The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Pertarungan Tak Resmi


__ADS_3

Kehebohan memang sudah tak dapat dihindari lagi. Itulah yang Erik inginkan. Sebuah saksi untuk rencananya. Mengalahkan Reinhard langsung sekaligus memperlihatkan pada para penonton seperti apa sebenarnya dia.


Namun, ketika di lorong di mana kehebohan terjadi, Ashnard tak melihat Erik dimanapun. Hanya ada Arlon. Itu membuat Ashnard berpikir jika Erik bersembunyi selagi Arlon menjadi boneka publiknya.


Ashnard berpikir bahwa rencana Reinhard lebih beresiko karena akan berhadapan langsung dengan Arlon dan Erik. Ia tidak setuju, tapi juga tak bisa merubah pola pikir Asberionnya.


Hal itu lah yang membuat Ashnard harus memikirkan cara lain. Ia lalu memutuskan mengajak Gerlon untuk mencari Erik. Lebih baik mencegah sebelum ******* dari rencana Erik terjadi. Dan tujuannya tidak lain adalah kamar Erik.


Dengan aksesnya sebagai prefek, dia tahu letak dan memiliki kunci cadangan untuk kamar Erik. Ia memutar salah satu kunci dari renteng dan membuka pintunya. Karena malam, dan semua murid pasti datang ke arena, tidak ada siapapun di dalam.


Di dalam, sama seperti kamar pada umumnya. Kasur, meja, laci, dan lemari. Tidak ada yang berbeda. Meskipun tak menemukan Erik, bukan berarti Ashnard menyerah. Ia berniat untuk mencari apapun yang bisa dia temukan di sini.


"Aku penasaran apa yang akan kita temukan di sini," gumam Gerlon.


"Aku harap jawaban," jawab Ashnard.


Mereka masuk dan mengamati seluruh ruangan dengan seksama. Mengamati dengan perlahan dan cermat seolah tak ingin melewatkan satu pun. Saking cermatnya sampai detil ukiran di gagang lemari dan guratan di tembok mereka temukan.


"Apa itu?" tunjuk Ashnard ke sebuah noda hitam di meja. Namun, setelah diperhatikan lagi, itu hanyalah tinta pena saja.


"Bagaimana dengan itu?" tunjuk Ashnard lagi ke sebuah bayangan seseorang di bilik kamar mandi. Dan ternyata, hanyalah bayangan dari handuk yang digantungkan saja.


"Kau terlalu panik, Ashnard," ejek Gerlon.


"Karena ini soal kekuatan kegelapan! Kekuatan itu bisa membahayakan orang lain dan hanya aku yang bisa menghentikannya. Kita harus menemukan sesuatu sebelum terjadi apa-apa pada Reinhard," kata Ashnard sambil membuka satu per satu laci.


"Wow, kemarin kau dengannya seperti musuh abadi dan sekarang kau peduli padanya. Itu perkembangan yang menarik."


"Sedikit bicara, banyak mencari," suruh Ashnard.


Bagi Gerlon, mencari di tempat yang sangat jelas itu akan sia-sia. Ia lalu mengarahkan pencariannya pada tempat sampah. Tempat yang orang-orang akan berpikir dua kali untuk mencarinya. Di dalamnya, ia menemukan sebuah kertas yang di ***** dan tekuk-tekuk.


"Kemarilah," panggil Gerlon ke Ashnard saat ia membuka dan membaca isi di dalam kertas itu.


Ada beberapa kalimat yang sudah dicoret oleh tinta hitam yang sama dengan yang Ashnard temukan di meja. Tulisan tersebut sudah tidak dapat di baca lagi karena coretannya. Namun, di bawah ada tambahan kalimat yang kasar dengan garis-garis yang tak rapi.


"Sebentar lagi, aku tidak akan ikut denganmu lagi. Aku akan menghancurkan semua orang ketika mereka sibuk bersorak dalam kegembiraan. Aku ingin melihat keputusasaan mereka."


"Apa ini?" tanya Ashnard.


