The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Luka yang Membakar Jiwa


__ADS_3

"Menakjubkan! Ini menakjubkan!" seru Leashira yang mengamati Wilia dari ujung kaki hingga kepalanya.


Pada pertarungan mereka, berakhir dengan tak sadarkan diri. Ashnard dan Eris terpaksa membawa mereka semua, termasuk Cynthia untuk menemui Leashira. Karena, dialah yang paling dekat disini dan juga dia masihlah seorang ahli obat. Tentunya, Ashnard dan Eris mengharapkan Leashira mengobati Nina, Wilia, dan Cynthia.


Wilia terbangun, menyadari bahwa dia digendong depan oleh Ashnard. Wilia langsung memberontak dan memukul Ashnard.


"Lepaskan tanganmu dariku! Tidak ada yang boleh menggendongku selain Reinhard!"


Cynthia berusaha menenangkan Wilia karena dia tahu kalau Wilia masih belum sembuh total. Baginya, keselamatan Wilia adalah yang terpenting. Jadi, ketika Ashnard berkata ingin membawa Wilia ke Leashira untuk disembuhkan, Cynthia pun mengizinkannya.


Meskipun Wilia terus memberontak tanpa henti, akhirnya Ashnard sampai di padang bunga biru dengan sedikit kesusahan. Dia lalu membaringkan Wilia di batu lebar di depan Leashira.


Wilia terkejut setengah mati saat ular raksasa dengan kepala kayu berada tepat di depan matanya. Dia berteriak dan menyuruh Cynthia melakukan sesuatu terhadap ular itu.


Tidak hanya Wilia saja yang terkejut, Cynthia juga. Bahkan, Leashira juga tidak menduga bahwa Ashnard muncul kembali dengan membawa tamu baru yang menurutnya istimewa.


Lalu, di belakang Ashnard, Eris mendudukkan Nina di batu. Baju Nina sekarang hanya tersisa roknya. Api membuat bagian tubuh atas Nina terekspos, namun Eris dengan cepat menutupi dada Nina dengan sobekan kain sebelum dilihat oleh yang lainnya.


"Mereka berkelahi dan terluka. Bisakah kau sembuhkan mereka?" pinta Ashnard ke Leashira.


Menolak menyembuhkan orang bukanlah sikap seorang dokter. Apapun yang terjadi, Leashira pasti akan melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh.


Leashira menyadari bahwa sesungguhnya luka-luka mereka tidaklah parah. Hanya dengan diolesi salep saja sudah cukup. Tapi, ada kondisi yang menarik dari kedua gadis yang saling memunggungi satu sama lain di dua batu yang saling berjauhan.


Leashira tertarik dengan luka bakar di punggung Nina. Dia bisa merasakan bahwa itu bukan luka bakar biasa. Sementara, Wilia memberikan energi yang familiar padanya. Darah yang mengalir di tubuhnya begitu spesial, serta pedangnya yang tidak kalah membuatnya terpukau.


"Cynthia! Siapa makhluk ini? Kenapa dia terus menatap tubuhku?"


"Tuan Raegulus berkata, kalau makhluk di depan nona adalah Leashira, salah satu pendiri akademi yang juga merupakan ahli obat terkemuka. Nyonya Leashira memindahkan jiwanya ke wadah baru agar dapat terus melindungi bunga ajaib," jelas Cynthia, dengan senantiasa membantu tuannya memahami situasi yang terjadi selama dia pingsan. "Tuan Raegulus ingin menyembuhkan luka nona dengan membawanya kesini."


"Tapi, kenapa gadis api itu ada di sini?" tunjuk Wilia ke Nina yang duduk cukup jauh di belakangnya.


Melihat sikap majikannya yang masih tidak menyukai Nina, Cynthia lalu membungkukkan tubuhnya, berharap agar permintaannya dilakukan. "Maafkan saya atas ketidaknyamanannya nona. Tapi, sebaiknya Nona Wilia harus meminta maaf kepada mereka," ujar Cynthia.

