
Reinhard tersenyum lebar sembari menatap Wilia yang menyantap sarapannya dengan sedikit terpaksa-dia juga merasa lapar. Reinhard seperti menikmati sebuah mainan barunya.
Wilia menyeruput teh setelah menelan makanannya. "Kau tidak perlu terus menatapku," ucapnya.
"Oh, maafkan aku. Aku hanya tak bisa menahan diri ketika melihatmu yang menjadi patuh." Reinhard lalu mendorong piring berisi sejumlah kukis dengan toping berwarna merah di atasnya. "Sekarang, coba kue buatanku."
"Kenapa warnanya merah?" tanya Wilia, merasa curiga dengan kue tersebut.
"Hanya resep khas Asberion. Abaikan saja warnanya kalau kau tidak suka."
Dengan penuh keraguan, Wilia mendorong sebagian kue itu hingga masuk ke mulutnya. Kedua rahangnya menahan kue itu, lalu digigitnya. Wilia mengunyah dengan perlahan kue merah itu hingga semakin masuk ke dalam perutnya.
"Bagaimana?" tanya Reinhard, tidak sabar.
Setelah Wilia ******* habis potongan kue itu, seluruh zatnya menyebar ke seluruh tubuhnya, memberikan sebuah sensasi baru yang belum pernah ia rasakan. Rasa manis tidak cukup menggambarkan perasaan Wilia saat ini. Jantungnya berdegup kencang seolah memompa semua kebahagiaannya.
Tanpa Wilia jelaskan sekalipun, Reinhard sudah tau dari senyuman gadis itu yang begitu puas.
"Enak, bukan?" tanya Reinhard lagi, menyadarkan kembali Wilia dari dunianya.
Wilia berdeham. "Ti-tidak juga."
"Benarkah? Mungkin aku kurang mengaduk adonannya," gumam Reinhard tak percaya. Ia lalu mencoba mengambil satu untuk membuktikan, tapi Wilia menepuk tangannya.
"Ini sarapan untukku, kan? Tidak ada yang boleh mengambilnya!" tegurnya.
"Aw, kau bilang tidak enak!"
"Ma-maksudku, cukup enak." Wilia melahap lagi separuh kuenya. Sekali lagi ia tersenyum, tapi langsung memalingkan muka saat ditatap oleh Reinhard.
"Akui saja, tuan putri, memangnya apa sulitnya?"
Setelah semua kue dia habiskan, dia merasa puas. Ini pertama kalinya Wilia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Seolah membuat paginya mendadak berubah seketika setelah memakan kue itu. Wilia bertanya-tanya kenapa pelayan pribadinya tidak bisa membuat kue seenak itu.
"Cynthia," panggil Wilia.
Cynthia yang berdiri di sebelah pintu, menghampiri tuannya seketika. "Ya, Nona Wilia."
"Aku kecewa padamu. Kenapa kau tidak bisa membuat kue ini?"
"I-itu ka-karena ...." Cynthia tampak kesulitan menemukan kata-kata yang tepat.
"Itu karena aku menambahkan esktra bunga mawar ke dalamnya. Pelayanmu tidak berani melakukannya karena kau membenci bunga. Bagaimana rasanya, sekarang hal yang tidak kau sukai ada di dalam perutmu?" sambung Reinhard.
__ADS_1
"Bunga!? Dasar kau, anak kurang ajar!" Wilia bangkit, dan bersiap mengangkat piringnya di udara. "Beraninya kau meracuniku! Akan kuhajar kau sekarang juga!"
Reinhard langsung menodongkan telapak tangannya, menghentikan Wilia. "Eits ... itu sudah dua kali pelanggaran. Pertama kau memarahi Cynthia, sekarang aku. Yang Mulia pasti kecewa melihat putrinya langsung melanggar dua peraturan sekaligus."
"Ku-kurang ajar." Wilia tidak memiliki pilihan lain, dan memutuskan kembali duduk.
"Sebagai hukumanmu, mari kita ke kebun bunga, sekarang juga," ujar Reinhard.
"Aku bersiap-siap dulu."
Cynthia membungkuk dan bersiap menuntun Wilia ke kamar mandi. Namun, dihentikan oleh Reinhard. "Tidak perlu. Kita tidak keluar istana, kan?"
