The Greatest Elementalist

The Greatest Elementalist
Kisah Wanita dan Putranya


__ADS_3

Mereka menyimpulkan bahwa Flo adalah salah satu eksperimen Leashira. Dia adalah eksperimen Leashira mengubah tanaman menjadi manusia yang berhasil. Panggilan kecambah kecil yang disebut oleh dua orang tersebut semakin meyakinkan mereka.


"Kami sudah bertemu dengan Flo," ungkap Ashnard. "Dia ada di kota ini, selalu menunggumu."


"Sungguh?" Leashira menegakkan kembali kepalanya sangat tinggi. Walaupun dia sekarang adalah ular, tapi gesturnya masih menunjukkan sisi emosionalnya. "Bolehkah aku meminta tolong pada kalian?"


Ashnard seketika paham tanpa Leashira harus menjelaskannya. Dia seperti melihat keinginan wanita itu di mata kuningnya yang tersembunyi di balik kelopak kayunya. Keinginan seorang Ibu yang untuk bertemu putranya. Ashnard bisa melihatnya dan langsung memahami perasaannya. Dia juga tak berniat untuk mengecewakan Leashira.


"Biar aku saja yang pergi ke kota. Kalian tunggu disini," ucap Ashnard sebelum pergi ke kota. Sementara, Nina dan Eris paham dengan tujuan Ashnard. Karena itu, mereka tidak melarangnya.


Perjalanan Ashnard kembali ke kota lalu kembali lagi ke hutan akan memakan waktu yang lama. Nina menghabiskan waktu menunggu Ashnard dengan bermain bersama makhluk kecil. Ia melempar makhluk-makhluk tersebut ke udara lalu menangkapnya. Ia berjingkrak-jingkrak bersama makhkuk itu seperti bermain bersama anak kecil.


"Apa mereka punya nama?" tanya Nina sebelum salah satu makhluk itu melompat dari atas dan menempel di wajah Nina, membuatnya jatuh ke belakang.


"Kalau semua akan kuberi nama, aku pasti akan kesulitan mengingat mereka," jawab Leashira sambil menyandarkan kepalanya di tubuhnya yang melilit.


Nina lalu mengangkat tinggi makhluk berbentuk jamur yang memeluk wajahnya. "Kalau begitu, kuberi nama kau ... Palo!"


"Palo?" tanya Leashira penasaran.


"Itu nama anjingnya," jawab Eris yang duduk di batu memandangi Nina yang tiduran di bunga-bunga sambil bermain.


"Ya, anjingku suka tidur di wajahku. Karena itu aku memberinya nama anjingku," jelas Nina.


Tiba-tiba, gerombolan makhluk mungil lainnya muncul dan mengurumuni Nina. Mereka mengubur Nina yang sedang tertidur, hingga tidak tampak lagi di permukaan. Nina sudah mengangkat tangannya ke atas untuk meminta pertolongan, tapi Eris mengabaikannya.


"Kurasa mereka marah karena tidak suka temannya disamakan dengan seekor anjing. Nikmati saja akhir hidupmu, Nina." Eris dengan wajah datarnya berjalan melewati Nina yang dikeroyok, lalu mendekati Leashira.


"Dasar jahat!" teriak Nina, suaranya semakin teredam.


Eris lalu berhenti persis di depan muka Leashira, ia bertanya, "Awalnya kukira kau hanya terobsesi pada obat segala penyakit, tapi ternyata kau melakukan lebih dari yang kuduga. Jika boleh tahu, kenapa kau sangat ingin mengubah tanaman menjadi manusia?"


Terdengar desah nafas Leashira. Yang bisa berarti banyak hal, tapi Eris tak ingin menebaknya terlebih dulu. Leashira lalu mengangkat kepala tubuhnya dan memutari Eris.


Dari belakang, Nina berlari dikejar oleh kawanan makhluk kecil. Ia menabrak Eris yang membuat mereka berada di dalam lingkaran tubuh Leashira. Leashira menutup semua jalan dan celah dari luar, sehingga memberi mereka seperti ruang pribadi dengan tubuh panjangnya.


Karena tidak ada cukup ruang, Nina dan Eris duduk berdempetan, memeluk lutut sambil bersandar di tubuh Leashira yang melingkarinya. Saat berlari tadi, Nina juga membawa Palo yang ia peluk seperti boneka kesayangannya.


Leashira meletakkan kepalanya di tubuhnya yang berhadapan dengan Nina dan Eris. "Ini cerita yang ingin kuceritakan pada kalian, antar sesama perempuan."


"Kenyataannya kenapa aku berambisi untuk menciptakan manusia dari tanaman, adalah karena aku kehilangan kekuatan asliku untuk menciptakan kehidupan."


Wajah Eris dan Nina seketika menjadi serius. "Maksudmu, kau tidak bisa memiliki seorang anak?" tanya Eris.


