
Tangan kanannya berusaha meraih buah apel yang tergantung di cabang, sementara tangan satunya berpegangan pada batang pohon dengan kuat. Ashnard berusaha sekuat tenaga mengambil buah tersebut tanpa bantuan kekuatannya, karena dia ingin membuktikan bahwa tanpa memakai kekuatan sekalipun ia bisa melakukannya. Tapi, satu tangan tidak cukup, pegangan Ashnard terlepas dan ia terjatuh ke tanah.
Nous menghampirinya dengan panik. "Ashnard!"
Ashnard bangkit, menyodorkan sebuah apel sambil tersenyum puas tanpa memperlihatkan kesakitannya.
"Aku dapat!" serunya senang. Senyumannya menutup semua rasa sakitnya. Merekah bagai bunga matahari yang cerah di bawah bayangan matahari.
Hanya dengan menunjukkan senyuman tersebut, membuat Nous yakin bahwa dia tidak perlu selalu mengkhawatirkan Ashnard.
Hampir seminggu berlalu, setelah kejadian di jurang. Mereka telah melalui banyak hal selama perjalanan. Setelah pertarungan di jurang, Nous memperingati Ashnard untuk lebih waspada lagi. Nous masih tak mengerti bagaimana para Noir dan Pria Luka itu bisa menemukan mereka meskipun tak ada satupun jejak yang ditinggalkan.
Nous adalah orang yang waspada. Ia tak akan tidur sebelum semuanya aman. Tak hanya selalu memperhatikan ke depan, ia juga selalu melihat ke belakang, memeriksa apakah ada suatu jejak atau tidak. Dan ia yakin dengan semua pengamatannya itu.
Selain itu, Nous juga memberitahu Ashnard sekali lagi tentang apa yang terjadi. Semua yang dikatakan Pria Luka jangan dipercayai. Itu semua tidak pasti dan terdengar sangat manipulatif. Ia ingin Ashnard mengabaikannya agar pikirannya tak terlalu terbebani dengan hal tersebut dan tetap fokus pada tujuan awalnya.
Perjalanan mereka menuju akademi masih berlanjut, tapi kini dengan lebih santai.
Ashnard tahu dengan misinya dan dia tahu jika terlalu banyak memikirkan hal tersebut dia sendiri akan mengalami kesulitan. Oleh karena itu, dia mematuhi perkataan Nous untuk tak tergesa-gesa.
Dia memanfaatkan waktunya untuk menikmati perjalanan yang dia impikan. Mempelajari cara bertahan hidup dengan sungguh-sungguh. Dan selalu waspada terhadapa sekitar.
"Daging sudah dapat, buah sudah, lalu ...," gumam Ashnard sambil menghitung dengan jarinya.
"Kau hanya membawa satu apel saja. Itu belum cukup," sentak Finn.
Awalnya, pemancing tersebut hanya ikut sementara hingga sampai di desa. Setelah itu dia akan kembali ke kotanya. Tapi, dia berubah pikiran.
Dia memahami bahwa melakukan perjalanan dengan orang lain itu sungguh menyenangkan. Karena itu, dia akan ikut hingga sampai di tujuannya. Tentu saja bagi Ashnard itu bukan masalah besar. Anak itu justru tambah semangat jika orang yang ikut bertambah, tapi bagi Nous tidak.
Setelah semua kejadian di jurang, Nous akhirnya menjelaskan alasan mereka melakukan perjalanan. Nous berkata, kalau takdir Ashnard mengharuskannya untuk pergi menuju akademi untuk meminta perlindungan.
Alasan tersebutlah yang semakin menguatkan Finn untuk ikut mengantar Ashnard. Meskipun Nous menolaknya, ia akan tetap memaksa ikut.
"Aku sudah mengambil semuanya," ucap Ashnard, menjatuhkan banyak buah-buahan ke tanah.
"Bagus." Nous melewati Ashnard dari belakang, lalu menepuk kepala anak itu.
