
Servulius berkata bahwa danau ini adalah danau ajaib yang akan menunjukkan realitas dari masa depan seseorang yang bercermin di danau tersebut. Namun, kekuatan danau ini hanya akan aktif ketika bulan berada dalam posisi purnama. Dan bertepatan dengan berakhirnya Salju Biru di Eskalsia.
Karena itu, mereka semua harus menginap di villa yang baru saja diciptakan Terenna sambil menunggu malam penantian tiba yang akan terjadi tiga hari lagi.
Selagi malam itu yang menghampirinya, Ashnard harus mengawasi mereka semua. Membuat mereka percaya kalau ini hanyalah sekedar hukuman atau liburan saja. Jika sesuatu terjadi diluar kendali dan Ashnard tidak bisa mengatasinya dengan kekuatannya, Ashnard diberitahu untuk meminta bantuan kepada Terenna. Sebagai penanganan pertama.
Cahaya terang dari lampu-lampu cantik langsung menghiasai ruangan pertama yang Ashnard masuki. Gemerlapan sinarnya begitu menawan ditambah ukiran dan desain setiap ruangannya yang begitu mewah. Wilia pasti menyukai tempat seperti ini.
Di ruang utama tersebut, ada sofa yang melingkari sebuah meja di tengahnya. Lalu, di bagian belakang ruangan, ada pintu kaca yang membatasi dengan ruang makan, lengkap dengan dapurnya.
Ada dua anak tangga sebelum pintu kaca tersebut. Tangga yang mengarah ke lantai dua yaitu para kamar untuk mereka yang ingin beristirahat. Wilia terlihat membuka satu per satu pintu kamar, dan setiap melihat satu kamar, wajahnya selalu bersemangat.
"Tunggu sebentar, jika kita menginap disini, sampai kapan kita harus menginap? Bagaimana dengan barang-barang kita?" tanya Wilia melantangkan suaranya agar siapapun yang tahu bisa mendengarnya dan menjawabnya.
"Sampai hukuman kalian selesai," jawab Terenna yang baru masuk, dan berdiri di belakang Ashnard. "Soal barang kalian, lihat saja isi lemarinya. Oh, Wilia, kamarmu ada di sebelah paling kanan."
Wilia langsung berjalan cepat ke kamarnya sambil menjinjing rok gaunnya. Dia membuka lemarinya dan semua pakaiannya ada semua termasuk gaun yang baru dibelikan Reinhard.
"Luar biasa!" serunya senang. "Cynthia, persiapkan gaun tidurku. Aku akan mandi terlebih dulu."
"Siap, Nona Wilia."
Sementara itu, Reinhard di balkon, menikmati pemandangan danau di depannya. Lalu, Liliya muncul di sebelahnya.
"Aku tidak tahu ada tempat semacam ini. Apa kau tahu sekarang kita dimana?" tanya Reinhard ke Liliya.
Liliya menggeleng. "Tapi, tempat ini sungguh cantik, kan? Jika bulan tidak tertutup awan malam ini, aku jadi ingat dengan waktu itu," ucap gadis pirang itu, mengingat kembali tentang pertemuan pertamanya dengan Reinhard.
"Baiklah, semuanya waktunya berkumpul! Aku ingin minta waktu kalian sejenak! Jangan langsung bersantai dulu, mengerti?" teriak Terenna dari dalam, memanggil para muridnya.
Datang dari atas Reinhard bersama Wilia, lalu diikuti Eris dan Nina dari ruang perpustakaan, Gerlon, Ulfang dari ruang sebelah kanan, dan terakhir Cynthia yang turun dari kamar sendirian setelah menyiapkan baju. Mereka semua berkumpul di ruang tengah.
"Dimana Wilia?" tanya Terenna ke Cynthia.
__ADS_1
"Dia sedang mandi."
"Mandi? Di jam segini? Dasar gadis itu!" jengkel Terenna sambil menggelengkan kepalanya. "Baiklah, biarkan saja dia. Ada yang ingin kusampaikan pada kalian. Besok pagi, aku dan Egon akan kembali ke akademi. Kalian akan tinggal disini hingga kami kembali lagi nanti."
