The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Kartu As Haidon


__ADS_3

Ashnard yang semangatnya sudah kembali, melompati Roc lalu menerjang minion tersebut. Dia menggunakan tubuhnya sendiri untuk mendorong minion itu hingga tersungkur ke tanah. Lalu, Ashnard menatapnya dalam-dalam. Dia menatapnya seolah tak ingin melepaskan pandangan darinya sama sekali, karena jika dia tidak melihatnya minion tersebut akan mengunggulinya seperti sebelumnya.


"Sudah berakhir. Aku melihatmu," ujar Ashnard yang mengarahkan ujung pedangnya di atas dada minion itu. Jika bergerak sedikitpun dan melakukan perlawanan, Ashnard tidak akan segan untuk membenamkannya dalam-dalam.


Melihat mata Ashnard yang terpasang hanya padanya, minion itu tahu bahwa Ashnard tidak akan berkedip atau teralihkan sedikitpun dari dirinya. Dia lalu melepaskan genggaman pedang di tangannya dan berkata dengan nada pasrah, "Baiklah. Aku menyerah. Kau yang menang."


Dalam hati Ashnard, ia merasa lega. Dengan masih mengarahkan pedangnya, Ashnard lalu menendang pedang minion tersebut jauh-jauh agar tidak digunakan untuk menusuknya dari belakang.


"Kau sangat hati-hati sekali, ya," ucap minion dengan nada mengejek.


"Diamlah, atau kau akan kubunuh sekarang juga," ancam Ashnard.


"Kenapa tidak sekarang? Kau bisa membunuhku tanpa mengancamku terlebih dulu. Kau yang menang, bocah. Pemenang bebas melakukan apapun yang dikehendakinya. Atau jangan bilang, kau mengampuniku?"


"Tidak!" Ashnard menarik kerah jubah minion itu ke dekatnya, lalu berbisik, "Aku ingin kau melakukan sesuatu."


Minion itu awalnya terkejut, tapi dia tidak merasakan niat jahat dari Ashnard. Dia pun mencoba untuk diam dan mendengarkan terlebih dulu.


"Aku ingin kau membawa Roc pergi dari sini. Aku akan menghadapi Haidon. Pertarungan di sini akan sangat berbahaya. Maka dari itu, kau harus membawanya pergi dan jaga dia sampai semua ini selesai."


"Apa kau sungguh menyuruhku pergi karena ingin menghabisi tuanku?"


"Lakukanlah! Bukankah Haidon juga menginginkan Roc selamat? Kau harus menuntaskan keinginan Haidon, atasanmu!"


Minion itu tak ada komentar lebih lanjut lagi. Ia terdiam sesaat, lalu mengangguk. Setelah itu dia menuruti perintah atau bisa dibilang keinginan Ashnard. Segera setelah Ashnard melepaskannya, minion itu langsung terbang ke arah Roc dan pergi keluar dari menara.


Roc yang tiba-tiba ditarik keluar, bingung sekaligus terkejut. Dia melihat ke arah Ashnard yang tertinggal di arena dengan tatapan yang mengatakan seolah dia akan bertemu kembali dengannya. Dia langsung tahu bahwa ini adalah rencana Ashnard. Meskipun Roc memberontak karena meminta penjelasan dari Ashnard, minion yang membawanya tak mengizinkannya untuk kembali sama sekali.


Sekarang, Ashnard tak perlu mengkhawatirkan temannya lagi. Roc sudah jauh dari sini, di tempat yang aman dan dalam penjagaan minion. Dia tidak perlu ikug terkena dampak dari pertarungan ini. Dengan begitu, Ashnard bisa bernafas lega dan bertarung dengan fokus. Ini pilihan terbaik yang bisa Ashnard pikirkan.

__ADS_1


Ashnard berbalik dan menuju ke sisi Alfeus, dimana di hadapan mereka, Haidon tertawa kecil. Tawanya perlahan semakin lebar namun mengarah ke gila. Ada juga sedikit kesedihan yang dapat Ashnard rasakan. Kesedihan yang berasal dari hati seorang anak yang telah diperlakukan dengan kejam oleh ibunya.


