
Liliya yang sedang sibuk menggambar sebuah pola, tanpa sadar sesuatu yang cepat terlempar ke arahnya. Sebuah bongkahan batu yang tak sengaja terlempar dari lingkaran sihir salah satu murid. Reinhard dengan sigap menangkap objek itu dengan tangan kosong tepat sebelum mengenai wajah Liliya.
"Kau tidak terluka?" tanya Reinhard dan Liliya mengangguk, masih belum terlepas dari terkejutnya.
Lorna juga sama terkejutnya, dengan kecepatan seperti itu, mustahil bagi seseorang menangkapnya dengan tangan kosong.
"Bagaimana kau melakukannya?" Lorna menghampiri Reinhard yang masih mengepal batu itu.
"Aku hanya memperlambatnya dengan angin saja," ungkap Gerlon.
"Tapi ...." Sorot mata Lorna turun ke bawah, ke tangan yang mengepal batu.
Cairan merah merembes keluar dan menetes dari tangan ke lantai. Semua murid berdengap, menghentikan kegiatan mereka dan menunjuk ke lantai.
Liliya mengikuti apa yang orang-orang lihat dan menyadari tangan kiri Reinhard yang berdarah. "Tanganmu terluka!" Liliya meraih tangan Reinhard, memaksanya membuka dan melepaskan batu itu. "Tanganmu harus segera diobati," ujar Liliya yang panik.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja," ucap Reinhard yang menahan rasa sakit di depan Liliya.
"Jangan! Nanti infeksi." Liliya memaksa.
Melihat tingkah dua sejoli di tengah kelasnya, Lorna langsung berdeham, "Reinhard pergilah ke klinik dulu. Obati lukamu," suruh sang guru.
"Aku juga akan ikut." Liliya mengajukan diri dengan penuh kekhawatiran.
"Baiklah, kalian berdua boleh pergi."
"Aku juga ikut!" sahut Wilia yang langsung ditolak oleh Lorna.
"Kelas masih berjalan, lho. Kalau ikut semua, tidak ada kelas lagi namanya," jelas Lorna.
"Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian, lingkaran sihir kalian masih menunggu untuk diselesaikan."
Bahu Wilia roboh dengan kecewa. Meskipun teman-temannya berusaha menenangkannya, tapi tetap tak bisa menghilangkan rasa iri hatinya. Semua murid perempuan cemburu ketika melihat Reinhard pergi bersama Liliya. Mereka semua berharap ada di posisi Liliya saat itu.
Mereka sampai di klinik, tapi tidak ada seorang pun di sana. Semua ranjang kosong, tidak ada murid lain yang sedang dirawat. Berbeda dengan kantin yang selalu ramai, klinik memang salah satu tempat yang jarang dikunjungi. Karena, jika ingin mengunjungi klinik maka harus sakit atau terluka terlebih dulu. Dan tidak ada satu orang pun yang ingin terluka hanya untuk ke klinik.
Akan tetapi, yang lebih anehnya adalah Dokter Nora juga tidak ada untuk menjaga tempat ini. Karena tidak ada pilihan lain daripada menunggu, Liliya membawa Reinhard duduk di salah satu ranjang putih.
Liliya lalu meninggalkan Reinhard di ranjang itu untuk mencari obat-obatan dan perban. Reinhard merasakan jantungnya sangat berdebar kali ini. Berdua di tempat yang sepi benar-benar membuat aliran darahnya meningkat.
__ADS_1
Setelah Liliya menemukannya, ia pun mengoleskan obat tersebut di telapak tangan Reinhard yang terluka, lalu membungkusnya dengan perban.
"Kenapa kau sampai berbuat seperti ini?" tanya Liliya yang sedang merapikan perbannya.
Reinhard malah teralihkan oleh ikatan perban Liliya yang tidak rapi. "Kalau kau tak bisa biar aku saja," ketus Reinhard.
"Kau mau minum darahku?" tawar Liliya setelah selesai memerban luka Reinhard. Gadis itu mengambil sebuah pisau operasi.
"Tidak usah. Aku tidak berniat untuk memanfaatkan kekuatanmu lagi," tolak Reinhard menjelaskan.
Liliya tak mempedulikan ucapan Reinhard. Ia menempelkan pisaunya di telapaknya. Reinhard marah dan berusaha mengambil pisau itu, tapi pergulatan mereka justru mengiris luka di telapak tangan Liliya.
"Dasar bodoh! Sekarang kau juga terluka, kan!"
"Minumlah!" Liliya menyodorkan telapak tangan berdarahnya.
Reinhard memalingkan mukanya. Liliya masih terus memaksanya, meskipun Reinhard berusaha menjauhkan lengan gadis itu. Akhirnya, Liliya menempelkan telapaknya di mulut Reinhard seperti sedang membungkam seorang yang berisik.
"Bagaimana jika orang lain melihat?" tanya Reinhard yang suaranya tertahan.
"Makanya cepat lakukan," tegas Liliya sedikit meninggikan suaranya.
Dengan telapak tangan Liliya yang menekan bibir Reinhard, lelaki itu pun sudah bisa langsing merasakan darah Liliya yang mengalir. Ia memegangi lengan Liliya secara perlahan.
Mendadak suasananya menjadi intens saat Reinhard tak sengaja menatap Liliya. Jantungnya terpacu semakin cepat, bisa ia rasakan. Namun, Reinhard masih terus meminum cairan merah itu seolah-olah cairan tersebut dapat memuaskan dahaganya.
Ia tak bisa berbohong pada dirinya sendiri bahwa ia begitu menikmati darah Liliya. Ini sudah ketiga kalinya ia meminum darah Liliya dan entah mengapa ia tetap menikmatinya. Aneh tapi itulah yang Reinhard rasakan. Reinhard tahu bahwa minum sedikit saja sudah cukup baginya, ia terus melakukannya.
