The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Kembali dari Dunia Lain


__ADS_3

Ashnard terbangun di sebuah ruangan gelap dan lembab. Tercium aroma wewangian di ruangan itu. Tubuhnya juga terasa sangat berat. Saat matanya terbuka lebar dan semuanya terlihat jelas, ada Ein yang tiduran menindih tubuhnya.


Ashnard dan Ein berada di sebuah gudang. Ada sapu, ember, dan kain pel satu ruangan dengannya. Dia ingat betul terakhir kalinya di Alam Roh. Saat itu, Erida menggunakan kekuatannya untuk mengembalikan Ashnard ke dunia nyata.


Ashnard ingat pesan terakhir Erida sebelum mengirimkannya kembali. Wanita itu berpesan bahwasannya ibu Ashnard masih hidup, karena itu masih ada segel yang cukup kuat di sekitarnya. Untuk apa dipasang segel jika tidak ada sesuatu yang berharga di dalamnya.


Erida juga mengatakan lokasi ibunya. Sekarang, Ashnard tinggal bersiap-siap untuk berangkat menuju ke sana. Tidak ada alasan lain untuk menunda. Kesempatan ini sudah ia incar sejak lama. Dan Ashnard akan membawa kembali ibunya apapun caranya.


Ashnard bangkit dan membangunkan Ein dari tidurnya. Seharusnya kesadarannya juga ikut dipindahkan bersama kesadaran Ashnard, tapi Ein justru tidak langsung bangun seperti Ashnard.


Wajah baru bangun tampak pada wajah Ein yang bulat mungil itu. Dia menguap lalu mengucek matanya seolah mengalami tidur nyenyak yang sangat panjang.


"Selamat pagi," sapanya dengan suara yang masih lemah.


"Pagi?"


Asgnard langsung membuka pintu dan berlari melewati lorong ke ruang utama perpustakaan. Sekumpulan murid akademi memenuhi meja membaca mereka, dan beberapa sedang mencari buku yang mereka ingin baca. Ruangan tersebut terang karena cahaya siang dari luar.


Di arah mata Ashnard yang menuju ke pintu luar, sosok sang penjaga menatap balik pada Ashnard. Ashnard menghampirinya.


"Kalian sudah bangun?"


Menyusul Ein di belakangku. "Terima kasih sudah menjaga tubuh kami."


"Sama-sama. Lagipula, akan menjadi masalah jika ada yang menemukan anak cowok dan anak cewek tiduran bersama di dalam perpustakaan."


"Omong-omong, jam berapa sekarang?" tanya Ashnard pada penjaga perpustakaan.


"Sebelas."


Ashnard tersentak dan tanpa mengucapkan kata apapun, langsung pergi ke luar perpustakaan dan menuju ke gedung utama akademi.


Alasan Ashnard bertindak buru-buru seperti dikejar waktu tidak lain adalah karena janjinya dengan Nina. Ashnard masih ingat dengan janjinya, karena itu dia langsung mencarinya.


"Yang benar saja!?" Tapi yang Ashnard terima adalah kebencian dan kekesalan. "Kau pikir kau bisa datang begitu saja di hadapanku setelah lupa dengan ucapanmu sendiri?"


"Tidak. Aku tidak lupa, Nina. Kita akan bertemu hari ini, kan?"

__ADS_1


"Hari ini! Kau gila atau apa? Aku tidak tahu apa yang membuatmu berpikir hari ini, tapi janji itu dan permintaan maaf sudah lama lewat."


"Lewat? Apa maksudmu lewat?"


Erin melangkah maju mendekati Ashnard dengan tatapan miris. "Ashnard, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa kau sengaja lupa hari yang ditentukannya? Atau kau menganggap ini lelucon?"


Ashnard sangat kebingungan. "Tunggu ... hari apa sekarang?"


"Kau tidak hanya lupa dengan janji kita tapi juga hari ini? Aku kecewa padamu!" ungkap Nina.


