The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Mengistirahatkan Pikiran


__ADS_3

Tidak ada bisa Ashnard lakukan selain melihat Gerlon yang semakin masuk ke dalam kegelapan hutan, jauh dari cahaya hangat. Bahkan, panggilan dan teriakan tak sanggup untuk meraih laki-laki yang rela berjalan jauh untuk membantu teman-temannya.


Mereka kembali ke dalam keheningan dan kebuntuan. Orang-orang yang mengenali Ashnard cukup dekat, turut bersedih atas ketidakberdayaannya. Tapi, itu hanya satu-satunya cara. Dalam situasi ini, seharusnya tidak ada perlu berduka. Dan itulah apa makna dari senyuman Liliya yang menghangatkan ruangan dingin tersebut.


"Apa tanganmu bisa digerakkan?" tanya Nina sembari memijat lengan kanan Ashnard.


Tidak ada jawaban dari Ashnard yang terus menekuri lantai ubin abu-abu gelap yang bermotifkan bunga. Dia tidak mengatakan apapun semenjak dia dihadapkan dengan kelemahan dan ketidakberdayaannya.


"Jika tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku akan kembali ke kamarku. Aku perlu beristirahat. Lagipula, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu, kan?" ucap Reinhard yang pergi ke kamarnya.


Lalu, disusul Wilia, Cynthia, Ulfang dan Eris yang juga memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh mereka di kamar yang nyaman dan aman.


Sementara Liliya tak ingin meninggalkan Ashnard begitu saja. Namun, ketika dia melihat Nina yang duduk di sebelah Ashnard dan memijat lengannya yang sakit, Liliya merasa kesedihan di hatinya. Dia ingin menggunakan darahnya untuk menyembuhkan lengan Ashnard tapi tampaknya Ashnard hanya menginginkan pijatan Nina saja. Apalagi, Ashnard yang saat ini masih belum merespon siapapun. Liliya berpikir itu percuma. Akhirnya dia juga memutuskan pergi ke kamarnya.


Liliya menapaki tangga hingga mencapai lantai atas. Di atas sudah menunggunya, Eris yang bersandar di pagar pembatas sambil memandang ke bawah.


"Aku cukup terkejut mereka tiba-tiba menjadi dekat pagi ini. Aku tidak tahu apa saja yang mereka lakukan tadi pagi. Mungkin saja sebelumnya mereka memang sudah dekat tapi aku tidak mengetahuinya," ucap Eris begitu Liliya mendekatinya dan mengikuti memandang ke ruang tengah di mana Ashnard dan Nina berada.


"Maksudmu Ash dan Nina?" tanya Liliya.


"Maksud kedekatanku adalah posisi dimana mereka menghabiskan cukup banyak waktu bersama sambil membuka diri satu sama lain, tidak lebih dari itu." Setelah Eris mengatakannya, dia pergi begitu saja. Masuk ke kamarnya tanpa menjelaskan sedikitpun maksudnya ke Liliya.


Mereka semua terlalu lelah setelah melakukan aktivitas pagi mereka ditambah munculnya masalah yang tidak bisa mereka selesaikan. Pikiran mereka butuh istirahat. Karena itu, ketika Reinhard yang pertama memutuskan untuk pergi ke kamar, banyak yang mengikuti jalannya.


"Ash, sebaiknya kau beristirahat terlebih dulu. Tampaknya tubuhmu sangat menginginkannya, terutama lenganmu," ujar Nina yang tampak kasihan pada Ashnard.


Wajah laki-laki itu lesu. Muram dan lesu. Meskipun ada cahaya lampu atau matahari, tapi tidak membuatnya kembalu cerah atau bersemangat. Energi hangat yang Nina salurkan saat memijat lengan Ashnard juga tak membuatnya kembali semula.


"Liliya ... Liliya ... dimana dia?" lirih Ashnard. Dia kesulitan saat mencoba mengangkat tangannya.


"Liliya ada di kamarnya. Apa kau membutuhkannya? Kalau begitu akan kupanggilkan dia."

__ADS_1


Nina yang berdiri didudukkan kembali oleh Ashnard. "Jangan ... pergi," suruhnya tapi suaranya nyaris tidak terdengar.


Secara tiba-tiba, Ashnard membaringkan kepalanya di paha Nina. Tidak ada isyarat atau kata-kata yang terucap, Ashnard bahkan tidak bertanya terlebih dulu. Langsung membaringkan tubuhnya di sofa yang panjang dan memejamkan matanya begitu dia menemukan posisi yang nyaman di paha Nina.


Ashnard tidak mempedulikan bagaimana jantung Nina melompat saat Ashnard tiba-tiba menggunakan dirinya sebagai bantal. Dia tidak bisa menahan detak jantungnya yang kian cepat dan ronah merahnya yang terasa panas, bukan karena energi elementalnya.


Nina terlalu mendahulukan rasa malunya sebelum sempat bertanya terlebih dulu ke Ashnard yang kini sudah tertidur pulas. Nina terpaksa harus membiarkan Ashnard beristirahat dengan tenang di pangkuannya.


Agar dia tidak berakhir malu dan canggung, Nina menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memeriksa apakah ada masih ada orang atau tidak. Setelah dirasa aman, Nina mengamati laki-laki yang sedang tertidur pulas itu. Insting gadisnya merasa kalau melihat laki-laki dalam keadaan tidur pulas adalah suatu anugerah. Karena terkadang seorang laki-laki akan terlihat berbeda atau kadang mengigaukan hal yang lucu saat tertidur.


Kemudian, dia dengan sukarela menggunakan tangan kanannya untuk membelai rambut Ashnard. Menggunakan tangan kirinya untuk memijat lengan kanan Ashnard serta menghangatkan tubuhnya. Nina melakukannya semata-mata karena keinginannya dan rasa pedulinya pada Ashnard. Dia juga tidak menunjukkan sedikitpun penolakannya ketika Ashnars tidur di pangkuannya.


