The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Pelukan Hangat


__ADS_3

"Apa yang terjadi, Eris?" tanya Nina yang terbangun, mendengar sesenggukan.


Nina awalnya terkejut saat membuka mata, Eris sudah ada di dalam pelukannya. Dia tidak menduga ini. Namun, dia lebih terkejut lagi saat air mata mengalir dari mata temannya tersebut.


"Aku ... tidak ... apa," ucap Eris berusaha menahan isak tangisnya. Dia semakin menekan wajahnya ke dada Nina.


"Apa ada masalah? Kau bisa cerita padaku," ujar Nina.


"Tidak usah dipikirkan. Pokoknya, peluk saja aku. Kumohon." Tangan Eris memeluk dengan erat, hingga tangannya mencengkeram punggung Nina.


Nina tak ingin bangun, dan memutuskan untuk meneluk Eris sesuai dengan keinginannya. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Eris, tapi dia tahu apa yang Eris butuhkan saat ini.


Tidak biasanya Eris menjadi manja dan ingin dipeluk. Biasanya, Nina yang lebih suka memeluk Eris dan Eris yang biasanya menolak untuk dipeluk. Eris yang inisiatif terlebih dulu, serta mengungkapkan keinginannya secara langsung, jelas saja membuat Nina khawatir.


Eris tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Karena itu, tingkah anehnya membuat Nina kepikiran.


Selagi Nina menekan kepala Eris di dadanya, ia juga membelainya dengan lembut. Mencoba meredakan tangisan Eris dengan belaiannya. Setidaknya, itulah yang Nina tahu dari ibunya saat merawat dirinya yang masih kecil.


"Jika kau sudah siap, kau boleh cerita. Aku akan mendengarkanmu. Aku selalu ada untukmu, kau tahu."


"Sudah kubilang, aku baik-baik saja," jawab Eris.


Nina tahu dia berbohong. Eris tidak mungkin tiba-tiba masuk ke dalam pelukannya secara sukarela seperti itu.


Nina menghela nafasnya. "Bukannya kau tidak suka dipeluk? Aku ingat kau selalu menarik diri saat aku berusaha untuk memelukmu. Tapi, sekarang, kau malah mengingikannya. Sudah jelas sekali ada yang salah padamu!"


"Tidak. Aku suka dipeluk olehmu. Sangat menyukainya. Itu membuatku menjadi kuat. Membuatku merasa tidak sendiri lagi," gumam Eris. "Pelukanmu hangat dan lembut. Lebih nyaman daripada boneka ataupun ranjang empuk berselimut tebal."


Suara yang bergetar di dadanya begitu rapuh, tapi kesedihannya langsung menyentuh hati Nina. Setelah Eris mengungkapkan yang sejujurnya, Nina tak akan pernah melepaskan pelukannya lagi.


"Apa menurutmu aku ini salah?" tanya Eris tiba-tiba. "Apakah menurutmu aku ini pengganggu dan perusak kesenangan orang lain? Apakah aku ini terlalu kaku?"


Dari pertanyaan Eris, Nina tahu kemana arah pembicaraannya. "Kau selalu benar, Eris. Kau tidak usah mendengar apa perkataan orang lain. Kalau kau mendengar ucapan mereka satu per satu, kau akan kesulitan untuk maju. Ingat kata ayahmu, fokuslah pada satu tujuan besarmu."


"Tapi, kenapa semua orang membenciku?" bentaknya.


"Aku tidak membencimu. Tidak akan pernah."

__ADS_1


"Lalu, bagaimana jika kau tidak ada? Tidak ada lagi yang memelukku."


Nina kembali mengeratkan pelukannya. Dia terlambat untuk menyadari apa yang Eris rasakan saat ini. Nina adalah seperti ksatria pribadi milik Eris. Kemanapun Eris pergi, Nina selalu mengikutinya. Ketergantungan Eris terhadap Nina, membuatnya menjadi pribadi yang lemah.


Kehilangan ksatrianya, sosok yang satu-satunya ada untuknya, juga akan menjadi pukulan besar yang akan dialami Eris.


Eris adalah orang yang hidup di sisi kebenaran yang tidak disukai orang banyak. Posisinya sangat beresiko, tapi begitu penting. Manusia yang tidak bisa berjalan di jalan yang Eris ciptakan ada banyak, namun dia hanya sendirian saja. Dalam perang, Eris mengalami kekalahan karena jumlah.


Eris hanyalah sosok kecil di lautan masyarakat yang memiliki sifat dan egonya masing-masing. Satu orang saja tidak bisa menarik sebuah bahtera berisi jutaan makhluk hidup.


Meskipun ada Nina disisinya, tapi itu tidak cukup untuk memikul seluruh makhluk hidup hingga sampai di tempat tinggal yang baru. Justru memperburuknya dengan membuat para penumpang semakin tidak nyaman.


Eris merasakan seperti itu sejak dia menempuh jalan yang sama seperti ayahnya. Eris merasa bahwa dia salah dalam melangkah. Penyesalannya membuat dia ingin kembali ke masa lalu, mengubah nasibnya saat sebelum bertemu dengan Nina dan mengubah sifat aslinya.


"Aku tidak akan tidak pernah ada! Aku selalu ada! Itu bukan kebohongan atau keraguan. Itu kebenaran mutlak. Aku pasti ada untukmu, untuk memelukmu. Jika kau tidak bisa menarik kapalnya, duduk saja dengan tenang, biar aku yang menariknya untukmu!" ucap Nina penuh ketegasan dan keseriusan di setiap nada dan nafasnya yang terbuang.


Jika Eris ingin menyerah, maka Nina yang akan menggantikannya. Itulah arti betapa pentingnya sosok Eris dalam kehidupan Nina. Karena Eris adalah teman pertamanya, dan orang yang membawanya keluar dari api kekejaman.