"Selama perjalananku mencari jawaban, aku telah mengorbankan banyak hal, termasuk rahimku sendiri. Dan sampai sekarang, aku menyesali keputusanku. Aku baru sadar tujuan seorang wanita adalah melahirkan seorang bayi, menyayanginya dan merawatnya hingga besar. Aku terlambat untuk menyadari bahwa aku menginginkan hal seperti itu."

__ADS_1


"Karena itu, kau melakukan eksperimen?" tanya Nina.


"Aku lalu berpikir, apakah ada cara agar seorang wanita yang tak bisa melahirkan seorang anak tetap bisa memiliki seorang anak? Dan aku menemukan bahwa lagi-lagi jawabannya adalah bunga Erastion."


Nina yang mendengarkan dan sambil mengusap kepala jamur Palo, merasa heran. "Kalau kau begitu ingin memiliki anak, kenapa tidak mengadopsi?"


"Aku tidak tahu, karena ini rumit. Saat itu aku tidak berpikir jelas. Semua pikiran mendatangiku satu per satu dengan sangat cepat hingga aku sulit untuk mengolahnya. Aku terbutakan oleh pengetahuan, oleh bunga itu. Setelah aku berhasil mendapatkan satu jawaban, aku ingin lebih. Bunga itu seolah menyuruhku untuk terus melakukan semua kegilaan itu."


"Jadi, kau menjaga bunga itu bukan karena ingin jatuh ke orang lain, tapi untuk melindungi orang lain dari bunga itu?"


"Dua duanya, sayangku." Dengan lembut, wanita itu menjawab pertanyaan Nina. "Apapun yang terjadi, bunga Erastion dan manusia tidak boleh saling bertemu."


"Tapi, bagaimana dengan kita?" sergah Eris.


"Tenang saja, aku sudah memikirkan hukuman yang pantas jika kalian tidak sesuai harapanku," jawab wanita itu dengan santai.


Namun, Eris dan Nina menganggapnya tidak. Mereka saling menatap dengan panik. Maksud Leashira sebenarnya tidaklah buruk. Ia bukan tipe seseorang yang menceritakan semuanya lalu menyerang. Dulu dan sampai sekarang, ia tetap adalah wanita yang baik.


"Sejak ras pertama ada di muka bumi, wanita adalah sosok yang sangat penting dan sakral. Kelahiran adalah hal yang lebih simbolis dari apapun di dunia. Karena itu, kalian harus berhati-hati," ucap Leashira memperingati Nina dan Eris.


"Hati-hati untuk apa?" tanya Nina.


"Dari dulu sampai sekarang, wanita hanya dijadikan sebagai budak nafsu. Kalian harus menjaga tubuh kalian. Apalagi kalian adalah gadis yang cantik, pasti banyak laki-laki yang ingin berniat buruk pada kalian. Hanya menginginkan tubuh kalian saja. Ketika sudah selesai dipakai, kalian akan dibuang."


"Hei, aku masih seorang wanita yang berpengalaman, kau tahu? Aku sudah sering berurusan dengan banyak laki-laki. Jika kalian ingin meminta saran percintaan dariku, tanyakan saja. Ataupun yang lebih intim juga tidak masalah. Toh, aku ini seorang dokter."


"Terima kasih, Nyonya Leashira, tapi kami tidak membutuhkannya, untuk saat ini," jawab Eris.


"Kalian harus mencari laki-laki yang tepat. Jika saat kencan pertama dia langsung memegang bagian tubuhmu, langsung saja tolak. Kalau dia tidak memberimu hadiah saat ulang tahun, kalian tolak saja. Tandanya dia tidak menghargai kelahiranmu."


Pada akhirnya, Nina dan Eris berakhir diberikan nasihat soal percintaan oleh Leashira, meskipun mereka tak menginginkannya.


Sebelum Leashira melanjutkan nasihat yang kesekian kalinya, ia menyingkirkan kembali tubuhnya yang melingkari para gadis karena merasakan ada yang datang.


"Aku kembali." Senyuman di wajah Nina terpancar saat melihat Ashnard kembali.


Di belakangnya, seorang pria yang penuh keriput dengan rambut beruban berjalan penuh celoteh dari mulutnya. Ia menggerutu soal Ashnard yang mengiming-iminginya akan bertemu dengan Leashira, nyatanya ia di bawa ke hutan yang sangat gelap.


"Dimana dia? Jangan membohongiku, bocah nakal!"


Ashnard menyingkir untuk membuka jalan bagi Flo dan Leashira bertemu. Di depan mata mereka masing-masing, keinginan terbesar mereka terwujud. Harapan untuk bertemu kembali sudah bukan angan-angan saja, melainkan hasil dari kesabaran mereka.


