
"Oke, jadi kita harus memberi hadiah apa yang sempurna untuk Liliya. Boneka, pakaian, buku, aksesoris atau mungkin ... barang-barang gadis lainnya? Aku tidak tahu." Ashnard bergumam sendiri, sibuk dengan pikirannya.
Ashnard masih berpegang teguh pada pendiriannya, bahwa ia harus memberikan hadiah yang benar-benar penting dan satu-satunya dunia. Ashnard tidak ingin memberikan hadiah yang biasa saja untuk Liliya.
Ashnard yang begitu larut dalam pikirannya, membuat Eris dan Nina bingung. "Aku punya pertanyaan untukmu," ucap Nina membuyarkan pikiran Ashnard. "Kau dan Liliya sudah sangat 'dekat', kan?" tanyanya menekankan pada kata dekat.
"Ya, tentu saja," jawab Ashnard.
"Bukan, maksudku, saat aku melihat kalian yang selalu bersama, kalian seperti sepasang kekasih. Banyak murid-murid lain juga berpikiran seperti itu."
"Oh, ti-tidak, kami tidak pacaran." Ada sedikit rona merah di pipi Ashnard, membuat Nina menyipitkan matanya.
"Dia berkata jujur," sahut Eris. "Kalau dia berpacaran dengan Liliya, dia tidak mungkin kebingungan mencari hadiah yang Liliya suka."
Nina sedikit tersentak. "Benarkah? Kukira kalian pacaran. Tapi, kau menyukainya dalam hal romantis, kan?"
Dihadapi dengan pertanyaan tersebut, Ashnard berada di ambang kegelisahannya. Dia tidak pernah memikirkan perasaannya ke seorang gadis seperti Liliya. Ashnard sadar kalau dia dan Liliya sudah sangat dekat. Tapi, Ashnard masih bingung, apakah perasaannya ke Liliya ini sungguhan atau karena dia dan Liliya adalah seseorang yang dekat saja.
Ashnard kembali membawa ingatannya saat dia suka mengamati Liliya dari balik pagar rumahnya. Dia juga tidak bohong bahwa dirinya merasa senang saat bermain bersama Liliya, saat Liliya membantunya, saat Liliya menempel. Bahkan saat Liliya berada di dekatnya sudah membuat Ashnard senang.
"Itu namanya cinta, bodoh!" ucap Roc.
"Sungguh?" tanya Ashnard ke Roc.
"Yap, walau kau tidak mengungkapkannya secara langsung, tapi lubuk hatimu mengatakan seratus persen itu cinta. Dengan kata lain, kau menyukai Liliya."
Hal ini terlalu mengejutkan bagi Ashnard. Sebelumnya, ia tidak memikirkan apapun soal perasaan romantisnya, ia hanya ingin memberikan hadiah untuk ulang tahun Liliya.
"Sebaiknya, kita fokus mencari hadiahnya saja," ungkap Ashnard mengabaikan pertanyaan Nina.
Ashnard tidak mempedulikan bagaimana perasaannya terhadap Liliya. Ia hanya peduli bagaimana cara untuk membuat Liliya senang, yaitu dengan memilih hadiah yang tepat.
Menurut Nina, hadiah umum untuk seorang gadis yaitu gaun, ke sanalah Ashnard dan yang lainnya pergi. Sebuah toko gaun kecil yang dihimpit oleh dua bangunan yang lebih besar.
Toko itu dijaga oleh wanita paruh baya yang memakai tunik putih hijau. Dia menyapa dengan ramah Ashnard dan lainnya saat masuk.
Dinding bagian dalam toko itu terbuat dari kayu yang sudah tua, menandakan bahwa toko ini sudah lama ada. Gaun-gaun yang dipajang di tiang kayu, sudah berdebu dan warnanya kusam. Namun, di mata Ashnard, masih terlihat bagus.
Dari sekian banyak gaun kusam yang ada, ada satu gaun dengan warna yang masih secerah matahari pada saat ini. Gaun itu berwarna biru laut dengan aksen hitam. Saat Ashnard membayangkan Liliya memakai gaun ini, Liliya akan terlihat seperti gadis yang elegan.
