
Semua orang tahu bahwa jika pedang itu sudah dihunuskan, maka mereka harus mundur dan tidak lagi bermacam-macam dengannya.
"Maafkan kami. Kami tidak tahu jika wanita itu adalah pelangganmu, Ksatria Bermata Putih," ucap salah satu pria yang membungkuk meminta maaf pada Alfeus.
Setelah jalan menuju lantai atas kembali terbuka dan suasana kembali tenang, Alfeus merangkulkan tangannya ke wanita tersebut dan menuntunnya hingga lantai atas.
Perlahan mereka menapaki satu per satu anak tangga.
"Ksatria Bermata Putih? Itu julukan yang menarik," kata sang wanita.
"Jangan hiraukan mereka. Julukan itu diberikan oleh orang yang kubunuh. Aku menganggap julukan itu sebagai kehormatan karena mengayunkan pedangku dengan sepenuh hati. Aku tidak suka jika julukan itu membawa ketakutan bagi orang lain."
"Oh, seperti Pembawa Malapateka? Itu julukan yang manusia berikan padaku. Sebenarnya ada banyak, Pembawa Maut, Pembawa Kematian, Dia yang Menyebabkan Kematian, Penguasa Orang Mati, Mimpi Buruk, Penghancur Negara, dan masih banyak julukanku lainnya. Semua julukanku membawa ketakutan pada setiap orang."
Alfeus langsung melepaskan rangkulannya saat dia teringat kembali bahwa yang ada di sebelahnya bukanlah wanita biasa, melainkan Dewi Kematian.
"Maaf, aku tidak sopan padamu."
Wanita itu tidak menjawab. Dia tidak akan menjawab jika Alfeus tiba-tiba berbicara dan bersikap sopan padanya. Karena jika dia seperti itu, apa bedanya dia dengan manusia lain yang takut padanya?
Sang Kematian sendiri dikenal karena ketakutan yang dia berikan, bukan karena hal lain. Seakan dia dan ketakutan itu diciptakan bersama. Wanita itu memakluminya, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang lemah dan rapuh.
"Jadi, apa kau tak mau diam saja tak menjelaskan kenapa kau membantuku di bawah tadi? Kau tahu aku Dewi Kematian dan mereka manusia biasa, bukan?"
"Ah, aku lupa soal itu. Aku terbiasa berhubungan dengan manusia, jadi tanpa kusadari aku menganggapmu sebagai seorang manusia yang butuh pertolongan."
Seorang dewa ditolong oleh manusia. Membayangkan hal itu membuat sang wanita tertawa. Dia yakin para dewa atau Orang-orang di Atas lainnya pasti juga akan tertawa terbahak-bahak, bahkan mungkin menganggap rendah Alfeus sekarang.
Semua orang, sekalipun petani kecil sekalipun tahu bahwa dewa dan manusia berada di level yang jauh berbeda. Dewa tidak memerlukan bantuan manusia dalam hal fisik. Dari dulu hingga sekarang, tidak akan berubah. Hal yang masuk akal itu sudah seperti menjadi sebuah peraturan tak tertulis. Itu berarti Alfeus sudah melanggar peraturan yang tidak ada siapapun yang berani melakukannya. Semakin membuat Sang Kematian tertarik padanya.
"Kau sungguh manusia yang menarik. Mungkin manusia pertama yang menyelamatkanku."
"Apa aku harus bangga dengan hal tersebut?"
__ADS_1
"Tergantung. Tapi, aku ingin kau bangga."
Akhirnya mereka mencapai lantai atas. Di sana, ada lorong panjang yang di penuhi dengan pintu-pintu di kedua sisi lorong. Setiap mereka melewati pintu itu, selalu terdengar suara kayu yang berdecit dan ******* yang bergairah. Bisa dibilang hampir semua kamar di lantai atas diisi dengan bunyi yang sama. Menurut Alfeus, di salah satu kamar yang dia lewati pasti ada temannya, Greg dan gadis pelayan tersebut.
Dengan suara ******* penuh kenikmatan di sekelilingnya, dan seorang wanita di sisinya, membuat Alfeus tidak bisa berpikir tenang. Apalagi dengan melihat ke mana tujuan mereka yang tidak jauh berbeda dengan pasangan lain sebelum mereka.
