
Eris menarik tirai hingga tertutup rapat. Di balik tirai tersebut, Eris membantu Nina untuk melepas gaun yang akan di beli selagi sang penjaga toko menghitung pembayaran dengan Ashnard.
Saat Eris menurunkan bagian pundak gaunnya, Nina bertanya, "Apa kalian sudah berteman?"
"Siapa?" Eris berpindah ke sisi kiri Nina, dan menurunkan bagian bahunya.
Nina berlanjut melepaskan lengan gaunnya dengan menarik lengannya hingga ke atas. "Kau dan Ashnard."
"Tidak," jawab Eris singkat. Ia lalu berdiri di depan Nina dan menatap matanya. "Daripada itu, Ashnard terus melihatmu. Kau harus hati-hati. Pakaian terbuka seperti itu bisa memancing hasrat laki-laki, apalagi gaun itu lebih ditujukan untuk acara formal."
"Aku rasa, Ashnard bukan orang yang seperti itu. Lagipula, gaun ini bukan untukku, tapi untuk Liliya. Kenapa kau berpikir aku yang akan memakainya?"
"Kau benar. Kalau begitu, aku harus memperingati Liliya nanti. Atau mungkin aku bisa meminta sang penjaga toko untuk meninggikan bagian dadanya," gumam Eris sebelum bahunya digoyang oleh Nina.
"Hei, jangan terlalu serius. Aku kan sudah bilang, saat ini kita sedang liburan, kau harus santai," ujar Nina.
Eris merengut, mengabaikan kata-kata Nina dengan melepaskan gaunnya dengan keras. Menimbulkan suara-suara aneh di balik tirai yang Ashnard tak ingin memikirkan apapun tentang itu.
Namun, suara terkejut Ashnard lebih menarik perhatian Nina dan Eris. Setelah berganti pakaian, kedua gadis itu menghampiri Ashnard dan bertanya, "Ada apa?"
"Aku lupa kalau aku tidak punya uang," ungkap Ashnard, wajahnya pucat dan kaku seperti mayat yang diberi kejutan.
"Memangnya harganya berapa? Biar aku saja yang bayar," tanya Nina.
"20 Merium emas."
"Oh, kalau begitu, kami saja yang bayar. Aku punya 10 dan Eris juga punya 10."
"Apa? Tidak mau! Uangku hanya sisa sedikit dan aku sudah mengaturnya untuk berbagai macam keperluan," tolak Eris. "Kalau kau tak punya uang, kenapa kau ingin membeli hadiah?" semprot Eris ke Ashnard.
"Tapi, demi Liliya-"
"Kalau kau memang ingin membelikannya, pikirkan terlebih dulu uangmu!"
Nina berusaha menenangkan amarah Eris yang meluap-luap. Meskipun, ia sudah memeluknya dan mengusap kepalanya, tapi gadis itu tetap memarahi Ashnard hingga teriakannya terdengar ke luar toko.
"Kalian mau memberikan gaun ini sebagai hadiah?" tanya sang penjaga toko itu. "Aku bisa memberikan gaun ini gratis pada kalian."
Ucapannya itu sontak mengejutkan semuanya dan membuat Eris terdiam dari emosinya. Mereka terkejut sekaligus bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba memberikan gaun secara gratis.
__ADS_1
Padahal, melihat kondisi toko yang sepi dan gaun yang berdebu, mendapatkan pelanggan adalah suatu kesempatan untuk mengubah. Uang yang didapatkan dari pelanggan bisa merenovasi toko atau memperbaiki mesin jahit agar tidak ada gaun yang rusak. Tapi, wanita itu dengan tulus dan tersenyum memutuskan untuk menggratiskan gaunnya.
Mungkin tidak sopan, tapi tentu saja tidak ada orang yang tidak tertartik dengan tawaran itu. Ashnard tidak perlu mencari uang. Eris dan Nina tidak perlu mengeluarkan uang mereka. Namun, mereka penasaran, apakah keputusan wanita itu tidak membuatnya rugi.