"Apa kau gila? Aku masih memakai gaun tidurku. Seorang putri harus berdandan dan memakai gaun yang sempurna meskipun masih ada di kediamannya."
"Ini cuman ke kebun saja, kok. Kalau kau sudah berdandan dan memakai gaun yang bagus, kau pasti tidak ingin kotor, kan? Lagipula, kau tetap terlihat cantik dengan gaun tidurmu," puji Reinhard dengan santainya.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?"
Istana memiliki banyak kebun bunga. Membentang sangat luas dengan warna-warna yang indah. Beragam jenis bunga tumbuh dan mekar, seperti jenis-jenis mawar, bunga matahari, zinia, popi, lavender dan masih banyak lagi. Bahkan, saking luasnya, lebih cocok disebut sebagai padang bunga daripada kebun bunga.
Kebun bunga yang dituju mereka, adalah satu-satunya kebun bunga dengan bunga-bunga yang layu. Kebun bunga dimana Reinhard dan Wilia bertemu. Kebun ini seharusnya adalah kebun pribadi sang putri. Namun, karena putri tidak menyukai bunga, bunga tersebut tidak terawat dengan baik.
"Katakan, tuan putri, kenapa kau tidak menyukai bunga?" tanya Reinhard, berdiri di depan bunga-bunga yang terlihat seperti ditelan oleh kegelapan.
"Jadi, intinya, kau tidak suka bunga karena orang lain suka? Kau hanya ingin menjadi orang yang istimewa," ungkap Reinhard.
Wilia adalah seorang putri, jadi tidak mengherankan jika dia berpikir seperti itu. Kehidupan Wilia dan kehidupan Reinhard sangatlah berbeda. Reinhard berasal dari keluarga seorang pejuang, seorang ksatria. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan dengan kegiatan ksatria seperti berlatih untuk menjadi kuat.
Berbeda dengan Wilia yang merupakan keluarga kerajaan. Dia usianya yang masih sangatlah muda, dia hanya bisa bersantai dan menunggu hingga waktunya tiba dia menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin negara.
Dia juga masih terlalu dini untuk memulai masuk kedalam dunia politik. Hidup Wilia hanyalah tentang menunggu waktu yang tepat. Dalam selang waktu yang sangat lama itu, tentunya banyak yang gadis itu pikirkan dan renungkan.
Serta ruang lingkupnya yang hanya sebatas istana dan statusnya membuat Wilia terbatas soal kehidupan sosialnya. Jadi, dia menganggap pemikirannya benar tanpa tahu ada pemikiran yang berbeda di luar sana.
Wilia hanya bisa melihat melalui dirinya sendiri, tanpa perantara orang lain, bahwa melakukan kegiatan yang sama seperti orang lain adalah hal yang tidak istimewa, biasa saja, dan membosankan. Karena itu, Reinhard yang tidak setuju berusaha untuk memperlihatkannya pandangan lain.
"Saat pertama kali datang kesini, aku awalnya menganggap kota ini adalah lelucon karena kecintaannya pada bunga. Namun, setelah seminggu ini, ternyata tidak terlalu buruk. Negeri indah, romantis, cocok untuk menenangkan pikiran, mungkin untuk masalah kemiliteran kalian kalah," ucap Reinhard.
"Kau meremahkan Rabalm." Wilia menyipitkan matanya ke arah Reinhard.
"Poinku adalah waktunya kita berkebun." Reinhard meraih lengan Wilia dan menariknya masuk ke kebun.
"Hentikan! Jangan tarik aku!" Wilia berusaha melepaskan diri. "Aku tidak mau kotor-kotoran, dasar bodoh! Aku seorang putri, bukan petani!"
__ADS_1
"Karena itu, aku menyuruhmu tidak perlu ganti baju. Setelah selesai, silahkan saja kau mandi cantik dan merias diri, aku tak peduli."
"Tetap saja, aku tak mau melakukan hal yang sangat merepotkan. Apalagi panas-panas, kotor, dan ... ya, merepotkan. Aku juga tidak tahu caranya dan tidak ingin tahu," tolak Wilia sambil menyilangkan lengannya.
