The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Makhluk dari Dasar Sungai


__ADS_3

Selagi Ashnard dan Nous berbincang, Finn datang dengan wajah yang bingung.


"Ada apa?" tanya Nous.


"Aku sebelumnya sedang memancing di bagian sungai dekat ini, tapi aku tak mendapatkan apapun. Tak ada ikan satupun, tidak seperti di tempat sebelumnya," jawabnya.


"Mungkin kau belum beruntung," ucap Ashnard.


"Tidak. Aku bahkan tak melihat gelembung-gelembung air di sungai itu. Seperti memang tak ada ikan yang hidup di sana," ucap Finn bersikeras.


"Kurasa karena kondisi lingkungan di sekitar sini. Bagian sungai ini mungkin tak menyediakan sumber makanan bagi para ikan, membuatnya mereka harus berpindah ke bagian yang lebih kaya. Itulah kenapa di tempat awal, terdapat lebih banyak ikan," jelas Nous.


"Mungkin kau benar."


"Tak apa. Ikan yang kita dapatkan sudah lebih dari cukup."


"Kalian boleh memakan ikan hasil tangkapanku, tapi jangan dihabiskan. Aku harus membawanya ke kota untuk dijual," ucap Finn mengingatkan.


Ashnard merasa tersindir karena paling lama ditatap oleh Finn. "Iya, aku mengerti. Aku tak akan menghabiskannya. Lagipula, aku tak terlalu suka ikan."


Nous mengambil ikan-ikan tersebut dari kotak, membersihkannya, lalu menusukkannya pada tongkat. Ia juga menusukkan jamur yang Ashnard bawa. Ia melakukannya secara perlahan dan jelas agar Ashnard paham. Biasanya ikan tersebut akan langsung dibakar tanpa bumbu apapun.


"Tapi, kau bisa menambahkan garam untuk menguatkan rasanya atau bisa juga menggunakan rosemary sebagai penyedap. Karena itu aku bilang, semua yang ada di alam bisa menjadi temanmu." Nous berusaha mengajari cara memasak pada Ashnard.


Ashnard pun kembali bertemu malam. Ini sudah malam kedua sejak ia meninggalkan rumahnya. Ashnard tak menyangka jika ia tak sendirian melakukan perjalanannya, melainkan bersama dua orang.


Ikan dan jamur yang sudah ditusukkan ke tongkat kayu, diarahkan ke api unggun. Lalu, menunggunya matang hingga berwarna coklat ke kegelapan.


"Ingat, jika kau merasak bahaya atau ada sesuatu di hutan, matikan segera apimu, mengerti?"


Ashnard mengangguk.


"Jika sudah ingin pergi, segeralah matikan apinya."


Ashnard mengangguk lagi, tapi kini ia menatap kobaran merah tersebut. Pikirannya tenggelam dalam percikan api yang melalap kayu menjadi arang.


Ashnard ingat saat di rumah Zefiria, ia merasakan ketakutan yang luar biasa saat melihat api. Ashnard tak tahu itu hanya perasaannya saja atau memang dirinya memiliki ketakutan. Jika benar, seharusnya dirinya merasa takut saat ini juga.


Nous menyadari Ashnard yang melamun memandangi api unggun tersebut. Ia mengambil batu kerikil dan menjetikkannya pada Ashnard.

__ADS_1


"Kau dengar, tidak?" tanyanya.


Kerikil tersebut tepat mengenai kepalanya. Beruntung Ashnard, batu yang mengenai Ashnard berukuran kecil. Ia mengusap bagian kepalanya yang terkena batu tersebut.


"Aku dengar, kok!" jawab Ashnard meringis.


"Kalau kau dengar, jawablah."


Finn tertawa melihat tingkah Ashnard dan Nous tersebut. "Aku tak percaya jika kalian bukan ayah dan anak."


Ketiga orang tersebut duduk melingkari api unggun. Malam yang dingin menjadi hangat berkat api tersebut. Kehangatan itu juga berkat keramaian dan obrolan santai mereka. Tak terasa malam semakin tua. Sehabis makan, mereka pun beristirahat.


Ashnard terlelap lebih cepat daripada yang lain. Tak ada yang bisa menganggunya. Bunyi jangkrik atau kertakan semak-semak yang misterius di kegelapan, tak akan membuat anak itu bangun. Kecuali satu hal.


Sebuah alunan nyanyian yang lembut berhasil membangunkan anak itu dari tidurnya, meskipun suaranya terdengar pelan. Matanya yang telah diusap, mencoba melihat menembus kegelan hutan untuk mencari sumber suara itu.


Suara itu masih terus terdengar, hingga membuat Ashnard sangat penasaran. Siapa yang menyanyi di tengah malam dan ditempat seperti ini? Rasa penasarannya membuat anak itu bangkit dari alas tidurnya.


Dengan wajah yang masih setengah mengantuk, ia berjalan seperti mayat hidup yang berjalan di antara semak dan pohon.


Sesaat keluar dari pepohonan, cahaya bulan terpancar ke satu-satunya wujud di depannya. Lebih tepatnya dua wujud. Satunya adalah Finn, dan satunya lagi sosok yang tidak ia ketahui. Seorang wanita.


Ashnard mengusap matanya lebih keras lagi dan apa yang dia lihat memang benar adanya. Wanira telanjang yang sedang berbicara pada Finn. Lehernya yang ramping, pinggangnya yang seksi, dan dadanya yang bulat itu benar-benar terlihat jelas. Tapi, sebagian bawah tubuhnya berada di bawah air sungai.


