
"Bi-bisakah kau menunggu sebentar?" pinta Eris yang sudah kehilangan nafasnya lagi. "Aku ... Aku masih ma-mau melanjutkan ... tugasku."
Tapi, Abertha berkata lain. Sudah dua lembar halaman Eris terlanjur tulis saat ada Abertha yang berakhit tulisannya menjadi kacau total. Beberapa bisa dibaca dan beberapa tidak. Eris lalu berhenti sambil memegang bulatan yang muncul dari kain roknya.
Nina pun kembali dari kamar mandi, dan dia berhenti di ambang pintu saat dia melihat Eris duduk meringkuk di kursi sambil satu tangannya memegang sesuatu dan terus mengesah-ngesah. Setelah dia perhatikan lagi, ada bentuk bulatan yang dia pegang timbul dari balik roknya. Juga, tampak kaki yang bukan milik Eris di bawah mejanya. Segera dia tahu bahwa itu pasti ulah Abertha.
Tapi, karena setiap dia mencegah Abertha melakukan seenaknya dan Eris selalu melarangnya, Nina memutuskan untuk sedikit mengabaikannya dan sambil mengawasi.
Nina lewat belakangnya sambil melirik ke Eris, Nina duduk di kasur sambil melirik ke Eris, Nina membaca buku sambil melirik ke Eris, sampai Nina hanya berdiri saja di tengah ruangan untuk mengawasi Eris. Meskipun pikirannya menyuruh untuk mengabaikannya, tapi hatinya membuat dia tidak bisa untuk melepaskan pandangan dari Eris sebentar apapun.
"Sudah lebih dari satu jam, tapi kalian masih lanjut? Kalian benar-benar gila," ungkap Nina yang berdiri di belakang Eris. "Aku tak tahan. Lebih baik aku keluar saja dari sini."
Lagi-lagi, Eris ditinggal sendiri oleh Nina untuk dibiarkan disiksa Abertha. Padahal Eris sedikit berharap pada Nina untuk menyelamatkannya.
Beberapa saat setelah Nina keluar, Abertha semakin menggila. Sampai-sampai Eris merasakan rasa sakit akibat gigitan. Tapi, karena tubuhnya seolah-olah menerimanya, Eris jadi merasa bingung harus bertindak apa saat terasa gigitan.
Dalam satu hari ini, sebenarnya tidak hanya terjadi sekali saja. Melainkan beberapa kali. Setelah belajar, kejadian yang sama terulang kembali saat Eris bersantai membaca buku di kursi lain, lalu saat dia tidur siang Abertha justru mengusiknya lagi yang membuatnya kesulitan untuk tidur, saat Eris ingin keluar sekalipun Abertha melakukan yang sama dengan masuk melalui bawah lagi, sampai sorenya ketika dia mandi, lagi-lagi Abertha muncul.
Waktu Nina membantu Eris menggosok tubuhnya, Abertha yang melihat mereka dari kolam merasa cemburu. Dia berharap kalau dia yang melakukannya. Karena itu, setelah kepergian Nina, Abertha mengambil langkah menggantikan Nina.
Sekali lagi, Eris menolak tetap tak mampu membuat Abertha mengurungkan niatnya hingga akhirnya ia selalu pasrah. Ia membiarkan tangan Abertha yang lembut untuk menjamah seluruh tubuhnya. Abertha menggosok rambut hitam Eris, membersihkan kuping dan leher. Lalu, turun ku punggung. Abertha terus menyapu lengan ramping dengan busa sabun hingga sampai ke telapak tangan. Saat di telapak tangan, Abertha menyelipkan jari-jarinya di sela-sela jari Eris lalu menggenggamnya. Saat tangannya di genggam seperti itu, Eris merasakan rasa hangat mengalir dari detak jantungnya yang kian cepat.
__ADS_1
"Eris~" bisik Abertha di telinga Eris yang membuatnya terkejut.
Eris langsung menutup kupingnya. "Jangan mengagetkanku!"
Abertha menyeringai jahil melihat wajah Eris yang tersiksa. Baginya, melihat wajah Eris yang seperti itu adalah suatu kenikmatan sendiri. Sebuah pemandangan favoritnya yang bisa dia lihat terus menerus.
"Kau gugup kenapa? Aku cuman membantumu mandi, kok."
"Masalahnya kau selalu punya niat lain. Pikiranku selalu mengarah-"
"Mengarah ke mana?" sela Abertha menunjukkan senyuman yang penuh kelicikan itu. "Jangan bilang kau mengharapkan aku melakukan sesuatu, ya, kan?"
"Ti-tidak, kok!" Eris menyanggah.
Tangan itu memegang sebuah benda bulat yang lembut. Di bawahnya dia seperti merasakan sensasi seperti jeli. Lalu, Abertha naik semakin tinggi. Tangan itu langsung mencengkeram kuat seolah tak ingin melepaskannya. Ia terus meremas-remasnya dari samping seolah ingin mengeluarkan sesuatu. Tak lama kemudian, dia menyentuh benda lainnya yang sama bulatnya tapi lebih kecil berada di ujungnya. Tidak seperti artifak sebelumnya yang lembut, ini lebih ke keras. Karena teksturnya yang mengeras, Abertha jadi memainkannya dengan penuh semangat. Menariknya, memutarnya dan memencetnya sangat kuat hingga sang pemilik harus berteriak karena tak bisa menahan perasaannya.
