
Pria penjaga kios memberikan sebuah busur dengan 5 anak panah, 5 kesempatan. Nina meletakkan busurnya di ujung lengannya lalu menarik anak panahnya jauh ke belakang. Saat itu, Nina membusungkan dadanya yang membuatnya terlihat semakin besar, ditambah menghadap ke arah Ashnard. Itu seperti Nina menyodorkan langsung dadanya pada Ashnard.
Ashnard terperangah karena benda itu sudah cukup besar, bulat dan pas sebelumnya, tapi saat dibusungkan itu tampak seperti bulan yang mendekat ke arahnya. Ashnard hanya bisa memandangi saja, sementara Nina fokus ke arah targetnya. Tidak hanya Ashnard saja yang tertarik dengan pemandangan itu, tapi pria penjaga kios dan pengunjung lainnya menunjukkan tatapan mereka pada satu objek.
Ashnard yang menyadarinya merasa tidak nyaman karena Nina hanya miliknya dan tidak boleh ada siapapun yang memiliki atau melihatnya. Ashnard lalu memutuskan untuk menempelkan tubuhnya pada Nina, berlagak seolah sedang membantunya mengatur busurnya, namun sebenarnya hanya ingin melindungi Nina dari tatapan orang mesum. Kenyataan yang bisa dia dapatkan, adalah kedua benda itu menempel di tubuhnya. Ashnard bisa merasakan secara langsung betapa lembut dan kenyal hanya dengan sentuhan seperti itu saja.
Panah tepat mengenai sasaran. Raut bangga timbul di wajah Nina seketika. Tubuh Ashnard yang menempel padanya, langsung dipeluk oleh Nina karena mengira Ashnard sudah membantunya.
Ashnard tertawa malu karena bukan itu sebenarnya niatnya. Apalagi pikirannya sekarang mengarah ke lainnya.
Nina melancarkan anak panah berikutnya. Tapi, kali ini tidak ada bantuan Ashnard, yang berarti Nina melakukannya dengan sendirinya. Nina membuktikan kemampuannya.
Walaupun masih mencolok, Ashnard tidak langsung menempelkan tubuhnya seperti sebelumnya. Tapi, dia berdiri di belakang Nina agar penonton tidak bisa melihatnya. Sementara Ashnard sendiri bisa melihat dengan jelas dari atas, ditambah saat Nina menarik panah, bisa terlihat lebih lebar bagian atasnya serta celahnya.
Tiga panah mengenai sasaran. Panah keempat kemudian kelima semuanya tepat menancap titik merah di tengah lingkaran.
"Aku mau itu!" tunjuk Nina dengan semangat.
"Selamat! Ini hadiahnya, nona." Pria itu menyerahkan sebuah kertas kupon persegi panjang pada Nina.
Nina terkejut saat melihat kertas kupon itu di tangannya. Ashnard juga ikut terkejut. "Ini bukan kupon makanan?" heran Nina, matanya terbelalak dan pipinya memerah.
"Tidak ada kupon makanan. Itu kupon untuk menyewa kamar penginapan."
Nina menengok ke arah Ashnard. Mata mereka bertemu, tapi langsung buru-buru dialihkan. Kedua wajah sejoli itu merah seperti apel. Membayangkan apa yang terjadi pada diri mereka saat memegang kupon itu.
"A-aku rasa kita cari Eris dulu," ucap Nina mengalihkan kecanggungan. Ashnard langsung menyetujuinya.
Meskipun kupon itu bukan yang dia inginkan, tapi diam-diam, dia memasukkan kupon tersebut dalam tas kecilnya. Nina dan Ashnard lalu beranjak untuk mencari Eris sambil berusaha membuang pikiran mereka yang memalukan.
Mereka akhirnya menemukan Eris dan Abertha yang sedang bermain permainan kartu. Kemudian, setelah berkumpul kembali mereka semua berkeliling dan bermain dengan puas. Menenangkan hadiah, menerima kekalahan, saling menyombongkan diri juga saling menjelekkan.
