The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Keinginan untuk Bebas


__ADS_3

Jika apa yang dia pilih berakhir menjadi hasil yang dia inginkan, maka itu akhir yang baik. Namun, sebaliknya, jika tidak sesuai keinginannya, maka itu akhir yang buruk. Ashnard hanya berpikir jika dia tidak menerimanya dan hasilnya ternyata sesuai yang dia inginkan, maka Ashnard akan menyesalinya. Ini adalah sebuah pertaruhan. Baik atau buruk hasil yang dia dapatkan, jika Ashnard sudah membulatkan pilihan, dia tidak bisa lagi mundur.


Saat Ashnard menatap tangan yang terjulur di depannya itu, dia mungkin sudah menghadapi ribuan pertarungan di dalam pikirannya. Memikirkan segala kemungkinan jika dia menerima atau menolaknya. Ashnard benar-benar merasa bimbang saat ini.


Sama seperti saat Servulius memberikannya tugas. Saat itu, dia menerimanya dan ada dua hasil yang dia dapatkan. Ketakutannya terhadap ramalan tentang teman-temannya tidak terjadi-itu sisi positifnya. Namun, hubungannya dengan teman-temannya tidak seperti dulu lagi. Bisa dibilang akhir bahagia yang menyedihkan.


Melihat pengalamannya itu, Ashnard menolak untuk mengulanginya kembali. Lebih baik dia menyelesaikan suatu masalah bersama teman-temannya daripada hubungannya rusak. Jika menerimanya, Ashnard yakin bahwa tujuan Haidon tidak akan semulus kelihatannya. Mungkin hanya firasatnya saja, tapi logikanya juga berjalan. Dimana yang akan mereka hadapi jika menerima tangan Haidon adalah sesosok dewa.


"Maaf, kami menolaknya. Kami akan pergi. Tidak masalah, kan?"


Haidon mengesah berat seperti berdeham. "Begitu, ya. Tidak masalah. Itu pilihanmu. Aku tidak akan memaksamu jika kau ingin pergi dari sini."


Ashnard lalu berbalik setelah diizinkan pergi oleh Haidon. Dia berharap jika pilihannya ini tidak akan membuatnya menyesal seumur hidup. Ashnard sudah mencapai pintu besar berwarna abu-abu yang menimbulkan bunyi derak saat terbuka, dan dia menyadari sesuatu yang tidak beres. Ashnard berbalik untuk menemukan bahwa teman-temannya tidak ada di belakangnya, akan tetapi mereka berdiri di samping Haidon. Mereka menerima uluran tangan Haidon.


"Ein, Roc, apa yang kalian lakukan?"


Tanpa dijelaskan, seharusnya Ashnard sudah memahami motif mereka berdua. Namun, dia tak ingin percaya selama mereka tak mengatakannya langsung.


"Dengar, Ash. Jika kau tak menyetujui pilihan kami, tidak masalah. Tapi, juga jangan menghalangi. Suduh cukup aku hidup seperti ini, aku ingin benar-benar hidup. Mereka membuatku percaya suatu hal pada awalnya, hanya untuk membuatku semakin menjauhi kebenaran."


Walaupun tak memiliki wajah sehingga tidak tampak ekspresinya. Tapi, Ashnard bisa melihat kesungguhan hati roh yang selama ini bersemayam dalam tubuhnya itu.


"Niatmu baik untuk berusaha membantuku mendapatkan tubuh untukku, tapi kapan? Kau sendiri tidak bisa menjaminnya. Aku tidak bisa menunggu lama selagi kau masih sibuk berurusan dengan ibumu yang hilang. Setelah aku mendapatkan tubuhku kembali, aku akan meminta jawaban langsung kepada seseorang yang membuatku seperti ini."


"Itu benar, Roc. Setelah aku mengambil posisi Kematian dan mendapatkan kekuatannya, aku akan memberikanmu tubuh baru. Aku bisa pastikan itu," sambung Haidon yang menerima gabungnya Roc dengan senang hati.


Ashnard merasa tak berdaya terhadap keputusan Roc. Padahal, sudah sangat jelas bahwa tujuan Ashnard dan Roc berbeda. Ashnard menganggap bahwa seharusnya tidak menyetujui ajakan Haidon yang sangat beresiko itu.