Sesekali Alfeus melirik ke wanita tersebut. Wajahnya yang menghadap ke depan, begitu tenang sambil tetap mempertahankan senyuman. Dia sekarang bertanya-tanya apakah seorang dewa memiliki kebutuhan yang sama seperti para manusia atau tidak?
Wanita itu menyadari Alfeus sedang mengamatinya saat ini. Dia bertanya, seketika membuat Alfeus tersentak malu.
Karena tidak ada suara aneh di dalam salah satu kamar, Alfeus langsung tahu bahwa itu adalah kamar yang akan dia masuki.
Kamar biasa pada umumnya. Tidak ada yang aneh. Ada lemari untuk menyimpan pakaian dan beberapa perabotan mendukung lainnya. Tidak lupa, perabotan yang sangat penting untuk penginapan adalah ranjang. Sebuah ranjang lebar khusus untuk pasangan.
Karena tujuan hanya untuk membahas masalah pribadi saja dan bukan untuk melakukan hal aneh, jadi Alfeus tidak berpikir untuk menggunakan ranjang tersebut. Kalaupun harus menginap, dia akan membiarkan wanita itu menggunakan ranjangnya sementara dia sendiri tidur di kursi atau tidak tidur untuk berjaga.
Alfeus melepaskan pedang sekaligus sarungnya yang terikat di pinggangnya dan meletakannya bersandar di tembok dekat ranjang. Dia lalu duduk di pinggir ranjang diikuti sang wanita yang duduk di sebelahnya.
Mata wanita itu mengarah ke pedang dengan gagang seputih tulang. "Pedangmu memiliki gagang yang unik. Apa kau menyukai warna putih?"
"Aku bisa memberikanmu perlengkapan serba putih. Tapi, dengan satu syarat." Wanita itu mengangkat jari telunjuknya menghadap ke atas.
"Biar kutebak. Menjadi ksatriamu, bukan?"
Wanita itu tersenyum karena tidak perlu menjelaskan sekali lagi.
"Tunggu sebentar. Kau kan dewa, memangnya butuh ksatria untuk menjagamu?"
"Tidak hanya menjagaku saja. Tapi juga menjaga hal yang lebih besar," jawab wanita itu. "Ada sebuah konsep. Di mana setiap kehidupan akan berakhir di kematian. Lalu, di kematian akan menciptakan kehidupan baru. Kehidupan baru tersebut tidak seperti kehidupanmu saat ini. Tidak ada yang namanya kelaparan, kehausan. Tidak ada batasan. Bisa dibilang kehidupan setelah kematian. Namun, aku menyebutnya kehidupan mutlak. Tugasmu adalah menjaga alam realitas tersebut dari ancaman apapun."
"Tapi, bukankah kalian para dewa maha kuat? Aku masih tidak mengerti kenapa membutuhkan bantuan manusia sepertiku."
"Jangan salah. Di atas langit masih ada langit. Mungkin bagimu, aku ini kuat. Tapi, bagiku, aku masih jauh dari apa yang sesungguhnya disebut sebagai maha kuat. Pada dasarnya, manusia sudah banyak membantu para dewa tidak secara langsung. Contohnya, adalah keberadaan kalian sendiri yang berpengaruh dalam pembentukan peradaban dunia."
__ADS_1
Alfeus masih menatap wanita itu seolah dia belum mencerna semua maksud dari ucapannya. Wanita itu berpikir, mungkin memang sulit menjelaskan dengan kata-kata. Maka dari itu, dia akan menunjukkannya secara langsung di depan mata sang pria.
"Begini saja, aku akan memperlihatkan padamu. Tapi, sekarang, kau hanya harus tidur."
Alfeus tersentak. "Tidur? Kenapa aku harus tidur?"
"Aku bisa saja membawa jiwamu langsung ke tujuan, tapi itu sama saja dengan membunuhmu. Karena itu, aku akan memperlihatkan maksudku melalui mimpimu. Mungkin ini sedikit menimbulkan masalah, tapi itu lebih baik daripada membuatmu mati."