"Seperti yang kalian lihat, toko ini sudah tidak ada harapan lagi. Semenjak ada toko gaun baru di ujung sana yang lebih berkelas, tidak ada lagi yang datang ke sini. Kalian mau datang dan membeli gaunku saja sudah cukup membuatku sangat senang," ucapnya.
"Tapi, bukankah itu rugi?" tanya Ashnard.
"Aku sudah tidak memikirkan uang lagi, nak. Aku sempat berpikir ingin menjual toko atau membagikan gaunku secara cuma-cuma. Tapi, entah kenapa aku masih belum melakukannya. Aku tidak marah. Ini adalah persaingan bisnis, kan? Aku sudah tahu resikonya. Karena itu, aku ingin memberikan gaun ini pada kalian. Setidaknya aku ingin berbuat baik sebelum toko ini tutup."
Ini lebih sulit daripada yang Ashnard dan lainnya pikirkan. Mendengar cerita seperti itu, tentu saja membuat siapapun yang mendengarnya ikut bersedih. Jika Ashnard memiliki uang sekarang, ia sudah pasti akan membelinya dengan uang.
"Tetap kami tak bisa menerima ini, nyonya. Kami akan bayar," ucap Nina menyodorkan gaunnya ke sang pemilik toko.
Tapi, wanita itu justru mendorongnya kembali ke Nina. "Kalian memang sungguh anak yang baik, ya. Baiklah, begini saja, kalian boleh mengambil gaun itu tapi kalian harus membantuku terlebih dulu."
Ashnard dan Nina saling melempar pandangan, bertanya-tanya.
"Kalian tahu sejarah tentang kota ini, kan?"
Eris mendekat dan mengangguk. "Kota ini dibangun oleh salah satu pendiri akademi. Seorang wanita bernama Leashira. Ahli tanaman dan obat-obatan terkenal," jelas gadis yang suka membaca tersebut.
"Resep obat-obatannya yang sangat rahasia dan misterius. Dia tidak memberitahu resepnya pada siapapun, pasiennya, dokter lain serta para pendiri akademi lainnya. Bahkan sampai ia dikuburkan, masih belum ada yang berhasil menemukannya," jawab Eris sambil membenarkan kacamatanya.
"Tapi, tidak untuk keturunannya sendiri. Ada toko antik di kota ini, pemiliknya bernama Tuan Flo. Dia adalah keturunan Leashira dan dia tahu mengenai resep obatnya," bisik wanita itu.
"Darimana kau tahu kalau dia adalah keturunan Leashira?"
"Saat malam hari, aku pernah sekali menemukan pria tua itu sedang berbicara pada tanaman. Berkomunikasi dengan tanaman adalah salah satu kemampuan Leashira, kan?"
"Memang benar, sih."
"Jadi, kau mau kami mendatangi keturunan Leashira dan memintanya memberikan resep pengobatan untukmu?" tanya Ashnard memastikan. "Kalau boleh bertanya, memangnya untuk apa resep itu?"
"Aku akan melepaskan toko gaunku dan membuka klinik."
"Aku mengerti. Aku akan membantumu," ucap Ashnard tanpa berdiskusi terlebih dulu dengan Eris dan Nina.
Karena keputusan mendadak Ashnard, Eris memarahinya saat mereka berada di luar. Ia memang tertarik dengan apa yang dikatakan sang wanita penjaga toko, tapi bukan berarti Ashnard boleh langsung memutuskan tanpa memikirkannya terlebih dulu.
__ADS_1
"Tersebarnya suatu rahasia itu bukan menjadi hal yang baik, namun justru menimbulkan kekacauan. Harta karun disembunyikan bukan agar orang-orang dapat menemukannya, karena orang yang menyembunyikannya paham apa yang akan terjadi harta tersebut tidak disembunyikan. Kau mengerti?" tegur Eris sambil berjalan cepat mengejar Ashnard yang tergesa-gesa.