Apa yang Roc katakan adalah fakta. Ashnard memang mengiyakan bahwa dia akan membantu Roc mendapatkan tubuhnya, namun tidak bisa memastikan kapan. Dia terlalu sibuk memikirkan Ibunya sehingga masih ada orang yang menunggunya untuk dibantu.


Sekarang Ashnard tak tahu harus berkata apa untuk membawa Roc kembali ke sisinya. Lagi-lagi karena kesalahannya, membuat teman-temannya semakin menjauh darinya.


"Begitu pula dengan gadis manis yang satu ini. Rasa sayangnya terhadap ibunya yang membuatnya ada disini. Dia ingin bersama ibunya. Kau juga bisa sepertinya, Ashnard, kalau kau mau." Haidon menggunakan tangan tulangnya untuk membelai kepala Ein.

__ADS_1


"Apa kalian berdua sungguh ingin melakukan ini?" tanya Ashnard. Berharap jika mereka sedang bercanda.


"Aku ingin bersama ibuku lagi," singkat Ein.


"Tapi, kau tidak perlu melakukan ini. Kau masih bisa bertemu dengan Ibumu sekarang. Kau sudah melakukannya selama ini, kan? Dan kalian baik-baik saja soal itu," balas Ashnard.


"Sekarang tidak. Pria itu berkata kalau aku sudah tidak boleh lagi bertemu Ibuku. Itu bukan sekadar larangan biasa, itu ancaman. Jika aku melanggarnya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin saja, aku dan Ibuku tidak akan bisa bertemu lagi untuk selamanya." Ein menjelaskan panjang niatnya yang sebenarnya. Walaupun tak menunjukkan ekspresi, tapi ucapannya sangat dalam. Getaran hatinya terasa sangat kuat, bagi Ashnard. Membuatnya tidak berdaya untuk membalas sepatah kata pun.


Teman-temannya memiliki alasan yang tulus. Saking tulusnya, Ashnard merasa menjadi penjahat yang sesungguhnya jika menghalangi mereka. Karena itu, dia saat ini jatuh dalam kebingungan. Dia sempat berpikir saat kepalanya tertunduk untuk meninggalkan mereka dan berpisah di tempat ini.


Tubuh dan kakinya bergerak sendiri ke arah pintu yang terbuka, seolah-olah menjawab hati Ashnard yang sesungguhnya. "Ka-kalau begitu ... aku ... akan pergi ...."


Kepala Ashnard terpental ke belakang saat dia menabrak sesuatu yang secara mendadak muncul. Ashnard tak melihatnya karena kepalanya tertunduk mengamati langkah kakinya yang pasrah. Rupanya seorang makhluk tinggi besar yang dia tabrak.


Makhluk itu memiliki kepala tengkorak yang terbelah di tengahnya, memperlihatkan wajah merahnya yang seperti dagingnya. Tengkorak itu menjadi topeng bagi wajahnya yang mengerikan. Semakin terungkap bahwa sosoknya adalah sang penjagal saat terlihat dia membawa sebuah pedang dengan bilah sebesar pohon yang dia sandarkan di bahunya.


"Ah, sang penjagal. Favoritku! Ada apa?" tanya Haidon, menyambut datangnya penjagal tersebut.


Penjagal itu mendengus. Asap seakan-akan keluar dari belahan tengkoraknya. Dia lalu menunjuk ke arah Ein.


"Aku ... ingin ... dia." Suara yang keluar dari mulutnya seperti suara menggeram.


"Kau ingin Ein? Untuk apa?"


Ashnard yang melihat Ein langsung melangkah mundur saat ditunjuk oleh penjagal itu, langsung berdiri menghalangi arah tunjukannya dan melindungi Ein.


"Berhenti! Kau tidak bisa membawa Ein!"


Ashnard tahu bahwa ketakutan Ein itu sungguhan. Suatu hal tentang penjagal itu pasti yang membuat Ein takut. Jika Ein berada di tangan Haidon adalah hal yang berbahaya, maka Ashnard tidak bisa untuk tidak mengabaikannya. Dia mengurungkan dirinya untuk pergi dan melindungi temannya.


"Menyingkirlah! Kau ... itu ... lemah!" perintah sang penjagal.


"Apa yang kau inginkan dengan Ein?" tanya Ashnard.