Reinhard terus menyentuh, menciumi dengan menghisap telapak tangan Liliya hingga di luar dari darah dan lukanya. Ia naik hingga ke sela-sela jari lalu ke jari telunjuk dan jari tengah gadis itu, lalu turun lagi untuk meminum darah. Aliran darah tidak akan tertutup sebelum Reinhard berhenti.
Gadis itu tak memarahinya karena malah menghisapi area lain, Liliya hanya memberikan senyuman dan berkata, "Tidak usah terburu-buru. Pelan-pelan saja."
Setelah berakhir, Liliya kini membungkus tangannya sendiri dengan perban. Ia melakukannya dengan begitu tenang tanpa pikirannya teralihkan.
Bagaimana dia bisa setenang itu setelah suasana yang begitu panasnya? Reinhard memandangi Liliya dengan penuh penasaran. Wajahnya memerah saat Liliya menyadari sedang dilihatin.
"Apa?"
"T-tidak ada," jawab Reinhard panik. "A-aku hanya penasaran kenapa kau bisa tenang setelah melakukan itu? Apa tidak sakit?"
"Sedikit geli, tapi tidak apa-apa," jawabnya dengan enteng. Senyuman cerianya muncul kembali.
__ADS_1
Saat Reinhard meremas kembali tangannya yang terluka, tak ada rasa apapun yang dia rasakan. Perban yang Liliya buatkan padanya longgar, memperlihatkan lukanya yang sudah tidak ada lagi.
Inilah kekuatan Nerefelon. Kekuatan misterius yang bersumber dari darahnya. Meminum darahnya seperti meminum sebuah minuman dewa yang memberikan kesembuhan total dan kesegaran secara fisik dan jiwa. Reinhard masih tak percaya dengan kekuatan ini. Rasanya berbeda pada saat Dokter Nora menyembuhkannya dengan sihir.
Kekuatan ini bahkan belum pernah ia baca di buku manapun. Seolah tiba-tiba dimiliki oleh keluarga Nerefelon dan tiba-tiba muncul di Winfor.
Reinhard juga penasaran dengan kekuatan itu, ia bertanya, "Liliya, apa kau pernah penasaran apa sebenarnya kekuatanmu itu?"
Tidak. Ia sama sekali penasaran seperti Reinhard. Meskipun ia sudah mencoba mencari penjelasan, tapi tak satupun ia temukan di buku. Ayahnya juga tidak menjelaskan lebih lanjut. Emiel selalu menjawab kepada putrinya yang penuh rasa penasaran itu bahwa kekuatannya sudah berasal dari leluhur kita.
Liliya berpikir jika ratusan atau ribuan tahun yang lalu ada orang-orang yang sama sepertinya, memiliki darah ajaib, seharusnya ada setidaknya satu catatan mengenai mereka. Akan tetapi, kenyataannya berkata tidak. Bahkan perpustakaan akademi tidak memiliki jawaban untuk Liliya.
"Selama itu bisa membantu orang lain, aku tidak mempermasalahkan apa dan darimana kekuatanku berasal," ucap Liliya sambil memegangi tangannya yang diperban.
Reinhard tersenyum pada jawaban yang Liliya sekali. Gadis itu berkata seperti itu menandakan kalau dia sudah menerima dirinya dan kekuatannya apa adanya.
Kemudian, mereka pun meninggalkan klinik dan menuju ke kelas kembali. Lorong yang sepi selama jam kelas terasa seperti lorong berhantu.
Tak ada alasan bagi Reinhard melirik terus menerus ke Liliya selagi tidak ada orang lain di sekitarnya.
"Liliya, jika diberikan kesempatan memilih sebuah hadiah, hadiah apa yang akan kau pilih?" tanya Reinhard tiba-tiba. Membuat Liliya terheran dan tertawa terkekeh.
"Kau mau jawaban jujur atau tidak jujur?"
"Jujur saja."
"Hmm ... mungkin kalung? Eh. Tidak! Tunggu! Kalung tidak akan terlihat. Mungkin gaun. Ya! Gaun! Aku suka gaun. Aku akan memilih gaun!"
Reinhard tersentak. "Ba-bagaimana kalau cincin? Apa kau juga akan menerimanya?"
"Kalau bohong, tentu saja aku akan menerimanya. Tapi, karena jujur, aku akan bilang tidak."
Wajah Reinhard membeku seperti mayat. "Ke-kenapa tidak?" Suaranya kering seperti orang yang kehausan.
"Sebenarnya saat aku kecil, aku pernah diberi hadiah cincin oleh anak laki-laki. Tapi, cincinnya tersangkut di jariku dan rasanya sangat sakit. Tentu saja aju langsung menangis. Butuh usaha yang ekstra untuk melepaskan cincin itu dari jariku. Gara-gara itu aku tak suka cincin lagi," ungkap Liliya mengenai sejarah masa lalunya yang kelam.
"Kau sungguh tak suka cincin?"
"Ya."
Liliya sampai di kelas dan langung disambut oleh teman-temannya. Salah satu temannya bertanya kenapa dengan tangannya yang diperban. Liliya menjawab dengan riang, bahwa tangannya tak sengaja tertatap ujung ranjang.
__ADS_1
Sementara Reinhard berdiri di luar ruangan dengan perasaan seperti kalah dalam pertempuran yang hebat. Pertempuran yang mempertaruhkan kehormatan maupun harga dirinya. Reinhard kalah dan sekarang ia terbujur kaku seperti patung batu sebagai hukuman untuknya.