
Mereka kesulitan untuk percaya terhadap pria tua itu, terhadap kata-katanya yang aneh. Kenyataannya memang tidak masuk akal jika pria itu tahu seakan sudah kenal dekat dengan seorang yang telah lama mati.
Namun, penjelasan mereka terhadap pernyataan pria itu, justru membuatnya marah. Karena itu, Nina menahannya agar dia tidak menakuti Eris. Agar dia berhenti bersikap aneh dan menerima kenyataannya.
Kecaman Nina itu mengaktifkan aura panas ditangannya yang memberikan sensasi terbakar bagi Flo. Flo terjatuh sambil memegang bahunya. Ia meringkuk dan berteriak kesakitan.
"Nina! Kau berlebihan," bentak Eris, lalu langsung berusaha menolong pria tua yang tergeletak di lantai.
"Air ... aku butuh air," lirihnya.
Segera, Ashnard menciptakan air di telapak tangannya yang ia kirimkan untuk membasahi bahu kiri Flo. Ashnard memberikan gelombang air kedua yang kemudian ia tumpahkan langsung ke tubuh pria tua itu.
"Ashnard!" Eris membentak Ashnard.
"Tanganku kepeleset," dalih Ashnard sambil mengangkat kedua bahunya.
Pria tua itu perlahan tenang setelah Ashnard menyiramnya dengan elemen air. Ia bergumam tak jelas. Eris menyelipkan tangannya di bawah kepala pria itu, lalu mengangkatnya.
Matanya perlahan terbuka dan ia mulai bergumam tidak jelas lagi. "Leashira? Apakah itu kau?" Ia menatap Ashnard tak berkedip, seperti orang yang sudah lama tidak bertemu, penuh kerinduan.
Ashnard terkejut saat pria tua itu mendekatinya dan memulai memegang kakinya. "Hei, apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Ashnard berusaha keras untuk melepaskan diri, tapi pria tua itu terus mencengkeram kakinya sangat kuat. "Nina, bantu aku!"
Nina memegangi kedua bahu Flo dan menariknya ke belakang. Kali ini, ia tak memakai kekuatannya lagi karena Eris memberikan tatapan tajam sebelumnya.
Meskipun Nina sudah membantunya, pria itu masih tak ingin lepas. Dia justru semakin melekat dengan memeluk kaki Ashnard seperti lem.
"Lepaskan aku, pria tua aneh! Aku bukan Leashira!" teriak Ashnard.
Dengan mudahnya, pria tua itu melepaskan pelukannya. Hatinya terpukul dengan perkataan Ashnard. Ia mematung sambil duduk bertumpu kakinya.
Lalu, pria tua itu bangkit dan berjalan seperti orang yang semangat hidupnya telah dicabut. Ia berjalan lemah ke arah tempat duduknya. Dengan cepat, Ashnard meraih lengan pria itu sebelum kembali tidur lagi.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu. Ini soal Leashira," ucap Ashnard.
__ADS_1
Flo sedikit menoleh ke Ashnard. "Apa yang ingin kau tahu darinya?" tanyanya datar. "Leashira-ku yang cantik menguasai seluruh langit dan bumi. Ia bisa memberikanku air yang segar, meniup angin lembut, dan memberi cahaya yang terang. Tidak mungkin kalian tidak mengenali orang sehebat dia."
"Ya, tapi kami hanya ingin tahu soal obat yang dia miliki. Kami dengar resep obatnya mampu menyembuhkan segala macam penyakit dan kami memerluka resep itu segera. Kami akan sangat senang jika kau bersedia memberitahu kami resepnya."
"Oh, aku pernah mendengarnya dari manusia. Kalau tidak salah, obat yang Leashira buat memiliki satu bahan yang sama. Bunga ajaib yang Leashira namai Erastion. Kata mereka, bunga itulah yang memberikan efek penyembuhan luar biasa."
Ashnard dan Eris kebingungan dengan mereka yang dimaksud oleh Flo. Tapi, rasa penasaran mereka buyar saat Nina langsung bertanya, "Di mana dia mendapatkan bunga itu?"
"Jauh di dalam hutan. Kami tak pernah tahu secara detil tempat itu. Kami hanya tahu kalau Leashira mengikuti cahaya dari bunga berwarna biru di dalam hutan."
Dirasa penjelasan itu sudah cukup bagi Ashnard untuk pergi. Namun, sebelum Ashnard keluar dari toko, Flo berkata, "Kalau kalian bertemu dengan Leashira, katakan padanya aku sedang menunggunya."
Pergi ke hutan bukanlah suatu hal yang ia duga. Flo berkata kalau obat yang Leashira buat itu memiliki satu bahan yang istimewa, yaitu Bunga Erastion. Bukan kekuatan Leashira atau pengetahuan yang memberikan efek penyembuhan, tapi bunga itu.
Karena mereka sudah mengetahui tentang resep obat itu, tidak ada alasan lain untuk tak kembali ke toko gaun. Tugas mereka untuk mendapatkan resep obat sudah selesai.
"Kalau begitu, kalian harus membawakan bunga itu padaku, maka baru kukatakan kalau tugas kalian selesai."
"Tapi, kau bilang hanya meminta resepnya saja, kan?" tanya Ashnard.
"Kami juga tidak tahu banyak mengenai tempat bunga itu."
"Kita buat sederhana saja. Kalian bawakan aku bunga itu, dan akan kuberikan gaun itu. Juga akan memberikan beberapa hadiah tamabahan. Bagaimana?" tawar wanita itu.