Alfeus masih tidak begitu memahami maksud dari wanita itu. Apa maksud dari membunuhnya, dan memperlihatkan melalui mimpi? Sebagai seorang manusia, dia sudah diberitahu secara turun temurun jika para makhluk-makhluk ilahi memiliki pikiran yang berbeda dengan manusia. Rumit dan tidak mudah ditebak. Karena itu sia-sia memikirkannya, Alfeus menuruti saja perintah sang wanita itu.
"Tapi, aku tidak bisa tidur semudah itu? Kau tahu, manusia memerlukan tidur saat tubuh terasa sudah lelah. Suasana yang nyaman dan tenang juga mendukung. Ditambah, ada kau disini, jadi aku merasa sedikit sulit untuk tidur secepat itu," jelas Alfeus.
Wanita itu meletakkan tangannya di kening sang pria. Seketika, membuat tubuh pria itu lemas dan rubuh ke belakang, sementara kakinya masih tergantung di pinggir ranjang.
"Tidurlah yang nyenyak, manusia. Dan semoga mimpimu indah."
Wanita itu ikut membaringkan tubuhnya menghadap ke Alfeus. Dia tersenyum sambil memejamkan matanya. Sebuah cahaya biru mudah muncul di telapak tangannya yang menyentuh pipi kanan Alfeus. Cahaya itu membawa sang wanita ke ruangan yang hitam dan kosong.
Dia menghampiri seorang pria yang berdiri di tengah ruangan tersebut tidak bergerak sedikitpun. Tangannya menepuk bahu sang pria, membuatnya terlonjak kaget.
"Nona Kematian? Apa yang terjadi? Kenapa kau ada di tempat ...." Alfeus menyapu pandangan ke sekitar, dan tidak menemukan apapun. Wajahnya menjadi linglung. "Er ... nona, tempat apa sebenarnya ini?"
"Ini Ruang Kosong. Tempat dimana jiwamu berada dalam tubuhmu. Tempat ini adalah pusat dimana kau berpikir, mengingat, berkhayal, dan bermimpi."
Cahaya muncul di belakang Alfeus, bersama suara-suara yang sangat familiar di ingatannya. Alfeus berbalik untuk melihat semacam tampilan ilusi informasi yang dia ketahui. Ilusi tersebut menunjukkan seorang anak kecil yang berlari dengan gembira di padang rumput. Melihat punggung anak itu, Alfeus langsung tersadar jika ilusi di depannya adalah salah satu ingatannya.
Ingatan itu adalah saat dia bermain bersama adiknya di padang rumput di luar kota sebelum wabah merenggut nyawanya. Senyuman dan tawa anak laki-laki itu sungguh membuat Alfeus merasa nostalgia. Dia tidak bersedih, tapi justru merasa bersyukur karena ternyata dia masih menyimpan memori tersebut.
"Seperti yang kukatakan, ini tempat semua ingatanmu tersimpan," lanjut wanita itu setelah dia melihat senyuman kecil di wajah Alfeus. "Tubuhmu yang sekarang, sebenarnya adalah jiwamu. Jiwa adalah hal yang penting, karena menghubungkan ke segala hal, seperti ingatan, kekuatan, kedamaian batin dan juga ... mimpi."
"Jadi, aku sedang bermimpi sekarang?"
"Yah, tidak bisa dibilang sepenuhnya bermimpi. Jiwamu sudah berada dalam kondisi untuk bermimpi, hanya saja masih tertahan di alam bawah sadarmu. Semua jiwa manusia yang akan bermimpi akan dipindahkan atau mampu untuk berpindah ke Dunia Mimpi."
__ADS_1
"Oh, aku mengerti. Jadi, kau ingin menggunakan perpindahan ini untuk memindahkanku ke tempat yang ingin kau tuju, kan?"
"Tepat sekali. Inilah yang disebut oleh manusia yang tercerahkan sebagai proyeksi astral. Dunia Mimpi adalah salah satu alam realitas yang ada. Sama seperti tempat yang akan kita tuju, yaitu alamku. Karena adanya kesempatan untuk berpindah antar alam, akan jauh lebih mudah dan aman daripada harus membunuhmu dan membawa jiwamu."