
Apa yang Roc ingin sampaikan adalah apapun pilihannya, Ashnard tidak perlu terjebak dalam lingkaran kesedihannya. Apapun pilihannya, takdir baru akan terbuka dan Ashnard harus menerimanya.
Meskipun dia memilih untuk menyerah bukan berarti itu adalah pilihan yang jelek dan sia-sia. Menyerah adalah salah satu pilihan yang wajar dalam kehidupan. Roc menyerah karena dia memiliki alasan yang logis. Dia juga yakin sehingga dia tidak ragu dalam mengambil keputusan. Itulah yang ingin disampaikan Roc.
Dalam proses pikiran dan batinnya, Ashnard menyukai jawaban yang Roc berikan. Dengan bukti yang memperkuat jawaban Roc, Ashnard mendapatkan sedikit keyakinan. Dia berterima kasih karena Roc memberinya jawaban yang bagus.
Ashnard lalu kembali setelah merasa puas. Di sisi kiri dan kanannya ada dua gadis yang khawatir padanya.
"Ashnard?" desak Nina.
"Jangan memaksanya, Nina, dia harus menenangkan diri terlebih dulu. Saat Pangeran Edward ditolak cintanya oleh Putri Elf, pangeran berusaha menenangkan dirinya dengan diam selama satu bab lebih," ucap Eris menegur Nina.
"Maksudmu buku 'Takdir Cinta Putri Elf'?" sahut Ashnard tersenyum.
Eris terkejut juga senang. "Kau baca buku itu juga?"
"Aku membacanya. Membosankan di tengah dan anti ******* di akhirnya."
"Aku setuju denganmu," ucap Eris.
"Aku tidak setuju dengan kalian. Cerita itu bagus, tapi kenapa tiba-tiba membicarakan itu? Bukankah kita harus fokus pada masalah Ashnard," potong Nina.
Ashnard dan Eris kembali terdiam setelah ditegur oleh Nina. Namun, Nina justru tak ingin semuanya diam-diaman.
"Apa yang akan kau lakukan, Ashnard? Kalau kau kesulitan untuk memberikannya, biar aku saja dan Eris yang menemui Liliya," lanjut Nina.
Ashnard sudah membulatkan tekad pada pilihannya. Walaupun memang menyakitkan, tapi kehidupan memang sudah seperti itu. Ashnard merasa lega saat membicarakannya dengan Roc. Ia semakin lega lagi saat ada Nina dan Eris yang mengkhawatirkannya. Karena itu, Ashnard merasa baik-baik saja.
Dia akan mengambil keputusan untuk menyerah. Dia akan memberikan kesempatan untuk Reinhard. Dia setuju dengan ucapan Roc yang berkata kalau Liliya ada sosok yang sempurna bagi Reinhard. Dia ingin Reinhard berubah dan menjadi pribadi yang baik di tangan Liliya.
Liliya juga tampaknya lumayan bahagia bersama Reinhard. Dan alasan yang paling utama adalah pada diri Ashnard. Masalah terus terjadi dan semakin bertambah setiap waktunya. Semakin besar dan semakin berbahaya. Dia tak ingin Liliya menjadi terlibat dalam masalahnya. Ashnard berpikir, jika bersama Reinhard, Liliya akan merasa aman. Selama Liliya bahagia, Ashnard juga merasa bahagia.
Wajah Ashnard yang berubah menjadi lebih tenang dan sorot matanya yang fokus ke satu arah, menyiratkan kemantapan dirinya. Tidak ada lagi keraguan di hati dan matanya.
Ashnard yang seperti ini, sudah pernah Nina dan Eris lihat. Sisi Ashnard yang lebih mereka sukai daripada Ashnard yang ragu. Kebulatan tekad dan keteguhan hati, seperti tidak ada yang bisa merobohkannya. Selayaknya pangeran dalam cerita fiksi yang tampil keren dan luar biasa.
Ashnard berdiri dan menggenggam erat bando dari bunganya, menjelaskan kepada Nina bahwa jawabannya adalah tidak, aku yang akan melakukannya. Lalu, menuju Liliya.
