
Ashnard mengepalkan tangannya. "Itu tidak benar!" teriaknya.
Di bagian yang paling dingin, Gerardus tersenyum dengan lembut dan berkata, "Ya, itu tidak benar. Kesaksian dua orang saja masih belum cukup untuk menjadikan Ashnard Raegulus sebagai tersangka. Tapi, bukti yang konkrit dan jelas juga diperlukan jika kau ingin memenangkan pertempuran ini, nak."
"Bisakah kau membuktikannya, putra Ebert?" raja bertanya pada Ashnard.
"Yang menghancurkannya adalah Reinhard. Dia menggunakan pedang itu untuk menyerangku. Aku hanya berusaha melindungi diriku sendiri. Jadi, itu bukan kesalahanku," jelas Ashnard.
"Apakah itu benar?" Raja bertanya pada Reinhard, dan Reinhard menggeleng.
"Kau pembohong sialan!"
"Diamkan putramu yang liar, Nyonya Raegulus!" sergah Grimulf pemimpin keluarga Ruishorn. "Memang mirip seperti ayahnya. Apakah semua Raegulus memang tidak memiliki sopan santun?" ejeknya.
"Kau yang harus diam, Ruishorn! Kalian yang bisanya hanya bersembunyi dibalik Asberion, tak pantas untuk mengatakan putraku seorang yang liar," bentak Edda.
Ketegangan mengisi seluruh ruangan. Amarah tergambar di wajah Edda dan pemimpin keluarga Ruishorn. Mereka selalu memberikan kalimat kebencian satu sama lain, sebelum raja menyuruh mereka berhenti.
Edda mengerti apa yang telah terjadi disini. Ia beranggapan jika ini adalah upaya untuk menjelekkan nama Raegulus dan sebuah permainan licik oleh para bangsawan lainnya. Ia pernah terlibat dengan hal yang sama seperti ini dulu. Di mana waktu itu ialah Ebert yang berada di posisi Ashnard.
"Apa kalian tahu seberapa pentingnya masalah ini? Pedang Nebulius adalah pusaka legendaris yang sangat berperan penting dalam kedamaian Winfor. Menghancurkannya tidaklah seremeh menghancurkan vas bunga atau merusak lampu jalan. Ini masalah besar yang berdampak pada kedamaian dan keselamatan para warga, kalian mengerti?" Raja menjelaskan dan berharap jika kedua keluarga kembali menahan emosinya untuk saat ini.
"Nyonya Raegulus, sebaiknya anda tenang terlebih dahulu dan biarkan putra anda menjelaskannya. Tapi, jika tidak ada bukti yang memperkuat putra anda, sanksi serius akan diberlakukan," sambung sang raja.
Edda meletakkan kedua telapak tangannya yang lembut pada pipi putranya. Lalu, menatapnya dengan penuh kepercayaan seorang ibu. "Ash, katakan saja pada mereka. Ibu tahu kalau bukan kau yang melakukannya. Ibu percaya padamu. Katakan saja yang sejujurnya, lalu kita bisa kembali ke rumah, mengerti?"
Ashnard mengangguk. Tapi, ia tak tahu apa yang harus dikatakannya. Apakah orang-orang akan percaya jika dia diberi tugas oleh para Penjaga Angin? Apakah itu alasan yang masuk akal dengan membawa dewa ke dalam masalah ini? Apakah itu tidak membuatnya semakin jatuh ke bawah dan tak bisa memberikan alasan yang kuat lagi?
"Tidak! Itu tak akan berguna. Saat itu, mereka tidak melihatnya," sanggah Ashnard pada pertanyaannya sendiri.
Ashnard juga berpikir untuk menunjukkan pedangnya yang dia gunakan untuk melindungi diri. Tapi, itu hanya menjelaskan senjata yang dia gunakan saat Pedang Nebulius hancur. Itu tidak menjelaskan jika dirinya yang bukan berniat menghancurkannya.
Ashnard tersadar, ia lalu berkata, "Liliya tahu! Dia bersamaku. Dia melihat semuanya." Ashnard menunjuk ke Liliya, membuat semua orang terkejut.
Emiel, ayah Liliya menatap marah ke Ashnard. "Beraninya kau!"
"Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan, putra Ebert?" Raja bertanya. "Apakah kau ingin mengatakan jika Liliya Nerefelon, putri Emiel Nerefelon, juga terlibat dengan aksi perusakanmu?"
__ADS_1
"Tidak, Rajaku. Ia berbohong. Putriku tidak akan melakukan hal seperti itu. Ia selalu berada di rumah dalam pengawasanku," sanggah ayah Liliya.
"Apa? Liliya jawablah, kau selama ini selalu bersamaku, kan? Kenapa kau tidak ingin menjawabnya?" Ashnard mendesak Liliya. "Kau lihat aku menggunakan pedangku untuk menangkisnya, bukan?"
Akan tetapi, Liliya tak menjawabnya. Tubuh Emiel semakin menyembunyikan putrinya dari pandangan Ashnard. Semakin berada dalam bayang-bayang.
"Liliya, kenapa kau ....?"
Grimulf mendengus mengejek, "Bahkan di akhir, putra anda terpaksa berbohong, Nyonya Raegulus. Memang Raegulus pengecut!"
"Beraninya kau! Seperti yang kubilang, tuduhan ini tidak jelas dan tidak masuk akal, hanya untuk menghina Ash dan keluargaku. Aku tidak menganggap ini sebagai persidangan yang sah. Aku akan pergi," tegas Edda, meraih tangan Ashnard dan berbalik.
"Kau tidak boleh pergi dari hadapan raja, Nyonya Raegulus." Suara lantang dan gagah Gerwin menghentikan Edda. "Jika kau pergi, maka otomatis pelanggaran putramu adalah kebenaran."
"Kalau begitu, sudah dipu-"
"Tunggu sebentar, Rajaku," potong Gerardus yang sedari tadi terdiam selama ketegangan. Dia akhirnya membuka mulutnya. "Maafkan atas kelancanganku, tapi ada saksi yang tidak terencana akan datang."
"Saksi?" Semua orang bertanya-tanya.
"Para Penjaga Angin?" Raja Heistiar seketika berlutut ketika Empat Penjaga Angin memasuki ruangan, diikuti dengan bangsawan lainnya, kecuali Edda dan Ashnard yang tidak berlutut.
Mata wanita itu dipenuhi ketidakpercayaan pada kehadiran keempat sosok yang diagungkan di depannya. Sementara putranya, Ashnard melihatnya dengan penuh kegembiraan.
Semuanya hening ketika Empat Penjaga Angin tersebut memasuki ruangan. Mereka merasakan udara semakin pekat dan angin berembus kencang.
Kebahagiaan Ashnard bertambah, saat melihat Nous berdiri di hadapannya. "Kau sudah sembuh?"
Di balik tudungnya, Nous tersenyum lalu mengacak-acak rambut Ashnard.
Keempat penjaga tersebut berdiri di sisi Ashnard untuk membelanya. Untuk memberikan pernyataan pada sang raja dan untuk menyampaikan keinginan terakhirnya.
"Maafkan ketidaksopananku, Para Penguasa Angin, aku bertanya-tanya apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Grimulf.
"Tentu saja sebagai saksi bocah ini," jawab Sefenfor cepat.
"Bukankah seharusnya kalian tidak ikut campur urusan para manusia? Kalian menyerahkan negeri ini pada kami, maka harus kamilah yang menyelesaikannya." Grimulf berusaha mengusir Para Penjaga Angin dengan cara yang sopan.
__ADS_1
Reibo meletakkan tangan gempalnya yang berat pada pundak Ashnard. "Memang, tapi masalah bocah ini, juga masalah kami."
"Maaf atas interupsi kami, Rajaku. Kami datang berdasarkan hukum yang sesuai, kami tidak akan mendatangkan kekerasan yang bisa menganggu jalannya acara. Lagipula, tidak ada yang berani juga, kan?" ungkap Sefenfor.
Sebagai sosok yang berada di atasnya, tentu saja raja tidak akan mengusir mereka begitu saja. Dan juga, ia tak merasa keberatan tentang kedatangan para angin tersebut. Memperlakukan angin dengan buruk, akan mendatangkan malapetaka.