"Kurasa ini tulisannya Erik. Dari tulisannya yang kacau dan tak rapi, sepertinya dia marah atau terburu-buru. Lalu ... sibuk bersorak dalam kegembiraan? Mungkinkah maksudnya ketika pertarungan?" tebak Gerlon.


Ashnard terkesiap. "Dia ingin menyerang saat pertarungan terjadi. Kita harus cepat!"


"Tapi, ada satu kata lainnya yang tidak kumengerti. 'PL'. Apa maksudnya PL?"


"Sudahlah, itu tidak penting. Kita harus pergi ke arena untuk menghentikannya." Ashnard menarik tangan Gerlon, membuat kertas itu melayang dan jatuh ke meja yang penuh tinta.

__ADS_1


Kertasnya menyerap dan kini menjadi hitam total, seperti di telan kegelapan. Menghilangkan semua catatan dan pesan yang ada, yang tersembunyi oleh mata kedua anak itu. Semuanya berisi perintah, termasuk mencari kegelapan di akademi.


Ketika Ashnard dan Gerlon sampai di arena, kericuhan semakin menjadi-jadi karena aksi pertarungan Reinhard dan Arlon yang memancing semangat mereka. Berbeda jauh dengan saat tes. Ashnard bahkan sulit mendengar Gerlon yang berbicara padanya.


"Bagaimana jika kita menjual makanan di sini?" teriak Gerlon.


"Apa?" Ashnard menggeleng tak mendengar sedikitpun suara Gerlon.


"BAGAIMANA JIKA KITA MENJUAL MAKANAN DI SINI?" Gerlon semakin berteriak kencang dan sambil menekankan kalimatnya.


"Makanan apa?" tanya Ashnard.


"Apa?" Kini giliran Gerlon yang tak mendengar.


Di lautan penonton yang tak berhentinya berteriak, ada satu tangan yang melambai ke Ashnard. Ashnard dan Gerlon lalu menuju tangan itu yang merupakan Liliya.


"Sudah berapa lama?" teriak Ashnard dekat di telinga Liliya.


Liliya lalu mengangkat semua jarinya, menunjukkan total angka 10. "Sepuluh menit, kurasa."


"Sial, aku harus cepat bertindak."


Selagi Ashnard memikirkan cara untuk mencegah pertarungan, Reinhard sibuk menangkis dan memberikan serangan dengan cepat ke Arlon.


Melalui kakinya sebagai tumpuan, Reinhard memutar angin dan melepaskannya sebagai pelontar, lalu menubrukan pedangnya pada pedang Arlon yang dilapisi bebatuan tebal.


Lalu, dari bawah kaki Reinhard, Arlon menciptakan sebuah pilar batu yang melemparkannya tinggi di langit arena. Menurut Arlon, dalam posisi seperti itu, seharusnya Reinhard tak bisa menghindar.


Ia mengayunkan pedangnya ke udara dan seketika sejumlah bebatuan terlepas dari bilahnya sebagai proyektil yang mengincar Reinhard.


Semua pandangan para penonton tertuju ke atas. Para murid memandangnya dengan beragam ekspresi seperti bersemangat, khawatir, takut ataupun senang. Semua peduli pada hasil akhirnya.


Bagaikan melayang tanpa menggunakan sayap, namun dengan udara yang ia kumpulkan. Gerakan jatuhnya melambat dan ia bisa melihat jelas dari atas sana tanpa takut menghantam tanah dengan cepat. Ketika peluru batu itu mengarah ke dirinya, Reinhard mengarahkan pedangnya untuk menangkis batu itu. Naas, tidak semua batu berhasil ditangkisnya. Lengan kirinya terluka.


Darah menetes dari lengan Reinhard ke wajah Arlon yang tampak senang. Seringai terbuka lebar dan ia memejamkan matanya, membentangkan tangannya ke samping seperti menerima berkah dari langit. Sebuah hujan darah yang menetes dari tubuh musuhnya.


"Dan sekarang, kematianmu, Reinhard Asberion, ada di tanganku."


