
Wanita itu menyadari tatapan Alfeus yang mengarah ke Kematian. Dia meletakan kedua tangannya di pipi sang pria, lalu memaksa dia untuk menatap matanya saja.
"Apa yang kau lihat, manusia? Jangan lihat dia! Kenapa kau melihatnya!" tegur wanita itu sambil mengguncangkan dan menggelengkan kepala Alfeus.
"Aku tidak percaya padamu," kata Alfeus, menatap dengan serius.
"Apa? Kenapa? Dia adalah Sang Kematian, manusia! Sadarlah! Manusia seharusnya tidak dekat-dekat dengan para dewa, apalagi Kematian. Dia adalah Kegelapan. Hatinya dipenuhi dengan kegelapan yang dingin, tanpa cahaya sedikitpun. Dia pembunuh, bukan penyelamat atau pemberi harapan untuk para manusia. Takdirnya memang haruslah sendiri. Kesepian. Ditinggalkan oleh semuanya, termasuk anak-anak ciptaannya. Hal itu layak untuk didapatkan Sang Kematian yang terus menebar rasa takut di tanah para manusia."
Alfeus melihat sekali lagi Sang Kematian, lalu kembali menatap wanita di depannya. "Tidak. Aku menolak percaya padamu. Aku mengikuti dia karena keinginan hatiku sendiri." Alfeus mengatakan itu karena saat dia melihat lagi Sang Kematian, pandangannya tetap tidak berubah. Dia masih melihat seorang wanita tak berdaya yang dikurung.
"Apa?" Kedua kakak beradik itu terkejut dan heran.
"Maaf, nona. Jika kau benar adalah kakaknya, seharusnya kau bersikap seperti kakak pada umumnya. Kau seharusnya menjaga dan menyayangi adikmu. Bukan menjelek-jelekkannya di depan orang lain. Kau juga seharusnya ada saat adikmu membutuhkanmu, bukannya ikut meninggalkannya. Aku tidak tahu dewa macam apa kau ini, tapi bagiku kau sudah gagal menjadi seorang kakak."
Sang Kematian yang sudah sering merasakan ditegur atau dinasehati oleh Alfeus tersenyum puas saat melihat kakaknya yang mendapatkannya.
Tangan wanita tergantung sia-sia di sisi tubuhnya. "Apa kau tidak tahu siapa aku, manusia? Aku Penguasa Mimpi. Aku yang memberi mimpi-mimpi indah dan buruk pada kalian, manusia. Aku Eristhiar. Aku berkuasa atas dunia mimpi. Sementara kau, manusia rendahan, berani sekali kau menilaiku dengan pola pikir manusiamu yang tidak setara dewa!"
Di belakang punggungnya, ornamen emas yang berbentuk cabang itu memanjang dan ujungnya yang tajam menghadap ke arah Alfeud.
Sang Kematian yang tahu kalau kakaknya marah dan ingin menghabisi Alfeus berteriak, "Kakak! Hentikan! Jangan lukai dia!"
"Diamlah di sana, adikku yang nakal."
"Jika kakak membunuh manusia, mereka tidak akan mengampunimu." Ucapan itu seketika membuat Eristhiar berhenti mengarahkan tombak lancip di punggungnya pada Alfeus.
Dia menghampiri Sang Kematian sambil melepaskan kurungannya. Dengan cepat, sang kakak mencekik leher adiknya dan mengangkatnya cukup tinggi di udara hingga setinggi dia yang melayang.
__ADS_1
"Erida, kau yang dari awal telah melanggar peraturan. Lalu, kenapa aku tidak boleh?" Sambil mencekik adiknya, dia menatapnya tanpa belas kasih. Tatapannya benar-benar berniat untuk membunuh. Ditandai dengan cengkeramannya yang semakin kuat, meskipun hanya satu tangan.
"Kkkamu ... yang ... tttiddakk ... pppaham!"
Eristhiar pun menghela nafasnya. Seketika alam yang semula hitam, gelap dan kosong, berubah menjadi sebuah padang yang subur dengan langit malam yang cerah berbintang. Pohon hijau dan air segar yang mengalir menuju danau. Mereka berpindah di alam yang berbeda.