"Saya rasa, para Penjaga Angin sekalian sudah tahu tentang masalahnya. Jadi, saya tidak akan menjelaskannya kembali. Silahkan, jika ada yang ingin disampaikan, kami akan dengan siap mendengarnya," Raja Heistiar menjawab. Ia lalu memandang ke para keluarga bangsawan lainnya. "Dan dimohon untuk para anggota keluarga, jangan sampai menodai ucapan para Penjaga Angin. Jika ada yang berani melakukannya, hukuman akan dijatuhkan."
"Sepertinya itu tidak diperlukan, Yang Mulia," ucap Sefenfor santai dengan tertawa kecilnya. "Baiklah, sebelum itu, aku ingin bertanya terlebih dahulu kepada semua keluarga yang ada di hadapanku. Kenapa kalian tidak berusaha untuk menyelesaikan masalah di Jurang Kegelapan?"
"Itu mustahil. Dengan segala kehormatan, kami sangat ingin melakukannya, tapi sayangnya kami hanya manusia biasa. Kami tidak sanggup mengalahkan para makhluk kegelapan tersebut," jawab Gerwin. Sikapnya cukup tenang dan tetap menunjukan wibawanya dari ucapannya di hadapan para Penjaga Angin.
"Ya. Itu sama saja dengan cari mati. Kalianlah yang harusnya menyelesaikan masalah itu, tapi dari yang kudengar, salah satu dari kalian justru menghilang," timpal Grimulf.
"Begitu, ya. Aku mengerti. Baiklah, kalau begitu ...." Sefenfor menyelesaikan pembicaraannya, lalu dilanjut oleh Zefiria.
"Apakah karena kalian manusia, maka kalian diperbolehkan untuk tidak melakukan apapun?" tanya sang angin laut. Suaranya begitu lembut mengalir di ruangan seperti aliran laut.
"Aku tidak mengerti dengan maksud anda, Dewi Zefiria," ucap Gerwin meminta kejelasan.
"Di dekat desa sebelah barat, aku menemukan darah manusia. Korban terus berjatuhan tanpa kalian ketahui. Karena kalian terlalu menganggap ringan masalah ini. Terlalu manja hingga menyerahkannya pada kami. Dengan memakai alasan bahwa kalian manusia yang lemah, tak ada penjagaan di desa dan sekitarnya meski kalian tahu keadaan sedang genting. Apa kalian bodoh atau buta!?" Zefiria melimpahkan semua kekesalan di lubuk hatinya.
"Atas dasar apa menuduh kami bodoh?" Grimulf mendapatkan kembali api amarahnya.
"Aku sama sekali tak melihat ada evakuasi atau pencegahan dari kalian. Prajurit juga tak dikerahkan. Jika kalian tidak mau mengakuinya, maka itu berarti kalian telah berbohong. Kalian telah mengabaikan keselamatan para warga."
"Lalu, poin apa yang ingin anda sampaikan, Dewi Zefiria?" tanya Raja Heistiar.
Zefiria terdiam sejenak. Lalu, ia mengacungkan telunjuknya ke depan. "Bahwa Ashnard tak bersalah. Kalianlah yang seharusnya bersalah dan diadili!"
Para anggota keluarga bangsawan termasuk raja menjadi heboh, saling menatap tajam pada apa yang dibicarakan Zefiria.
Zefiria menyalahkan para bangsawan yang tidak bertindak. Terlalu takut karena lawannya lebih kuat. Itu bukan takut, tapi mengakui kelemahannya. Terlalu bergantung dengan para dewa dan tak ingin berjuang dengan darah mereka sendiri.
Inilah yang membuat Zefiria marah kepada Sefenfor saat penolakannya untuk menjadi penguasa Winfor. Bukti bahwa manusia itu tak berguna sudah terlalu banyak dan jelas di depan mata. Tapi, Sefenfor selalu memberikan kepercayaannya pada manusia.
"Sebenarnya, ada satu hal lagi," ucap Sefenfor lantang. Seketika kehebohan langsung lenyap. "Ada satu hal lagi yang tidak para putra-putra Asberion dan Ruishorn katakan kepadamu, Yang Mulia," Sefenfor menambahkan.
__ADS_1