Ashnard sadar kalau dirinya tak boleh melihatnya, tapi entah mengapa ia tak bisa memalingkan pandangannya. Seolah-olah ada sihir yang menghipnotis anak itu.


"Akhirnya aku menemukanmu, wahai roh air yang anggun," ucap Finn. Pipinya merona merah dan matanya terpaku pada wanita itu. "Tinggallah bersamaku. Walaupun pekerjaanku hanyalah memancing, tapi aku akan mencukupi segala kehidupanmu. Lalu, kita bisa menikah dan memiliki dua anak. Tolong kabulkan permohonanku, wahai roh air."


Ashnard mendengar apa yang diucapkan Finn. Jika sosok itu benar roh air, maka Ashnard juga ingin mengajukan permohonannya. Ashnard pun mendekat.


Air sungai menimbulkan riak saat Finn berusaha menenggalamkan kakinya di sungai. Dari riak tersebut, Ashnard mendapati bagian tubuh yang sangat kontras dengan bagian atasnya. Sebuah kulit bersisik hitam yang berlendir seperti pada kulit ikan.


Ashnard yang melihat itu, terkejut dan spontan berteriak memperingati Finn. Tiba-tiba, air mengalir deras dan menciptakan gelombang, akhirnya sosok itu memperlihatkan wujud aslinya. Seekor ikan raksasa dengan mulut yang lebar dan rahangnya panjang. Di bagian kening ikan tersebut adalah bagian atas dari wanita tersebut yang berfungsi sebagai umpan.


Melihat sosok wanita yang diidamkannya berubah menjadi makhluk berahang seperti kurungan, Finn lemas seketika. Ia tak bisa bergerak saat rahang itu terbuka sangat lebar dan berusaha melahapnya.


Akan tetapi, makhluk itu harus menunda makan malamnya, karena sebuah bilah angin muncul dari hutan, memotong organ yang berfungsi sebagai umpan tersebut. Makhluk itu pun menggeram kesakitan. Terlihat sangat jelas jika serangan itu membuatnya marah.


Muncuk tentakel-tentakel dari dalam sungai yang mengikat Finn dengan sangat erat. Tentakel tersebut juga merupakan bagian tubuh ikan monster itu. Berjumlah enam dengan warna hitam seperti arang, meskipun tak memiliki penghisap seperti pada gurita.

__ADS_1


Nous yang melempar serangan angin tersebut datang. Ia memberikan Pedang Hoku pada Ashnard. "Jangan diam saja!" bentak Nous.


Nous pun menarik pisaunya untuk memotong tentakel itu, tapi sepertinya serangannya kurang tajam. Ia lalu melapisi pisaunya dengan angin dan melakukannya lagi hingga satu tentakel yang mengikat Finn terpotong.


Nous mempercepatkan langkahnya dengan angin untuk membawa Finn menjauh.


Lima tentakel lainnya tertuju pada Nous. Tentakel tersebut menyerang Nous dengan sangat agresif. Namun, dengan mudahnya, Nous menghindari tentakel-tentakel yang menggeliat dan berhasil membuat fokus ikan itu tertuju padanya. Lalu, saat kesempatan untuk menyerang ikan tersebut secara mutlak terbuka, ia berteriak, "Ashnard, sekarang!"


Ashnard mengarahkan pedangnya ke depan. "Hoku, terbanglah!"


Bilah tersebut melesat dengan sangat cepat hingga tertancap pada kening ikan itu.


"Hoku, membesarlah!"


Bilah yang tertancap pada ikan tersebut, seketika membesar seukuran pohon, membuat ikan itu mati dengan tubuh yang terbelah dua.


Nous mendekati Ashnard dengan tatapan yang liar. "Apa yang kau lakukan!?"


"Bu-bukan aku, itu Finn!" tunjuk Ashnard ke Finn.


"Bukan itu. Kenapa kau tidak segera bertindak? Dia bisa mati."


Ashnard menunduk. "Maaf."


"Sudahlah," Nous mengesah, tak tega untuk memarahi Ashnard. "Lain kali kau harus cepat bertindak. Jika tak ada pedang, gunakanlah apapun yang bisa kau gunakan sebagai senjata, mengerti?"


"Mengerti," jawab Ashnard yang masih menundukkan kepalanya.


Nous lalu menghampiri Finn. "Kau juga! Apa yang sebenarnya kau lakukan?"


"Ma-maaf, aku hanya ingin membuktikan legenda tersebut. Kebetulan sekarang lagi bulan purnama, jadi aku berpikir tak ada salah mencoba," jelas Finn. "Tapi, sungguh. Aku tak tahu kalau itu monster, kukira itu memang benar roh air."


"Roh air tidak mungkin muncul di depan matamu dengan mudahnya." Nous lalu melihat Ashnard yang masih berdiri di tempatnya. "Kenapa masih diam? Ayo, kembali saja."


Ashnard dan yang lainnya pun kembali. Ia masih tertunduk setelah kejadian sebelumnya. Setelah diberitahu Nous, Ashnard merasa kecewa pada dirinya sendiri. Tepat di depannya, nyawa seseorang berada dalam bahaya, tapi ia justru tak melakukan apapun. Ashnard merasa sangat bersalah dan tak berani untuk mengangkat wajahnya.


"Kau tidak tidur?" tanya Nous yang melihat Ashnard masih duduk di depan api unggun. "Segera tidur, kau harus memulihkan tenagamu. Mengerti?"


Ashnard menangguk.

__ADS_1


__ADS_2