"Apa menurutmu gaun itu tidak terlalu tua untuk Liliya?" tanya Nina.
"Menurutku kebesaran untuk Liliya," sahut Eris.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak tahu ukuran tubuh Liliya," ucap Ashnard menyesal.
"Ukuranmu dan Liliya tidak jauh beda, kan? Bagaimana kalau kau mencobanya?" saran Eris.
Ashnard baru sadar jika ucapan Eris tentang ukuran tubuh Nina dan Liliya yang tak jauh beda, ternyata benar setelah Ashnard memperhatikannya lagi. Memang Nina sedikit lebih tinggi daripada Liliya, dan Liliya lebih mungil tapi tak semungil Eris yang pucuk kepalanya hanya sebahu Ashnard.
Akhirnya, Nina membawa gaun yang sudah dipilih, lalu di antar oleh sang penjaga toko menuju ke ruang ganti.
Ashnard yang merasa bosan menunggu Nina mencoba gaunnya, mencoba untuk mengurasi rasa bosannya dengan melihat-lihat gaun yang lain. Ada banyak gaun yang bagus, ada banyak juga gaun yang menurutnya sudah tidak layak.
Ada banyak gaun yang di pajang memiliki beberapa jahitan yang kusut, atau busa di bagian bahunya robek. Ada juga gaun yang sudah berjamur karena saking lamanya dibiarkan menggantung di pojok ruangan. Ashnard sangat menyayangkan gaun-gaun tersebut sudah rusak. Bahkan, terlihat mesin jahitnya yang sudah tidak dapat dipakai lagi.
"Aku merasa kasihan pada wanita itu," ucap Roc sayu.
Ashnard berasumsi karena tidak adanya pelanggan yang datang ke toko ini. Bahkan sejak sebelum masuk dan sampai menunggu gaunnya, belum ada satupun orang lain yang datang. Satunya-satunya yang tampak segar dan cerah di toko kusam ini adalah senyuman dan pelayanan sang penjaga toko.
Ketika Ashnard berkeliling hingga sampai di sebuah tirai besar yang tertutup, ada Eris yang sedang berdiri seperti menjaga tirai itu. Tirai itu digunakan sebagai tempat untuk mengganti dan mencoba pakaian.
Saat Ashnard mendekatinya, Eris menunjukkan ekspresi kejamnya yang biasa ia gunakan saat memarahi murid-murid yang melanggar peraturan. Bahkan, kacamatanya tidak mampu mengurangi lirikan tajam sang gadis yang terletak di baliknya.
"Hei." Ashnard melambaikan tangannya dengan canggung saat menghampiri Eris.
"Apa?" jawabnya ketus.
"Saat masih kecil," jawab Eris singkat, masih tidak melihat ke Ashnard.
"Wow, memang sudah kelihatan jelas. Kalian sangat dekat."
Eris tidak menjawab. Diam seperti patung, tapi matanya tajam seperti macan. Salah satu yang membuat Ashnard tertarik adalah kuncir kuda Eris. Ia tertarik pada pita rambut Eris yang berwarna merah.
"Pita rambutmu, apakah itu hadiah dari Nina?"
Eris akhirnya menatap Ashnard, tapi dengan terkejut. "Bagaimana kau tahu?"
"Kau tahu, warna merah dan Nina," ucap Ashnard seperti ingin mengatakan bahwa warna merah pasti selalu berkaitan dengan Nina, begitupun sebaliknya.
Eris tidak bilang tidak setuju dengan pikiran Ashnard. "Ya, Nina memberikannya padaku saat aku masih berusia sepuluh tahun. Dia berkata warna merah cocok untukku, tapi banyak orang berkata sebaliknya."
"Tidak, menurutku kau terlihat cantik dengan pita itu," ungkap Ashnard tersenyum jujur.
Eris tidak menduga mendengar pujian lain datang selain dari Nina. Baginya, yang baru dipuji oleh orang lain, yaitu seorang laki-laki, membuatnya tersipu malu.
