The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Masalah Dalam Diri


__ADS_3

Sehabis memenangkan perlombaan dengan Eris, Nina melihat kepala Ashnard di balik kios-kios seberang. Merasa senang, Nina langsung segera menuju ke Ashnard. Namun, setelah dia melewati kios dan gerombolan orang-orang, dia menemui Ashnard tertawa bersama Abertha.


Ashnard sedang memapah Abertha. Mereka tertawa dengan bahagia selayaknya seseorang yang telah menemukan sesuatu yang berharga.


Jantung Nina langsung terasa seperti berhenti berdetak.


"Apa yang kalian lakukan?"


"Tidak perlu terkejut seperti itu. Ashnard hanya membantuku berdiri saja, kok," ucap Abertha yang tersenyum tenang lalu menghampiri Nina. Saat dekat, dia membuka sedikit kerahnya, memperlihatkan bagian atas dadanya yang memiliki bekas merah. "Oh, dan aku juga mendapatkan hadiah." Abertha kini tersenyum jahil.


Nina yang melihat bekas merah di dada Abertha, langsung menatap berang ke arah Ashnard. Wajahnya merah seperti panci yang mendidih. Ia mendekat Ashnard dengan cepat lalu menarik tangannya, membawanya ke suatu tempat.


Eris yang melihat itu menggelengkan kepalanya terhadap kelakuan Abertha yang berlebihan. Senyum itu pertanda dia sedang mengerjai Nina. Eris tahu bahwa sebenarnya tanda itu bukan Ashnard yang menyebabkan, tapi dirinya sendiri.


"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Eris, berdesah lelah.


"Melakukan apa? Aku cuman bilang mendapatkan hadiah, kan? Aku tidak bilang Ashnard yang memberiku bekas ini. Nina saja yang terlalu cepat mengambil kesimpulan," bantah Abertha.


"Tetap saja. Kau harus meminta maaf padanya karena membuatnya salah sangka."


"Ayolah. Apa kau tidak ingin melihat apa yang terjadi pada mereka berdua setelah ini? Mungkin pertarungan sengit?" Senyum dan tatapannya terlihat seperti rubah licik yang suka menipu orang.


"Tidak mau. Aku sudah capek. Nina terus mengalahkanku di setiap permainan." Bahu Eris roboh dan lengannya menjuntai seperti tak bertenaga.


"Sudah mau pulang? Itu berarti, waktunya memberiku hadiah!" seru Abertha senang.


Eris tersenyum pada Abertha yang bersemangat. "Sebentar saja."


"Tidak ada kata sebentar, kau ingat?"


Di luar plaza, Nina menarik Ashnard sampai ke jalanan. Waktu sudah terlalu malam bagi mereka. Tidak ada siapapun lagi yang dapat ditemukan di jalan, selain lampu jalan yang bersinar remang-remang.


Genggaman Nina di lengan Ashnard terasa sangat kuat, amarnya bisa dirasakan oleh Ashnard.


"Nina ...," panggil Ashnard pelan.


Nina awalnya mengabaikannya, lalu ia berhenti dan pegangannya melemas. "Aku tak menyangka kau melakukan itu," gumam Nina.

__ADS_1


"Melakukan apa? Aku hanya membantu Abertha yang kelelahan. Percayalah padaku!"


Nina tetap di menatap Ashnard, melainkan dia memunggunginya seolah tidak ingin mendengar ucapan Ashnard.


Ashnard menatap ke bawah Nina. "Kau bahkan tidak membawa hadiahmu satupun." Lalu, dia menghela nafas. "Kau harus menenangkan pikiranmu terlebih dulu. Jangan asal mengambil keputusan yang menyesatkanmu pada akhirnya."


Nina masih tidak merespon, tapi genggamannya masih di lengan Ashnard.