"Kalian semua naif!" katanya sedikit membentak. "Kalian hidup dalam kekangan perintah dan kekuatan, tapi kalian tersenyum dan bergembira seolah menganggap itu kebebasan. Kalian terlalu tenggelam dalam kebahagiaan dan cinta palsu sehingga kalian lupa apa yang wanita itu telah renggut dari kalian. Teman-temanmu dan adikmu, Alfeus. Apa kau lupa siapa yang telah mengambil mereka darimu? Kau itu korban! Atau jangan-jangan kau bersimpati dan menyayangi orang yang menyakitimu? Kau buta pada cinta dan nafsu, tuan ksatria."


"Hentikan, Haidon." Hatinya dipenuhi amarah, dan dia berusaha menahan tangannya yang gemetaran. Meskipun, ia kesal dan marah hingga tangannya yang memegang pedang ingin bergerak sendiri untuk menebas Haidon, tapi ia bersikap dingin dan tenang. "Kau sadar yang kau bicarakan itu Ibumu?"


"Tidak ada orang tua yang mengekang anaknya, hanya ada wanita yang tak memiliki hati. Keinginan anaknya saja tidak bisa dia kabulkan, lantas bagaimana keinginan seluruh makhluk hidup di dunia kehidupan dan kematian?"


"Erida melakukannya karena dia menyayangimu. Dia tahu mana yang terbaik untukmu. Dia juga berharap kau bisa kembali lagi ke sisinya."


"Erida? Cih, sudah sejauh itu hubungan kalian," gumam Haidon kesal. "Aku tidak peduli dengan kasih sayang palsunya. Meskipun kalian sudah saling mencintai satu sama lain, tapi aku tidak akan pernah menganggapmu ayahku. Itu menggelikan."


"Aku memang tidak berencana menjadi ayah untuk anak nakal sepertimu."


Sementara Alfeus dan Haidon masih saling saut menyaut, Ashnard justru merasa terkejut. Ashnard merasakam bahwa sebenarnya ada perasaan kedekatan antara Alfeus dan Haidon. Meskipun, dia tahu bahwa Alfeus memiliki hubungan yang lebih intim dengan Dewi Kematian dan Haidon membenci Dewi Kematian serta Alfeus, tapi ini seperti pertengkaran keluarga biasa daripada masalah yang lebih serius. Karena itu, Ashnard jadi berpikir jika sebenarnya Alfeus dan Haidon sebenarnya sudah dekat sejak lama.


"Menurutku, kalian cocok sebagai Ayah dan anak," potong Ashnard.


"Sudah cukup aku punya Ibu yang bodoh, aku tak ingin menambah satu orang bodoh lagi," lanjut Haidon.


"Kau sendiri juga bodoh. Melawan entitas kuno hanya karena mimpinya tak dikabulkan itu sudah sangat bodoh. Kau sama saja dengan melawan seluruh kahyangan, tahu?" ucap Alfeus mengingatkan Haidon.


"Mau itu kau, dewa-dewi hingga seluruh alam semesta sekalipun, tetap akan kulawan. Mimpiku adalah mutlak. Segala sesuatu yang menghalangiku akan kumusnahkan."


"Jangan bercanda. Dengan apa kau akan melakukannya?"


Tepat bersamaan dengan ucapan Alfeus, menara tiba-tiba bergetar hebat. Dinding-dinding berguncang serasa sebuah pilar yang akan rubuh. Haidon tersenyum bukan karena dia tidak peduli dengan menaranya akan hancur atau bagaimana, tapi menara ini adalah rencananya. "Akhirnya sudah tiba! Kebebasanku akan tercapai!"


Dari salah satu pintu di menara yang bergetar, sesuatu muncul dengan menghancurkan, lalu mendarat di tengah-tengah arena. Setelah debu perlahan memudar, mengungkapkan sebuah objek seukuran Haidon. Sebuah benda seperti salib terbalik. Diseluruh batang salib terpasang Mata Penuntun yang tampak seperti memiliki mata sungguhan.

__ADS_1


Turunnya benda asing itu seperti sebuah karunia mengejutkan dari atas langit. Tapi, tampaknya Haidon memiliki rencana pada benda tersebut.