Sampai mereka lelah, akhirnya mereka beristirahat sambil memesan hidangan camilan khas festival.
"Seru sekali!" ucap Nina semangat dengan makanan yang masih ada di mulutnya. "Aku dapat banyak hadiah."
Nina mengeluarkan tiga buah boneka: satu boneka beruang berukuran besar, boneka sejumlah buah dalam satu ranting berukuran kecil, dan boneka ular yang dipilih oleh Ashnard. Tidak hanya itu saja, dia juga mendapatkan sejumlah pakaian, gelang dan kalung, serta hiasan-hiasan cantik untuk dekorasi ruangan.
__ADS_1
"Banyak juga punyamu," tutur Abertha menggeleng-geleng kepalanya saat melihat hadiah-hadiah Nina di letakkan di meja.
"Buat apa juga dapat banyak hadiah? Memangnya kau bisa membawa semuanya?" tanya Eris bernada ketus.
Nina tahu bahwa Eris hanya iri saja karena dia tidak mendapatkan hadiah apapun. "Ini adalah bukti dari kemampuanku yang meningkat. Banyaknya hadiah yang kudapatkan itu berarti kemampuanku lebih hebat daripada kau yang tidak mendapatkan satu pun hadiah."
"Apa kau bilang? Meremehkanku?" Eris bangkit sambil mengentak meja. Piring-piring dan sisa makanan bergetar karena Eris.
"Kalau iya, kenapa?" Nina ikut bangkit dan menatap lurus ke arah Eris.
"Mau tanding lagi?" Eris yang tersulut emosinya, sontak mengatakan itu dan membuat mereka menjadi bersemangat kembali untuk melanjutkan bermain.
Sementara Ashnard dan Abertha tertinggal di meja makan sambil menghabiskan makanan mereka. Di bawah lampu taman yang menggantung, tanpa kehadiran Nina dan Eris, suasana menjadi sepi seperti tidak adanya eksistensi apapun. Ashnard memandangi kios-kios yang masih bercahaya sambil tangannya menopang pipinya. Sementara Abertha memandangi Ashnard.
"Hei, Ashnard, mau berkencan denganku?" tanyanya tiba-tiba, membuat Ashnard terkeju dan bingung.
"Be-berkencan? Maksudmu?" Ashnard berusaha memastikan kembali apakah pendengarannya salah atau tidak.
"Ya, maksudku kencan pada umumnya. Bergandengan tangan. Berjalan kesana kemari dengan romantis. Makan bersama. Mengukir momen bersama."
Ashnard bingung karena ekspresi dari gadis itu datar. Seolah dia tidak peduli dengan apapun. Lalu, untuk apa dia melakukan itu? Ashnard berusaha menebak-nebak raut gadis itu.
"Tapi, kenapa?"
Abertha menengadah ke langit malam yang penuh bintang. "Tidak ada alasan khusus. Aku hanya bosan."
"Kalau bosan, kenapa tidak menyusul mereka? Tak mungkin alasanmu mengajakku hanya karena merasa bosan saja, kan?"
"Kau benar. Aku hanya tak ingin merasa sendiri. Bintang-bintang di langit saja bersama pasangan mereka, berkelompak. Orang-orang lain juga bersama seseorang. Sedih rasanya jika hanya aku saja yang sendiri, bukan?"
"Ah, maksudmu, kau ingin ditemani?" Ashnard akhirnya paham.
"Ya." Abertha mengangguk kecil. "Ditemani, bersama, kencan, apapun itu sama saja."
Jika hanya menemani saja, Ashnard tidak begitu mempermasalahkannya. Apalagi, jika hanya diam di sini tanpa melakukan apapun, itu justru terasa lebih aneh. Akhirnya Ashnard pun menerima tawaran gadis berambut coklat itu.