Eris selalu membantu Nina keluar dari segala masalah. Dia yang mengajarkan Nina untuk tak pernah ragu, tak pernah takut untuk melawan yang salah. Kebenaran harus dijunjung tinggi walaupun hanyalah sosok kecil di dunia yang penuh akan kemungkinan ekstrim.


"Tapi, gara-gara kau membelaku, semua orang juga ikut membencimu," ucap Eris masih menangis tersedu-sedu.


Sekarang Eris paham, alasan Nina selalu kuat meskipun banyak hujatan dan kebencian yang diterimanya juga. Alasannya cukup sederhana, karena tekadnya sudah bulat dan dia tidak merasa salah karena telah melakukannya. Eris mengakui, sejak dulu Nina memanglah gadis yang kuat tidak hanya kemampuannya tapi juga hatinya.


Inilah alasan kenapa Nina tidak gentar. Sementara, Eris masih jauh berada di bawah Nina. Eris terlalu lemah karena itu dia menangis dipelukan Nina.


Sedikit demi sedikit, Eris tenang. Tangisannya berhenti saat energi penyemangat yang keluar dari kata-kata Nina sama kuatnya dengan pelukannya. "Kau benar-benar kuat. Aku tidak pernah berhenti mengagumimu sejak dulu."


"Tapi, aku tidak cukup kuat di mata ayahku," gumam Nina. "Jadi, apa kau tidak ingin cerita apa yang sudah terjadi selama aku tidur?"


"Itu ulah Wilia. Wilia memang tidak ada di sana, tapi teman-temannya yang datang menghampiriku dan memukuliku. Mereka juga merobek pita merah yang kau berikan," ungkap Eris.


Sontak, Nina bangkit dan melepaskan pelukannya. Dia melihat Eris yang penuh luka dan memar. Di lehernya, pipinya, tangannya serta kakinya. Seluruh luka itu menodai tubuh mungil Eris yang Nina sukai.


"Ini semua ulah Wilia?" tanya Nina tanpa mengedipkan matanya.


"Te-tenang saja. Aku sudah mengobati semua lukaku."

__ADS_1


Tidak semudah itu untuk membuat Nina tenang. Melihat Eris yang penuh luka menciptakan panas disekujur tubuh Nina. Seolah api menyala di hatinya lalu menyulur ke seluruh bagian tubuhnya. Api itu membangkitkan sisi lain Nina yang tidak ingin dia tunjukkan. Kemarahan Nina sudah ada di puncaknya.


"Berani-beraninya dia!" geram Nina seperti macan yang sudah kehabisan kesabarannya.


Melihat Nina yang mengepal erat seolah sudah bersiap untuk meninju, Eris langsung memegang pundak Nina dan menenangkannya. "Jangan! Sudah cukup. Sudah cukup untuk hari ini. Aku tak ingin masalah menjadi semakin rumit lagi."


Eris memeluk Nina sambil membaringkannya kembali di kasur. "Kau ingin aku tidur, kan? Ayo, tidurlah bersama. Kali ini kau boleh memelukku sambil tidur."


"Baiklah, maafkan aku."


Sudah cukup masalah yang terjadi hari ini, dan Eris tak mau masalah itu bertambah. Dia yang paling tahu sifat protektif Nina akan bagaimana jika dirinya terluka atau dilukai. Karena itu, dia tak mau Nina termakan oleh amarahnya lagi.


Selagi menunggu rasa kantuk menguasai mereka, Eris dan Nina saling bersenda gurau dan bercerita dalam pelukan hangat mereka.


Sambil berpelukan, Eris memasukkan tangannya ke bawah pakaian Nina, lalu naik ke punggungnya. Nina tidak melawan saat tangan Eris yang hangat meraba dan membelai punggung Nina secara langsung.


Tangan Eris terus meraba punggung Nina hingga mencapai bagian yang kasar. Berbeda dengan bagian kulit lain Nina yang selembut susu, ada satu bagian yang cukup besar terasa cukup kasar.


Bagian itu terletak di punggung atasnya, di antara tulang belikatnya. Tersembunyi di bawah kain dadanya. Eris harus melepaskan penjepit kain dada Nina agar ia dapat meraba bagian kulit yang kasar tersebut.


Nafas Nina kembali tenang saat Eris menyentuh bagian tersebut. Seolah ia menemukan kenikmatan dibaliknya.


"Sudah merasa lebih baik?" tanya Eris.


Nina mengangguk sambil mengembuskan nafas leganya. "Saat kau melakukan itu dengan tanganmu, pikiranku selalu membayangkan kau memiliki tangan yang jago."


"Hei, jangan berpikiran mesum!" tegur Eris.


"Pangeranmu kelak akan puas karenamu pengalamanmu." Nina masih menggodanya.


"Nina!" Eris lalu mencubit punggung Nina untuk memberinya pelajaran.


Eris sudah sangat lama mengenal Nina. Jadi, dia tahu hal-hal pribadi Nina, termasuk luka bakar di punggungnya yang berkaitan dengan emosinya.


Luka itu adalah simbol api amarah Nina. Sebuah kutukan yang tertanam di dalam tubuhnya akibat kekuatan apinya. Luka yang sudah menjadi identitasnya itu didapatkan karena Nina yang terlalu lemah.


Seperti halnya semua luka, pasti ada obatnya. Jika Nina selalu membela Eris dari orang-orang yang membencinya, Eris yang selalu membuat Nina merasa tenang dan nyaman.

__ADS_1


Saat Eris mulai membelai luka bakar Nina, api amarahnya seolah ditekan oleh kelembutan tangan Eris. Memberikannya sensasi kenikmatan yang lebih baik daripada sensasi terbakar.


__ADS_2