selalu sedih saat melihatmu sendirian dan hanya diam tidak melakukan apa-apa. Karena itu, jika kau tidak menurutiku, akan melaporkanmu ke Yang Mulia." Reinhard menyeringai licik.


"A-apa itu benar, Cynthia?"


Dengan sangat berat hati dan harus melakukannya demi kebaikan tuan putri, Cynthia terpaksa berbohong. Dia mengangguk dengan pelan, merespon pertanyaan Wilia.


Terlepas dari sikap sombong dan dinginnya, Wilia tetap adalah seorang putri raja. Dia berada di bawah kendali ayahnya. Dia masihlah seorang putri yang takut akan perintah orang tuanya.


Karena dia masihlah seorang gadis biasa di bawah ayahnya, Wilia harus menurut semua perintahnya. "A-aku mengerti," jawabnya tertunduk malu.


Sebuah rencana yang sukses dari Reinhard. Kenyataannya, Reinhard berbohong soal tujuannya dikarenakan keinginan Ayah Wilia. Dia melakukannya agar Wilia mudah diatur. Reinhard percaya jika Wilia juga tidak akan berani bertanya langsung ke ayahnya karena dia yang justru akan dimarahi atas ketidakpercayaannya.


"Keputusan yang bagus. Jika kau memarahiku atau Cynthia, aku akan langsung melaporkannya pada Ayahmu, itu termasuk membentak, melempar barang atau tidak menjawab. Tidak boleh bersikap dingin dan tidak boleh menolak. Jika kau tidak setuju, protes saja langsung ke Yang Mulia. Apa ada pertanyaan?" Kesenangan Reinhard terukir jelas di seringainya yang lebar.


Seketika, Wilia berubah dari macan yang keji menjadi kucing yang penurut. "Ti-tidak ada."


"Bagus, kalau begitu, sekarang duduklah, dan waktunya sarapan. Oh iya, aku juga membuatkan kue untukmu. Harap di makan juga."

__ADS_1


__ADS_2