Finn juga sudah selesai memancing. Ia mengangkat seember ikan dan membawanya ke dekat api unggun.
"Sebenarnya, kita tak perlu melakukan hal ini," ucap Nous.
"Jangan begitu. Kau bilang akademi sudah dekat, jadi kita harus merayakan selesainya misi Ashnard." Finn menepuk tangannya dari kotoran.
"Ini idemu. Jika ada sesuatu terjadi karena hal ini, kau harus tanggung jawab," dengus Nous.
__ADS_1
"Aku mengerti."
Ashnard menghampiri Nous dan memberikannya sebuah apel segar berwarna semerah darah. "Setelah semua ini, kita harus merayakannya dengan penuh semangat."
Malam perayaan pun dimulai. Kehangatan dan keceriaan mengelilingi api unggun dalam bentuk tarian dan lompatan. Dengan daging tusuk di tangan kanannya dan segelas anggur peras biasa di tangan kirinya, Ashnard dan Finn bersorak-sorai sepanjang malam, hingga derik jangkrik pun kalah.
Nous tak ingin ikut dalam malam penuh semangat seperti yang Ashnard katakan. Ia hanya duduk dan memandangi mereka yang bersenang-senang, sembari memperhatikan sekitar tentu saja.
"Jangan terlalu bersemangat. Nanti kau terluka," ucap Nous memperingati Ashnard.
"Hei, bagaimana jika kita lomba makan?" ajak Finn ke Ashnard dengan senyum lebarnya.
"Siapa takut?" Ashnard meladeninya dengan senyum yang tak kalah lebarnya.
"Jangan makan terlalu banyak. Perutmu bisa sakit." Sementara Nous hanya bisa menasehati meskipun tidak akan di dengar oleh mereka.
Bunyi derik jangkrik kini berkuasa kembali atas malam hari, setelah keheningan kembali mengisi perayaan yang tampaknya sudah berakhir. Kayu-kayu tergeletak sembarangan, sampah dimana-mana, sementara Finn dan Ashnard sudah mencapai batasnya. Kepala mereka beberapa kali terjatuh ke bawah karena memgantuk.
"Jangan memaksakan diri. Kalian tidur saja," suruh Nous yang sama sekali tak terlihat mengantuk. Kelelahan bahkan tak pernah datang ke pria tersebut.
"Tidak, aku dan Ashnard berjanji akan begadang hingga besok," jelas Finn yang kedua kelopak matanya setengah terbuka.
Ashnard berjalan terhuyung setelah membereskan sisa-sisa makanannya. Ia duduk di atas bongkahan kayu, di sebelah Nous.
"Kali ini, aku yang akan berjaga. Kau tidur," anak itu berkata dengan lemas.
"Aku ... masih ... kuat."
Kepala Ashnard bergoyang seperti dandelion yang ditiup angin dari segala sisi. Batangnya yang kecil tak sanggup menopang bagian kepalanya yang besar dan bulat. Terlalu berat hingga Ashnard pun terjatuh ke samping. Ia bersandar pada pundak Nous.
"Sudah kubilang," gumam Nous. Ia lalu membaringkan kepala anak itu pada pangkuannya.
"Tidak ... aku tak mau ... tidur. Petualanganku ... masih ... berlanjut," Ashnard mengigau. "Nous ... ceritakan lagi ... kisah petualangan ... mu."
Entah anak itu sudah benar-benar tertidur atau belum. Mungkin dirinya masih mencoba untuk tidur atau mencoba untuk melawan rasa kantuknya. Apapun itu, Nous tetap akan menceritakan sebuah kisah untuk anak itu.
"Pada suatu kisah, di mana bintang dan bulan bersinar seperti malam hari ini ...." Ceritanya terhenti saat Ashnard mendengkur.
Nous tersenyum, tapi ia merasakan sebuah tatapan menjengkelkan dari sosok pria yang tersenyum melihat Nous.
