
"Ash, kau yakin mengikuti pria mencurigakan itu?" tanya Roc.
"Mau bagaimana lagi? Aku juga tak tahu harus melakukan apa," jawab Ashnard berbisik.
Ashnard mengikuti pria tua itu dari belakangnya. Tongkatnya yang mengetuk tanah tiap melangkah, membuat Ashnard waspada. Ia tak ingin tongkat itu memukulnya lagi.
"Orang itu tak melihat kita, Ash. Gunakan kesempatan ini untuk membunuhnya dari belakang. Tusuk pakai pedangmu atau cekik dia hingga kehabisan nafas."
"Apa kau gila? Dia hanya pria tua biasa yang menyeramkan saja. Untuk apa membunuhnya?"
"Aku hafal orang-orang seperti dia itu pasti akan menusuk kita di belakang jika kita tak melakukannya terlebih dulu."
"Siapa kau? Pembunuh? Atau orang bodoh?"
Pria itu berhenti dan berbalik. "Apa yang kau ocehkan? Cepatlah! Masih muda tapi lebih lambat dariku," ejeknya.
"Ba-baik, tuan," balas Ashnard.
"Ingat kata Nous. Tetaplah waspada dengan sekitar," ucap Roc mengingatkan Ashnard.
Ashnard pun mengikuti pria itu sampai di sebuah gubuk kecil yang Ashnard lihat saat di atas. Gubuk itu terlihat sereyot pria tersebut. Dindingnya terbuat dari kayu hitam, sama sekali tak menggambarkan kemegahan akademi. Menyeramkan dengan pagar-pagar besi runcing berwarna hitam di sekelilingnya dan sebuah orang-orangan di halamannya.
"Bahkan rumahnya saja terlihat mencurigakan," celetuk Roc.
"Pergilah ke sana. Aku harus menyiapkan sesuatu," kata pria itu sambil menunjuk ke hutan di belakang rumah tersebut.
Tanpa menaruh curiga lebih jauh ke orang tersebut--tidak seperti Roc--Ashnard pun menuju ke belakang rumah.
Di depan, terlihat dua orang anak laki-laki yang sedang meributkan sesuatu. Salah satu anak laki-laki sedang berjongkok sambil melakukan sesuatu di tanah, sementara yang satunya lagi tampak geram pada anak yang berjongkok.
"Tak ada hal semacam itu di sini. Kau hanya membual saja," geramnya.
"Ada, kok. Indera manusia terbatas hanya apa yang menurut mereka wajar, tapi sesungguhnya mereka ada," jelas anak yang sedang berjongkok.
"Kalau begitu, buktikan! Buktikan semua hal yang kau ocehkan tentang identitas misterius sang peneror katamu itu!"
"Kau sedang melihatnya, lho."
Ashnard berjalan semakin dekat. Dan ternyata salah satu wajah itu tampak familiar baginya. Sangat familiar hingga membuatnya kesal.
Anak yang berdiri, menoleh dan terkejut saat melihat Ashnard. Ia pun meninggikan sudut bibirnya. "Lihat, siapa disini. Ternyata kau muncul disini, Raegulus yang hilang."
"Reinhard, apa yang kau lakukan disini?" tanya Ashnard, menatap tajam ke anak yang ternyata adalah Reinhard.
Senyuman liciknya itu selalu membuat Ashnard kesal. Saat ia mengingat kembali kejadian di ruang singgsana, ia tak bisa memikirkan hal lainnya selain kebencian. Apa yang telah mereka buat kepadanya dan Ibunya terus akan tertanam dalam hati Ashnard menjadi sebuah bentuk kebenciannya.
__ADS_1
"Tentu saja bersekolah di akademi, bodoh!"
"Tak bisa kupercaya, aku akan bersekolah di tempat yang sama sepertimu," gumam Ashnard.
"Hah? Kau? Mustahil!"
Ashnard mengangkat kedua bahunya dan memalingkan mukanya. "Terserahlah."
