The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Penyelidikan


__ADS_3

Setelah penuduhan tersebut selesai, keluarga Raegulus kembali tenang. Masalah perlahan selesai dengan sendirinya. Ini semua berkat bantuan para Penjaga Angin.


Ashnard dan ibunya juga telah memikirkan soal akademi, demi masa depan Ashnard. Dan Ashnard memilih untuk melepaskan pilihan akademinya. Ia lebih memilih mengikuti mimpinya untuk berpetualang.


Ashnard di halaman belakang rumahnya, berlatih dengan pedang barunya. Ia mengayunkannya berulang kali di udara.


Edda datang dan melihat Ashnard di belakang. Di matanya, ia melihat Ashnard seperti melihat mendiang suaminya, Ebert. Banyak kesamaan yang diturunkan ke Ashnard.


Ashnard dan Ebert adalah sosok yang pekerja keras. Mereka akan melakukan dengan sungguh-sungguh ketika telah meyakini sesuatu. Berusaha keras untuk mewujudkan mimpinya, dimana Ebert ingin menciptakan dunia yang penuh keadilan, sementara mimpi Ashnard yaitu berpetualang mengelilingi dunia.


Ebert juga mengalami hal yang sama seperti Ashnard. Ketika sedang mewujudkan mimpinya tersebut, ia harus dipanggil raja karena perjuangannya yang dianggap berlebihan dan merugikan sebagian orang.


Edda selalu merindukannya saat memikirkan kenangan tersebut. Edda hanya berharap Ashnard tidak mengambil jalan yang salah dan sendirian seperti ayahnya.


"Ash, waktunya istirahat. Ada makanan dan minuman di meja," panggil Edda.


"Siap, bu."


Di meja makan, Ashnard masih memikirkan persoalan kemarin sembari mengunyah roti menteganya. Ia berpikir jika ia harus memberi tahu ibunya tentang semuanya. Tak ada alasan lagi untuk menyembunyikan.


Ashnard pun memberitahu ibunya secara lengkap dan jelas. Tentang dua elemennya, tentang keterlibatannya pada pertempuran para Empat Angin melawan kegelapan, dan upaya untuk menyelamatkan Nous serta menyegel kembali kegelapan. Ia juga menjelaskan tentang bagaimana ia menemukan pedang barunya dan bagaimana Pedang Nebulius hancur.


Ia menjelaskan kepada ibunya, bagaimana ia selalu terluka, kesakitan, tak sadarkan diri dan nyaris mati selama melakukan semua itu.


Tak ada yang bisa Edda katakan selain takut. Ia takut jika Ashnard akan bernasib sama seperti Ebert.


"Ash, Ibu tahu kau sangat menyukai petualangan. Tapi, terkadang tidak semua impian bisa terwujud. Suatu saat, kau harus tahu kapan waktunya menyerah dan kapan waktunya tidak. Ibu hanya ingin ...."


"Ibu takut jika aku berakhir seperti ayah, kan?" Ashnard memotong ucapan ibunya.


"Ibu hanya tak ingin kehilanganmu, Ash. Kau masih kecil, kau terlalu sering menghadapi bahaya daripada anak seusiamu. Itu tidak baik."


"Aku hanya ingin membantu," sergah Ashnard.


"Ibu tahu. Tapi ... sebaiknya pikirkan kembali soal akademi itu. Ibu ingin kau memilih masa depan yang lebih baik," pungkas Edda meninggalkan Ashnard di meja makan.


Semua perkataan ibunya itu, cukup untuk membuat bibir Ashnard mengerucut. Masa depan yang baik, tentu saja masa depan yang dia inginkan, bukan karena orang lain atau karena paksaan.


Ashnard membanting pintu kamarnya cukup keras dan membaringkan tubunya di kasur. Kembali pikirannya dibuat sibuk.


"Mungkin tak ada salahnya aku masuk ke akademi, Liliya juga berkata akan masuk ke sana, kan?" gumamnya pada langit-langit kamarnya.