Nina tersenyum lembut untuk mengakhiri kelelahannya dan bersiap memejamkan matanya untuk tidur.


Namun, yang matanya terbuka lebih dulu adalah Ashnard. Dia terbangun dan terasa bahwa tangannya ditahan oleh sesuatu yang ternyata mereka tangan Nina yang menggenggam tangannya selama tertidur. Dia juga baru sadar kalau selama ini dia tidur bukan di kamarnya.


Perasaannya saat kepalanya dibaringkan di pangkuan Nina sama seperti apa yang dia rasakan saat di pangkuan Liliya. Dia merasakan perasaan nostalgia melalui sensasi empuk dan lembut paha seorang gadis.


Ashnard hanya bergerak sedikit saja untuk melihat tapi Nina yang tertidur di pegangan sofa otomatis terbangun.


"Ka-kau mau me-menatapku terus ... a-atau kau tak mau bangun?" gumam Nina yang gelagapan. Berusaha memalingkan wajahnya agar tidak bertatapan, tapi tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya.


Ashnard langsung bangun dengan kikuk. Dia duduk tapi masih tak mau mengucapkan kata apapun.


Mereka bisa merasakan tangan mereka masih saling menggenggam. Bukannya langsung dengan cepat melepaskan tangan mereka, justru mereka melepasnya secara perlahan.


"Ba-bagaimana tidurmu?" tanya Nina menghentikan kecanggungan tersebut.


"Sangat nyenyak. Luar biasa," jawab Ashnard tersenyum kecil.


Sontak, Nina terlonjak. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Dia berusaha menutupi seluruh mukanya yang merah dengan tangannya seolah ingin menyembunyikan bahwa dia melakukan sesuatu saat Ashnard tidur. Nina yang tidak kuat lagi menahan malunya, langsung pergi ke kamarnya.

__ADS_1


Ashnard hanya bisa terheran walaupun dia sedikit penasaran.


Ashnard lalu membuka pintu villa dan keluar. Di luar, bahkan dengan kubah merah yang masih ada, suasana disekitar villa sama seperti suasana di luar kubah. Malam juga dirasakan oleh Ashnard yang berada di dalam kubah. Tidak hanya malam bahkan udara juga tampaknya tidak terganggu oleh kubah api tersebut. Karena jika iya, seharusnya dirinya dan yang lainnya tidak bisa bernafas lagi.


"Hei, apa yang sebenarnya terjadi barusan?" tanya Roc, tersenyum jahil. Dia begitu bahagia karena mendapatkan banyak bahan baru untuk menggoda Ashnard.


"Diamlah!" tampik Ashnard, tak ingin membalas perkataan Roc. Setiap Roc mengajaknya berbicara dia selalu merasa kesal.


"Aku bisa mencium ... aroma masa muda. Aroma cinta yang menyegarkan. Begitu wangi dan penuh keraguan."


"Kau bahkan tidak punya hidung. Bagaimana kau bisa mencium sesuatu yang tidak memiliki aroma?" ejek Ashnard, membelakangi Roc sambil menyilangkan tangannya.


"Aku punya cuman tidak kelihatan, bodoh!"


"Lupakan. Bagaimana menurutmu dengan semua ini? Apa kau bisa memberiku saran?" tanya Ashnard, suaranya seperti mengharapkan jawaban dari Roc.


"Bukankah sudah jelas? Mereka menyuruhmu untuk beristirahat. Berpikir tenang selayaknya dirimu. Lagipula, jika kau membuat otakmu bekerja lebih keras, apakah ada jaminan masalahnya langsung terselesaikan?"


"Tapi, apa? Aku tak ingin hanya terus berdiam diri saja. Gerlon mempertaruhkan nyawanya di luar sana dan aku hanya terjebak tanpa bisa melakukan apapun."


"Kau kan yang diberi tugas untuk menjaga mereka. Semua yang kau ucapkan lebih lebih berperan penting dan kuat. Kau tinggal mengajak mereka berdiskusi atau memikirkan suatu rencana bersama mereka saja. Hanya begitu saja! Tidak perlu kau pusingkan."


Meskipun Roc adalah orang yang menjengkelkan dan suka menjahilinya, tapi Ashnard selalu merasa puas setiap kali pertanyaannya terjawab oleh Roc.


Sementara itu, Nina di kamarnya tak bisa melanjutkan tidurnya karena terus memikirkan apa yang telah terjadi di ruang tengah, ucapan Ashnard, serta senyumannya. Dia juga merasa bingung dengan dirinya sendiri yang telah membelai dan mengusap Ashnard seperti seorang ibu yang menumpahkan semua kasih sayangnya atau seperti seorang kekasih yang rela pahanya kesemutan demi membuat pasangannya nyaman. Dia terjebak dalam rasa malunya hingga tengah malam.


Nina diam-diam membuka pintunya pada tengah malam. Lalu, berjalan mengendap-ngendap di balik kegelapan lorong villa seperti seorang pencuri yang sedang menuju ke kamar Eris. Dia mengetuk pintunya dan berbisik agar dibukakan pintu.


Setelah pintu terbuka, Nina langsung menyelonong masuk, tanpa menghiraukan Eris yang masih dalam keadaan setengah tertidur.


"Ada apa?" tanya Eris lemas. Menguap sambil mengusap matanya.

__ADS_1


"Aku mau cerita," ungkap Nina yang sudah duduk di atas kasur.


"Aku tahu. Pasti soal kau dan Ashnard, kan?" Eris tersenyum melihat ekspresi Nina yang terkejut saat mendengar ucapannya.


__ADS_2