Begitulah yang dikatakan sang penjaga toko. Walaupun, tokonya sudah usang dan akan hancur, tapi jiwa pedagangnya tidak. Mau tidak mau, Ashnard dan lainnya harus mencarinya demi kesepakatan.
Karena hanya bunga itu yang disebut oleh Flo, mereka hanya disuruh mencari bunga itu saja.
"Ya sudah, kita lakukan saja. Aku ingin langsung menyelesaikan saja," ucap Ashnard.
"Aku setuju. Lebih cepat lebih baik," sahut Eris. Ini pertama kalinya Eris setuju dengan Ashnard.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambil pedangku dulu. Aku akan kembi dengan cepat." Ashnard pamit pergi, meninggalkan Eris dan Nina yang menunggu di depan toko.
__ADS_1
Baru beberapa detik setelah Ashnard pergi ke penginapannya, sosok yang anggun tapi sombong muncul dari arah yang berlawanan. Wilia dan teman-temannya berdiri di depan Eris dan Nina sambil memandang rendah.
"Lihat siapa disini? Aku tak menyangka gadis api Vantalion dan si pengadu ada disini. Aku tadi melihat kalian keluar dari toko jelek ini, oh, bersama seorang anak laki-laki yang kalau tidak salah namanya Ashnard. Ternyata kalian memiliki selera yang aneh saat berkencan, apalagi di tempat jelek ini." Lalu, diakhiri dengan tertawa jahatnya yang lebar.
"Masih lebih baik kami berkencan dengan Ashnard, daripada kau sendiri, tuan putri, kau tidak pergi bersama siapa-siapa selain temanmu saja. Bagaimana perasaan Ayahmu jika kau tidak mendapatkan seorang lelaki sebagai pasanganmu?" balas Nina.
"Kau! Ingat ini, gadis api! Berita kalian mengencani satu laki-laki yang sama akan tersebar," geram Wilia.
"Coba saja kalau berani," tantang Nina. Ia semakin mendekat dan memberikan tatapan yang tidak takut sedikitpun dengan ancaman sang putri.
Wilia memalingkan muka dan mengakhiri perseteruan ini saat salah satu temannya-yang merupakan seorang pelayan-datang dan membisikkan sesuatu. "Nona Wilia, aku melihat Tuan Asberion sedang membeli gaun mahal. Dari ukuran dadanya, tampaknya itu untukmu, Nona Wilia."
Wilia menatap pelayannya sendiri dengan bangga. "Haha, lihat saja nanti, gadis api!" serunya ke Nina. Walaupun tak ingin ia tunjukkan, tapi ia yakin bahwa ia telah memenangi pertarungan ini. Namun, baru beberapa langkah ia pergi, ia berhenti dan berbalik menatap ke Eris. Wajahnya kembali berubah serius. "Dan kau si pengadu, kau harus menghapus catatan pelanggaranku kalau kau tidak ingin ada dalam masalah."
"Aku tak bisa melakukan itu. Kau sudah melanggar peraturan dan tetap melanggar. Itu adalah konsekuensi atas perbuatanmu. Dan juga, ingatlah sikapmu sebagai seorang putri, Wilia," jawab Eris datar.
"Aku ingat." Wilia berjalan perlahan mendekati Eris, dan berbisik tepat di telinga kirinya. "Karena itu aku menyuruhmu untuk menghapus semua catatan tentangku. Kau tahu, aku bisa melakukan apapun padamu. Dan kau tidak bisa lari dariku. Gadis api itu juga tidak akan selamanya ada disisimu untuk melindungimu. Ingat itu!"
Wilia akhirnya pergi dengan gaya angkuhnya dan jalannya yang elegan. Dia meletakkan bahunya ke belakang dan memajukan dadanya, sambil meninggikan dagunya-tanda kebesaran seorang putri. Sementara teman-temannya berjalan beriringan di belakangnya.
Ashnard kembali cukup cepat dari penginapannya hingga ia melihat apa yang terjadi. Ia berpapasan di jalan dengan Wilia yang bahkan tak melirik sedikitpun ke arahnya.
Ashnard memang tidak mendengar semua yang Wilia, Nina dan Eris bicarakan. Ia juga tidak tahu apa yang Wilia bisikkan ke Eris, tapi dari wajah Eris yang ketakutan, sudah menunjukkan kalau ada masalah yang terjadi.
Nina juga menyadarinya, karena itu kepalan tinjunya berapi-api dan segera melayang ke muka Wilia, jika Eris tidak menahannya. "Jangan lakukan itu! Kau hanya akan menambahkan kekacauan saja," ucap Eris, suaranya sedikit bergetar.
"Tapi, dia-"
Pegangan Eris semakin kuat, membuat ucapan Nina terpotong. "Tenang saja. Aku tidak akan mematuhi ucapannya. Ini sudah menjadi tugasku dan harus kulakukan sampai akhir."
Api di tangan Nina perlahan surut dan akhirnya hilang bersamaan dengan raut kesedihan yang muncul di wajahnya. Ia ingin melampiaskan amarahnya, tapi ia sadar dengan ucapan Eris.
"Ingat, kita harus fokus pada satu tujuan utama kita, kan?" ucap Eris mengingatkan.
__ADS_1
Setelah itu, mereka pun melanjutkan pergi setelah Ashnard bergabung kembali di hutan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di hutan, oleh karena itu, Ashnard membawa persiapan dan persenjataan seperti yang dikatakan Nous untuk selalu waspada.