Setelah semua yang Reinhard dan para bangsawan itu lakukan padanya dan ibunya, Ashnard sudah membenamkan stigma buruk pada mereka. Entah kebaikan apapun yang mereka lakukan, itu tidak akan merubah pikiran Ashnard.
Segala sesuatu yang para bangsawan lakukan pasti bertujuan buruk, itulah yang Ashnard pikirkan. Ia bahkan ingin sekali berharap jika orang yang berada di balik penculikan ibunya adalah mereka. Dengan begitu, ia dengan mudah tahu siapa biang keroknya dan akan langsung menyelesaikannya secepat mata.
"Kau tahu? Saat ini, ada banyak sekali rumor mengenai keluarga Raegulus yang hilang. Ada yang bilang melarikan diri setelah keburukannya terungkap, menikah dengan keluarga luar, ulah bandit, atau jatuh miskin di pedesaan terpencil. Aku sangat menikmati mendengar rumornya, lho."
Hati Ashnard memanas, ia mengepalkan tangannya hingga meninggalkan bekas merah di telapaknya. Ashnard merasakan seperti sudah berada di ujung dan ingin sekali melepaskannya. Tapi, entah mengapa perasaan tersebut perlahan memudar. Mungkin campur tangan dari Roc yang menyebabkan amarah Ashnard mereda.
"Kenapa kau bisa berkata seperti itu? Katakan, Reinhard Asberion, kenapa kau membenciku dan keluargaku?"
Reinhard seketika terdiam. Ia menggigit bibirnya lalu berkata dengan perasaan yang sedikit tertahan. "Apa pedulimu? Bukankah kau sendiri suka mengejekku saat aku berada di bawahmu?"
Ucapan Reinhard kembali membawa Ashnard saat pertarungan mereka di jurang. Setelah ia memenangkan pertarungannya, Ashnard menghina Reinhard dan temannya, Ulfang. Saat itu, Ashnard berpikir itu adalah hal yang wajar. Pembalasan karena selalu mengganggunya.
"Jika aku minta maaf, apa kau akan berhenti?" tanya Ashnard.
"Kalian masih muda, tapi sudah bertengkar," cibirnya.
"Ah, Tuan Egon, anda sudah kembali rupanya." Anak satunya bangkit menyapa pria tua bernama Egon. Anak itu berambut coklat dengan mata biru. Dan senyuman yang ia berikan sangat lebar sehingga membuatnya seperti anak yang tulus. "Dan kulihat anda sepertinya membawa seorang anak baru." Sikapnya juga sopan.
"Kau benar. Ini anak terakhir. Terimalah dia," balas Egon sambil mendorong Ashnard ke depan dengan tongkatnya.
"Tunggu, kau masih belum memberitahuku apa yang harus kulakukan," sergah Ashnard.
"Mana ada?"
"Itu benar, Tuan Egon, anda belum memberitahu tujuan dari mengumpulkan kami di sini," tambah anak berambut coklat tersebut.
Reinhard ikut mengangguk.
"Masa? Ya sudahlah," ucap Egon menyerahlah. "Sebenarnya kalian terlambat datang. Pendaftaraan akademi sudah lewat beberapa hari yang lalu."
"Apa? Sudah lewat?" teriak Ashnard yang terkejut.
"Ups, mungkin lain kali, kawan," celetuk Roc.
Sedangkan Reinhard menggelengkan kepalanya. "Sudah kuduga."
__ADS_1
"Apa kau lihat ada orang lain di sini, hah?" bentak Ergon, tapi ia hanya menatap ke Ashnard saja. "Sekarang sedang ada pengumuman khusus oleh kepala sekolah di aula."
"Lalu, bagaimana sekarang? Aku harus masuk akademi, kalau tidak ...," ucapan Ashnard berakhiran tergantung. Ia menyesal karena terlalu santai saat perjalanan. Tapi, ia juga yakin jika di suratnya tak ada tanggal yang disebutkan atau dirinya sudah lupa. Apapun itu, Ashnard tak bisa melihatnya lagi karena ada di tangan pria tua pemarah itu.
