
Malam yang indah bagi mereka yang bersaksi dan terlibat dalam suatu kejadian. Namun, sayangnya malam harus berakhir untuk digantikan dengan hari baru dan dilanjutkan dengan malam yang baru. Itulah aturan di dunia yang memberlakukan aturan waktu.
Momen yang indah harus berakhir saat Nina harus terbangun dari tidurnya. Matanya langsung terbuka lebar saat dia menyadari ada sesuatu yang salah. Dia ingat betul bahwa sebelum dia memejamkan matanya, dia duduk di atas meja dan Ashnard yang duduk di kursi tidur dalam pangkuannya. Dia juga masih ingat kalau dia sedang bersenandung sambil mengusap kepala Ashnard. Dan sekarang dia terbangun dalam selimut di sebuah kasur yang bukan miliknya. Sementara Ashnard terlihat membaringkan kepala di sisi kasur, dekat kaki Nina.
Saat itu dia sadar, kalau dia tertidur saat Ashnard bangun dan memindahkannya ke kasurnya. Padahal, dirinya bisa saja menyisakan ruang untuk Ashnard tidur di kasur daripada tidur bersandar di tepi kasur. Seketika, wajah Nina memerah ketika memikirkan hal tersebut.
"Kenapa aku berpikir Ash dan aku tidur bersama di satu kasur?" pikirnya. Jika sisi lain dari dirinya memiliki kesadaran, dia akan tersadar akan Nina yang sebenarnya menginginkan hal tersebut.
Nina lalu turun dari kasur, menghampiri Ashnard dengan berjongkok. Nina terlalu mendekatkan wajahnya ke wajah Ashnard hingga dia dapat mendengar dengkuran lelaki itu yang seperti seekor kucing. Meskipun hanya satu sisi saja yang dapat Nina lihat, dia begitu menikmatinya. Lalu, dia memikirkan satu hal spesial yang akan diberikannya pada Ashnard.
Nina mengatur nafasnya, dan menyiapkan diri. Karena setelah ini, dia mungkin tidak akan bisa berpikir normal, berdiri tegak, atau bernafas dengan benar. Dia benar-benar akan menjadi gila jika tidak bisa mengatur kewarasannya kali ini.
Setelah merasa sangat siap, Nina mendekatkan wajahnya lebih dekat dari sebelumnya. Dia memajukan bibirnya yang secara sangat perlahan menuju ke pipi Ashnard. Terakhir, dia menempelkan bibirnya tersebut dengan perlahan. Sebuah kecupan di pipi adalah hal spesial yang Nina berikan.
Dia berjalan menuju pintu dengan tenang setelah memberikan hal spesial tersebut. Menurutnya, sudah waktunya untuk pergi sebelum matahari muncul sepenuhnya di langit dan semua orang keluar dari kamar mereka. Dia tenang seperti air kolam yang dalam, berisi banyak pikiran dan perasaan di dalamnya. Namun, ketika dia keluar dari kamar Ashnard, ketenangannya langsung hilang.
Wajah merahnya kembali lagi. Bahkan, ujung telinganya juga. Nina yang bersandar di pintu bisa mendengar sendiri jantungnya yang berteriak. Nina merasa ini sudah seperti akhir baginya. Dia tidak kuat lagi untuk bergerak. Dia mendorong tubuhnya dengan menggunakan pintu untuk membantunya berjalan. Tanpa dia sadari membuat pintu itu terbuka. Nina berlarian di lorong, lalu berhenti di kamar Eris.
Ketika Nina masuk dan pintu kamar Eris tertutup, pintu kamar lain terbuka. Liliya menjulurkan kepalanya untuk melihat siapa yang membuat bunyi langkah di pagi buta seperti ini. Saat pandangannya menyapu seluruh ruangan, dia melihat pintu Ashnard yang terbuka sedikit. Ada cahaya yang keluar dari kamarnya. Liliya penasaran apa yang sebenarnya sedang Ashnard lakukan.
"Eris, Eris! Aku tidak percaya! Kau tidak percaya apa yang telah terjadi padaku selama ini!" ucap Nina penuh semangat. Walaupun dia sudah mengecilkan suaranya, tapi Eris tetap terganggu dan memutuskan untuk bangun dari tidur pendeknya.