Ashnard menoleh ke kanan dan melihat pedangnya yang disandarkan pada dinding di sebelah kasurnya.


Ia tersentak, "Ah, iya, aku baru ingat."


Daripada memikirkan hal yang membuatnya bingung, Ashnard memutuskan untuk pergi. Ia mengambil pedangnya dan langsung ke luar rumah.

__ADS_1


Saat di celah dinding kota, ia teringat dengan Liliya. Ia awalnya berniat untuk mengajak Liliya, tapi karena sikap Liliya yang aneh sejak waktu itu, Ashnard mengurungkannya.


Seperti yang Nous katakan kemarin, Ashnard mendatangi Hutan Hitam yang sudah tidak terlihat seperti hutan lagi. Cekungan reruntuhan masih terbentang luas di dekat jurang. Kini, tanpa puing-puing bebatuan.


Dari permukaan ke dasar cekungan cukup tinggi. Ashnard mencari cara untuk turun tanpa terluka. Ia melihat sejumlah lubang dan pijakan di dinding cekungan. Ia lalu menggunakannya untuk turun ke bawah.


Ashnard mengedar ke sekeliling, tapi tak menemukan Nous atau siapapun. Ia pun terus berjalan menuju bukaan yang terhubung ke jurang. Tepat di belokan, ia bertemu dengan Nous dan Reibo tampak sibuk memeriksa tanah di dasar jurang tersebut.


"Hei, maaf aku tak segera datang ke sini," sapa Ashnard.


"Tidak masalah. Omong-omong dimana Liliya? Kau tak bersamanya?" tanya Reibo.


"Aku tidak mengajaknya. Dimana Sefenfor dan Zefiria?" Ashnard berbalik bertanya.


"Kami juga tidak mengajak mereka," jawab Reibo menirukan jawaban Ashnard.


"Kemarilah. Lihat ini." Nous memanggil Ashnard ke dekatnya.


Pria bertudung itu ingin menunjukkan sesuatu. Di tanah yang sedang dia dan Reibo amati, tampak seperti jejak yang sama dengan jejak yang Zefiria temukan di dekat desa. Jejak tersebut memanjang dari ujung jurang ke ujung lainnya.


"Ini jejak seret, kan? Jadi, jejak tersebut juga ditemukan disini rupanya," tutur Ashnard.


"Ya. Jejak Raivolka menyeret sesuatu atau seseorang."


"Mungkinkah kita bisa mendapatkan sesuatu jika mengikuti salah satu hingga ujungnya?" tanya Ashnard.


"Mungkin."


"Jadi, dari sana awalannya?"


Reibo mengiyakan.


"Tersisa satu jejak. Kurasa itulah garis akhirnya," tebak Nous.


Kemudian, Ashnard, Nous dan Reibo pun mengikuti jejak yang mengarah ke bagian timur jurang.


Perjalanan berlangsung cukup lama karena panjang jurangnya. Sepanjang jalan, dinding jurang yang tinggi mengisi kedua sisi seolah terasa akan menjepit mereka. Burung-burung pemangsa berwarna hitam bertengger di atas jurang, menatap Ashnard dan yang lainnya.


Jejaknya masih terus ada dan memanjang hingga ujung jurang pun terlihat. Dinding jurang semakin membuka ke samping, dan tampak sebuah kolam. Di ujung kolam itu mengalir sebuah sungai yang terus menuju ke timur.


"Hanya sungai?" heran Ashnard.


"Tidak. Aku tahu sungai ini. Ini salah satu anak sungai yang berkumpul di Evernia," jawab Nous.


"Akademi Evernia?"


"Ya. Akademi Evernia berdiri di tengah-tengah tempat berkumpulnya empat sungai yang tersembunyi di antara jurang. Jika kita terus mengarah ke sana, maka kau akan sampai di Evernia."

__ADS_1


"Jadi, apa maksudnya semua ini?"