"Kalau tidak, apa?" tanya Egon dengan nada keras. "Aku tidak peduli apa alasan kalian datang terlambat. Tapi, sudah menjadi tugasku untuk menghukum murid-murid yang terlambat."
"Tapi, surat rekomendasiku?" Ashnard memaksa.
"Aku tidak peduli dengan suratmu. Namanya terlambat ya terlambat. Anak muda zaman sekarang harus diberi pelajaran agar tak terlambat lagi."
Sedari tadi diam, adalah anak berambut cokelat tersebut. Ia merenung atau lebih tepatnya melamunkan suatu hal. Ia tampaknya tak tertarik dengan masalah keterlembatan ini. Mata dan pikirannya seperti tertuju pada hal yang lain. Ia seperti berputar-putar pada suatu pusat imajinasi dalam pikirannya. Setelah berhasil mendapatkan sesuatu yang hanya dia saja yang tahu, ia langsung tersenyum.
Saat Ashnard berusaha memohon pada Egon dan Reinhard hanya terdiam, anak itu pun berkata, "Anda bilang, kami harus diberi pelajaran agar tidak datang terlambat lagi. Bolehkah aku bertanya, pelajaran apa yang anda akan berikan?"
Seringai terlihat di wajah tua Egon. "Aku suka anak muda yang tidak suka basa-basi sepertimu."
"Terima kasih."
"Aku mengumpulkan kalian yang datang terlambat untuk melakukan satu penting dariku. Kalian harus saling bekerja sama untuk mengambil sebuah tanaman misterius yang ku tanam di dalam hutan ini," jelas Egon.
Ashnard bertanya, "Tanaman apa?"
"Kalau dia memberitahunya, bukan misterius lagi namanya, bodoh!" sergah Reinhard sambil tertawa.
"Dan ini petunjuk untuk tugasnya: Perhatikan bintang dan suara. Kalau begitu, segera lakukan!" Pria itu berbalik dan langsung pergi meninggalkan mereka.
"Tunggu, maksudnya apa?" tanya Ashnard.
Dengan diberikannya sebuah tugas dan dua petunjuk, ketiga anak itu mau tidak mau memasuki hutan untuk menjalankan tugasnya. Ada perasaan canggung karena tidak saling kenal, perasaan malu, perasaan ketidakpedulian dan perasaan benci yang menyerti tiga anak itu. Suasana campur aduk itu membuat Ashnard tak nyaman.
Ashnard berjalan dengan lemas karena kenyataan bahwa dirinya terlambat dan harus mendapatkan hukuman. Ia tak menduga hal seperti itu. Ia hanya ingin belajar dengan tenang seperti yang Nous dan Ozark katakan.
"Perhatikan jalanmu," ucap Roc.
Saat Ashnard larut dalam kesedihannya, ia tak sengaja menabrak anak berambut cokelat itu yang tiba-tiba berhenti.
"Maaf, aku tak sengaja-"
Anak berambut cokelat itu tiba-tiba berbalik dan berkata, "Yah, karena kita tidak memiliki pilihan lain, bagaimana jika kita saling memperkenalkan diri agar semakin akrab. Aku tidak mau tugas ini gagal."
"Aku juga tidak mau," sahut Ashnard dengan raut wajah muram.
"Tak ada urusannya," balas Reinhard cuek sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Anak muda yang tak Ashnard kenali itu tersenyum. Seolah menantikan hal ini. Ia menggeret Ashnard dan Reinhard dengan ucapan untuk mencapai tujuannya. Tapi, senyumannya itu memiliki niat asli yang terkubur sangat dalam hingga tak ada yang bisa memastikannya. "Kalau begitu, aku duluan. Namaku ...."
__ADS_1