
Suasana tampak lebih berbeda ketika Eris mengikuti mereka. Antara tak ingin gerak-gerik mereka di catat oleh Eris atau mereka tak ingin Eris ikut ke dalam masalah ini. Semua berpikir sama, tapi tak ada yang bertindak.
Ashnard melirik ke belakang, ke Eris yang berjalan menempel Liliya seperti penjaganya. Matanya membalas tajam, Ashnard cepat-cepat membuang muka sebelum gadis itu berbicara lebar soal pelanggaran lagi.
"Tenang saja. Kalian tidak usah memikirkanku. Aku hanya ikut untum menemani Liliya saja. Aku tidak akan ikut campur urusan kalian," kata Eris.
Ashnard dan yang lainnya pun pasrah dan membiarkan Eris ikut. Jika keadaan tidak sesuai dengan keinginan mereka, maka biarlah itu terjadi.
Setelah melewati beberapa lorong dan belokan, mereka pun sampai di depan pintu besar yanh tersusun dari logam dan kayu berat. Di atasnya terdapat pahatan batu yang membentuk simbol akademi.
Pintu itu sangat besar bahkan lebih besar dari pintu asrama mereka. Dengan ukuran seperti itu, lebih tepat jika disebut gerbang daripada pintu.
Ketika Ashnard mengetuk pintunya 3 kali, bergema suara yang berbobot dan lebih terdengar seperti hentakkan. Bahkan suara berat seperti itu, tidak ada yang merespon di baliknya.
Ashnard mengunggu cukup lama dan mengetuk berkali-kali, tapi tampaknya Kepala Akademi tidak ada di ruangannya.
"Bagaimana sekarang?" tanya Liliya.
"Mungkin Kepala Akademi masih sibuk. Datang lagi nanti atau mungkin besok. Dan sekarang kalian kembalilah ke asrama," ujar Eris.
"Tidak ada waktu." Reinhard tanpa basa-basi mendobrak pintu yang sangat berat itu dengan bahunya. Ternyata pintu itu tidak terkunci dan terbuka dengan mudahnya.
"Hei, apa yang kau lakukan!? Masuk ruangan orang tanpa izin juga pelanggaran!"
Lalu, semuanya tidak ada pilihan selain mengikuti menerobos masuk.
"Sudah kubilang kalian tidak boleh ... ma ... suk ...." Eris mengikuti masuk dan langsung terpana dengan ruangan Kepala Akademi yang lebar.
Sebuah meja di kelilingi dengan rak buku berisi puluhan buku tebal dan berbobot. Buku-buku yang kecil kemungkinan bisa ditemukan di perpustakaan umum. Kemudian, mata Eris menyapu ukiran-ukiran dan ornamen dinding yang belum pernah ia lihat di sekitaran akademi.
Eris mendekati ukiran dinding itu yang seperti lukisan cerita. Ada seorang pria yang berdiri di puncak gunung. Pria itu terlihat seperti membawa bintang yang ia angkat ke langit. Lalu, ukiran di sebelah kanannya berupa ombak yang menyapu tanah, badai yang mencabut pohon, dan gempa yang membenamkan rumah.
Liliya mendekati Eris yang sibuk mengamati ukiran. "Apa kau pernah lihat ini sebelumnya?"
"Tidak. Aku bahkan belum pernah masuk ke sini."
"Kau tahu sesuatu mengenai ukiran ini?" tanya Liliya.
Eris menggeleng. Lalu, jarinya menelusuri tiap ukiran rumit di dinding. "Tapi, ini seperti menceritakan sesuatu," duga Eris. "Bencana alam akan mengakhiri bumi dan menghapus seluruh peradaban umat manusia. Dan pria yang berdiri di puncak gunung, mungkin adalah sang penyelamatnya."
"Lalu, bagaimana dengan yang ini?" tunjuk Liliya ke ukiran yang menggambarkan bintang yang retak dan hancur menjadi serpihan kecil.
__ADS_1
"Kurasa makna bintang di ukiran ini adalah simbol harapan. Dan harapan tersebut hancur."
"Hancur? Kenapa?"
"Tidak usah dipikirkan, Liliya. Mungkin ini tidak ada kaitannya dengan kenyataan. Mungkin ukiran ini hanyalah sekedar ukiran biasa saja."
Ucapan Eris sedikit membuat Liliya kembali tenang. Padahal, sejenak gadis berkacamata itu menganggap aneh dan curiga karena ada ukiran serumit ini di ruangan Kepala Akademi. Dia mengubah pikirannya saat teringat bahwa tidak sedikit Kepala Akademi yang menyukai seni dan mungkin ukiran ini adalah salah satu karyanya.
"Tapi, menurutku ruangan ini cukup antik," ucap Eris beranjak ke tempat lain.
Liliya berjalan di samping Eris, mengikutinya. "Kau benar. Ada banyak ukiran-ukiran, patung dan benda antik yang luar biasa. Apakah semuanya memiliki pesan dan cerita di baliknya?"
"Tentu saja. Salah satu nilai sebuah karya seni berasal dari cerita terciptanya. Semakin lama usianya dan semakin kaya cerita yang tersimpan, maka semakin tinggi nilainya," jelas Eris.
"Oh, aku tak tahu kau menyukai hal semacam ini." Liliya terkagum.
"Yah, aku tahu beberapa dari buku. Tapi, sebenarnya Abertha lah yang berperan besar. Dia teman sekamarku selain Eris. Dia menyukai hal-hal berbau kesenian, terutama seni lukis."
"Oh, maksudmu, gadis yang jarang ke luar itu? Aku sudah lama tidak melihatnya."