Sejumlah batu lancip dan tajam, tumbuh serta memanjang seperti tombak yang sebesar pohon. Ujungnya seperti dipahat langsung oleh sang dewa hingga membentuk sebuah tombak bumi yang tajam. Mengarah Reinhard dari segala sisi dan akan terus tumbuh hingga berhasil menusuknya. Jika Reinhard tidak menghindar, seluruh tubuhnya akan penuh lobang.


Tapi, sedetik sebelum batu tajam itu menyentuh Reinhard, tiba-tiba sebuah penghalang hitam seperti kubah muncul. Membatasi area pertarungan dan kursi penonton.


Para penonton terheran dengan kemunculan penghalang yang mendadak. Mereka ingin melihat hasil akhirnya tapi telah disembunyikan.


"Apa-apaan ini?"


"Ini penghalang?"

__ADS_1


"Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi?" teriak penonton-penonton dari segala kursi.


Beberapa orang tidak bisa menembus penghalang itu, bahkan jika mereka ingin memaksanya.


Dengan cepat, Ashnard bertindak ketika penghalang itu muncul. Ashnard dapat merasakan bahwa energi di penghalang itu mengandung kekuatan kegelapan, yang menandakan Erik telah datang. Tanpa berkata ke Liliya dan Gerlon, Ashnard turun ke bawah, ke ruang persiapan.


Persis di depan penghalang yang seperti menatap langsung ke Jurang Kegelapan, Ashnard menarik nafas dalam-dalam lalu memfokuskan kekuatan astralnya untuk memperkuat jiwa dan pikirannya.


Awalnya, jarinya dan tangannya sudah masuk ke dalam, lalu dalam hitungan detik seluruh tubuhnya masuk. Ketika sudah masuk, ia sudah disambut oleh pemandangannya yang membuat langkahnya membatu dan matanya melebar kaku.


Ia berharap dapat menemukan Erik, namun ia justru menemukan Reinhard dengan kondisi tubuhnya tertusuk sejumlah batu tajam.


Meskipun terluka berat, Reinhard masih bertahan dan bertopang pada pedangnya dengan batu di perutnya. Darah mengalir deras tanpa henti. Ini kedua kalinya Ashnard melihat Reinhard dengan luka yang begitu parah.


"Hentikan!" teriak Ashnard berlari melindungi Reinhard ketika Arlon mendekat.


"Kau ingin menantangku juga?" tanya Arlon.


Ashnard mengulurkan pedangnya. "Sudah cukup. Reinhard sudah kalah. Hentikan pertarungan ini."


"Aku belum kalah, bodoh," erang Reinhard yang berdiri di samping Ashnard.


"Payah. Kau tampaknya gagal mendapatkan jawaban," ejek Ashnard.


"Ya ini sedang kuusahakan."


"Ngoceh apa kalian? Aku akan berhenti ketika Reinhard benar-benar mati. Tidak. Aku akan berhenti ketika Reinhard benar-benar lenyap," ungkap Arlon.


Sambil menahan luka di perutnya, Reinhard menangkat pedangnya kuat-kuat. "Pangeran Arlon, kau benar-benar terobsesi denganku, ya."


"Bagaimana dengan Erik? Apa kau melihatnya?" bisik Ashnard.


"Jangan memikirkan orang yang belum muncul. Masih ada yang harus di hadapi di sini."


"Belum muncul? Lalu, siapa yang menciptakan kubah ini?"


Melihat wajah Ashnard yang berkerut bingung, membuat Arlon tertawa cekikian. "Kalian belum tahu, ya? Kekuatan baruku!" Lalu, dari tubuhnya meluap sebuah energi hitam yang dahsyat. Kekuatan itu meledak-ledak hingga membuat Ashnard dan Reinhard terdorong. Noda hitam terlempar ke mana-mana.


"Dia punya elemen kegelapan? Bagaimana bisa?"


"Ini hadiah untuk mengalahkanmu, Reinhard," geram Arlon.


"Kekuatan itu, kau tidak bisa mengalahkannya sendirian, Reinhard," ucap Ashnard.


"Kau pun juga," balas Reinhard.


"Tidak mungkin aku akan bekerja sama denganmu."

__ADS_1


"Aku juga merasa seperti itu."


__ADS_2