
Ia berbalik menghadap Ashnard dan Reinhard. Tersenyum dengan lebar sebelum ia memperkenalkan dirinya.
"Namaku Gerlon. Umurku 16 tahun. Asalku dari Magnolia. Dan elemenku adalah angin. Salam kenal," ucapnya.
"Salam kenal," ucap Ashnard.
Gerlon lalu menunjuk dan melirik ke Reinhard. "Sekarang giliranmu. Tidak sopan rasanya dari awal kau sudah memarahiku tapi aku bahkan belum mengenal namamu. Itu bukan etika bangsawan yang benar, kan?"
Reinhard berdecak pada ucapan Gerlon yang ada benarnya. Sebagai putra keluarga Asberion, ia harus bersikap selayaknya Asberion. "Namaku Reinhard Asberion, umur 17, dan karena aku berasal dari Winfor, elemenku adalah angin."
"Asberion? Tak kusangka kau ternyata bangsawan terkenal," gumam Gerlon. "Kalau begitu, salam kenal, ya."
"Terserahlah."
"Bagaimana denganmu?" Gerlon beralih ke Ashnard. "Tampaknya kalian berdua sudah saling kenal satu sama lain. Dan kau juga sepertinya memiliki persiapan yang lebih dari kami." Gerlon menunjuk ke pedang Ashnard.
Ashnard mengusap belakang kepalanya sambil tertawa hambar. "Yah, kau benar. Omong-omong, aku Ashnard. Aku juga dari Winfor dan umurku masih 16-"
Dengusan Reinhard menyela perkenalan Ashnard. "Kau bahkan lebih muda dariku. Bersikaplah lebih hormat padaku."
Baru saja Ashnard mulai merasa tenang, Reinhard berhasil mengembalikan amarahnya lagi. Ashnard sungguh merasa ingin memukulnya jika terus-terusan seperti ini. Seolah-olah muka bangsawan sombong itu memang harus dipukul.
"Kau juga seharusnya bukan warga Winfor lagi, kan?" Reinhard masih melanjutkan.
"Tenanglah kalian berdua," ujar Gerlon berusaha menghentikan Reinhard. "Lalu, kau, Ashnard, apa elemenmu?"
Ashnard terdiam dan sedikit panik. Kenyataan bahwa dia memiliki dua elemen, membuatnya sulit memilih salah satunya. Ia juga tidak mungkin memberitahu keduanya kepada orang lain, karena jika iya melakukannya maka misinya gagal.
Ia ingin sebisa mungkin rahasianya tidak terbongkar. Ashnard pun melalui pikirannya mendiskusikan ini dengan Roc.
"Elemen apa yang harus kukatakan?" tanya Ashnard pada Roc.
"Hm ... bilang saja air," jawab Roc. "Karena elemen astral kan termasuk elemen yang langka, jadi tak mungkin rasanya kau memiliki elemen tersebut."
"Entah mengapa, rasanya menyakitkan saat kau bilang seperti itu."
"Mau bagaimana lagi. Lagipula, pada dasarnya elemenmu adalah air dan elemen astral adalah milikku."
"Tapi, kau sendiri yang memilih elemennya," kesal Ashnard. "Ya sudahlah, terima kasih."
Ashnard pun menghilang di Ruang Kosong.
__ADS_1
"Oh ya, elemenku air," jawab Ashnard dari pertanyaan Gerlon.
Gerlon menepuk tangannya setelah semua selesai memperkenalkan dirinya. "Bagus. Sekarang kita sudah semakin akrab. Kalau begitu, kita lanjutkan tugasnya."
"Tunggu, Gerlon. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan? Kita harus mencari tanaman misterius, tapi bagaimana?" tanya Ashnard.
Gerlon berbalik sekali lagi. "Kau ingat, Tuan Egon memberi kita petunjuk, kan? Dari sanalah kita akan mulai."