__ADS_1


Melihat situasi yang terjadi, sewajarnya jika kedua pihak saling memaafkan. Apalagi, pihak Nina ingin membantu dan menyembuhkan luka Wilia. Dan faktanya, memang semua ini salah Wilia.


Terdengar nafas yang diembuskan sangat kuat. "Aku mengerti," jawabnya pasrah. Bahkan, Cynthia sangat langka bisa melihat Wilia pasrah selain kepada Reinhard. "Kalian berdua, Eris dan gadis api, maksudku Nina, aku minta maaf ke kalian. Aku sudah keterlaluan," ucapnya, meskipun tidak menatap mereka.


Eris mungkin memaafkannya, tapi Nina hanya terdiam sambil menunduk. Ketulusan tuannya untuk meminta maaf sudah cukup bagi Cynthia.


Di saat semuanya mengira masalah sudah selesai, Nina tiba-tiba berbicara, "Kenapa kau melakukannya?"


"Karena aku tidak suka, apalagi? Kau juga akan bertindak jika suatu hal yang tidak kau sukai muncul, kan? Contohnya kau akan memukul siapapun karena kau tidak suka ada yang menyakiti Eris. Itu sangat sederhana, dan wajar sekali. Kau tidak perlu terus memikirkannya," jawab Wilia.


Perkataan Wilia masuk di akal Nina, tapi tetap Nina menolaknya mentah-mentah karena tidak sudi disamakan dengan dia. "Aku tidak pernah memahamimu." Tangannya mengepal erat sebelum digenggam kembali oleh Eris. Kebencian Nina tampaknya tidak akan bisa berakhir begitu saja. Seperti luka bakar, akan terus membekas di tubuhnya sepanjang hidupnya.


"Tapi, aku memahamimu," balas Wilia cepat.


"Hentikan kalian berdua!" tegur Leashira meletakkan tubuh panjangnya di tengah-tengah Nina dan Wilia. "Ini bukan waktunya untuk terus bertengkar. Kondisi tubuh kalian berdua cukup unik. Aku bisa merasakannya. Jadi, jika kalian tidak ingin mencari tahu jawabannya, kalian boleh pergi."


Di antara semuanya, hanya Wilia yang bangkit dan ingin pergi. Dia masih tak mau jika tubuhnya diperiksa dan disentuh oleh orang lain selain Reinhard. Akan tetapi, Cynthia memaksa sang tuan putri demi kebaikannya. Cynthia percaya Leashira dapat membantu Wilia menjadi lebih kuat lagi.


Leashira lalu memulainya dengan mengamati punggung Nina yang terbuka. Dia menyimpulkan luka bakar Nina sebagai penanda atau juga bisa sebagai akibat dari sesuatu yang berbahaya.


Semua orang terdiam mendengar cerita Eris tersebut, bahkan Wilia yang biasanya mulutnya selalu tajam.


"Luka bakar itu tidak hanya sekedar luka bakar biasa. Itu juga sebagai sebuah tanda bahwa jiwamu sudah ikut terbakar," ungkap Leashira.


"Tapi, bukankah semua Elemagnia kebal dengan elemen yang ada dalam tubuh mereka sendiri?" tanya Ashnard.


"Memang. Karena itu, bukan kekuatan api dari tubuhnya yang Nina berusaha kendalikan, namun dari sumber lain. Apakah itu benar?" Leashira menatap ke Eris dan Nina.


Nina mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu. Semua api sama saja bagiku," jawabnya cuek.


"Aku mengerti. Api dan air adalah unsur yang bertolak belakang. Jika api lebih besar, air akan menguap. Jika air lebih banyak, api yang akan padam. Namun, elemen air Ashnard istimewa. Katakan, apa yang kau rasakan sebelum Ashnard membungkusmu dengan air?" tanya Leashira ke Nina.


"Panas. Marah. Sangat benci," jawab Nina, penuh tekanan. Keningnya berkerut dan terlihat sejumlah urat timbul.

__ADS_1


"Lalu, apa yang kau rasakan saat Ashnard membungkusmu dengan air?"


"Sejuk. Menenangkan. Sangat nyaman. Seperti hal yang paling nyaman yang pernah kurasakan," jawab Nina, suaranya lebih lembut dan tenang.