"Liliya," sapa Ashnard, menarik nafas pelan-pelan. "Maaf, aku tidak tahu soal ulang tahunmu. Jadi, aku tidak menyiapkan hadiah yang lebih bagus lagi. Tapi, ini hadiah dariku untukmu. Semoga kau suka." Ashnard menyerahkan bando bunga ke Liliya.
__ADS_1
"Bunga ini ...." Liliya tak bisa berhenti tersenyum. "Aku belum pernah melihat bunga seperti ini. Darimana kau mendapatkannya?"
"Aku mendapatkannya saat berjalan-jalan di hutan. Kau tahu, hanya berusaha menenangkan pikiran," jawab Ashnard.
"Sebenarnya, kau tidak perlu memberiku hadiah. Aku juga tidak begitu mengharapkan apapun di hari ulang tahunku. Dan juga ... aku hanya ingin ...." Liliya tidak melanjutkan kata-katanya. Dia menunduk dan terdiam, tidak seperti biasanya yang selalu ceria.
"Ada apa?"
"Aku hanya berharap kau baik-baik saja. Kau selalu menghindariku setiap kali aku ingin menemuimu. Jadi, kupikir kau memiliki masalah atau sesuatu. Aku hanya khawatir padamu. Saat pertarungan Reinhard dan Arlon, kau menghilang. Apa yang terjadi?"
Ashnard tiba-tiba merasa seperti tak berdaya di hadapan Liliya. Terlalu banyak hal yang Liliya khawatirkan sehingga terlalu banyak hal yang masuk ke kepala Ashnard.
"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku," jawab Ashnard memilih aman.
"Apa kau serius? Tapi, kau terlihat seperti tertekan karena suatu masalah," desak Liliya.
Meskipun, Ashnard sudah memantapkan diri dan terlihat tegar, tapi Liliya berhasil menyadari keresahan Ashnard. Dia menemukan sebuah sumber dari keresahan itu, dimana masalah yang sebenarnya adalah karena Liliya itu sendiri. Tentu saja di hati Ashnard, masih terbayang bagaimana rasa sakitnya.
Ashnard lalu mengenggam kedua bahu Liliya, dan membuatnya menatap matanya agar Liliya yakin. Tapi, itu salah. Liliya justru semakin menyadari kesedihannya.
"Jika benar, aku harap kau baik-baik saja." Tapi, Liliya mencoba memilih percaya Ashnard daripada percaya intuisinya.
"Terima kasih. Kalian semua sangat baik."
Di kesempatan ini, daripada berdiam diri tengah taman, Nina mengajak untuk menikmati malam dengan penuh semangat. Menikmati malam dengan penuh keseruan demi Liliya. Akhirnya semua orang setuju. Liliya juga telah melupakan kekhawatirannya pada Ashnard.
Di antara semuanya, Nina dan Liliya yang paling semangat bermain. Mereka seperti rival sejati dalam hal kesenangan. Dalam beberapa kesempatan, saat Nina dan Liliya mencoba permainan, Nina selalu berada di nomer satu dan Liliya di nomer dua. Nomer dua karena dia yang paling semangat, bukan dari hasil permainannya.
Mereka bermain dari melempar pisau di lingkaran sasaran, menangkap ikan paling banyak, menebak benda yang disembunyikan dan masih banyak lain. Terhitung sudah lebih dari lima permainan yang mereka lakukan, dan masih belum terlihat kelelahan sedikitpun.
Apalagi soal makanan. Ashnard sekarang mendapatkan sebuah fakta dimana ternyata Nina dan Liliya memiliki selera makan yang besar.
"Ke mana semua makanan itu masuk?" heran Ashnard melongo.
"Nina memang tukang makan, tapi sebenarnya dia tidak ahli dalam memasak. Dia selalu memintaku memasak makanan yang banyak. Maksudku sangat banyak. Jika diibaratkan seperti memberi makan kuda," ungkap Eris tidak segan mengejek temannya sendiri.
"Tapi, dia tidak seperti bertambah gendut sama sekali." Ashnard mengamati Nina dari bawah hingga atas sebelum Eris menghalangi pandangannya.