"Oke. Tepatnya kapan kau akan kembali?" tanya Reinhard.
"Aku tidak bisa memberitahumu. Itu bagian dari hukuman kalian. Kalian harus bekerja sama untuk tinggal di sini. Tanpa bantuan orang lain, tanpa bantuan apapun. Tidak ada kota atau desa di sini. Kalian akan benar-benar sendirian, jauh dari pemukiman. Memang ada makanan dan pakaian disini, tapi itu terbatas. Kalian harus mengaturnya sendiri. Lalu, danau di luar sana. Jika kalian ingin berenang, tunggu lah setelah tiga hari. Karena jika kalian berenang di sana sekarang, kalian pasti akan mati kedinginan. Kurasa itu saja sudah cukup. Ingat, kalian harus saling bekerja sama dan jangan mementingkan ego kalian sendiri. Kalian sebisa mungkin harus berpikir tenang, separah apapun kondisi kalian. Kalau sudah mengerti, kalian boleh melakukan apapun. Istirahat, makan, membaca, terseran kalian," ucap Terenna menjelaskan apa yang para muridnya harus lakukan.
Gerlon mengangkat tangannya di udara. "Jadi, intinya kami hanya menginap, bersenang-senang seperti di rumah kami hingga kalian datang kapapun itu untuk menjemput kami, begitukah?"
"Ya, Tuan Gerlon. Kau tidak salah."
"Hanya itu saja? Bukankah itu membosankan? Apakah tidak ada sesuatu yang menegangkan? Mungkin monster atau pertempuran," tanya Ulfang.
Nina langsung menyikut dada Ulfang. "Ini bukan arena, bodoh!"
"Haha, lihat saja nanti. Aku tidak menjamin kalian aman. Kalian kan ada di tengah hutan, di alam liar terbuka. Jadi, apapun bisa terjadi. Kalian tidak perlu khawatir, kan? Soalnya kalian sendiri sudah sangat 'kuat' hingga tidak perlu takut akan apapun," jawab Terenna, menyeringai. "Hukuman yang kalian dapatkan berbeda dengan hukuman pada biasanya. Kalian bisa bersantai atau bersenang-senang sekaligus bisa merasakan bahaya dalam waktu yang bersamaan. Selain itu, hukuman ini bisa menciptakan kenangan baru atau mungkin pandangan kalian terhadap orang lain akan berubah. Mungkin kalian bisa semakin dekat lagi, mendapatkan musuh, atau mendapatkan cinta sejati kalian. Apapun itu, nikmati saja waktu kalian selagi masih bisa."
Setelah penyampaian panjang dari Terenna berakhir, semua orang langsung bubar. Dan tempat pertama yang mereka tuju adalah kamar masing-masing. Setiap kamar hanya untuk satu orang.
Tepat di lantai atas, senyum bahaga Nina menunggu Ashnard. "Ada apa? Kau tidak bersemangat?" tanyanya.
"Ah, yah, aku hanya capek saja," jawab Ashnard, senyumnya tak menunjukkan keceriaan.
Nina menyipitkan matanya, berusaha menyelidiki Ashnard melalui apa yang dia lihat. "Aku rasa tidak. Hei, naiklah! Aku dan Eris sudah menunggumu di perpustakaan, tapi kau tidak datang-datang juga."
Langkah Ashnard terhenti tepat di tengah tangga. Sejujurnya Ashnard tidak siap untuk misi ini. Ashnard sudah merasa sangat nyaman memiliki teman-teman seperti Nina, Eris, Liliya, Gerlon dan lainnya. Tidak pantas rasanya jika dia melakukan ini tanpa memberitahu mereka, dimana seharusnya Ashnard membalas kebaikan teman-temannya.
"Aku tidak ingin-" ucapan Ashnard terpotong, saat Nina tiba-tiba turun dan meraih tangan Ashnard.
"Aku tahu apa yang membuatmu ceria kembali," ucapnya.