"Aku juga punya hal yang sama," lirih Eris yang masih di kasurnya.
Nina mengira hal yang sama adalah Eris juga mengalami sama sepertinya. Dia semakin semangat dan penasaran. Nina lompat ke kasur, masuk ke selimut dan siap untuk memulai cerita.
__ADS_1
"Baiklah, darimana harus kumulai?" gumam gadis yang bersemangat itu. "Oke, jadi Ash berkata kalau dia ternyata menyukaiku. Itu pernyataan yang membuat perasaanku campur aduk. Di-dia juga merasa nyaman tidur di pangkuanku. Walaupun, dia tidak bilang, tapi aku bisa merasakan dia mencium pahaku. Mungkin Ash adalah tipe laki-laki yang lebih menyukai paha daripada dada. Ke-kemudian, dia juga bilang suaraku seperti Ibunya. Membuatnya nyaman. Lalu, aku tertidur di kasurnya. Kau dengar? Aku tidur di kasur seorang laki-laki. Aku ada di kamarnya, Eris! Tidak hanya itu saja. Yang paling membuat kepalaku serasa pecah adalah ... aku mencium pipinya." Nina lalu berteriak dan meringkuk ke dalam selimutnya, tak bisa menahan rasa malunya.
Eris tertawa kecil melihat tingkah Nina yang menggemaskan. "Sebagian aku tahu. kok. Aku melihat dan mendengar kalian. Tapi, mencium pipinya? Kau benar-benar seperti Putri Zanobel menjelang bab akhir."
"Aku terinspirasi darinya."
Melihat sahabatnya yang cukup bahagia saat menjelaskan pengalaman tak terlupakan itu, membuat Eris merasa sedikit bersalah. Eris memang menginginkan Nina bahagia dan dia juga yang menyarankan Nina untuk ikut serta. Eris tahu kalau dia dan Nina memang sering berkhayal bagaimana jika pengalaman tokoh di buku yang mereka baca terjadi pada mereka. Dan saat Nina yang mengalaminya, Eris merasa bahagia, bersemangat, dan pikirannya kemana-mana seperti gadis pada umumnya. Tapi, Eris tahu rahasia yang tidak Nina ketahui. Hal itulah yang menyebabkan Eris merasa gelisah saat ini.
"Bagaimana denganmu? Kau bilang kau juga mengalami hal yang sama denganku. Sama siapa?" Nina berpikir jika hal yang sama adalah Eris juga mengalami kejadian yang sama seperti dirinya.
"Wilia," jawab Eris.
Nina tidak menyangka nama itu keluar dari mulur Eris. "Jadi ... kau menyukai Wilia?" tanya Nina, tapi dia sendiri tak yakin untuk menanyakannya.
"Yah, dia ternyata seperti gadis biasa pada umumnya. Dia meminta maaf padaku dengan tulus dan sekarang kami berteman," ungkap Eris.
Eris lalu menjelaskan dia yang berhasil masuk ke kamar Wilia dan menemukan pedangnya. Dia juga menceritakan rahasia dibalik para guru yang mengetahui semua rahasia yang mereka miliki. Tapi, Eris memilih untuk tak memberitahu bahwa Ashnard juga ikut terlibat.
Eris melihat tatapan itu dari Nina. Tatapan seorang yang sedang berbahagia. Tatapan jatuh cinta. Rasanya sakit jika dia memberikan kenyataan pahit pada Nina setelah dia membuatnya semakin dekat dengan Ashnard. Eris orang yang tegas pada satu tujuan, tapi dia tidak bisa membuat Nina bersedih. Dia juga sadar jika tidak memberitahunya, Nina juga tetap akan menerima kenyataannya kelak. Meskipun begitu, ingin membuka mulut saja tidak bisa. Dia tidak sanggup melihat tatapan keputusaan Nina. Eris memutuskan untuk membiarkannya.
"Aku tidak percaya Terenna dan Kepala Akademi merencanakan sesuatu pada kita. Tapi, kau tidak salah, kan?" Nina bersikeras untuk tidak mempercayai semua perkataan Eris. Dia masih memaksa, meskipun semua petunjuk dan gambaran sudah ada di depan matanya.