__ADS_1


"Dia ... lukai ... aku. Dia ... meremehkan ... aku."


Ashnard menengok ke belakang, ke arah Ein. Teringat kembali tentang cerita Irina dimana Ein dulu pernah berhadapan dengan penjagal. Irina bilang itu adalah pengalaman yang mengerikan. Ashnard jadi berandai, mungkin saja Ein berhasil kabur dan mengalahkan penjagal bagaimanapun saat pertama kali bertemu. Maka, alasan penjagal untuk membawa Ein adalah untuk membalaskan dendamnya.


"Maaf, penjagal, kau tidak bisa membawa Ein." Tidak hanya Ashnard yang melindungi gadis itu, tapi juga Haidon sebagai sosok pemimpin. "Gadis ini menyetujui bergabung denganku. Dia ada dalam pengawasanku sekarang." Hadion juga tahu apa yang penjagal inginkan dengan membawa Ein. Apapun yang penjagal rencanakan pasti berbahaya bagi Ein. Lagipula, dia mengenali penjagal itu. Langkah yang bijak jika dia tidak membiarkan Ein ada di tangan penjagal.


"Tapi ... aku ... menginginkannya. Kenapa ... tidak ... boleh?"


"Penjagal, kau bisa pergi dari sini. Lakukan apa yang sudah kutugaskan padamu seperti biasanya."


"Apa ... itu ... perintah?"


"Ya, itu perintah."


"Jadi ... aku ... dipaksa?"


Haidon sontak terdiam menyadari ucapannya sendiri. Dia tidak sadar jika apa yang dia lakukan adalah memaksa penjagal untuk pergi.


"Jadi ... selama ... ini ... aku ... dipaksa? Jadi ... aku ... tidak ... melakukan ... sesuai ... keinginanku? Jadi ... tempat ... ini ... juga ... bukan ... utopia?"


Penjagal mengalami apa yang disebut sebagai malfungsi. Untuk istilah manusia, dia sedang bingung. Mempertanyakan kebenaran yang sesungguhnya dalam hidupnya.


Keinginannya tidak dikabulkan. Padahal, Menara Haidon adalah tempat semua orang bisa melakukan segala keinginannya sesuka hati. Lantas kenapa dirinya sendiri tidak? Apakah menara itu ternyata juga tempat yang munafik?


Sebagai satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh Haidon untuk meniru Kematian, penjagal kebingungan dengan apa sebenarnya arti kebebasan. Apakah kebebasan itu bebas melakukan apa saja, ataukah bebas namun dalam batasan tertentu? Jika yang dimaksud terakhir, maka tidaklah bisa disebut kebebasan karena masih ada penghalang agar seseorang bisa melakukan semua keinginannya.


Lantas apa sebenarnya cita-cita dari tuannya?


Sejak awal penjagal diciptakan melalui bagian-bagian tubuh penjaga yang sudah tidak terpakai, penjagal diberikan tujuan untuk menuruti perintah penciptanya. Dia diciptakan untuk membantu Haidon membangun masa depan. Dengan kata lain, perintah Haidon padanya adalah membuat dunia yang bebas. Namun, penjagal sendiri tidak bebas, karena hidupnya hanya bergantung pada satu perintah yang bulat. Sebuah keinginan yang bukan miliknya sendiri.


Sejak saat itu, Haidon sudah meleset dari tujuannya sendiri untuk menciptakan dunia tanpa paksaan. Dia sudah menjadi seperti Sang Kematian yang dia benci. Dia sudah berlawanan dengan ideologinya. Dia sudah menciptakan kontradiksi di dalam utopianya sendiri yang dibangun di atas kebohongan.


Nampaknya, tidak ada utopia yang sesungguhnya. Semua adalah kepalsuan. Hanya ada kemunafikan untuk membangun sesuatu yang baik. Kebaikan dibangun dari keburukan adalah penistaan. Penjagal menganggap apa yang dilakukan Haidon adalah pelanggaran terbesar dalam aturan yang dia buat sendiri.

__ADS_1


Jika keberadaannya adalah kegagalan, maka untuk apa dia ada.


Penjagal berhenti berpikir bukan karena keterbatasannya, namun karena dia mencapai konklusi dari pemikirannya. Sekarang, dia menganggap semua yang berlawanan dengan kebebasan akan dijagal olehnya.


__ADS_2