"Aku paham itu. Tapi, aku disini untuk mencari hadiah, bukan untuk melindungi harta karun," jawab Ashnard cuek.
"Tidak, kau tidak paham!" Eris meraih bahu Ashnard dan menariknya agar dia berhenti. "Tindakanmu ceroboh dan dapat mencelakai banyak orang. Kau mungkin tidak menyadarinya saat ini, tapi kelak kau akan dapat melihat dampak yang telah kau lakukan."
"Aku tidak melihat dampak buruk dari memberikan hadiah ulang tahun ke seseorang. Apa itu juga termasuk melanggar peraturan di matamu?" sergah Ashnard.
Nina segera berdiri di tengah mereka dan memisahkan mereka. Ia tak ingin terjadi pertengkaran di saat liburan yang di mana semua orang harus bersenang-senang.
Setelah Nina memberi waktu sebentar untuk Ashnard dan Eris menenangkan diri sambil berpikir dingin, ia lalu menjelaskan kalau apa yang Eris katakan benar soal harus memikirkan semuanya dengan matang, tapi tujuan Ashnard juga tidak salah.
"Ada banyak toko di kota ini, kenapa tidak mencari barang yang lain saja untuk hadiahnya?" tanya Eris.
"Gaun itu adalah pilihan yang terbaik. Lagipula, mau mencari barang lain sekalipun, aku tetap tak memiliki uang untuk membayarnya. Aku juga tak bisa meminta kalian yang membayarnya. Kau memerlukan uangmu, kan? Maka ini satu-satunya kesempatan kita agar tidak perlu keluar uang," jelas Ashnard.
"Dia benar, Eris. Kita harus fokus pada satu tujuan utama kita, kan?" Nina mengenggam tangan Eris, berusaha meyakinkannya.
"Kuharap aku tidak menyesali pilihan ini." Dengan kata lain, Eris pun setuju dengan keputusan Ashnard.
Mereka lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat yang sudah wanita penjaga toko beritahu. Sebuah toko antik yang dari papan namanya sudah terlihat sangat tua.
Pintu toko itu sendiri menimbulkan suara berdenyit saat Ashnard mendorongnya ke depan. Tampak sebuah barang-barang tua dan antik yang disusun di sejumlah rak. Toko itu tak ada cahayanya, memberikan mereka sedikit suasana seram bahkan di siang hari.
Ada banyak barang-barang antik yang berbentuk sangat aneh, bahkan cukup aneh untuk dibilang sebuah karya seni. Benda itu berbentuk seperti cabang pohon tapi hitam. Salah satu cabangnya tak sengaja membuat baju seragam Eris tercantol, sontak Eris berteriak ketakutan sambil memeluk Nina.
"Bukan apa-apa. Tidak perlu takut." Ashnard membantu melepaskan baju Eris yang tercantol.
"Ssh, tidak ada yang perlu kau takuti. Ibu disini," goda Nina sambil mengelus kepala Eris.
"Aku bukan anak kecil!" Eris yang cemberut mendorong Nina.
"Siapa disana?" Tiba-tiba, terdengar dari ujung lorong sebuab suara yang rapuh dan gemeretak seperti sejumlah gigi berkarat yang saling beradu.
Cahaya kecil melayang-layang di sebuah lorong pintu yang sangat gelap. Cahaya itu bergerak pelan di udara, pergerakannya alus seperti fenomena mistis yang umum, yaitu hantu.
Suara dan cahaya misterius itu membuat Eris kembali memeluk Nina, kali ini ia meremas pinggang Nina sangat erat dan membenamkan wajahnya pada dada Nina.
Lalu, perlahan cahaya itu bergerak ke arah mereka. Semakin membuat Eris memeluk Nina seperti ingin menekannya menjadi kecil. Karena terlalu takut, Eris tak menyadari bahwa pergerakan cahaya itu karena disebabkan oleh seorang pria tua yang memegangnya melalui media berupa lentera.
__ADS_1