"Sudah seminggu terlewat sejak janjimu dengan Nina," jelas Erin.


"Sudah seminggu?" Mata Ashnard terbelalak tidak percaya. "Padahal aku baru saja-"


Nina mendadak meraih kerah Ashnard dan menarik wajahnya dekat. "Baru saja apa? Kemana saja kau? Kenapa kau menghilang tiba-tiba?"


"Aku hanya ... tidak. Aku tidak bisa mengatakannya. Maafkan aku."


Begitu Ashnard menolak untuk menjawab Nina, Nina menjatuhkan kepalanya di dada Ashnard. Bahunya terguncang dan terdengar nafas kekecewaan darinya.


"Padahal ... aku sudah menunggumu ...."


Erin melihat Ashnard yang tak bergerak sama sekali untuk mengejar Nina. Dia bingung apa yang menjadi alasan Ashnard untuk tidak mengejarnya.


"Aku tidak tahu kau ke mana saja, tapi kenapa kau tidak menjelaskannya saja ke Nina?" tanya Erin.


Ashnard masih menunduk meratapi penyesalannya, tak menjawab.


"Apa ini ada hubungannya dengan para guru?"


"Guru?" Ashnard terheran.


"Oh, jadi kau tidak tahu? Beberapa guru bilang ada pekerjaan di luar yang harus mereka lakukan. Kepala Akademi, Gerardus, dan Nona Terenna pergi ke luar dan belum kembali sampai saat ini. Tapi, guru lainnya yang masih ada disini juga tidak tahu kemana mereka pergi. Ada yang bilang masalah politik 3 negara yang menyokong akademi. Jadi, kau tidak terlibat dengan mereka, ya?"


"Tidak," jawab Ashnard lemas.


"Kalau begitu, apakah ada hubungannya dengan Ein?" Bola mata Ashnard langsung membesar saat Erin mengatakan itu. Erin langsung bisa menebaknya hanya dengan gerakan spontan Ashnard yang kecil saja. "Sudah kuduga. Hanya kau dan Ein, murid yang hilang selama seminggu ini. Apa kau ingin menjelaskannya, Ashnard?"

__ADS_1


"Aku masih tidak bisa melakukannya."


"Karena kau tidak ingin menyakiti Nina? Biar kutebak, kau dan Ein juga memiliki hubungan romansa?"


"Tidak! Bukan begitu. Kami tidak sedekat itu. Aku hanya memintanya bantuan saja," sanggah Ashnard.


"Jadi, apa yang sebenarnya kalian lakukan? Aku akan membunuhmu jika kau sudah melakukan hal yang diluar batas dengan Ein, tahu! Nina pastinya juga akan membakar mayatmu jika tahu," ancam Erin.


Sekali lagi, Ashnard terlihat kesulitan saat ingin mengucapkannya. Meskipun udara ingin keluar dari mulutnya, tapi tetap tertutup rapat seolah bibirnya terkunci oleh sesuatu yang dinamakan rahasia besar.


Erin menghela nafasnya saat melihat Ashnard masih bersikukuh tidak ingin menjawab. "Kau tahu, Nina sudah sangat menunggu hari yang dijanjikan. Dia terus berlatih, terus memikirkannya, bahkan sampai membuatnya tak bisa tidur. Jika kau kalah, sebenarnya dia berniat untuk memaafkanmu dan ingin memulai dari awal lagi. Lalu, tiba-tiba kau menghilang begitu saja. Kau menghancurkan hati dan mimpinya. Awalnya dia khawatir padamu karena kau tak muncul. Kekhawatirannya itu semakin berubah setiap harinya menjadi kekecewaan dan kebencian. Dia sudah putus asa dan tak mengharapkan apapun lagi padamu, meskipun jauh di lubuk hatinya dia rindu padamu."


Laki-laki itu memang mendengarnya, tapi dia masih menolak untuk membuka mulut seolah-olah dia tidak mendengar apapun.