"Ya, katanya, perhatikan suara dan bintang. Tetap aku tak mengerti maksud petunjuknya." Ashnard yang sudah sangat berusaha berpikir, pada akhirnya menyerah dan menggeleng-geleng.
Gerlon yang mendengar Reinhard tertawa, menyahutnya, "Apa kau paham dengan teka-teki, Reinhard Asberion?"
"Tugas ini benar-benar konyol. Aku tak peduli dengan teka-tekimu itu. Aku juga tak ingin bekerja sama dengan kalian," balasnya dengan nada yang mengejek.
"Maaf, Reinhard Asberion, tapi bukan aku yang memberikan tugasmu. Aku juga ingin menyelesaikannya sendiri. Tapi, bagaimana lagi? Apa kau ingin nama Asberion tercoreng hanya karena kau tak ingin bekerja sama dengan kami?"
Gerlon menyipitkan matanya pada Reinhard. Kalimat yang keluar dari mulutnya itu membuat Reinhard terdiam tak memiliki pilihan. Saat itulah, senyuman tipisnya terlihat. Ia tersenyum seperti orang yang telah berhasil menang karena suatu triknya, tapi ia tak ingin orang lain melihat senyumannya agar triknya tak terbongkar.
"Bagaimana denganmu, Ashnard?" Gerlon beralih ke Ashnard.
"Aku juga tidak tahu hal semacam itu," jawab Ashnard.
"Sayang sekali. Tapi, tak apa. Karena kekurangan itulah, kita harus bekerja sama untuk saling melengkapi."
Gerlon juga paham dengan situasi panas yang terjadi antara Ashnard dan Reinhard, oleh karena itu ia berinisiatif yang banyak bicara sebagai mediasi di antara mereka. Karena jika dia tak melakukannya, mereka akan terus bertengkar.
"Tuan Egon bilang mencari tanaman misterius. Tapi, yang tidak kumengerti tanaman seperti apa yang dia maksud misterius. Di hutan ini ada banyak tanaman. Bisa saja maksudnya lumut, tanaman air, semak-semak, atau mungkin salah satu dari pohon ini," jelas Ashnard penuh keresahan.
"Karena itulah kita harus memecahkan petunjuknya," timpal Gerlon.
Mereka pun berhenti melangkah untuk memikirkan dua kata kunci tersebut. Bahkan, Reinhard yang awalnya enggan, mau tak mau juga ikut memikirkannya.
Reinhard merasa jika yang dikatakan Gerlon soal bekerja sama adalah benar. Nama dan harga dirinya dipertaruhkan di tugas yang dia sebut konyol ini. Alasan itu cukup untuk membuat Reinhard patuh dan ikut membantu. Akan tetapi, Reinhard tetap tidak merasa bahwa hubungan dengan mereka bertambah erat, apalagi dengan Ashnard.
Daripada ia menerima Ashnard, lebih baik menyelesaikan tugas konyol ini setiap hari.
"Bagaimana? Apa kalian mendapatkan sesuatu?" tanya Ashnard.
Reinhard tak menjawab. Ia hanya menggeram.
"Mungkinkah kata bintang di petunjuk tersebut merujuk pada bintang sesungguhnya yang ada di langit? Kalau benar, berarti kita harus menunggu malam untuk bisa memecahkannya," tebak Ashnard.
__ADS_1
Gerlon bertepuk tangan atas tebakan Ashnard. "Kau tidak salah."
"Astaga, ini akan memakan waktu lama," rengek Ashnard.
"Tapi, tidak mungkin hukuman seperti ini dilakukan dengan waktu yang sangat lama, kan? Menurutku itu terlalu berlebihan." Lelaki itu menyela dengan cepat. "Karena itu, aku berpikir jika bintang yang dimaksud juga berarti hal yang lain." Gerlon melemparkan pandangannya ke Reinhard. "Kau pasti tahu maksudku kan, Reinhard Asberion."
Reinhard mengesah. "Bintang juga bisa merujuk ke simbol akademi. Bintang perak bersudut empat yang ada di puncak gedung utama."
