The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Akademi Evernia


__ADS_3

Wanita itu adalah salah satu guru di akademi. Ia bertugas mengecek asrama jika ada murid yang tertinggal. Dan tak sengaja ia justru menemukan Ashnard dan yang lainnya.


Di lorong asrama, gema langkah hak sepatunya bergema teratur. Walaupun Gerlon sudah menjelaskan apa yang terjadi, tapi wanita itu masih tampak marah. Ia sesekali melirik ke belakang-ke arah Ashnard dan yang lainnya dengan tatapan tajam.


Di belakang wanita itu yang menuntun mereka, Ashnard berbisik ke Gerlon. "Hei, tanyakan padanya kenapa dia masih marah? Bukankah kita hanya korban saja?"


"Tanya saja sendiri, pemalas," timpal Roc.


"Diamlah."


"Kau tak ingin menanyakannya sendiri?" tanya Gerlon balik.


"Yah, aku hanya ... sedikit malas."


"Ya sudah," kesah Gerlon. "Maaf, Nyonya Terenna, apa kita masih harus menghadap Kepala Akademi? Saya sudah menjelaskan kalau kami hanya melakukan tugas saja."


Wanita itu berbalik. "Kalian itu masih murid baru, jadi setidaknya kalian harus bertemu dengan Kepala Akademi terlebih dulu."


"Kudengar Kepala Akademi sedang membicarakan sesuatu dengan para murid, jadi kurasa waktunya tidak tepat."


"Aku tahu kalian hanya ingin melarikan diri saja. Sangat terlihat jelas. Tapi, jawaban dariku tetap tidak."


Terenna lalu melanjutkan menuntun mereka ke jembatan gantung yang terhubung langsung ke gedung utama.


Jembatan itu menggantung di udara hanya dengan tali dan kayu saja. Ashnard yang melihat ke bawah, takut jika jembatan itu tiba-tiba terputus saat di ia berada tengah jalan.


"Apa tidak ada jalan lain? Jembatan ini sepertinya sangat tidak aman," kata Ashnard sambil berpegangan pada dinding jembatan.


"Jangan khawatir. Jembatan ini tak pernah rusak selama ratusan tahun. Ini jalan yang sangat aman, kok."


Saat Ashnard memperhatikan lebih dekat, tali yang mengikat jembatan itu berwarna kuning keemasan. Seperti terbuat dari emas, meskipun kenyataannya tidak.


Tali itu seperti tali biasa yang lentur dan mudah dibentuk. Hanya saja memiliki kekuatan yang lebih. Terbuat dari serat pohon ajaib oleh pengrajin terkenal.


Teksturnya lembut seperti buaian cahaya bulan purnama. Sama seperti saat serat pohon itu diambil saat bulan purnama. Serat emasnya sangat kokoh dan sulit dipotong oleh senjata apapun. Karena itu, sang pengrajin menggunakan perkakas yang terbuat dari bijih yang direndam pada kolam air bermandikan cahaya bulan purnama selama 7 hari 7 malam.

__ADS_1


Dengan semua proses tersebut, jadilah tali terkuat yang menahan jembatan yang menjadi jalur para muda-mudi menuju akademi selama ratusan tahun.


"Dan kita sampai," ucap Terenna saat menginjakkan kaki di bagian depan bangunan utama atau disebut sebagai Aula Putih. "Biar kuucapkan sekali lagi. Selamat datang di Akademi Evernia, para murid-murid yang terlambat."


Semak-semak berbunga biru membuka jalan dengan cantik dan elegan. Memberikan mereka jalan lurus di halaman depan aula. Halaman luas dengan kolam air mancur di tengah, tanaman hias, tempat untuk duduk dan bersantai, serta pohon-pohon untuk berteduh.


Setelah melewati kolam, mereka disambut dengan pintu besar bak gerbang menuju dunia lain-dunia pengetahuan. Terenna mendorongnya dengan bantuan sedikit tenaga yang ia keluarkan. Terdengar bunyi berderek saat pintu terbuka ke arah dalam. Bunyi menggema, dari luar juga dari dalam. Lalu, pemandangan dunia lain pun tampak di depan mata Ashnard.


Berbeda dengan bagian luarnya yang asri dan indah, bagian dalamnya bisa dikatakan megah. Adalah ruangan yang luas dengan ratusan para pelajar yang duduk di meja dan kursi yang telah disediakan menghadap ke depan. Di depan adalah barisan meja untuk orang-orang yang lebih berumur dan lebih terpelajar, yaitu para guru.


Ruangan itu besar dengan sejumlah patung di kedua sisi dinding yang di tangannya tergantung sebuah perapian yang padam. Langit-langitnya berkilauan warna perak dari pantulan cahaya matahari. Saat mendongak ke atas, seperti melihat lautan harta karun perak.


Akan tetapi, Ashnard tak bisa terlalu lama mendongak, karena mata para murid yang awalnya tertuju pada seorang pria di depan yang tengah berbicara, seketika beralih ke dirinya dan yang lain.


Pria yang tengah berbicara itu juga ikut terhenti dan mematung, melihat ke arah tamu yang tak diundang.


Terenna lalu melanjutkan melangkah ke sebuah jalan yang terbuka di antara kedua sisi para murid. Ashnard dan yang lainnya mengikuti.


Meski menunduk karena malu, tapi Ashnard masih bisa sedikit melihat tatapan-tatapan mereka. Tatapan yang berasal dari para murid yang berseragam hitam putih dengan sebuah bros bercahaya di dada mereka.


"Hei, Ash, kau seperti sedang dilihatin, tuh," ucap Roc berusaha menggoda Ashnard.