"Jika mereka tahu soal pedang Wilia, itu berarti mereka juga tahu soal luka bakarmu. Aku tidak tahu tujuan sebenarnya dari mereka yang mengetahui rahasia ini. Apakah mereka ingin memanfaatkan kekuatan kita? Atau mereka ingin melakukan eksperimen rahasia?"
"Itu sangat berbahaya! Tapi, sekarang kita tidak bisa keluar dari sini." Nina yang panik menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Kita tunggu sedikit lebih lama lagi. Dan lihat kedepan. Jika ada sesuatu yang bisa kita manfaatkan, kita akan menggunakan itu untuk membebaskan diri kita. Mulai dari sekarang, kita harus berhati-hati."
Eris tak ingin membuat Nina terus gelisah dan kepikiran. Dia membaringkan Nina di kasur dan membuatnya tidur berhadapan dengannya.
"Mumpung masih ada waktu, bagaimana kalau sekarang kita bahas itu?" ajak Eris.
Karena dia percaya, jika hari ini hingga hari-hari selanjutnya akan ada kemungkinan dari yang dia takutkan. Di saat itulah, situasi menjadi tak terkendali dan entah apa yang akan terjadi kedepannya. Dia takut jika dia tidak bisa bersama Nina lagi. Eris ingin menggunakan waktu yang singkat ini untuk membuat Nina bahagia walau hanya sesaat. Setidaknya itulah yang bisa dia lakukan sekarang.
"Bagaimana perasaanmu saat seorang laki-laki tidur di pangkuanmu?" Hal-hal seperti ini lah yang Eris yakin akan membuat Nina merasa tenang.
"Setelah kupikir-pikir lagi, sebenarnya tidak jauh berbeda saat kau tidur di pangkuanku. Tapi, ada perasaan yang berbeda. Seperti jantungku berdetak lebih cepat dan tanganku gemetaran. Aku merasa seolah-olah ingin membelainya dan semacam itu. Rasanya saat ada anjing atau kucing yang tidur di pangkuanmu. Kau pasti akan mengelusnya, bukan?"
Eris tertawa mendengar analogi Nina yang menurutnya konyol. "Jadi, kau menganggap Ashnard adalah hewan peliharaan?"
"Bu-bukan seperti itu!" sanggah Nina kesal. "Duh, bagaimana menjelaskannya, ya? Intinya, aku merasa seperti aku menjadi sosok yang dibutuhkan olehnya."
Eris menjulurkan tangannya ke kepala Nina dan menepuknya. "Aku mengerti, kok."
"Menurutmu, apa yang harus kulakukan saat bertemu dengannya? Aku tak bisa menatap Ash setelah semua yang telah terjadi. Apakah aku harus bersikap normal seperti semua ini tidak terjadi? Tapi, bukankah itu justru membuatnya sakit hati? Ugh, aku tidak tahu! Aku bingung!" gumam Nina sendiri.
"Tunggu. Ashnard bilang dia menyukaimu, dan kau terlihat sangat jelas juga memiliki perasaan yang sama. Kenapa kau tidak mengatakan saja perasaanmu padanya, dan kemudian kalian resmi berpacaran?" ujar Eris.
"Tapi, Putri Elaina, Zanobel, gadis elf dan lainnya tidak mengungkapkan perasaan mereka. Pasangan laki-laki mereka yang justru mengungkapkannya dan seketika mereka sudah jadian. Seolah-olah mereka sudah tahu dengan perasaan para gadis, jadi tidak perlu menunggu para gadis menyatakan perasaannya," jelas Nina membela dirinya sendiri.
"Dasar, kau ini memang polos, ya. Itu kan hanya buku. Atau jangan bilang kau ingin Ashnard menjadi yang lebih dominan?" Eris tersenyum penuh kejahilan.
__ADS_1
Pipi merah dan ekspresi terkejut sudah memberikan jawaban untuk Eris. Dia benar-benar menikmati menjahili Nina. Sekarang, Eris merasa kalau dirinya lebih berkuasa daripada Nina yang sebelumnya tukang jahil. Eris tidak kecewa melihat Nina berubah dari yang sebelumnya adalah gadis jahil, penuh semangat, dan pemberani menjadi gadis polos, ceroboh dan konyol seperti para gadis di buku yang mereka baca. Eris justru merasa puas atas pencapaiannya ini.