"Maksudmu kita harus ke sana dan melakukan sesuatu untuk bintang itu?" tanya Ashnard.
"Jangan bodoh, bodoh!" sergah Reinhard. "Apa kau mau hukuman kita ditambah gara-gara mengutak-atik simbol akademi?"
Di belakang Reinhard dan Ashnard yang saling melempari tatapan kebencian, Gerlon berusaha tuk larut dalam pikirannya. Ia beringsut perlahan sembari fokus, tapi perhatiannya berpindah saat ia mendongak ke atas.
Lembah akademi memiliki empat bangunan utama di dinding jurang. Saat Gerlon melihat salah satu bangunan putih dengan ornamen cantik dan berkilauan seperti mutiara itu, ia tersadar.
Pikirannya yang awalnya kusut seperti benang tiba-tiba menjadi lurus dan rapi ketika ia berhasil menemukan ujungnya.
Empat bangunan di sekeliling bangunan tengah, berada di empat sudut yang membentuk seperti empat arah mata angin. Dan jika saling disambungkan, juga akan membentuk simbol bintang empat sudut. Gerlon berpikir jika bintang yang dimaksud bukan bintang malam atau bintang perak, tapi bangunan-bangunan yang membentuk sudut bintang.
"Kau pintar juga," puji Ashnard setelah mendengar penjelasan Gerlon. "Lalu, apa? Aku masih tak tahu harus mulai mencarinya dimana?"
"Bagaimana jika kita menyelidiki langsung ke salah satu bangunan tersebut?" tawar Gerlon.
"Yang benar saja! Kau akan memperburuk hukuman kita?" bantah Reinhard. "Bagaimana jika ada orang lain yang menemukan kita?"
Gerlon tersenyum tenang seolah sudah mempersiapkan semuanya. "Tenanglah. Tuan Egon bilang orang-orang sedang berkumpul di bangunan tengah, kan. Kita tidak akan ketahuan. Lagipula, aku tidak ingat ada peraturan untuk tak boleh diketahui orang lain."
"Ya, dia benar." Ashnard mengangguk setuju.
"Itu bukan tentang ada atau tidaknya peraturan. Ini tentang harga diriku sebagai Asberion. Jika ada orang lain yang menemukan bahwa putra Asberion terlambat dan menjalani hukuman, namaku akan tercoreng," jelas Reinhard.
"Aku mengerti. Percaya padaku, itu tidak akan terjadi," jawab Gerlon tersenyum. "Lagipula, jika kesempatan ini berhasil, maka kau bisa dengan cepat lterbebas dari hukuman, kan? Tak ada salahnya mencoba."
Ashnard tampak setuju, berbeda dengan Reinhard yang mengkhawatirkan dirinya sendiri. Tapi, jika pilihan kali ini bisa memperbaiki namanya, maka ia tidak akan ragu.
"Awas saja jika terjadi apa-apa."
Mereka pun menuju ke sebagai jalan mendaki di dinding jurang yang mengarahkan mereka ke salah satu bangunan di bagian barat.
Selama perjalanan, Ashnard menggurutu kenapa bangunannya di bangun di dinding jurang dan di bangun sangat tinggi dari permukaan. Tidak ada yang suka hal yang repot. Jalan menuju ke bangunannya saja sudah sangat melelahkan. Apalagi jika melewati jembatan gantung yang terlihat sangat berbahaya seperti itu.
__ADS_1
Saat hampir sampai di bangunan itu, Ashnard melihat sungai dan dua patung yang sebelumnya ia lewati. Di tempat itulah ia berpisah dengan Nous.
Ashnard menyadari bahwa meskipun sudah mencapai akademi, tapi untuk masuknya tidaklah semudah yang ia bayangkan. Meskipun begitu, Ashnard berusahan untuk tidak menyia-nyiakan semua perjuangan orang-orang yang telah membantunya.