
Haidon menerjang ke depan, dan tepat saat cakarnya di depan mata Alfeus, Ansalasor muncul dari langit dan menembus dinding. Kedatangan Ansalasor di tangan Alfeus membuat Haidon mundur.
Alfeus dengan pedang andalannya bersiap melawan balik Haidon. Haidon tentunya menerima tantangan itu dengan serius. Pertarungan dimulai kembali, tapi kali lebih hebat.
Dengan kemampuan dari Ansalasor, Alfeus tidak hanya bisa melakukan pertarungan di darat tapi juga di udara. Mereka saling bertarung seperti dua burung pemangsa yang mengincar wilayah kekuasannya.
Pertarungan yang begitu dahsyat ini hingga menghancurkan bagian menara, tidak sanggup Ashnard ikuti. Dia mengakui kelemahannya dan memutuskan untuk tidak masuk ke dalam pertarungan tersebut, karena jika dia masuk itu akan menjadi tindakan bodoh terakhirnya.
Pertarungan terus terjadi begitu lama. Padahal, Alfeus berjanji untuk mengakhirinya secepat mungkin. Kenyataannya, Haidon tidak semudah itu bisa dia taklukan meskipun sudah memakai Ansalasor.
Tiba-tiba, terdengar suara seperti langit yang akan runtuh. Aula Pengadilan berguncang karena kehilangan kekuatannya untuk melayang di udara. Ashnard yang melihat itu khawatir. Dia tahu sendiri jika tidak segera diselesaikan, Alam Roh akan binasa. Kecemasannya ini membawa pilihan Ashnard untuk mau tak mau melakukan sesuatu.
Di atasnya, Alfeus dan Haidon masih sedang bertarung. Terlihat mata Haidon yang tampaknya sudah dihancurkan oleh Alfeus. Itu berarti Haidon tak semaha tahu sebelumnya.
Dengan begitu, Ashnard melepaskan tali airnya secara diam-diam. Yang membuatnya sulit adalah, Haidon terbang kesana-kemari seperti capung. Ashnard kesulitan saat berusaha mengulurkan tali airnya dan mencapai Haidon.
Lalu, Ashnard mendapatkan ide lainnya. Walaupun kelihatan lebih beresiko, tapi Ashnard merasa akan baik-baik saja karena tubuhnya sekarang hanyalah sebatas roh. Jika terluka, dia tidak akan merasakan sakit. Tapi, dia tetap bisa mati dengan berbagai macam cara.
Alfeus dan Haidon masih bertarung sengit di udara. Kadang mereka semakin tinggi kadang mereka cukup rendah mendekati daratan. Saat posisi Haidon rendah, disitu Ashnard langsung melompat dan mengikat tubuh Haidon dengan tangannya sendiri. Dia memeluk dan meremas dari belakang, tanpa membiarkan Haidon melancarkan serangan. Walaupun Haidon terus memaksa melepaskan diri, Ashnard masih tetap menahannya.
"Sekarang, Alfeus."
Dari atas, Alfeus tak memiliki pilihan lain. Dia bergerak di udara dengan sangat cepat seolah memiliki kekuatan angin. Dia meluncur lalu menusukkan pedangnya tepat di dada Haidon, namun sayangnya Ashnard yang ada di belakang Haidon juga ikut tertusuk.
Semuanya berakhir. Sebuah energi terhempas dari serangan tusukan Alfeus.
Haidon tak percaya Alfeus mau menusuknya sekaligus Ashnard. Mungkin karena kenaifannya, dia terkena serangan dari Alfeus. Sekarang, Haidon bisa merasakan kekuatannya perlahan-lahan menyusut. Dia merasakan ajalnya sudah tiba.
Begitu, Haidon menutup matanya dan membuka kembali, dirinya sudah berada di ruangan yang semuanya gelap dan kosong. Tapi, hanya ada sebuah kasur, sepetak bunga, dan seorang wanita di depan matanya.
Wanita itu menyapa Haidon dengan senyuman lembutnya. "Sudah lama tidak bertemu, Haidon."