"Dia memang sangat suka melukis di kamar. Katanya, inspirasi itu di dapatkan saat kita menyukai dan menerima apapun yang ada di sekitar. Karena dia merasa sudah nyaman di kamar, jadi dia sangat sulit untuk di ajak ke luar."
Ruangan Kepala Akademi membentuk bangun segi enam yang besar. Ada enam dinding yang tiap dindingnya di pisah dengan satu pilar batu. Di atas pilar itu, terdapat patung batu kecil berbentuk kuda dengan sayap.
"Memang benar, Pegasus adalah makhluk yang indah dan suci. Tapi, jika disuruh memilih, aku akan memilih Phoenix," jawab Eris.
"Kenapa Phoenix?"
"Meskipun Phoenix adalah makhluk legendaris yang sulit ditemukan dan berbahaya, tapi arti makna di balik keberadaannya lah yang membuatku mengakuinya," kata Eris. "Selain dilambangkan sebagai perputaran kehidupan dan kematian. Di bagian timur Agnarr, Phoenix dikenal sebagai penjaga keseimbangan dunia. Artinya maknanya lebih luas dan dalam daripada lingkaran kehidupan."
"Itu cukup filosofis darimu."
"Yah, itu tidak salah."
Sementara para lelaki, berkeliling di sekitar rak buku dan rak peralatan dekat meja Kepala Akademi. Mereka semua terlalu terpukau hingga tak sadar sudah melihat banyak hal.
"Apa sebaiknya kita ke luar saja?" saran Ashnard, namun tidak digubris oleh lainnya.
Di salah satu dinding, banyak terpampang lukisan-lukisan dari Kepala Akademi sebelumnya. Lukisan itu tidak larut sama sekali meskipun sudah berusia sangat tua.
"Aku membayangkan jika wajahku ada di antara mereka," ucap Ashnard.
__ADS_1
Seketika Reinhard dan Gerlon tertawa. "Di mimpimu."
Tatapan Ashnard yang kesal, tertuju ke sebuah pedang yang di gantungkan di dinding. Pedang yang masih disarungkan itu memiliki emblem bintang bersudut empat di batang silangnya.
"Simbol akademi?" gumam Ashnard.
Reinhard mendekat dan membalas, "Bukan, ini simbol Ordo Ksatria Astria. Setiap ksatria ordo memiliki pedang mereka di pasang emblem bintang. Fungsinya sama seperti bros elemental, yaitu sebagai identitas."
"Apa bedanya dengan simbol akademi? Yang kulihat mereka memakai simbol yang sama," tanya Ashnard.
"Maknanya yang membedakan. Akademi, Astria, dan Gereja Cahaya, semua memakai lambang yang sama, tapi tiap maknanya berbeda-beda."
"Lalu, apa makna bintang untuk ordo?"
"Harapan dan kekuatan sebuah bintang. Kekuatan untuk melindungi yang lemah dan membinasakan kejahatan. Seperti bintang jatuh."
"Ya, bentuk yang sama itu tidak terlalu penting. Yang penting adalah keyakinan kita. Bagaimana cara kita memandang lambang tersebut," tambah Gerlon.
Ashnard menganggut-anggut dengan semua penjelasan dari Reinhard dan Gerlon. Ia kembali mengamati pedang itu yang digantung di dinding. "Aku tidak tahu kalau Kepala Akademi ternyata adalah anggota Ksatria Astria."
"Setiap ksatria akan selalu membawa pedang mereka ke mana pun. Fakta bahwa pedang ini digantungkan di sini, itu berarti, Kepala Akademi hanyalah mantan ksatria saja. Sekarang pedang ini hanyalah pajangan saja," jelas Reinhard.
Tidak hanya pedang dan lukisan saja yang menarik perhatian Ashnard. Ada beberapa barang seperti kalung berliontin biru laut, vas besar berwarna kuning dengan lukisan cantik, sebuah buku yang tidak pada tempatnya, dan sebuah terompet yang mengingatkan Ashnard pada negerinya dan Empat Dewa Angin.
Sudah cukup lama mereka berada disini dan Kepala Akademi masih belum kembali. Meskipun ada banyak barang-barang menarik yang bisa di amati, sudah saatnya mereka meninggalkan ruangan ini.
Sementara Ashnard dan para lelaki lainnya sudah ke luar, Liliya yang masih di dalam tak sengaja menemukan di salah satu rak Kepala Akademi, sebuah botol kaca berisi cairan merah yang sangat pekat.
"Darah? Kenapa Kepala Akademi menyimpan darah?" heran Eris.
Liliya juga merasa heran, karena saat melihat melalui botol kaca itu, cairan merah itu serasa berputar dan seolah menarik dirinya. Membuatnya terhipnotis dan ingin tenggelam ke kolam darah yang dalam.
"Liliya, kau baik-baik saja?" Eris menepuk dan mengguncang Liliya--sedari tadi tidak meresponnya--hingga sadar.
Tiba-tiba, setelah kesadaran Liliya kembali, ia terhuyung. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh sebelum Eris berhasil menahannya. "Maaf, aku sedikit mual."
"Mual? Apa kau sakit?"
"Tidak, hanya mual sesaat. Mungkin aku kelaparan atau kedinginan," ungkap Liliya mencoba menenangkan Eris.
"Tentu saja kau kedinginan. Kau hanya pakai gaun tidurmu saja."
__ADS_1
Setelah Liliya menarik nafas sejenak, ia merasa normal kembali dan berhasil berdiri tegak tanpa bantuan Eris. Meskipun Liliya tidak tahu apa yang terjadi dengannya, ia tidak memikirkannya lebih lanjut dan segera menyusul Ashnard serta yang lainnya.