"Diamlah."


Dari salah satu kerumunan para murid itu, ada Liliya yang gembira bukan main saat melihat Ashnard. Ia mengurungkan dirinya untuk melambai, ia hanya bisa tersenyum tanpa anak laki-laki itu menyadari keberadaannya.


Salah satu gadis yang duduk di sebelah kanannya, menyenggol bahu Liliya. "Siapa anak itu?" tanyanya berbisik.


"Dia Ash, yang pernah kuceritakan pada kalian," jawab Liliya sedikit bersemangat.


"Oh, jadi dia yang namanya Ashnard. Apa yang dia lakukan di sini?"


Lalu, temannya yang duduk di sebelah kirinya, menggoyakan bahu Liliya dengan kencang sambil menunjuk ke arah laki-laki di belakang Ashnard. "Tunggu, bukankah itu Reinhard Asberion? Liliya, kau dekat dengannya, kan?"


Sontak para murid-murid saling berbisik saat mengetahui keberadaan Reinhard saat itu. Mereka kenal dengan keluarga Asberion. Kenal dengan kehebatannya dan ketampanan putra-putranya. Terutama para gadis yang tak henti-hentinya berbisik manis soal Reinhard.

__ADS_1


Reinhard sadar kalau tak hanya bisikan-bisikan gadis yang senang dengan kehadirannya saja, tapi juga ada kebencian dan keirian di antara bisikan itu yang menyebar ke yang lainnya.


Mereka berkata, "Bukankah itu putra Asberion? Apa yang dia lakukan di sana? Mungkinkah dia terkena masalah?" Segala rumor mulai beredar di kalangan para murid.


Reinhard kesal tapi tak bisa meresponnya. Ia sekarang hanya bisa berjalan tegap dan memberikan pandangan lurus ke depan. Dalam pandangannya itu ia bisa melihat wajah-wajah familiar yang tak kalah hebatnya dengan keluarga Asberion.


Ia bisa mengenali putra-putri dari keluarga bangsawan yang terkenal berada dalam satu ruangan yang sama dan sedang melihat ke arahnya.


Ada putri dari keluarga Vantalion yang terkenal dengan rambut semerah api tersebut. Ia adalah salah satu yang membisikkan soal Reinhard. Ia memberikan seringai lebar dan tatapan berapi-api pada Reinhard.


"Dasar Asberion tak berguna, kau datang sangat tepat waktu sekali," gumamnya sambil menyibakkan rambut merahnya.


Bahkan, ada juga putri dari Raja Rabalm yang duduk dengan anggun dan penuh keeleganan. Ia tak melihat sedikitpun ke Reinhard dan yang lainnya, tapi ia tersenyum saat orang-orang membisikkan nama Reinhard. Rambutnya di kepang dengan bunga-bunga khas yang terkenal harum dan tahan lama dari Kerajaan Rabalm.


"Akhirnya kau datang juga. Aku sudah menunggumu, lho, Reinhard Asberion," gumamnya sambil tersenyum lembut.


Dan di bagian kanan ruangan, menatap Reinhard dengan tajam dan tak berkedip sekalipun, ialah pangeran dari Kerajaan Magnolia. Reinhard ingat saat dulu ia bertemu dengan sang pangeran untuk pertama kali dan berhasil memenangkan duel darinya. Mungkin hal itulah yang membuatnya menatap ke arah Reinhard.


"Aku akan membalasmu, Asberion," geramnya penuh amarah.


Kehadiran bangsawan-bangsawan terkenal dan dari negeri yang jauh tersebut, membuat Reinhard sangat tertekan dengan aura mereka yang mengancam. Benar-benar atmosfir yang sangat tak ramah untuk lingkungan belajar mengajar yang damai.


Sedangkan di mata Ashnard yang berusaha mengintip sedikit demi sedikit, ia hanya bisa mengagumi mereka. Ia memang tak mengenal banyak seperti Reinhard, tapi dia paham kehebatan para putra-putri bangsawan hanya sekali lihat.


Kecantikan sang putri dari keluarga Vantalion dan putri keluarga Walheimstein dari Rabalm, sanggup membuat Ashnard membeku sementara waktu. Sebuah pemandangan yang sangat jarang baginya.


"Kalau kau bisa mengajak salah satunya berkencan, aku akan menyembahmu, Ash," ucap Roc yang sama terpananya seperti Ashnard.


"Ah, tidak mungkin mereka menerimaku," jawab Ashnard pesimis.


Karena terlalu fokus pada keelokan para gadis bangsawan terkenal, Ashnard tak sadar kalau ia sudah berada di depan para guru. Otomatis pandangannya tertuju pada salah satu guru berambut putih yang ia kenal, yaitu Gerardus.


Gerardus tersenyum saat bertatapan dengan Ashnard. Kehadiran Gerardus membuat Ashnard sedikit tenang.


Namun, pria yang berdiri di mimbar itu memiliki aura khusus yang terasa sangat kuat bagi Ashnard. Pria itu terlihat muda dan gagah. Rambutnya hitam legam dan rapi. Ashnard dan Roc bahkan mengakui wajahnya juga sangat tampan, seperti sosok pangeran idaman para gadis di kisah romansa.

__ADS_1


Ia berkata dengan suara yang halus namun tegas dan lantang, "Apakah ada masalah, Nyonya Terenna?"


"Maaf, karena telah menyela pembicaraan anda, Kepala Akademi. Tapi, kedatangan saya di sini bermaksud untuk mempertemukan anda dengan para murid yang terlambat."


__ADS_2