Namun, Eris terpaku terlalu lama, hingga Ashnard melambaikan tangannya.
__ADS_1
Eris langsung tertunduk malu sambil membenarkan kacamatanya. "M-maaf, hanya saja ... aku tidak biasa dipuji oleh orang lain. Kebanyakan orang-orang memandangku buruk."
"Aku tidak. Aku yakin kau orang yang baik."
Setelah lama menunggu, akhirnya tirai telah terbuka. Ashnard dan Eris berbalik dan langsung terpukau. Seperti membuka sebuah peti harta karun yang sudah sangat lama dicari dan ketika berhasil dibuka, perasaan puas dan bangga yang tak tergambarkan muncul.
Gadis berambut merah itu tampil beda daripada saat memakai seragam akademinya. Gaun berwarna biru itu sangat sempurna di tubuhnya yang ramping. Tidak kebesaran, juga tidak terlalu ketat.
Eris sudah sering melihat Nina memakai gaun saat di Agnarr, tapi gaun yang satu ini memberi atmosfir yang berbeda. Seperti melihat orang lain.
Bahkan dengan rambut merahnya yang sedikit gelap, tidak membuat Nina terlihat kontras dengan warna biru gaunnya. Justru semakin membuatnya terlihat berkharisma.
Nina memang gadis yang cantik bahkan sebelum memakain gaunnya. Namun, ketika gaun itu sudah dikenakan, pesonanya bertambah. Jika Nina digambarkan sebagai gadis yang berapi-api dan penuh semangat, sedangkan gaun itu seperti menunjukkan sisi lembut dan anggunnya.
"Bagaimana? Apa menurut kalian Liliya akan cocok dengan gaun ini?" tanya Nina sambil menunjukkan sisi-sisi gaunnya.
Bukan apakah Liliya akan cocok dengan gaun itu yang Ashnard pikirkan lagi, ia terpesona begitu tirai membuka dan memperlihatkan Nina. Ia seperti tak bisa mengalihkan pandangannya ke yang lain.
Ashnard begitu terpukau dengan bagaimana penampilan Nina yang berubah. Bagaimana bagian leher rampingnya yang terbuka hingga bagian atas dadanya seolah menunjukkan jati dirinya sebagai seorang gadis, tidak seperti saat memakai seragam yang berkerah dan lebih tertutup. Gaun itu juga sangat pas di pinggang Nina yang ramping.
Padahal, hanya mengganti pakaian saja, tapi Ashnard merasa seluruhnya ikutan berubah hanya dengan gaun saja.
Eris menyadari Ashnard yang terlalu lama menatap Nina, sontak dia langsung berdiri di depannya, menghalangi pandangan Ashnard.
"Lihat ke mana kau?" tegur Eris.
"Ma-maaf, hanya saja ... dia terlihat begitu cantik," ungkap Ashnard sambil mencuri celah untuk kembali melihat Nina.
"Kalau seorang lelaki melihat gadis lebih dari lima detik, itu berarti sedang memikirkan hal yang mesum!"
"Enak saja!"
"Baru kutinggal sebentar, tapi kalian sudah akrab," sahut Nina yang berjalan mendekat sambil menenteng roknya. "Jadi, jika menurutmu aku cantik memakai gaun ini, itu berarti Liliya juga, kan?" tanya Nina tersenyum ke Ashnard.
"Ya, begitulah."
"Bagaimana menurutmu, Eris, apakah aku terlihat cantik?" Nina beralih ke temannya.
Eris tidak berlebihan saat memberikan dua jempolnya sambil mengangguk dengan matanya yang berbinar. "Kau terlihat lebih berbeda daripada biasanya. Maksudku, berbeda dalam artian yang baik."
"Aw, terima kasih."
"Kalau begitu sudah diputuskan, aku ambil ini!" seru Ashnard.
__ADS_1
Wanita penjaga toko itu tersenyum lalu mengangguk. Namun, ketika wanita itu mengungkapkan harganya, Ashnard terlalu bersemangat hingga dia baru ingat kalau dia tidak memiliki uang.