Abertha lalu merangkul lengan Ashnard dan menempelkan dadanya sangat dekat. Ashnard yang bisa merasakannya secara langsung, panik dan sedikit tidak nyaman.
__ADS_1
"Tidak perlu sampai sedekat itu."
"Kenapa? Ukuranku sama seperti punya Nina, lho. Tidak hanya Eris saja yang sadar, tapi aku juga sadar kau terus melihat punya, Nina, kan?"
Wajah Ashnard yang merah, membuktikan kalau ucapan Abertha benar, tanpa Ashnard perlu menjelaskannya lebih panjang lagi.
"Kau menginginkannya, kan? Anggap saja aku Nina dan akhirnya kau bisa merasakannya." Wajah gadis itu yang awalnya datar tanpa ekspresi, mendadak tersenyum jahil seperti sedang menggoda Ashnard.
"Sayang sekali, pakaianku tertutup. Jadi, kau tidak bisa melih-"
"Jangan diteruskan lagi! Kau ingin jalan atau tidak?"
"Aku akan jalan saat kau berhenti memprotesku."
Akhirnya Ashnard pun menyerah dan membiarkan Abertha menekankan miliknya pada lengan Ashnard. Lengannya itu diletakkan di tengah-tengah seolah diapit dan tertelan oleh benda lembut. Pandangan Ashnard memang menuju ke depan, tapi pikirannya menuju ke arah lainnya.
Sambil mengelilingi plaza, Ashnard berusaha menahan diri sambil berusaha tersenyum ramah seolah tidak terjadi apapun. Mereka berpindah ke setiap kios, bermain, lalu memesan camilan dan saling menyuapi selayaknya seorang pasangan.
Di sisi jalan, mereka melihat Nina dan Eris yang sibuk bermain permainan memukul sesuatu dengan penuh semangat yang membara. Melihat itu, Abertha langsung menarik lengan Ashnard dengan kuat, membawanya ke suatu permainan melempar benda cincin ke sebuah corong.
"Waktunya untuk bersenang-senang!" ucap Abertha penuh semangat di matanya.
Ashnard berpikir kembali dan kini sedikit paham dengan Abertha. Mungkin dia memang merasa kesepian saat ini. Dan dia sebenarnya tidak peduli ingin mengajak siapapun untuk bermain, apakah itu laki-laki seperti Ashnard atau bukan. Dia berkata mengajak kencan, mungkin dia mengira dengan begitu Ashnard akan langsung menyetujuinya. Kesimpulannya tetap sama, tapi Ashnard merasa lebih memahami Abertha dari sebelumnya.
Untuk membuat keinginan gadis itu terwujud, Ashnard pun ikut bermain dengan penuh semangat dan menikmati "kencan" ini dengan sungguh-sungguh.
"Itu sangat seru sekali," ucap Abertha yang kelelahan sambil mengusap keningnya.
Tiba-tiba, Abertha kehilangan keseimbangannya. Ashnard langsung cepat menangkapnya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ashnard.
"Kau ternyata peduli padaku juga, ya?" Bukannya rasa terima kasih yang Ashnard dapatkan, tapi senyuman yang berniat untuk menggodanya. "Bercanda, kok. Terima kasih."
"Kau tampak sangat kelelahan," ucap Ashnard saat melihat wajah Abertha yang pucat.
"Yah, itu karena aku tidak pernah keluar dan bergerak banyak. Aku biasanya diam di kamar untuk melukis. Ini pertama kalinya aku menghabiskan begitu banyak keringat."
__ADS_1
Ashnard jadi paham kenapa gadis itu mengucurkan banyak keringat karena sebuah permainan biasa yang bahkan dirinya sendiri tidak berkeringat sedikitpun. Ashnard pun membantu Abertha berdiri dengan memapahnya. Tapi, di depannya, Nina menatap dengan mata yang tidak percaya.