Dengan tongkat kayunya, Flo berjalan mendekati Leashira. Kaki dan tangannya yang gemetaran menyiratkan penuh makna soal perasaannya. Tidak hanya kesusahan dalam berjalan, ia bahkan kesulitan membuka lebar matanya untuk melihat jelas sosok yang dirindukannya.


Saat hampir beberapa langkah lagi mendekat Leashira, pria tua itu tiba-tiba berbalik. Mata sipitnya menatap tajam Ashnard seolah menunjukkan rasa kecewanya.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Dia bukan Leashira! Dia adalah ular penjaga hutan yang dibicarakan orang-orang. Aku sudah sering melihatnya di hutan, jadi aku sudah tahu. Leashira adalah wanita yang sangat cantik, berambut hitam panjang dengan mata kuning bulat. Bukan ular raksasa dengan kulit kayu!"


"Apa?" Ashnard bingung.


"Ya, aku tahu siapa kau." Ia berhenti tepat di depan muka Ashnard. "Kau anak nakal yang suka mengerjai orang yang sudah tua. Merasa paling hebat hanya karena aku lemah, renta dan pelupa. Hah! Aku keluar dari sini."


"Tunggu, Tuan Flo! Aku sedang tidak mengerjaimu. Dia benar-benar ada di-"


"Biarkan saja, dia," ucap Leashira. Suaranya begitu tenang seolah tidak mengkhawatirkan apapun.


"Tapi." Ashnard bingung harus melakukan apa. Melihat Flo yang berjalan sendiri di hutan, Ashnard berteriak. "Aku akan mengantarmu!"


"Tidak usah! Aku sudah sering pergi ke hutan. Tidak ada siapapun di hutan ini yang bisa melawanku," balasnya terus melanjutkan langkah gemetarnya.


"Aku akan menyuruh para jamur menuntunnya." Leashira kembali membaringkan kepalanya di atas tubuhnya setelah Flo menghilang dari pandangannya.


"Apa kau yakin?" Ashnard bersedih atas keputusan Leashira yang menurutnya menyesalkan.


"Dia sudah menjadi manusia sepenuhnya. Tidak terlihat seperti kecambah kecilku lagi. Tapi, dia masih mengingat ciri-ciriku saat aku masih menjadi manusia. Benar-benar anak yang baik." Terdengar helaan nafasnya yang lega karena keinginannya sudah tercapai.


Leashira lalu mengangkat kepalanya sedikit, mengarahkan sorot matanya ke celah kanopi hutan dimana langit sore terbentang. Telah banyak awan-awan yang lalu lalang sesuai waktu berjalan.


"Sudah berapa lama berlalu?Lihat dia, sudah keriput dan beruban. Dia bertambah tua dan menikmati hidup. Itulah arti menjadi manusia. Itulah arti aku memindahkan jiwaku. Melihatnya sekali lagi, sudah cukup untuk membuatku senang."


Ashnard tak tahu harus menjawab apa. Keputusan Leashira memang mengecewakannya. Bertemu kembali dengan orang yang sudah lama dirindukan juga adalah keinginan Ashnard. Jika Ashnard diberi kesempatan seperti itu, tentu saja ia tak akan menyia-nyiakannya.


"Ashnard, ambil lah bunga Erastion ini sebagai hadiah dariku karena telah mempertemukanku dengan Flo."


Setelah mendengar cerita Leashira sebelumnya, Eris tentu saja menolak untuk mengambil bunga itu. Namun, Nina menahannya karena dia tahu bahwa tujuan Ashnard sudah bulat dan dia tidak akan mengubahnya.


Di depan cahaya murni bunga yang paling berharga, Ashnard harus segera mengambil keputusan. Ia tidak ingin membuat teman-temannya menunggu, ia berkata, "Aku menolak untuk menerima bunga itu. Jika aku mengambilnya, akan ada banyak kekacauan yang terjadi hanya karena satu bunga saja." Ia mengulangi perkataan Eris saat di kota.


Leashira tersenyum puas mendengar jawaban dari Ashnard. "Sudah kuduga. Kau tidak akan berubah secepat itu. Akan tetapi, harus ada yang kuberikan sebagai hadiah."


"Hm, bagaimana dengan bunga biru itu? Apa aku boleh mengambilnya?"


"Kenapa?"


"Aku sadar saat melihatmu membiarkan Flo pergi, bahwa aku terlalu egois dan memaksa keinginanku yang akan membuat orang lain terkena dampaknya. Aku baru sadar untuk memberikan sebuah hadiah bukan tentang seberapa mahal dan mewahnya hadiah tersebut, tapi tentang perasaanku dalam memberikan hadiah tersebut."


"Jadi, itukah kesimpulanmu?"


Ashnard mengangguk yakin.


"Kalian benar-benar membuatku rindu dengan akademi."

__ADS_1


__ADS_2