"Hei! Kau kasar sekali!" bentak Nina yang mulutnya penuh dengan makanan.
__ADS_1
"Kau sebaiknya ikut makan bersama kami, Ash," ajak Liliya.
"Melihat kalian makan sudah cukup membuatku kenyang," ucap Ashnard.
"Aku juga," sambung Eris, setuju dengan Ashnard. "Sebaiknya kita pulang. Aku sudah lelah."
Tiba-tiba, Nina membentak mejanya dan berdiri. "Tidak bisa! Ada satu tempat yang belum kita kunjungi. Dan aku sudah berjanji padamu, kau ingat?"
Eris meletakkan kepalanya di meja. "Tapi, ini sudah malam," lirihnya.
"Kau tidak ingin membuat Liliya dan aku bersedih, kan?"
Upaya persuasif Nina terlalu ekstrem bagi Eris. Alhasil, dia tidak bisa menolaknya. Dia di antara ingin dan kelelahan.
Setelah mereka semua, lebih tepatnya Liliya dan Nina menghabiskan makanan mereka. Mereka semua menuju suatu danau yang yang berada di utara kota.
Danau ini cukup lebar dan indah. Terlalu aneh jika tidak digunakan sebagai tempat wisata. Namun, danau ini lebih baik begini saja. Lebih baik sepi dan sunyi daripada dipenuhi dengan kerumanan orang tidam tahu diri dan sampah yang beracun. Eris berpikir seperti itu, karena sulit dan percuma saja memberi peringatan. Manusia cenderung melakukan sesuatu yang bertolak belakang daripada apa yang seharusnya.
Karena itu, Eris ingin mengunjungi danau ini. Masih segar dan bersih. Masih terlihat seperti gadis perawan yang belum dijamah. Keindahannya masih sangat murni, disertai dengan pancaran cahaya bulan yang tak kalah menawannya.
Udaranya juga begitu segar, bahkan Ashnard berulang kali membuang dan menarik nafas dengan cepat hanya karena ingin merasakan udara segarnya.
"Eris sangat ingin mengunjungi tempat ini sejak awal. Dia suka membayangkan ada pangeran yang muncul dari danau yang bermandikan cahaya bulan. Benar-benar imajinasinya yang manis," ucap Nina duduk di sebelah Ashnard. Mereka berdua duduk di bongkahan kayu yang sengaja dibuat sebagai tempat duduk di pinggir danau.
Sementara, Eris berdiri di tepian danau, seperti menunggu kehadiran seseorang yang sangat dia impikan. Liliya menyusulnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Liliya penasaran.
"Berharap pangeranku datang dari danau. Berbalut kilauan cahaya bulan dan tubuh seksinya yang basah. Menatapku dengan penuh cinta dan membawaku ke tempat dimana kita bisa berduaan," ucap Eris sambil melipat tangannya, berharap.
Liliya mengikuti apa yang Eris lakukan. "Aku juga mau! Karena hari ini ulang tahunku, jadi aku ingin meminta seorang pangeran sejati. Oh, dunia, berikan aku pangeran yang sempurna bagiku!"
Di belakang mereka, Ashnard hanya bisa tertawa dan tersenyum melihat tingkah dua gadis yang penuh imajinasi tersebut. "Mereka berdua benar-benar sangat kocak. Tapi, tidak apa-apa. Selama Liliya bahagia."
"Apa kau tidak mau mencobanya? Mungkin saja kau bisa mendapatkan seorang putri," sindir Nina.
"Jika bisa semudah itu. Pasti akan kulakukan," dengus Ashnard.
Lalu, tatapan semua orang menuju ke atas bulan setengah yang tampak begitu dekat di atas danau. Formasi bintang dan derik jangkrik, memberikan atmosfir yang sangat berbeda. Sepi tapi menenangkan.
__ADS_1
"Hei, Liliya memanggilmu, Ash, kan? Bolehkah aku memanggilmu Ash juga?" Nina tersenyum pada Ashnard yang hatinya tidak menduga.