Dari belakang, Alfeus muncul untuk melepaskan sebuah ayunan punggung lengan kanannya ke arah pipi kiri Eristhiar dengan kuat. Akibatnya, Eristhiar terpental ke samping. Jatuh di rerumputan yang hijau.
Lalu, Alfeus membantu Erida yang kesakitan untuk berdiri. Wanita itu batuk-batuk sambil memegang lehernya.
"Aku mungkin sudah membalasmu jika tidak di alamku. Aku tak ingin mengotori dunia cantikku dengan darah kotormu, manusia." Eristhiar bangkit seolah tidak terjadi apa-apa. Lalu, melayang di udara. "Setiap ada yang datang aku harus menyambutnya. Begitulah peraturannya. Jadi ...." Wanita itu merentangkan tangannya sambil tersenyum, dan berkata dengan lantang, "Selamat datang di Alam Mimpi."
Di kondisi seperti ini, Alfeus sebenarnya tidak peduli dengan kata wanita itu atau dunia mimpinya. Tapi, matanya tak bisa menolak untuk melihat dengan jelas apa yang ada di sekitarnya.
Dunia Mimpi. Khayalan. Imajinasi. Semua itu tergambar dalam beragam bentuk dan kreativitas yang tercipta oleh pikiran. Bentuk aneh seperti bunga yang mengeluarkan awan atau paus berenang di langit malam atau kastil beraneka warna. Semua itu adalah bentuk dari imajinasi. Sebuah mimpi yang tercipta akibat keinginan seseorang.
Mimpi sendiri memiliki makna apa yang tidak bisa atau belum di dapat di dunia nyata. Maka dari itu semua hal yang di inginkan dan tidak atau belum di dapatkan ada di Dunia Mimpi. Wanita yang melayang di udara dengan gaun putih dan aksen garis emas itu bangga dengan makna mimpi baginya.
Alfeus adalah manusia, karena itu dia tidak bisa menolak keindahan yang Dunia Mimpi berikan padanya. Langit yang indah, angin yang sejuk, dan padang rumput terbuka. Ini semua mengingatkannya pada satu ingatan yang beharga baginya.
Lalu, dari dalam hutan menuju keluar, terdengar langkah kaki mungil yang dia ingat. Tawa lucu sama yang selalu mewarnai harinya-harinya. Seorang anak laki-laki dengan rambut hitam berlari dengan gembira sambil memberikan senyuman pada Alfeus.
"Kakak, ayo kejar aku. Tangkap aku kalau bisa," kata anak laki-laki itu pada Alfeus yang diam membeku.
"Inilah mimpimu yang sesungguhnya. Manusia harus bermimpi karena mimpilah yang membuat manusia merasa lebih hidup." Wanita itu begitu bangga ketika melihat mimpi Alfeus. Dia menunjukkan mimpi tersebut pada Alfeus karena itulah yang dilakukan Dewi Mimpi untuk manusia.
Alfeus meninggalkan Erida, dan berjalan mendekati adiknya dengan tatapan yang tidak percaya. Matanya menggenang air mata kerinduan. Ketika anak laki-laki itu berhenti dan tersenyum, Alfeus semakin mempercepat langkahnya dan langsung memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Kakak, kenapa? Apa kakak menangis?"
"Tidak."
"Kalau begitu, ayo main kejar-kejaran. Kakak harus menangkapku. Kalau kakak kalah, kakak harus bicara yang sesungguhnya dengan wanita itu." Anak laki-laki itu menunjuk ke arah Sang Kematian yang hanya bisa melihat Alfeus dari kejauhan.
Alfeus perlahan mengusapkan tangannya di kepala adiknya. "Baiklah. Ayo kita main sampai puas."
"Kau lihat, adikku yang nakal? Inilah manusia yang seharusnya. Manusia membutuhkan mimpi dan mimpi harus dirasakan oleh setiap manusia. Itu sudah menjadi hukum nyata." Eristhiar turun dari langit dan berhenti di sebelah adiknya yang murung.