"Apa?" Wajah Nous mendadak berubah menjadi muram.
"Tidak, aku hanya sedang melihat kalian saja," jawab Finn dengan santai.
"Jangan gunakan matamu untuk hal seperti itu. Gunakan untuk mengawasi sekitarmu."
__ADS_1
Finn menarik nafas sambil meregangkan lengannya. Matanya kini tertuju pada langit berbintang. Bahunya melemas bersamaan dengan nafasnya yang terbuang.
"Tak terasa besok sudah berpisah dengan Ashnard, ya. Walaupun sebentar, tapi rasanya sulit."
"Kau benar."
"Aku masih ingin memancing bersamanya lagi. Berlomba lagi dan mengerjakan hal-hal konyol lainnya. Padahal, aku sudah memikirkan rencana-rencana yang seru."
"Pikiranmu isinya hanya bermain saja," ejek Nous.
"Mau bagaimana lagi. Dia masih anak kecil. Kalau dia perempuan dewasa, tentu saja aku akan memikirkan 'permainan' yang lain." Finn mengedipkan matanya pada Nous.
"Hei, apa kau ingin Ashnard mendengarnya?" bisik Nous sedikit marah sambil menutup kuping Ashnard.
"Ah, tidak masalah. Kelak dia juga akan bertemu hal semacam itu."
"Kau ini."
Finn lalu berbaring setelah ia menggelar alas tidurnya. "Ya sudah. Aku mau tidur dulu. Selamat malam, ayah," goda Finn yang masih sempat melakukannya sebelum tertidur.
***
"Halo, Ashnard." Ashnard membuka matanya dan pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah ruang gelap dengan Roc yang menyapanya.
"Kenapa aku selalu bertemu denganmu dengan cara yang tidak aku inginkan?" tanya Ashnard.
"Aku yang menarikmu ke sini. Karena kau selalu berada dalam kondisi lemah, itu mempermudahku untuk membawamu kesini tanpa kesusahan," jelasnya. "Karena kau juga sekarang telah menerima keberadaanku, itu membuat hubungan kita semakin erat. Aku sungguh senang, kau tahu."
"Kau aneh," balas Ashnard. "Sekarang apa? Biasanya kau selalu memberiku peringatan akan suatu hal, kan?"
"Kali ini tidak. Aku hanya kesepian saja."
"Oke, aku akan bangun. Sampai jumpa."
"Jangan pergi!" Wujud Ashnard sudah menghilang yang berarti ia sudah bangun. "Dasar, anak yang merepotkan."
***
Pagi harinya, Ashnard, Nous, dan Finn melanjutkan perjalanan. Sungai yang panjang dan lebar mereka susuri hingga menemukan dua buah patung prajurit raksasa berdiri di kedua sisi sungai.
Patung itu merupakan penjaga gerbang. Salah satu telapak tangannya menghadap ke para pengunjung, sementara tangan satunya memegang tombak yang saling bersilangan dengan tombak patung lain.
Meskipun terlihat sangat kuno, tapi patung itu masih tampak megah dengan ukiran zirah yang detail. Kakinya yang ditumbuhi lumut dan tanaman, menyatu dengan bumi menyimbolkan bahwa patung itu tidak akan pernah pergi dari tugasnya untuk menjaga pintu masuk. Tak hanya itu, ada kekuatan yang besar tertanam dalam patung tersebut.
Patung setinggi 30 kaki itu bergetar saat Ashnard dan yang lainnya mendekat. Lalu, terdengar suara yang gagah dan besar dari patung tersebut, "Ini bukan tempat untuk kalian, wahai pengunjung. Berputarlah kembali ke arah kalian datang sebelum tombak kami turun untuk menunjukkan kuasanya."
__ADS_1
Kemudian, patung lainnya yang berdiri di sisi kanan melanjutkan. "Tapi, jika kalian memaksa, tunjukkan identitas kalian. Biarkan mata bintang perak menunjukkan kebenarannya."