"Kau ...."
Ini pertemuan pertama mereka setelah ratusan tahun tidak berpisah. Haidon tidak menganggap ini sebagai reuni atau kunjungan kembali. Haidon menganggap ini adalah sebuah paksaan lainnya.
__ADS_1
Haidon menggantungkan kepalanya dan berkata dengan nada pasrah tapi dibalut juga dengan kekesalan. "Sekarang aku sudah mati, kan? Aku kalah. Kau menang. Kau tidak perlu takut Alam Rohmu hancur. Sudah tidak ada lagi yang bisa kau lakukan. Apa kau puas sekarang?"
Tidak ada jawaban dari wanita itu.
Haidon mengangkat kembali wajahnya dan melihat wanita itu berdiri saja di petak bunganya, sambil tersenyum lembut dan menatap ke arahnya.
"Katakan, saat aku pergi meninggalkanmu, kenapa kau membawa Alfeus setelah kau tidak membawaku kembali? Apa kau memang ingin menggantikanku atau kau hanya ingin mencari pelampiasan? Atau kau hanya memanfaatkan cintanya untuk menjaga Alam Roh?"
"Haidon ...." Erida mengulurkan tangannya ke depan seolah menyambut Haidon untuk meraih tangannya. "Kau tidak akan pernah tergantikan. Kau adalah anak pertamaku."
Haidon bisa melihat dengan jelas tangan pucat yang berusaha mencapainya. Tangan itu seperti cahaya terang di dalam kegelapan. Dia tahu jika dia meraih tangan tersebut, dia akan mendapatkan harapan baru, tapi Haidon tidak melakukannya.
"Kalau begitu, kenapa tidak membawaku kembali? Kenapa ibu membiarkanku pergi begitu saja?"
Melihat putranya yang tak kunjung meraih tangannya, Erida tahu bahwa itu adalah piliham Haidon. "Karena itu adalah keinginanmu. Aku tak ingin merenggut kebebasanmu dan memaksamu kembali ke sini."
Haidon tak tahu bahwa penyebab kebenciannya terhadap ibunya ternyata adalah hal yang selama ini dicari olehnya, yaitu kebebasan itu sendiri. Dia bisa mengambil kebebasan itu dan hidup dengan tenang di dunia yang luas.
Sekarang setelah semuanya terlambat, dia merasakan kesakitan kedua kalinya. Yang pertama adalah saat dia pergi dari ibunya. Dia sangat ingin meneteskan air mata kesedihannya, dia ingin menunjukkan pada ibunya kalau dia rindu dan ingin kembali ke sisi ibunya. Tapi, lagi-lagi, semua itu sudah terlambat.
Perlahan-lahan, tubuhnya menghilang menjadi serpihan cahaya kecil yang kemudian lenyap dalam kegelapan. Seluruh tubuhnya kemudian lenyap tak menyisakan apapun.
Sekarang, Haidon telah mendapatkan kebebasan yang sebenarnya. Kebebasan dari apapun yang sudah mengekangnya. Terbebas dari kekangan dunia.
"Aku juga." Tanpa sadar, air mata mengalir dari mata merah wanita itu. Dia tetap tersenyum sambil melihat kepergian putranya. Walaupun hatinya sudah membeku semenjak dia mencabut nyawa dan melihat kepergian makhluk hidup dari dunia fana, tapi dia masih bisa merasakan cabik-cabikan yang selama ini sudah tertahan dalam hatinya dan terlepas begitu Haidon lenyap. "Selamat tinggal, putraku."
Di tempat itu, Ashnard menjadi salah satu saksi dari luar. Saat dia ditusuk oleh pedang Alfeus, dia tidak sengaja ikut terbawa oleh kekuatan Ansalasor ke dalam kediaman Dewi Kematian.
"Jadi, kau yang namanya Ashnard? Alfeus sudah menceritakan tentangmu padaku. Salam kenal. Kau bisa panggil aku Erida," sapanya.