Reibo menyeringai, janggutnya ikut terangkat.


Ashnard yang kesal memukul perut Reibo. "Jangan senyum melulu. Jawab saja pertanyaanku, dasar janggut aneh."


"Hei, kenapa aku dipanggil janggut aneh?" Reibo meraba janggutnya secara lembut.


"Ya, karena itu terlihat aneh. Kau belum pernah berkaca?"


"Aku hanya berkaca pada kapakku saja," Reibo tertawa berat. Pundaknya naik turun saat ia tertawa.


Sekelebat ingatan menyambar kepala Ashnard seperti petir. "Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian."


Reibo dan Nous bertanya-tanya.


"Saat aku turun ke jurang dan mencari pedangnya. Aku melihat seseorang yang berjalan di lumpur hitam lalu melompat ke atas dan pergi."


"Siapa?"


"Aku tidak tahu. Dia memakai zirah perak lengkap hingga menutupi wajahnya. Oh, dan juga ada simbol bintang di dadanya."


"Ordo Ksatria. Simbol bintang adalah milik Ordo Ksatria," jawab Nous.


Reibo merengut heran. "Apa yang Ordo Ksatria lakukan disini? Dan seharusnya mereka tidak bisa berjalan di Jurang Kegelapan begitu saja."


Semua pertanyaan di kepala mereka tak terjawab sama sekali. Kegelapan yang tiba-tiba menghilang, jejak yang mengarah ke sungai Evernia, seorang dari Ordo Ksatria yang Ashnard temukan. Semua itu tampak kebetulan yang sangat aneh.


"Aku rasa ini saling terkait. Evernia adalah akademi elemental yang didirikan oleh 3 negara besar. Ordo Ksatria Asteria, Kerajaan Rabalm, dan Kerajaan Agung Gundolium. Di antara ketiganya, Ordo Ksatria lah yang berperan besar dalam pengembangan akademi. Dan juga letak negaranya tak jauh dari arah yang kita tuju ini," jelas Nous.


"Tapi, untuk apa Ordo Ksatria dan akademi mengutus orang ke Jurang Kegelapan?"


"Itulah yang jadi pertanyaannya."


"Pusing!" Ashnard berteriak, membuat para burung pemangsa terbang ketakutan. "Aku tidak mengerti. Kenapa jadi tambah rumit?"


"Sebaiknya kita pulang terlebih dahulu. Kita bahas ini lagi saat yang lainnya berkumpul," saran Nous.


Kepala Ashnard penat, bukan karena elemen kegelapan, tapi karena rentetan pertanyaan yang terus memenuhi otaknya yang kecil. Kapasitas penyimpanannya tidak mencukupi, anak itu butuh hiburan, butuh istirahat.


Di jalan menuju Hutan Hitam, Reibo melingkarkan tangannya pada leher Ashnard yang semakin membuat anak itu menderita. Janggut tebal nan panjangnya menampar-nampar wajah Ashnard. Memberikan rasa gatal dan bau seperti tidak dibersihkan selama ratusan tahun. Ashnard hanya bisa pasrah karena ia tak bisa menyingkir dari tangan Reibo yang terlalu berat.


"Ashnard, sebenarnya ... aku mengundangmu ke sini bukan karena semua kerumitan ini. Tapi, soal bilah pedangmu," kata Nous.


Sejenak, Ashnard merasa cukup dan tak ingin mendengar apapun lagi hari ini, tapi ia berubah pikiran. "Tentang pedangku?"


Reibo lalu menyerahkan sebuah buku tua pada Ashnard. Sampulnya sudah lecet dan kotor.

__ADS_1


"Buku apa ini?"


"Bilah pedangmu ternyata bukan sembarang bilah saja. Itu sesuatu yang lebih besar lagi. Bersiaplah, nak, karena otak kecilmu akan semakin menderita," ejek Reibo, disusul tertawa beratnya.


__ADS_2