
Setelah mereka melanjutkan perjalan, mereka semakin jauh masuk ke dalam hutan. Cahaya matahari semakin menipis dan kanopi semakin rimbun. Semak serta akar pohon memenuhi bagian bawah hutan, membuat mereka kesulitan dalam berjalan.
Sampai suatu ketika, sebuah suara seperti berbisik tertangkap oleh telinga Ashnard yang waspada. Ashnard langsung berhenti dan menoleh ke belakang. Ia meletakkan jarinya di bibirnya. "Sst, apa kalian mendengarnya?" tanya Ashnard ke Nina dan Eris.
"Dengar apa?" balik tanya Nina.
Suara itu muncul kembali, dan sekarang semakin jelas. Alunan suara berbisik yang melewati daun dan ranting pepohonan. Mengalir dalam kesunyian, hingga siapapun pasti akan sulit menangkap suaranya. Namun, jika membuka telinga lebar-lebar akan terdengar suara seperti orang yang berbisik berada di setiap sudut hutan.
Suara seperti bisikan angin itu semakin kencang. Ashnard menghunuskan pedangnya karena merasa ada sesuatu di sekitarnya, bersembunyi di antara semak dan pohon. Melihat Ashnard yang siaga, Nina langsung merentangkan tangannya ke Eris, bersiap untuk melindunginya.
Lalu, mendadak suara itu menghilang. Lenyap begitu saja tanpa peringatan atau tanpa nada yang perlahan semakin samar.
Ashnard menyapu hutan di sekitarnya dengan seksama. Ia tak yakin suara apa yang barusan ia dengar. Ashnard lalu melihat sekelebat sebuah cahaya kecil di balik pohon di depannya. Ia tanpa basa-basi atau tanpa menunggu Nina dan Eris, menuju ke sumber cahaya itu.
Cahaya biru terang yang seperti sebuah lautan kecil terlukis di bunga-bunga yang terhampar di antara pepohonan. Bunga-bunga itu hanya tumbuh di satu area yang dilingkari oleh pohon-pohon, seolah ada suatu sihir dibaliknya.
Apapun itu, yang pasti bunga itu telah berhasil menyihir Ashnard dengan cahaya birunya yang mempesona. Ashnard masuk ke hamparan padang bunga itu dengan mata yang tak berkedip seperti terhipnotis.
Nina dan Eris menyadari Ashnard yang berjalan ke suatu tempat melewati pepohonan. "Ashnard? Mau ke mana?" panggil Nina tapi tidak disahut oleh laki-laki itu. Mereka segara menyusul Ashnard.
Cahaya matahari yang tak berhasil tembus hingga hutan menjadi gelap justru membuat cahaya bunga itu semakin bersinar terang. Tak ada yang sanggup menahan keindahan bunga bercahaya itu, terutama Ashnard yang sekarang berada di tengah-tengah hamparan bunga.
"Apakah ini bunga biru yang dimaksud Tuan Flo?" tanya Nina. Dan lagi-lagi tak ada yang menyahutnya. Semua sibuk mengagumi keindahan bunga itu.
"Nina, kemarilah," panggil Ashnard.
Sambil menggandeng Eris, Nina memasuki hamparan bunga dan menuju ke Ashnard. Bunga-bunga itu terbelah saat Nina melangkahkan kakinya dan kembali menutup rapat saat Nina dan Eris telah melewatinya.
"Bunga ini sangat indah, ya. Jika kita mengikuti bunga ini, maka kita pasti akan menemukan bunga Erastion," ucap Nina.
Saat gadis itu sudah dekat, Ashnard lalu berbalik dan tiba-tiba menyelipkan sekuntum bunga biru yang ia petik di telinga kiri Nina, sekaligus membenarkan rambutnya. "Aku pikir bunga itu cocok untukmu."
Nina terkejut membeku. Ia tak bisa berkata apa-apa ketika senyuman Ashnard terlihat begitu dekat di depan matanya. Entah mengapa, detak jantungnya terasa kian cepat tidak seperti biasanya. Ia juga bisa merasakan pipinya samar-samar memerah.