Ashnard tidak tahu harus bersikap apa di hadapan sosok dewi. Jadi, dia diam mematung seolah-olah takut untuk bergerak sedikit atau membicarakan satu katapun. Apalagi kejadian yang barusan dia lihat, membuat Ashnard bingung sekaligus tersentuh.
Wanita itu mendekati Ashnard lalu menghirup leher Ashnard. "Kekuatanmu memang cukup unik. Aku sebenarnya menyukainya, tapi ada lelaki lain yang lebih spesial bagiku. Maaf ya."
Ashnard bingung dengan ucapannya.
__ADS_1
"Tapi, kakakku membutuhkan orang sepertimu. Mungkin kau adalah orang yang pantas baginya. Kau juga sudah pernah bertemu dengannya sekali. Kau tahu? Dia adalah Dewi Mimpi, Eristhiar. Dia adalah dewi yang kau ganggu alamnya."
Ashnard terkejut dengan fakta tersebut. Dia tak tahu kalau Dewi Kematian adalah saudari Dewi Mimpi. Memang benar Ashnard telah melakukan hal yang tidak pantas pada seorang dewi. Apalagi kekuatan dewi tersebut yang membuatnya merinding. Karena itu, dia menolak untuk menemuinya lagi.
"Bagaimana? Aku bisa membawamu ke kakakku. Jika kau menerimanya, kau akan memiliki kekuatan yang besar. Kau akan menjadi Duw Marnaeth Dewi Mimpi seperti Alfeus."
Ashnard tahu jika menerima hal tersebut, dia tidak akan bisa kembali lagi ke dunianya dan bertemu ibunya.
"Maafkan aku." Ashnard langsung membungkuk di depan Erida. "Aku tak bisa menerimanya. Masih ada banyak hal yang harus aku lakukan."
"Mencari ibumu, ya?" tebak Erida.
Ashnard mengangguk.
"Sebagai rasa terima kasihku, aku bisa menteleportasimu langsung ke tempat ibumu berada."
"Sungguh!" seru Ashnard bersemangat. "Tapi, bagaimana jika ibuku yang dipindahkan ke sini?"
"Tak bisa, manusia yang kuambil dari dunia luar akan langsung terlacak dan aku akan terkena hukuman. Tapi, jika aku memindahkanmu ke dunia luar, mereka tidak akan pernah tahu."
"Lalu, bagaimana dengan teman-temanku?"
"Aku tahu. Aku juga akan membawa teman-temanmu bersamamu. Setelah ini urusan kita selesai. Aku tidak boleh semakin jauh ikut campur urusan dunia luar. Aku juga akan sibuk memerintahkan Alfeus untuk membereskan kekacauan."
"Kalau begitu, kumohon. Lakukanlah."
"Baiklah. Terima kasih, Ashnard Raegulus atas bantuanmu. Kau akan selalu kuingat sebagai manusia sekaligus ksatria sejati. Jika kau berubah pikiran mengenai kakakku, aku bisa membantumu."
Erida lalu bersiap menggunakan kekuatannya untuk memindahkan Ashnard. Tapi, tiba-tiba dia tersentak ke belakang oleh sesuatu. Ashnard terkejut. Alfeus yang muncul tiba-tiba langsung menangkapnya dan memangkunya.
"Ibumu ...." Mata wanita itu melotot seperti melihat sesuatu yang ngeri. "Bukan sesuatu yang dewi sepertiku bisa mendekatinya."
"Apa maksudmu?" tanya Ashnard.
"Kekuatan di sekelilingnya seperti sebuah segel. Itu mencegah siapapun berteleportasi ke sana. Aku tidak tahu bagaimana kekuatanku bisa diatasi oleh segel itu. Siapa yang telah membuat segelnya?"
__ADS_1
Terlihat tangannya yang gemetar seolah ketakutan. Ini pertama kalinya Alfeus melihat Erida takut seperti ini. Apalagi dia seorang dewa.
Erida lalu menatap Ashnard dengan serius dan mengangkat tangannya. "Ashnard, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Mendekatlah."