Nina menggeret Ashnard ke lorong di sebelah kiri di antara kamar Reinhard dan Liliya. Lorong itu mengarah ke sebuah ruangan besar. Dipenuhi buka di segala sisinya dan tempat untuk duduk bersantai di tengahnya.
__ADS_1
Eris sudah duduk di sana, sibuk membaca sebuah buku. "Kau terlambat," ucap Eris, masih memfokuskan matanya ke setiap kalimat yang tertulis di buku tersebut.
Ashnard yang penasaran lalu duduk di sebelah Eris, dan bertanya, "Buku apa yang sedang kau baca?"
"Aku tidak tahu buku ini ada. Judulnya Sembilan Kunci Para Kurcaci. Aku bukan penyuka buku petualangan, tapi buku ini cukup seru. Baru pertengahan cerita, tapi aku sudah menyukai hubungan para kurcaci dan latar belakang mereka yang beragam," jelas Eris.
Nina kemudian duduk di sebelah Ashnard, meletakkan sebuah buku ke meja dengan sedikit keras. "Ini! Aku menemukan buku kesukaanmu."
Nina menunjukkan buku petualangan ksatria bintang yang dulu selalu Ashnard baca dan menjadi motivasinya untuk berkeliling dunia. Ashnard senang tentunya karena bisa membaca buku itu lagi. Tapi, dia juga sedih karena mengingatkannya tentang rumahnya yang sangat jauh darinya.
Matanya berlinang air yang senantiasa jatuh, membasahi halaman buku. Ketika dia mengingat ibunya hanya ada kesedihan yang bisa dia dapatkan. Kesedihannya itu pertanda akan kelemahannya Ashnard. Ketidakberdayaan Ashnard. Pandangan bahwa ibunya tidak ada di sisinya dan ada kemungkinan Ashnard tidak bisa bertemu lagi dengannya.
"Kau tidak apa-apa, Ash?" Nina bingung, karena bukan keceriaan yang terpancar di wajah Ashnard seperti yang dia harapkan, justru tetesan air mata kesedihan. "Maaf, aku tidak tahu kalau kau sensitif terhadap buku ini. Aku akan meletakannya kembali."
Ashnard tidak bermaksud untuk membuat Nina merasa bersalah. Dia menahan buku yang berusaha Nina kembalikan. "Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Aku hanya ... hanya saja ...."
"Jangan memaksakan diri," ucap Eris. "Masalah akan terasa lebih ringan saat kau menceritakannya pada orang lain. Aku tahu itu." Dia melirik ke Nina, seperti memutar kembali waktu saat dirinya menghadapi masalah.
Ashnard lalu mengusapkan lengan bajunya ke air matanya yang mengalir. "Aku hanya teringat masa lalu saja."
"Kau tidak ingin cerita?" tanya Nina.
Ashnard tidak akan menceritakan apapun ke mereka. Itu sudah seperti tanggung jawabnya. Sama seperti Ashnard tidak akan cerita soal rencana mengumpulkan mereka semua.
"Bagaimana jika Eris bercerita soal buku yang dia baca," ujar Nina.
"Kenapa aku?" heran Eris.
"Ayolah, Eris. Untuk menghibur Ashnard."
"Buku ini setebal 400 halaman, Nina! Kalau buku cerita anak-anak aku tak masalah. Tapi, buku ini, sangat panjang dan kompleks."
"Begini saja," potong Ashnard yang sudah kembali tenang. "Bagaimana jika aku yang menceritakan sebuah cerita pada kalian. Judulnya Kisah Empat Sahabat."
__ADS_1
Dan berakhirlah Ashnard menceritakan sebuah kisah yang Nous ceritakan padanya saat perjalanan mereka. Di mana kisah tersebut mengenai perjalanan para Empat Penjaga Angin sebelum mereka bersumpah setia di bawah terpaan tanah berangin. Bercerita hingga tengah malam di antara rak-rak dan buku-buku yang tak tersentuh. Hanya ada mereka bertiga, serta kebahagiaan Ashnard saat bercerita.