"Aku setuju. Kau terlihat cantik dengan bunga itu," timpal Eris.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Nina, menoleh ke Eris.
Eris mengangguk dengan yakin. "Aku tidak akan bohong. Kau tahu itu."
Kemudian, suara kertakan tiba-tiba muncul mengagetkan mereka semua. Suara itu berhasil menarik perhatian Ashnard dan lainnya untuk menatap sesuatu di depan.
Kertakan terdengar di sekitar mereka. Perlahan hanya satu, kemudian dimana-mana. Awalnya, mereka mengira sebuah ranting patah, namun suara kertakan yang beruntun itu sesuatu yang benar-benar berbeda. Di kanopi, kertakan tersebut membuat daun-daun berguguran. Terlihatlah sebuah pergerakan di balik pepohonan.
Bentuk panjang melilit tidak hanya satu pohon tapi hampir semua pohon yang mengelilingi mereka. Bentuknya seperti pohon, karena itu sulit melihatnya dengan mata telanjang. Namun, ketika mulai bergerak, maka akan terungkap kalau itu bukanlah sebuah pohon.
Makhluk itu yang awalnya tertidur, bangun ketika Ashnard memetik salah satu bunga biru. Ia mengangkat kepala besarnya yang bersembunyi di bawah bunga-bunga tersebut.
Tubuh panjangnya yang seperti kayu melilit pohon-pohon hingga ke dahannya dan melingkari mereka. Kepala besarnya yang terangkat sama seperti tubuhnya yang terlihat seperti kayu, namun memiliki tanduk-tanduk yang bercabang seperti ranting pohon. Di balik retakan kepala kayunya, ada mata kuning cerah yang menatap Ashnard beserta yang lainnya. Suara desisannya yang berupa kertakan pohon atau bunyi klik seakan memberi peringatan bahwa mereka seharusnya tidak ada di sini.
Ashnard menghunuskan pedangnya saat kepala makhluk itu sangat dekat. Wajah Ashnard diterpa oleh hembusan udara hangat yang keluar dari bagian depan kepala makhluk itu-yang merupakan hidungnya.
Tak lama kemudian, makhluk itu beralih ke Nina dan mengembuskan udara yang sama seperti pada Ashnard. Mata makhluk itu tiba-tiba terbuka lebar seperti merespon sesuatu. Sontak, ia langsung mengaum tepat di depan muka Nina.
Ashnard dengan cepat mengayunkan pedangnya ke pipi makhluk itu untuk melindungi Nina. Makhluk itu berbalik sambil menggeram kesakitan.
"Aku rasa aku baik-baik saja."
"Bersiaplah!" teriak Ashnard saat makhluk itu kembali lagi dan ingin menghantamkan kepalanya ke arah Ashnard. Ashnard beserta yang lainnya langsung melompat ke samping.
Makhluk itu mengayunkan kepalanya untuk menyerang Nina yang lebih dekat. Lagi-lagi, Ashnard berhasil menggagalkannya dengan membuat sebuah tali air yang mengikat kepala ular raksasa itu. Ashnard menarik talinya dengan sekuat tenaga, namun justru ular tersebutlah yang menarik Ashnard. Ashnard terlempar di udara.
"Kau baik-baik saja?" giliran Nina yang bertanya ke Ashnard yang sekarang tersangkut di dahan pohon dengan posisi terbalik. Ashnard memberikan jempol.
Lalu, makhluk itu kembali menyerang Nina. Ia tak berhenti mengalihkan fokusnya seperti Nina telah membuat sesuatu yang kejam.
Nina mengelak ke samping dan melepaskan tinju apinya yang mengenai kepala bagian kanan makhluk itu. Kulit kayunya gosong.
Nina terlalu sibuk menghindar hingga tanpa dia sadari, tubuh ular itu sudah mengelilinginya. Ular itu melilitkan tubuhnya dengan erat dan meremas tubuh Nina.
Ashnard berusaha melepaskan diri dari dahan pohon sementara Eris panik saat Nina mengerang kesakitan.
__ADS_1
Elemen api keluar dari tubuh Nina. Perlahan menggerogoti kulit kayu sang ular dengan rasa sakit yang membakar. Api menjalar dan mengelupas kulitnya hingga menjadi arang. Memaksa ular itu untuk melepaskan Nina.