Di depan mata kakak beradik itu, kebahagiaan dan tawa mengalir di bukit-bukit yang hijau seperti kawanan kuda. Berlarian dengan penuh keceriaan melewati rumput-rumput halus, sehalus sisa salju di musim semi. Bunga-bunya yang bermekaran dan benihnya yang tertiup angin, membawa harapan baru bagi para pemimpi.
Apa yang Erida lihat adalah kebahagiaan sejati, meskipun hanya sebuah mimpi yang akan langsung hilang ketika terbangun. Senyuman pria yang lebar itu tak pernah dia lihat sebelumnya. Yang selama ini dia lihat, bukanlah senyuman yang sesungguhnya dari Alfeus.
"Ini kebahagiaan palsu," ungkap Erida.
"Palsu atau tidaknya, bukan kita yang menilai. Tapi, mereka yang merasakannya langsung. Mereka bisa menganggap mimpi ini sebagai hadiah, atau jawaban dari semua masalah yang mereka hadapi. Kegundahan hati, kesedihan, kerinduan. Itulah sifat manusia. Lebih lemah daripada siapapun, tapi memiliki perasaan yang jauh lebih kuat."
"Apa kau ingin menghinaku? Kesombonganmu adalah tanda keruntuhanmu, kak." Wajah Erida menjadi datar dan dingin, tak berperasaan dan penuh makna yang mengerikan. Wajah sesungguhmya dari Sang Kematian yang ditakutin oleh banyak makhluk di dunia.
"Sombong? Bicara apa kau? Ini memang kita, bukan? Aku adalah kebahagiaan bagi para manusia, sementara kau adalah ketakutan bagi mereka. Kau ditakdirkan untuk bermuka dingin dengan kepribadian sadis. Sementara aku ditakdirkan menjadi sosok yang lembut dan penuh kasih di setiap misterinya." Eristhiar lalu mengambil tangan adiknya yang pucat. Tangan dengan kuku hitam dan nadi yang seolah mati itu diangkat untuk ditunjukkan. "Tanganmu diciptakan untuk membunuh, menyakiti dan menyiksa. Semua rasa sakit, darah, jeritan dan tangisan disebabkan oleh kedua tanganmu ini. Aku tidak sombong, Erida. Aku membicarakan fakta yang sesungguhnya dari keberadaan kita. Aku harus memberikan mimpi pada manusia dan kau harus mencabut jiwa manusia. Itu tidak akan berubah."
Erida melihat tangannya sendiri yang pucat lalu beralih ke tangan kakaknya dengan kuku emas dan kulit seputih dan selembut susu. Perbedaan yang mencolok itu jelas terlihat di matanya, tidak hanya sekedar ucapan penuh kiasan.
Lalu, Eristhiar memegang kedua pipi adiknya dan mendekatkan wajahnya. Mata kuningnya sangat cerah, berlawanan dengan mata merah Erida yang penuh duka. "Kau harus berhenti, Erida! Sudahi semua ini. Takdirmu hanya satu dan hanya itu yang harus kau lakukan. Jangan melakukan hal lain yang menganggu hukum dunia."
Dari matanya, keluar air mata yang tampak seperti darah mengalir di pipi hingga ke tangan Sang Mimpi. "Aku tidak ingin menjadi seperti itu! Aku membencinya. Tolong jangan membuatku kembali seperti dulu lagi," ucap wanita yang terisak itu.
__ADS_1
"Oh, Erida ku sayang." Sang kakak mencium dan menjilat air mata merah yang membasahi pipinya hingga berakhir dengan mencium matanya. Kemudian, dia memeluk dan sayap emas di punggungnya itu kemudian merentang dan ikut memeluk Erida. "Jangan bersedih, Erida. Kau itu Kematian. Kau tidak boleh menunjukkan kelemahanmu. Aku tahu kau sangat kesepian selama ratusan abad ini. Tapi, memang seharusnya begitu."
Setelah memeluknya dengan erat, Sang Mimpi melepaskan dan mendorong Sang Kematian, hingga membuatnya terjatuh. Sementara, dia sendiri terbang ke langit di mana sayap emasnya lebih terang dari apapun dan dapat dilihat dari penjuru manapun.