"Bagus. Karena itu, Ashnard disini adalah kuncinya. Obat untukmu. Cobalah, Ashnard, tidak usah membungkus seluruh tubuh Nina dengan air. Lakukan apa yang Eris lakukan saat menenangkan Nina, tapi menggunakan kekuatanmu," suruh Leashira ke Ashnard.


Ashnard bereaksi terkejut. Eris dan Nina yang tahu apa yang dimaksud Leashira juga sama terkejutnya. Mereka tidak yakin akan melakukan yang dikatakan Leashira. Tapi, pada akhirnya tetap dilakukan karena Leashira berkata itu sangat penting.


Nina lalu menyingkirkan rambutnya yang terurai menutupi punggungnya, menyampingkannya di bahu kirinya. Ashnard duduk di belakang Nina sangat dekat seolah dia terlihat seperti sedang memangku Nina.


Ashnard terdiam selama beberapa detik saat punggung Nina terlihat jelas di depan matanya. Ashnard terpesona karena ini baru pertama kali dia melihat bagian punggung seorang gadis.


Ada perasaan di hatinya yang seakan memaksa Ashnard untuk segera menyentuh punggung Nina. Tapi, Ashnard menahannya. Roc berkata kalau itu adalah naluri seorang laki-laki.


"Ke-kenapa diam saja?" tanya Nina, wajahnya memerah tapi bukan karena apinya.


"Maaf, hanya saja ini punggungmu."


"Ba-bagaimana menurutmu? Kudengar ada laki-laki yang menyukai bagian punggung perempuan. Apa kau ternasuk laki-laki yang seleranya punggung perempuan?"


Ashnard bingung harus mengatakan apa. Membicarakan selera seksual saat seperti ini terasa sangat memalukan dan canggung. Mereka terdiam dalam jumlah rasa malu yang tak terhitung.


Nina juga tidak menyesali pertanyaan aneh yang tiba-tiba muncul dari mulutnya. Mau bagaimana lagi, dia sangat malu saat ini. Sampai saat ini hanya Ashnard lah, satu-satunya laki-laki yang melihat pinggangnya hingga ke seluruh bagian punggungnya yang telanjang, selain ayahnya. Dia bisa menahan apinya, tapi tak bisa menahan sensasi panas dari rasa malunya.


"A-apa kau sudah melihatnya? Da-dadaku ...." tanya Nina. Ia mengeratkan kain pemberian Eris untuk menutupi tubuh bagian depannya, terutama dadanya.


"Oh, belum, ma-maksudku aku tidak melihatnya. Eris langsung menutupimu setelah bajumu terlepas," ungkap Ashnard, jujur dari lubuk hatinya yang terdalam.


Mata Ashnard kini tertuju pada luka bakar Nina. Entah mengapa, Ashnard tidak merasa ngeri atau merinding saat melihat luka tersebut. Dia justru mengakui bahwa itu lebih terlihat seperti gambar yang indah daripada luka bakar yang mengerikan. Luka Nina membentuk seperti sepasang sayap yang membentang hingga ke samping tubuhnya. Di mana sebelumnya hanya di punggungnya, sekarang telah bertambah.


"Menurutku, lukamu cantik. Aku tidak masalah sama sekali. Mungkin lebih terlihat seperti tato yang keren, kau tahu maksudku, kan? Tato sayap," puji Ashnard.


Bahkan Eris yang paham dengan luka Nina tidak menganggapnya cantik. Luka itu berbahaya bagi orang lain, serta bagi Nina. Ayahnya pun juga menganggap luka itu adalah tanda kelemahan Nina. Ashnard menjadi orang pertama yang mengatakannya.

__ADS_1


"Jadi, aku akan mencobanya sekarang," ucap Ashnard, berusaha menahan naluri laki-lakinya hingga Nina mengizinkannya.


"Jangan menyentuh sembarangan! Jika tanganmu terus bergerak hingga ke depan, akan kupotong tanganmu!" ancam Nina, tapi dengan wajah yang malu. Memberikan kesan yang berbeda daripada yang didapat Wilia.


__ADS_2