Reinhard menyerahkannya sebuah sekop. "Kalau begitu, akan kuajari caranya."
Berdiri di belakang mereka adalah Cynthia yang mengamati. Pemandangan yang tidak pernag dia lihat ini, entah mengapa membuat hatinya merasa senang.
Sementara itu, di balik jendela lantai atas, kedua pemimpin dari masing-masing keluarga memandang putra-putri mereka dengan tidak percaya. Mereka melihat anak-anak mereka berkebun bersama di pagi hari yang cerah, tanpa bantuan siapapun.
Apalagi sang raja yang terkejut melihat putrinya mau menyentuh bunga-bunga itu. Memegang sebuah alat yang kotor dan menggunakannya meskipun salah. Wilia justru terlihat melempar sekopnya dan menyalahkannya karena menjadi tidak berguna.
"Hei, hei, hei. Bukan begitu cara pakainya." Reinhard mengambil sekop Wilia dan memberikannya lagi. "Ingat, kita harus menyerok tanah yang ada bunganya, mengerti? Kita akan mengganti bunganya dengan benih yang baru."
"Kenapa tidak potong saja bunganya? Nanti kan bisa tumbuh menjadi bunga yang baru," tanya Wilia.
"Karena, yang rusak bukan hanya mahkotanya saja, tapi semua bagian bunga ini rusak. Percuma saja kau memotongnya. Tidak akan ada bunga baru yang tumbuh," jelas Reinhard.
"Ugh, merawat bunga benar-benar hal yang merepotkan? Kenapa semua orang menyukai hal seperti. Aku membenci ini!" kesal Wilia.
"Merawat bunga tidak hanya sekadar menggali tanah dan menanam benih bunga. Tapi, memberinya pupuk, air, merawatnya setiap hari seperti merawat anak kecil. Melihatnya tumbuh dari kecil hingga menjadi bunga besar yang cantik, itu akan memberikanmu perasaan bangga yang luar biasa. Merawat bunga juga bisa membuktikan kalau kau adalah orang yang bertanggung jawab dari caramu merawatnya."
"Aku semakin yakin kalau kau bukan orang Winfor, tapi Rabalm?" ucap Wilia mulai meragukan.
"Tentu, aku orang Winfor yang membaca soal merawat bunga."
Lalu, Reinhard memposisikan dirinya di belakang Wilia dan memberikannya bantuan. Reinhard memegang tangan Wilia yang menggenggam sekop dan membantunya memberikan dorongan.
Posisinya yang begitu dekat seolah bisa merasakan nafasnya, seketika membuat jantung Wilia berdegup tak karuan. Dia sedikit panik saat tangannya digenggam oleh tangan Reinhard yang hangat dan kasar. Dia diam tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa membiarkan Reinhard menggerakkan tubuhnya.
"Ya, teruskan begitu. Jika kau tidak kuat mendorongnya dengan tanganmu, gunakan kakimu juga," ujar Reinhard.
Wilia yang tidak tahan lagi, langsung menyingkir secara tiba-tiba, membuat Reinhard kehilangan keseimbangan dan jatuh. Tanah dan daun-daun membuat seluruh tubuhnya kotor.
Rambutnya yang berantakan dan mukanya yang tercoreng oleh tanah, justru membuat Wilia tertawa mengejek. "Terima kasih atas pelajarannya, petani Asberion. Kau pantas mendapatkan semua kotoran itu."
Melihat langkah berani tersebut, sang raja merasa bangga sekaligus kagum terhadap Reinhard yang bersama dengan putrinya. Reinhard berhasil membawa putrinya keluar dari zona nyamannya dan itu adalah sebuah perkembangan yang besar. Karena hal ini, kelak hubungan Asberion dan Rabalm akan jauh lebih dekat.
"Putramu dan putriku tampak sedang bersenang-senang," ucap sang raja.
"Aku hanya menyuruhnya untuk berkenalan dengan tuan putri, tapi tak kusangka Reinhard sudah sejauh ini," ungkap Gerwin.
"Mungkin lain kali, aku akan mengundang kalian lagi, terutama putramu. Dia tampak seperti lelaki yang baik," pungkas sang raja sebelum meinggalkan Gerwin.
__ADS_1