Ashnard yang mulai kesal, langsung meraih kedua bahu Nina, lalu memutar tubuh Nina agar menghadap ke arahnya. "Lihat aku! Aku bersungguh-sungguh tidak melakukan apapun. Aku bisa membuktikannya. Jika aku berbohong, kau boleh menamparku atau memukulku," tegas Ashnard.


Tiba-tiba, Nina melepaskan tangan Ashnard, lalu berbalik. Raut yang dia tunjukkan adalah datar.


"Begitu, kah? Kuharap kau berbohong. Dengan begitu, aku bisa melampiaskan amarahku padamu."


Ucapan Nina membuat Ashnard merinding. Dia tidak bisa membayangkan gadis seperti Nina menjadi seorang psikopat yang suka menyiksa orang lain.


"Aku akan memaafkanmu kali ini. Lagipula, tidak mungkin aku bisa memukulmu. Aku bukan orang kejam."


Ashnard merasa lega mendengarnya. "Kalau begitu, ayo kita kembali. Hadiah-hadiah yang kau dapatkan masih ketinggalan di sana."


Saat Ashnard berbalik dan berusaha pergi, Nina lagi-lagi menahan lengannya. "Tidak perlu. Aku masih menyimpan satu hadiah."


"Apa kau yakin?" tanya Ashnard ragu.


Nina mengangguk pelan, malu-malu seperti kucing. "Le-lebih baik digunakan da-daripada tidak sama sekali, bukan?"


Setelah itu, Nina menggandeng lengan Ashnard sampai tujuan, tanpa membicarakan satu pun. Kedua orang itu sama-sama merasa malu dan canggung untuk membahasnya. Sampai Nina sudah menyerahkan kupon itu ke pelayan dan mereka berdua berada di sebuah kamar dengan lampu-lampu remang-remang menggantung di langit dan dinding seperti kunang-kunang.


Hanya ada satu ranjang besar. Ashnard duduk di tepi ranjang tersebut. Nina duduk di sebelah Ashnard di tepi ranjang yang sama. Mereka hanya duduk, tidak berkata dan hanya memandangi bawah atau apapun selain seseorang di sebelah mereka.


"Jadi, kau benar bersungguh-sungguh, ya?" tutur Ashnard dengan tawa canggungnya.


"Mau bagaimana lagi. Ini semua gara-gara kau dan Abertha," jawab Nina melengos.


"Kalau aku tidak bersama Abertha, kau tidak akan berniat seperti ini?"


"Ti-tidak juga, entahlah! Aku tidak tahu apa maksudmu!?"

__ADS_1


Cara Nina berusaha berbohong dan mencari alasan hingga panik tersebut membuat Ashnard tertawa kecil saking lucunya.


"Oh iya, ada yang ingin kutanyakan padamu sejak awal." Ashnard tiba-tiba menjadi serius. "Saat kita bertarung waktu itu, apakah benar itu pertarungan penentuan ala Vantalion?"


Nina menyinggungkan senyumnya. Cepat atau lambat Ashnard tetap akan mengetahui bahwa sebenarnya pertarungan waktu itu bukanlah latihan melainkan pertarungan sungguhan. "Kau benar. Itu bukan latihan."


"Kenapa kau tidak memberitahuku saja? Jika aku tahu, mungkin kondisi pertarungan itu akan terasa berbeda."


"Maksudmu aku semakin tak bisa mengalahkanmu?"


"Bukan. Maksudku, aku bisa menanggapinya lebih serius karena itu adalah pertarungan sakral keluargamu. Aku seharusnya menghormati tradisimu dan tidak menganggapnya remeh," ungkap Ashnard.


"Mau aku memberitahumu atau tidak, apa bedanya? Toh, hasilnya akan sama saja. Aku pasti kalah darimu. Kau punya dua elemen, kau juga punya pedang sihir, sementara aku? Hanya Vantalion terlemah dalam sejarah."


Nina berusaha menahan perasaannya, tapi entah mengapa, dia tanpa sadar mengucapkan isi hatinya kepada Ashnard. Saat dia menyadarinya, dia merelakan ucapan itu keluar dari mulutnya dan terus bersikap seperti biasa, mengikuti arus.