Setelah puas, permainan masih berlanjut. Kini jari-jari Abertha menyusuri ke bawah melewati pusar dan sampai ke tujuannya. Jari-jarinya menggesek-gesek seperti sedang melakukan ritual untuk membuka pintu masuk. Setelah dirasa pintunya lebih longgar, keduanya pun masuk perlahan-lahan. Abertha bisa merasakan sensasi udara yang hangat, lembab, ketat, dan berair di seluruh dindingnya. Namun, itu justru membuat lebih mudah untuk Abertha keluar masuk. Ia terus menusuk-nusukkan ke dalam tanpa hentinya.
Selagi mendengar nafas Eris yang terus beraturan, di benak Abertha berkata, "Jadi, begini yang dirasakan oleh Nina. Tidak buruk juga."
Setelah selesai, Eris yang lemas langsung digendong di ceburkan ke dalam kolam pemandian. Busa langsung meluruh dan langsung terbersihkan oleh air kolam yang hangat. Tubuhnya kembali segar dan rileks seperti kembali seperti semula atau seperti dilahirkan kembali.
__ADS_1
Abertha yang ikut berendam disebelahnya membiarkan Eris beristirahat sambil merasa senang terlebih dulu. Dia ikut merasa senang ketika Eris juga merasa senang.
"Hei, katamu, Nina akan kembali ke negerinya? Apakah kau juga akan ikut?" tanya Abertha tiba-tiba.
"Tentu saja. Aku temannya dan orang tua Nina juga sudah menganggapku sebagai putri mereka. Jadi, jika Nina disuruh kembali maka aku juga akan kembali," jawab Eris yang memejamkan matanya sambil menikmati sensasi kehangatan air kolam.
"Kenapa tidak diam disini saja?"
"Tidak bisa. Orang tua Nina sudah mempercayakan Nina padaku. Melepaskan Nina begitu saja berarti mengabaikan kepercayaan mereka. Sejak awal, aku ditugaskan oleh mereka untuk selalu berada di sisi Nina kapanpun."
Abertha merundukkan wajahnya yang muram. Dia sebenarnya sedih. Jika Nina pergi, maka Eris juga pergi, itu berarti Abertha akan sendirian di kamar ini. Abertha tak ingin merasa sendiri, makanya itu dia berusaha meyakinkan Eris untuk juga tak ikut pergi. Tapi, sepertinya itu tidak berhasil. Eris tetap bertekad untuk pergi bersama Nina.
Memang kepergian Eris dan Nina membuatnya bersedih, tapi mau bagaimana lagi. Karena itu, dia selama ini menempel pada Eris untuk menghabiskan sisa waktunya sebelum Eris pergi.
Lalu, setelah dirasa waktu bersantainya cukup, Abertha pun langsung berdiri. Bersamaan dengan senyum di wajahnya, ada yang menarik kaki Eris secara tiba-tiba. Eris di angkat di udara oleh bentuk seperti tali tentakel dari air kolam hangat. Air tersebut mengikat kedua kaki hingga paha dan lengan Eris, sehingga dia terikat di atas kolam.
Eris panik karena tidak tahu apa yang terjadi secara tiba-tiba ini. Dia kesulitan untuk memberontak karena tangan dan kakinya diikat oleh tali air. Lalu, salah satu tali air memanjang dan menjamah ke bagian benda bulat. Tali tersebut memelintir benda bulat dengan bentuknya yang panjang seperti sedang meremaskan sesuatu yang lembut. Kemudian ujung tali airnya yang berbentuk cembung menempel ke ujung benda bulat yang pada tersebut dan kemudian memberikan kekuatan seperti hisapan. Eris merasa seperti energi di dadanya ditarik keluar oleh sesuatu kekuatan yang aneh, membuatnya sampai membusungkan dadanya ke depan karena tarikan aneh tersebut.
Tidak hanya itu saja, tali air lainnya membuka jalan dan masuk ke mulut Eris, memaksanya untuk ditahan di dalam mulutnya. Lalu, air lainnya membuka jalan masuk lainnya yang berada di bawah. Lalu, menembus seperti kunci yang masuk ke lubang kuncinya. Air itu seperti tongkat yang ditarik lalu didorong untuk menembus atau mencapai sesuatu. Karena satu tongkat saja tidak cukup, tiga air lainnya masuk untuk membantu. Air tersebut menekan ke samping membentuk jalan pada dinding, lalu membantu menusuk dinding di depan.
Upaya air-air itu memang menyakitkan bagi Eris, tapi masih terus dilanjutkan. Keempat air itu menyatu hingga akhirnya memberikan dorongan yang sangat kuat dan berhasil menembus dinding. Eris bisa merasakan sesuatu yang aneh sedang terjadi.
__ADS_1
Di ruangan tersebut, air-air itu terus bergerak sangat heboh dengan penuh semangat kemenangan. Air-air itu terus menggeliat, memberontak, menusuk, menyiprat, menyibak, mendorong, dan menggesek dengan sangat kuat di dalam dinding tersebut. Menyebabkan pemiliknya benar-benar kewalahan seolah-olah perutnya akan meledak.
Sementara itu, Abertha yang habis keluar dari kamar mandi, datang kembali sambil membawa sebuah papan lukis dan alat lukis lainnya. Dia meletakkan papan lukis di pinggir kolam dan mulai melukis. Dia melukis sangat bersemangat saat melihat pemandangan dan jeritan atau erangan yang mendebarkan itu. Kuasnya di tuang ke dalam kanvas dengan penuh gairah tanpa berhenti sedikitpun. Seolah idenya muncul di kepalanya secara besar sehingga sia-sia jika tidak langsung dituangkan. Dan begitulah hasil karya terakhirnya jadi yang kemudian dia namakan dengan nama, "Eris yang Malang."