"Kau ini benar-benar, ya? Kuberitahu, Nina tak lama lagi tidak akan ada di akademi."


Ashnard terkejut menatap Erin. Mata gadis itu tak menunjukkan kebohongan. Bukan ancaman, tapi dia bersungguh-sungguh.


"Kau bohong, kan?"


"Tidak. Beberapa hari yang lalu. Ayahnya mengirimkan sebuah surat. Menyuruhnya untuk kembali. Tidak jelas apa maksud ayahnya, tapi itu sesuatu yang penting mengenai keluarganya. Saking pentingnya, sampai Nina tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Karena hal itu juga hatinya semakin hancur dan campur aduk. Seperti dia keluar dari penggorengan dan masuk ke lahar gunung berapi. Nina akan kembali ke Agnar, setelah pesta prom."


"Lalu, apa gunanya kau mengatakan itu padaku? Semuanya sudah berakhir, kan? Nina sudah membenciku."


"Kau tahu, aku sudah tidak kuat lagi mendengar tangisannya berhari-hari. Sebaiknya kau lakukan sesuatu. Aku juga tak ingin Nina terus-terusan bersedih. Dan hanya kau, seseorang yang dia cintai, yang bisa membawa kembali hatinya yang sudah tenggelam. Waktumu masih ada prom. Kau bisa menggunakan waktu itu sebaik mungkin. Dan ingat, jangan menghilang tiba-tiba lagi."


Di lorong tersebut, Ashnard merenung. Dia tidak tahu apakah ini kesempatan yang pas baginya atau tidak. Setelah dia pikir-pikir lagi, memang perbuatannya cukup jahat bagi Nina. Seharusnya dia mengatakan sesuatu mengenai kepergiannya pada Nina dan jangan tiba-tiba memutuskan semuanya sendiri lalu mengurusi masalah alam roh. Ashnard hanya bingung karena alam roh dan seluk beluknya bukan sesuatu yang bisa diceritakan sesama teman dan menjadi topik obrolan hangat dikala jam istirahat. Lagipula, urusannya dengan alam roh juga sudah selesai, jadi Ashnard tidak perlu membahas apapun lagi tentang dunia tersebut. Hanya saja jika dia tidak mengatakannya, akan sulit untuk mencari alasan lain yang bisa membuat Nina memaafkannya.


"Apa menurutmu Nina akan memaafkanku?" tanya Ashnard, terlihat seakan putus asa.


Erin mengangkat bahunya. "Entahlah. Tergantung apakah pikiran Nina masih wajar untuk bisa menerima semua ini."


"Jadi, maksudmu aku tidak bisa kembalu bersama Nina?"


"Aku tidak bilang begitu. Nina tetaplah seorang gadis. Dia mungkin akan luluh dengan kata-kata romantis, pujian darimu, atau sentuhan fisik. Tapi, dia juga tetaplah Vantalion yang dikaruniai kekuatan api kutukan yang sangat besar. Semakin dia terbalut dalam emosinya, semakin kutukannya menyebar dan membuat jiwanya tenggelam. Kalau bisa, jangan membuatnya marah lagi. Itu saja. Kemungkinan kecilnya, kamu akan dihajar habis-habisan. Nina itu orang yang mudah tersulut emosi seperti api, sangat protektif, obsesif yang berlebihan, kadang dia sampai di tingkat psikopat. Kau tahu maksudku, kan?"


"Kau teman dekatnya, kan? Bisakah kau memberiku saran? Aku akan menyelesaikan semua ini, apapun caranya. Aku akan bertanggung jawab atas semua ini!"

__ADS_1


Melihat mata Ashnard yang penuh tekad, Erin tersenyum puas. "Seperti kataku, Nina tetap hanyalah seorang gadis. Ada cara yang bisa kau lakukan untuk mengambil kembali hati Nina."


__ADS_2