"Dari ucapanmu, apa benda itu milikmu? Benda apa itu sebenarnya?" tanya Alfeus.


"Benda ini? Hanya sesuatu hadiah kecil untuk mewujudkan mimpiku."


Haidon berdiri di depan salib tersebut. Seketika, mata di salib itu menyala biru terang. Muncul dari sisi salib seperti sayap dan duri yang panjang. Ada dua sayap metalik masing-masing di kiri dan kanan. Serta ada dua duri panjang juga di kiri dan kanan seperti sebuah tombak. Bersamaan dengan pudarnya cahaya itu, salib tersebut membuka bagian tengahnya seperti pintu sehingga bagian belakang Haidon masuk setengahnya. Haidon dan salib itu berakhir menyatu menjadi sebuah bentuk yang luar biasa kuat.


Aura kuat menguar di udara sekeliling Ashnard, dan seketika membuat tekadnya ciut saat melihat bentuk perubahan Haidon.


Haidon menjadi lebih besar dari sebelumnya. Salib menjadi seperti jubah yang menyatu dengan tubuhnya. Melapisi seluruh tubuhnya dengan mata-mata yang melihat segalanya. Empat sayap dan empat duri, seperti simbolisasi dari empat poros kekuatan di dunia.


"Apa yang sebenarnya kau lakukan, Haidon?" geram Alfeus.


Inilah rencana sebenarnya dari Haidon yang mengumpulkan 26 Mata Penuntun. Salah satu mata tersebut adalah yang dicuri dari tangan Ashnard. Lalu, selama pertarungan, Haidon menugaskan para anak buahnya untuk memulai proses pengaktifan kekuatan tersebut. Sebuah salib yang dipasangkan dengan mata segala tahu menjadi kartu as utama Haidon untuk mengubah aturan dunia.


Mengumpulkan Mata Penuntun itu berarti mengumpulkan pecahan kekuatan dari Dewi Kematian. Mata Penuntun adalah bagian dari penjaga, makhluk tak berakal yang diciptakan oleh Dewi Kematian. Mengumpulkan lalu menggabungkan dengan dirinya adalah tujuan Haidon untuk membentuk sebuah kehidupan baru. Bisa dibilang menggabungkan semua ciptaan Dewi Kematian menjadi satu entitas utuh yang baru, yaitu Haidon yang saat ini melayang di atas Alfeus dan Ashnard.


Kekuatan semua ciptaan Dewi Kematian yang digabungkan maka akan mencapai kekuatan setara Dewi Kematian. Dengan kekuatan ini, mengalahkan Dewi Kematian bukanlah tantangan berat bagi Haidon.


Ditambah dengan adanya sayap yang mengepak lebar tersebut, membuat Haidon lebih terlihat seperti malaikat bertubuh kerangka. Gabungan dari kehidupan dan kematian.


"Ashnard, aku tidak yakin aku bisa menghadapinya," bisik Alfeus, menyadarkan Ashnard yang membeku karena kekuatan Haidon.


"Apa?"


"Kau lihat sendiri, kan? Kau juga pasti bisa merasakannya. Kekuatannya jauh melampauiku. Aku tidak mengerti bagaimana bisa, tapi mustahil membayangkan aku bisa menang melawannya. Karena itu, pergilah dari sini, Ashnard. Aku ... aku akan menahannya selama mungkin. Aku juga akan mencari cara untuk menghentikannya. Kau mengerti, nak?"


Melihat Alfeus seputus asa itu, juga menurunkan semangat Ashnard. Dia merasa semakin takut dan ciut sekarang. Jika Alfeus sendiri tidak yakin, apalagi dirinya sendiri. Pilihan bijak dan masuk akal untuk memilih kabur dari sini dan melupakan segalanya. Namun, Ashnard berkata lain.

__ADS_1


"Aku tetap bertarung. Aku belum kehilangan semangat. Meskipun sekecil apapun, masih ada harapan. Aku akan tetap disini."


Mendengar jawaban langsung dari Ashnard yang masih menghunuskan pedangnya, Alfeus hanya bisa tersenyum. "Pilihan bodoh."


__ADS_2