"Aku iri padamu. Mungkin jika kau yang menjadi Vantalion, ayahku akan lebih bangga memilikimu daripada aku. Aku juga tidak perlu kuatir untuk dituntut menjadi standar tinggi Vantalion dan membawa bebannya di pundakku."


"Apa kau kecewa?" Pertanyaan Ashnard itu membuat Nina terdiam menatap mata sang lelaki.


"Entahlah," jawab Nina apa adanya.


"Apa kau memilih untuk kecewa atau tidak?" Lagi-lagi, pertanyaan Ashnard membuat Nina membeku sejenak dalam tatapan mata Ashnard yang begitu dalam. Seolah-olah pikirannya ditarik masuk ke dalam mata tersebut sehingga Nina tak bisa berpikir lancar.


"Aku ... tidak tahu perasaanku sendiri." Kepala Nina tergantung ke bawah, menatap tangannya yang bermain-main di pahanya.


"Kenapa bisa tidak tahu? Apa kau sedang tersesat dalam pencarian jati diri?" goda Ashnard.


"Bukan seperti itu bodoh!" Nina mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke atas, bersiap memukul Ashnard yang langsung menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Tapi, perlahan, Nina mengurungkan niatnya dan kembali termenung.


Di kamar dengan hiasan cantik dari lampu-lampu hias dan dekorasi bunga yang berwarna serta harum, pikiran Nina terjerembab ke dalam kegelapan, jauh dari cahaya hangat kamar mahal tersebut. Pikirannya melayang, luntang-lantung, seperti pengembara yang tersesat di gurun tanpa peradaban. Nina tak tahu harus kemana, tak tahu harus menjawab apa, tak tahu akan bagaimana perasaannya sendiri sekarang. Dia hanya tahu bahwa beban yang dipikul di bahunya itu sangat berat sekali hingga membuat tulang-tulangnya bergemuruh dan kakinya tenggelam ke tanah. Melangkah saja sudah sulit apalagi memikirkannya.


Pikiran Nina itu muncul atas dasar stres, ketakutan, dan traumanya dia. Berada di rumahnya sudah menjadi seperti ruang penyiksaan bagi Nina. Latihan yang ketat dan berat dilakukan setiap saat tanpa mempedulikan istirahat. Tubuh pasti memiliki batasnya. Jika tidak kelelahan, maka sakit. Meskipun Nina sakit, kulitnya pucat dan tubuhnya panas tinggi, tetap tidak ada kata libur untuk Nina.


Ayah Nina yang merupakan seorang pemimpin keluarga Vantalion membentuk dan mendisiplinkan Nina agar menjadi Vantalion yang sesungguhnya. Namun, karena kekuatan Nina yang terlalu lemah, tidak sesuai rata-rata kekuatan Vantalion pada umumnya, membuat ayahnya tertekan apakah bisa Vantalion menjadi keluarga yang sama saat dirinya sudah digantikan oleh Nina. Karena rasa takut akan masa depan seperti itu, Ayah Nina membuat latihan yang benar-benar berat bagi Nina kecil.


Nina saat itu berusia 12 tahun. Terlalu muda untuk memegang sebuah pedang normal untuk pria dewasa. Terlalu muda untuk dia diharuskan menguasai teknik berpedang. Dan terlalu muda untuk belajar ilmu api keluarga Vantalion.

__ADS_1


Nina yang setiap harinya hanya diisi latihan dan latihan saja, menjadi jarang keluar untuk bermain bersama anak-anak seumurannya. Hilangnya masa kanak-kanak yang polos, membuat Nina kecil menjadi pribadi yang sangat berbeda dari sebelumnya, dari anak-anak seusianya. Dia bukan lagi Nina, melainkan boneka ayahnya untuk mencapai tujuan utama keluarga Vantalion.


__ADS_2