Dengan api yang membakar sebagian tubuhnya, makhluk itu bergeliat berusaha memadamkan apinya. Ia menabrak dan menggesekkan tubuhnya ke bebatuan, semak, bahkan pohon dengan liar. Api di tubuhnya memang sudah padam, namun justru menyebar ke tempat lain. Bunga yang sebiru lautan menjadi hitam dan daun-daun berguguran.
"Bunga-bunganya!" teriak Eris.
Ular itu yang berusaha memadamkan apinya dengan menggunakan tubuhnya justru mengenai Eris dan membuatnya terjatuh.
Eris yang terjatuh adalah sebuah bencana bagi Nina. Ia tak bisa membendung amarahnya yang sudah terlepas melalui kepalan tangannya berupa api. "Beraninya kau!"
"Nina, jangan!" Eris langsung bangkit untuk menahan Nina. "Kau akan semakin membuat hutan terbakar. Kau harus menenangkan pikiranmu. Makhluk itu sepertinya adalah makhluk elemental. Reaksi yang ditimbulkan dengan elemenmu akan jauh lebih parah."
"Tapi, kau terluka!"
"Aku baik-baik saja. Tidak ada luka. Dengar, kau ingat pelajaran terakhir, kan? Setiap makhluk elemental biasanya memiliki inti elemen di dalam tubuh mereka. Inti elemen tersebut adalah kelemahan mereka. Daripada kau membakar seluruh tubuh makhluk itu, lebih baik kau mencari celah untuk menghancurkan inti tersebut," ujar Eris.
Ashnard akhirnya berhasil turun dan bergabung. "Bagaimana caranya?"
"Aku tidak tahu apakah ini berhasil, tapi aku punya satu rencana. Kita akan membuat makhkuk itu tak berdaya dengan elemen airmu dan elemen listrikku. Kau mengerti?"
Ashnard mengangguk.
Pertama, Ashnard akan memulai dengan memadamkan api di sekitar terlebih dulu, sekaligus membasahi seluruh tubuh makhluk itu. Ia tidak sedikit-sedikit dalam mengeluarkan seluruh tenaganya, melainkan banyak.
Lalu, ia mengumpulkan semua air yang masih tersisa dan menempel di daun, pohon, dan bebatuan untuk mengurung makhluk itu dalam penjara air raksasa.
Selanjutnya, Eris mengalirkan energi listrik melalui genangan air yang dia injak. Genangan air itu terhubung ke penjara air hingga membuat listrik Eris merambat dan menyetrum makhluk itu dengan tegangan yang tinggi.
Bahkan dengan listrik Eris tidak berhasil membuat makhluk itu terkapar. Ia justru semakin mengamuk dan berhasil membebaskan diri dari penjara air. Setelah makhluk itu berhasil terbebas, ia merayap perlahan mendekati Ashnard dan yang lainnya.
Kepalanya tergantung tinggi di udara, menatap mereka semua. Terdengar suara klik uniknya yang membuat mereka semakin membuat mereka waspada karena ternyata rencana mereka tidak berhasil.
Moncong makhluk itu hanya berjarak beberapa centi di depan Ashnard yang berdiri paling depan. Seketika, Ashnard langsung menusukkan pedangnya ke leher makhluk itu.
Retakan yang diakibatkan oleh tusukan pedang Ashnard, membuka sebuah cahaya hijau yang bersinar terang di leher sang ular. Makhluk itu langsung bergeliat kesakitan. Pohon-pohon bergoyang dan daun-daun berguguran seolah ikut merasakan sakit yang makhluk itu terima.
__ADS_1
Tiba-tiba, makhluk itu berhenti. Diam seperti patung dengan posisi leher dan kepala yang menegak ke atas. Kemudian, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Bergetar seperti ada sesuatu yang akan muncul dari dalam tubuhnya. Tak lama kemudian, bagian perut hingga leher makhluk itu terbelah, dengan cahaya hijau yang menyembur keluar. Ada sebuah bunga berwarna putih yang tumbuh disana.